medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Pusaran Sampah Lautan Terbesar Dunia Berada di Great Pacific Garbage Patch

Published in Internasional
Sabtu, 08 Agustus 2015 18:55

Medialingkungan.com – Sampah selalu menjadi problem buat manusia, dan sampah juga menjadi persoalan kesehatan dan ekonomi. Sampah tidak hanya di darat ditemukan, namun di laut sampah juga bertebaran. Menurut press rilis Journal Science menyatakan, diperkirakan 8 juta ton sampah dialirkan ke laut tiap tahunnya.

Great Pacific Garbage Patch disebut menjadi wilayah dengan kandungan sampah dan limbah terbesar di dunia yang berada di tengah Samudera Pasifik Utara, tepatnya berada di dekat Jepang untuk Garbage Patch Barat dan diantara California-Hawaii untuk Garbage Patch Timur.

Ilmuan dunia menguyngkapkan, Great Pacific Garbage Patch menjadi lokasi pusaran sampah di lautan terbesar dunia.

Sebagian besar sampah merupakan limbah plastik yang tidak bisa terurai hanya berbentuk semakin kecil dan semakin kecil lalu menggumpal seperti awan mendung di bawah laut bercampur dengan sampah-sampah besar mulai dari monitor komputer, sepatu dan bangkai.

Banyaknya kandungan sampah yang terperangkap membahayakan ekosistem laut disana, banyaknya hewan mati atau terinfeksi dan limbah lautan.

Dari area dengan arus memutar searah jarum jam seluas 20 juta kilometer persegi itu, setiap 1 kilometer persegi mengandung 750.000 bit mikroplastik yang tidak bisa terurai. Fakta tersebut sungguh mengerikan, dimana kini ditemukan beberapa lokasi pusaran sampah di lautan lainnya yang tentu saja membahayakan bagi biota laut. (Angga Pratama)

MV Hai Fa dalam Daftar Hitam

Published in Nasional
Selasa, 23 Juni 2015 13:12

Medialingkungan.com – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Greenpeace Indonesia memasukkan MV Hai Fa dalam daftar hitam kapal ikan yang melakukan kegiatan penangkapan ikan ilegal, tidak tercatat dan tidak diatur.

Juru Kampanye Laut Greenpeace Indonesia, Arifsyah Nasution mendesak seluruh negara dan pihak-pihak yang terkait dengan MV Hai Fa agar segera mengambil tindakan tegas yang diperlukan agar kelanjutan proses penegakan hukum terhadap kapal ikan yang mendukung penangkapan ikan ilegal, tidak tercatat dan tidak diatur (IUU Fishing) tersebut dapat segera berjalan.

“Pembatalan kerjasama bisnis, tidak memberikan akses perizinan, hingga penahanan kapal ataupun pelarangan bongkar-muat serta menolak seluruh hasil ikan yang diangkut oleh MV Hai Fa adalah bentuk tindakan tegas yang perlu dilakukan,” ujarnya, Selasa (23/06), di Jakarta.

Pada kesempatan yang sama Arifsyah juga mengapresiasi konsistensi Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk terus bekerja membebaskan Wilayah Pengelolaan Perikanan di Indonesia dari praktek ilegal termasuk perikanan dengan cara dan alat tangkap yang merusak. Meski demikian, terkait dengan kelanjutan proses hukum MV Hai Fa, konsistensi tersebut kini diuji.

Ia menambahkan, pemerintah sudah semestinya menerjemahkan konsistensi tersebut melalui tindakan tegas bagi oknum aparat penegak hukum yang diduga kuat dan terbukti terlibat dalam lingkar dan mata rantai kegiatan IUU Fishing di Indonesia.

“Keadaan ini menunjukan betapa mendesaknya bagi KKP bersama instansi terkait untuk melakukan evaluasi secara mendalam dan segera mengungkap misteri mengapa MV Hai Fa begitu mudahnya meninggalkan Pelabuhan Ambon tanpa dilengkapi dokumen surat yang disyaratkan,” ucap Arifsyah. (Siaran Pers)

The Ocean Cleanup, Pembersih Laut Terpanjang Di Dunia

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 10 Juni 2015 22:43

Medialingkungan.com – Melihat banyaknya sampah yang terapung di laut saat melakukan diving di Perairan Kepulauan Yunani, Boyan Slat, mahasiswa teknik penerbangan pada salah satu universitas di Belanda, mulai memikirkan ide pembersih laut dari kumpulan sampah plastik tersebut.

Berawal dari ide membersihkan laut tersebut, Boyan Slat berhasil menciptakan The Ocean Cleanup, alat pembersih laut dengan struktur terpanjang di dunia, mempunyai rentang panjang sekitar 2 kilometer, mengalahkan Tokyo Mega-Float yang berukuran hanya satu kilometer.

Boyan, sebagaimana dilansir mongabay.co.id mengungkapkan dirinya sebetulnya merasa tertantang mengumpulkan sampah di lautan karena ingin membuktikan anggapan orang yang menilai hal tersebut sesuatu yang tidak bisa dilakukan.

“Kalau kita mengangkat sampah-sampah plastik dari lautan menggunakan kapal, entah berapa ribu tahun sampah-sampah itu akan terangkat,” tutur anak muda berusia 20 tahun tersebut.

Alat yang berbentuk jaring raksasa ini, dalam praktiknya akan tersambung dengan pembatas hingga dasar laut, kemudian akan menangkap sampah mengambang lalu mengumpulkannya. Plastik-plastik tersebut akan bergerak merambat mengikuti pembatas menuju sebuah platform yang telah disediakan untuk selanjutnya diekstraksi.

Sejak dimulai tahun 2013 silam, konsep The Ocean Cleanup telah mendapat dukungan dari 100 ilmuan dan relawan serta telah memperoleh penghargaan Best Technical Design dari Delft University of Technology, Belanda.

Melalui Seoul Digital Forum, Boyan yang juga Kepala Eksekutif The ocean cleanup ini mengumumkan rencana perusahaannya untuk mengoperasikan alat pembersih plastik di lautan yang akan mulai bekerja pada triwulan kedua 2016.

Pemerintah Tsushima, Jepang, adalah yang pertama menandatangani perjanjian dengan The Ocean Cleanup. Olehnya itu, kawasan yang dipertimbangkan akan dibersihkan pertama kali adalah lepas pantai Tsushima, sebuah pulau yang terletak di antara kepulauan Jepang dan semenanjung Korea Selatan.

Seperti yang dikabarkan eco-bussines.com, arus yang melalui pulau Tsushima membawa sekitar 30.000 meter kubik sampah ke pantai setiap tahun, yang jika dikumpulkan secara manual akan menelan biaya sekitar 5 juta Dollar Amerika Serikat setiap tahun atau setara dengan 66,55 miliar Rupiah. (Irlan)

Greenpeace Menilai Langkah KKP Sudah Sangat Baik

Published in Nasional
Minggu, 03 Mei 2015 14:16

Medialingkungan.com – Greenpeace menilai langkah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sudah tepat dalam mendukung perpanjangan moratorium izin terhadap kapal ikan eks asing yang ditetapkan 6 bulan mendatang.

Juru Kampanye Laut Greenpeace Indonesia, Arifsyah M Nasution mengungkapkan, ada tiga hal yang mencakup perbaikan yakni, penguatan landasan hukum tata kelola perikanan,  pemantapan kualitas data sumber daya ikan dan biofisik kelautan.

“Tahun ini merupakan momentum penting untuk meletakkan dasar perbaikan yang kokoh bagi tata kelola perikanan Indonesia agar dapat menjadi fondasi dalam mengembangkan industri perikanan yang berkelanjutan serta kompetitif dalam lima hingga 10 tahun mendatang,” ujar Arifsyah, dalam rilis Greenpeace yang diterima Medialingkungan melalui surel, Jakarta (03/05).

Dia menegaskan, pemerintah semestinya merancang kembali perangkat dan sistem kebijakan yang menegaskan kedaulatan, kemandirian, dan keteladanan Indonesia dalam mengelola sumber daya perikanan, termasuk pesisir dan pulau-pulau kecil.

Kerja prioritas ini juga termasuk melahirkan rancangan perubahan atau bahkan undang-undang (UU) baru untuk menggantikan UU Perikanan No 31 tahun 2004 junto No 45 tahun 2009 tentang Perikanan, tambahnya.

“Pemerintah perlu mendahulukan dan mengundang berbagai pakar perikanan dari seluruh Indonesia agar dapat segera melahirkan konsensus dan protokol bersama mengenai tata cara pendugaan stok ikan yang dapat diakses oleh publik,” jelasnya.

Lanjutnya, hal lain yang tak kalah penting dalam fasilitasi komunikasi adalah menyamakan langkah pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk secara bertahap beralih dari penggunaan alat penangkapan ikan yang dilarang menjadi alat tangkap yang ramah lingkungan. Dalam hal ini koordinasi lintas Kementerian juga menjadi penting.

Arifsyah berharap, perubahan akan terjadi bila kerja multipihak dan kegigihan bersama untuk menjadikan laut sebagai masa depan negara Indonesia.

Perpanjangan moratorium izin kapal ikan eks asing berlaku hingga 31 Oktober 2015, yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Kelautan Nomor 10/Permen-KP/2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56/Permen-KP/2014 tentang Penghentian Sementara (Moratorium) Perizinan Usaha Perikanan Tangkap di Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia. (Press Rilis)

Peringati Hari Bumi, Wajah Bumi Makin Tua

Published in Internasional
Rabu, 22 April 2015 08:26

Medialingkungan.com – Hari bumi yang jatuh pada tanggal 22 April merupakan moment untuk membangun kesadaran dalam memperhatikan wajah bumi yang dari hari ke hari makin keriput. Planet bumi yang menampung berbagai jenis spesies mahluk hidup antara lain manusia, hewan, dan tumbuhan menjadi penghuni yang begitu menikmati keadaan bumi sekarang ini.

Dalam 3.000 dasawarsa lalu, bumi mengalami eksploitasi yang luar biasa oleh spesies yang bernama manusia. Populasi manusia yang meledak lebih tujuh miliar merupakan preseden yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah planet. Eksploitasi atas sumberdaya alam untuk memenuhi konsumsi manusia semakin melemahkan daya dukung bumi dalam menjaga keberlangsungan kehidupan.

Ke arah mana proses ini semua akan berujung?

Negara Mexico kini menjadi lautan manusia. “Jika spesies manusia hanya dimulai dari dua manusia saja sekitar 10.000 tahun yang lalu, dan meningkat satu persen per tahun, saat ini manusia akan menjadi bola daging padat dengan diameter ribuan tahun cahaya, dan terus membesar dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya,” Gobar Zovanyi, penulis “The No-growth Imperative” seperti kutipan dari The Guardian.

Berbeda dengan di Mexico, pulau Vancouver, Brazil kini hutan-hutannya telah menjadi gundul tak ada sisa sama sekali. “Dominasi manusia atas alam sesungguhnya hanyalah sebuah ilusi, mimpi di siang bolong oleh spesies naif. Ini adalah ilusi yang telah membuat bumi kita menderita begitu parah, menjerat kita dalam sistem yang kita bangun sendiri,” Donald Worster, penulis “Dust Bowl”.

Melihat bumi yang makin parah, hutan diberbagai belahan bumi juga makin terdegradasi tiap detiknya. Hutan Amazon yang dulunya terbakar membuat Garrett Hardin, penulis Living Within Limits: Ecology, Economics and Population Taboos mengungkapkan Sepanjang sejarah, eksploitasi alam yang dilakukan oleh manusia telah menghasilkan satu pola tetap: kuasai-hancurkan-pindah.

“Globalisasi, yang mencoba mencampur dan menyatukan semua jenis sistem ekonomi baik lokal, regional, maupun negara, kedalam satu sistem ekonomi global yang tunggal, memaksa meniadakan bentuk-bentuk pertanian lokal yang unik, dan menggantinya dengan sistem industrial; yakni sistem yang dikelola secara terpusat, penggunaan pestisida yang berlebih, satu jenis tanaman pangan untuk ekspor, dan menyediakan hasil pangan yang terbatas jenisnya yang mudah diekspor ke berbagai tempat di dunia,” Helena Norberg Hodge, penulis “Bringing the Food Economy Home: Local Alternatives to Global Agribusiness”.

Ditambah, hutan yang ditebang habis hanya untuk membangun waduk penampungan air di Willamette National Forest, Oregon, AS, membuat Jim Robbins, penulis The Man who Planted Treesberkata, “Ironis sekali bagaimana pohon-pohon yang keteduhannya membuat kita nyaman, buahnya kita makan, batangnya kita panjat, yang akar-akarnya kita siram, sangat sedikit difahami oleh kebanyakan manusia. Kita harus memulai dari sekarang untuk memulai memahami arti pentingnya pohon dan hutan, menghargai setinggi-tingginya peran penting mereka dalam menjaga keberlangsungan kehidupan bumi. Pohon dan hutan adalah kawan utama manusia dalam menghadapi masa depan yang mungkin tidak kita fahami,”.

Tidak hanya di kanca Internasional yang terus membuat bumi menangis. Namun, di Indonesia pun turut andil dalam mengkoyah-koyah kulit bumi yang makin keriput. Contoh saja di Ibu Kota Jakarta sebagai penyumbang emisi terbesar. William Reyrson, editor Earth Island Journal pernah berkata, “Perdebatan mengenai populasi bumi bukan hanya tentang jumlah maksimum manusia yang bisa didukung oleh bumi. Pertanyaan pentingnya adalah: berapa banyak populasi yang dapat hidup di Bumi, dengan standar hidup yang layak, dan di saat yang sama memberi ruang untuk keanekaragaman hayati untuk lestari? Tidak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini, tetapi fakta-fakta yang ada mengarah pada satu kesimpulan; kita tak bisa terus berdiam diri. Jika bumi sudah kesulitan ‘menghidupi’ 7,2 miliar orang, bagaimana dengan miliaran manusia yang akan hadir di akhir abad nanti?”.

Bukan di darat saja, tapi di laut pun dirusak oleh sejumlah manusia yang tak bertanggung jawab yang hanya menikmati keindahan alam dan tak ingin menjaga dan melestarikannya. Lihat diberbagai lautan Indonesia masih banyak dijumpai sampah-sampah yang terapung dan berserakan. “Air dan udara, dua elemen paling utama di bumi yang memungkinkan berlangsungnya kehidupan, telah menjadi kaleng sampah global,” ujar Jacques Yves Cousteau, penulis dan sutradara “World Without Sun”. (Angga Pratama)

Enam Aktivis Greenpeace Mencegat Anjungan Shell

Published in Internasional
Selasa, 07 April 2015 21:57

Medialingkungan.com – Enam aktivis  Greenpeace mencegat Anjungan Shell yang sedang dibawa menuju Arktikdi tengah samudra pasifik, 750 mil arah barat laut Hawaii dan berhasil memanjat anjungan seberat 38 ribu ton tersebut.

Tim relawan di berbagai negara saat ini tengah menyiapkan tenda di bawah geladak utama Anjungan Polar Pioneer. Para relawan ini memiliki persediaan makanan untuk beberapa hari kedepan, dan dilengkapi juga teknologi untuk berkomunikasi langsung dengan para pendukung di seluruh belahan bumi.

Pagi tadi (07/04), enam aktivis dari Amerika Serikat, Jerman, Selandia Baru, Australia, Swedia dan Austria ini bergerak cepat dari kapal karet yang diluncurkan oleh Kapal Greenpeace Esperanza menuju Polar Pioneer yang akan digunakan Shell untuk mengebor minyak di Laut Chukchi.

Kemudian, enam aktivis itu membentangkan spanduk berisi 6,7 juta nama orang di seluruh dunia yang menentang pengeboran minyak di Arktik.

Aliyah Field, salah satu dari ke-enam aktivis itu berkicau langsung dari Polar Pioneer melalui akun twitternya: “Kami berhasil! Kami saat ini berada di anjungan Shell. Dan kami tidak sendiri. Setiap orang bisa membantu mengubah anjungan ini (menjadi alat) untuk menunjukkan kekuatan rakyat! #TheCrossing.”

“Kami di sini untuk menyoroti kurang dari 100 hari, Shell akan mengebor minyak di Arktik. Lingkungan yang masih asli ini butuh perlindungan demi generasi masa depan dan semua kehidupan yang akan menyebutnya ini sebagai rumah,” ujar Johno Smith, dari Selandia Baru, yang juga bagian dari enam aktivis itu, berdasarkan siaran pers Greenpeace yang diterima Medialingkungan.com melalui surel.

Dia menambahkan, tindakan Shell mengeksploitasi es yang sedang mencair justru akan meningkatkan bencana yang dibuat manusia. Perubahan iklim adalah nyata dan telah menimbulkan rasa sakit dan penderitaan pada saudara-saudara kita di Pasifik.

“Saya percaya bahwa menyoroti apa yang dilakukan Shell akan mendorong lebih banyak orang untuk mengambil langkah tegas terhadap mereka dan perusahaan lainnya yang berusaha menghancurkan planet ini demi keuntungan belaka. Saya hanyalah satu suara dari sini, tapi saya tau bahwa saya tidak sendiri, jutaan atau bahkan miliaran suara yang mendesak pemenuhan hak untuk hidup aman dan sehat akan memiliki kesempatan besar untuk mengubah sesuatu,” ungkapnya.

Polar Pioneer yang diangkut oleh kapal angkat berat sepanjang 712 kaki (217 meter) yang disebut Blue Marlin ini adalah satu di antara dua kapal pengeboran yang akan bertolak menuju Arktik untuk memenuhi kebutuhan Shell pada tahun ini.

Kapal lainnya, Noble Discover kapal pengeboran tertua di dunia dimiliki oleh Noble Drilling yang telah mengaku bersalah pada Desember 2014 terkait tindak pidana berat sehubungan dengan delapan kali usaha Shell yang gagal mengebor di Samudra Arktik pada tahun 2012.

Kedua kapal pengeboran yang akan melintasi Pasifik ini diharapkan tiba di Seattle (3) sekitar pertengahan April sebelum bertolak menuju Laut Chukchi. (Angga Pratama)

Surabaya Jadi Tuan Rumah Kongres Ekonomi Biru Dunia

Published in Nasional
Senin, 30 Maret 2015 21:01

Medialingkungan.com – Indonesia akan menjadi tuan rumah Kongres Ekonomi Biru Dunia ke-9 yang akan dilaksanakan di Kota Surabaya pada tanggal 13 – 15 April 2015 mendatang.

Dalam pelaksanaan kegiatan ini The Blue Economy Foundation, bekerjasama dengan pusat penelitian di beberapa institusi pemerintah maupun non-pemerintah, Universitas serta para pegiat ekonomi biru yang dianggap telah berhasil melaksanakan ekonomi biru pada industrinya.

The Blue Economy Foundation adalah sebuah organisasi nirlaba yang memiliki misi untuk mempercepat realisasi keterlibatan masyarakat dengan memanfaatkan Corporate Social Responsibility (CSR) pihak industri yang mengelola sumber daya alam.

Istilah ekonomi biru pertama kali diperkenalkan pada tahun 2010 oleh Gunter Pauli melalui bukunya yang berjudul The Blue Economy: 10 years – 100 innovations – 100 million jobs. Ekonomi biru kemudian berkembang dan sering dikaitkan dengan pengembangan daerah pesisir.

Seperti halnya ekonomi hijau, ekonomi biru sendiri juga merupakan suatu rangkaian pendekatan dalam kegiatan industri yang meliputi beberapa aspek antara lain ramah lingkungan, multi produk, sistem produksi bersiklus, minimum buangan, dan aspek yang berkelanjutan.

Namun yang ditekankan dalam ekonomi biru adalah pada aspek inovasi yang berwawasan ekosistem, sains, dan teknologi serta keterlibatan masyarakat melalui transfer pengetahuan dan praktik kewirausahaan agar mampu mendorong kemajuan pada sektor ekonomi lokal.

Selama kegiatan ini, mereka akan mengidentifikasi program prioritas, memonitor implementasi program, mengevaluasi implementasi program kelautan dan perikanan dengan melibatkan masyarakat melalui transfer pengetahuan dan praktek kewirausahaan yang kompetitif.

Kongres ini merupakan lanjutan dari konggres yang dilaksanakan di Kota Madrid, Spanyol pada tahun 2013. Kegiatan ini juga rencananya akan dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Dwisuryo Indroyono Soesilo serta Gunter Pauli.

Diakhir acara, peserta akan diajak untuk melakukan kunjungan lapangan pada dua tempat yakni tambak budidaya mangrove milik politeknik Perikanan dan Kelautan Sidoarjo serta Pusat Pelatihan di Trawas milik Universitas Surabaya. (Irlan)

Edisi ke-9, Earth Hour 2015 Bertemakan “Change Climate Change”

Published in Internasional
Sabtu, 28 Februari 2015 01:39

Medialingkungan.com – Earth Hour (EH), salah satu program dari World Wildlife Fund (WWF), organisasi nirlaba internasional yang berorientasi pada konservasi lingkungan hidup, kembali memberikan kontribusi nyata dalam menjawab tantangan terbesar dari umat manusia di milenium ketiga ini, perubahan iklim.

2015, di edisinya yang kesembilan, “Change Climate Change” menjadi tema besar EH dalam momentum yang spektakuler, yang menghimpun seluruh suara warga di bumi dalam satu aksi serentak dalam penyelamatan bumi.

Dengan basis internasional dan dukungan dari banyak pihak termasuk PBB dan sejumlah elit pemerintahan, pihak swasta, hingga sejumlah tokoh dan artis, bersatu dalam kekuatan yang besar dan secara global berjuang demi masa depan yang layak (sustainability).

Ban ki Moon, Sekjen PBB, dalam official teaser video EH mengatakan, gerakan ini merupakan penyatuan langkah untuk mengirimkan pesan kepada seluruh manusia bumi, bergabung dalam satu tindakan, satu aksi - memerangi perubahan iklim.

SEPERTI TAHUN-TAHUN SEBELUMNYA, semua orang merasa gembira berpartisipasi dalam kegiatan ini. 2014 lalu, tingkat partisipasi dari seluruh dunia meningkat tajam, dari awalnya (2007) hanya sekitar 2 juta orang dan berpusat di Australia, kemudian terus bertambah, hingga mencapai ratusan juta massa di 162 negara, atau lebih dari 7000 kota di dunia.

Sejak awal terbentuk, EH secara khusus menengarai langkah penghematan energi, namun secara umum EH juga berkontribusi dalam program penanaman pohon, hingga kampanye gaya hidup ramah lingkungan.

Setiap tahunnya, volunteer Earth Hour mengumpulkan dana untuk menanam jutaan pohon, mempromosikan penggunaan kompor hemat bahan bakar, dan mengurangi jejak karbon di seluruh dunia.

Aksi puncak Earth Hour dilaksanakan pada hari Sabtu terakhir di bulan Maret, dengan mematikan listrik (switch-off) secara serentak dalam jangka waktu satu jam dari pukul 20.30-21-30 waktu setempat (berdasarkan zona waktu lokal di seluruh dunia). Dan untuk tahun ini jatuh pada tanggal 28 Maret 2015.

Tagline “Use Your Power, Ini Aksiku Mana Aksimu”, menjadi pemantik untuk aksi kolaboratif terkait langkah yang dapat dilakukan bersama dalam beradaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim global melalui implementasi aksi inovatif sebagai solusi di Change Climate Change.

"Perubahan iklim bukan hanya masalah jam, itu adalah masalah generasi kita," kata Sudhanshu Sarronwala, Ketua Dewan Direksi, Earth Hour Internasional.

"Earth Hour adalah gerakan gotong royong. Mematikan lampu selama satu jam bisa saja dilakukan, tetapi tindakan jutaan orang - sepanjang tahun akan menginspirasi solusi yang diperlukan untuk mengubah perubahan iklim", sambungnya.

EARTH HOUR UNTUK SOLUSI PERUBAHAN IKLIM membuat kerangka program yang mendukung penggunaan energi terbarukan, memerangi deforestasi, mengusulkan aturan-aturan kebijakan yang ramah iklim, pendidikan hingga praktek bisnis bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Dalam mendukung kegiatan ini, sebagai contoh, di Bucaramanga, Kolombia, rumah warga dan perkantoran mulai menggantikan lampu konvensional dengan sistem LED.

Sementara itu, Earth Hour akan menjadi bagian pertama dari aksi lingkungan yang dilakukan di Palestina sejak pengakuan sebagai negara oleh PBB. EH juga sedang dikoordinasikan di Gaza, dengan aksi switch-off yang akan berlangsung di beberapa tempat seperti, Al-Jundi dan Palestina, di Kota Gaza, dan kota-kota Nablus, Bethlehem, dan Ramallah.

Di Paris, Perancis, kemegahan Menara Eifel dengan ornamen lampunya, bersedia dipadamkan selama satu jam. Di Amerika Serikat, lampu-lampu kota yang terang di Las Vegas, serta bandara Los Angeles dan Niagara Falls, termasuk landmark kota New York termasuk Times Square, Rockefeller Centre, dan Empire State Building juga bersedia dipadamkan.

Untuk melihat aksi-aksi dari partisipan di seluruh dunia, EH membuka akses untuk dikunjungi. Berbagai peristiwa unik dan menarik dapat disaksikan di Earth Hour Tracker. Pengguna internet dapat menyaksikan, dan mem-vote, kota terbaik atas selebrasi yang dilakukan di kota masing-masing. Selain itu, saran dan komentar juga bisa diusulkan sebagai bahan rekomendasi untuk perbaikan di aksi selanjutnya. Kota "favorit" akan diumumkan pada 9 April. (MFA)

Pro-Kontra Alat Tangkap Ikan ‘Cantrang’ yang tak Ramah Lingkungan

Published in Nasional
Minggu, 22 Februari 2015 22:53

Medialingkungan.com – Cantrang termasuk alat tangkap ikan yang dilarang karena dianggap tidak ramah lingkungan karena dapat merusak eko sistem dari bibit-bibit ikan kecil di perairan.  Meskipun demikian, alat tangkap ini masih banyak digunakan oleh nelayan-nelayan lokal skala menengah kecil.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Gellwyn Yusuf menuturkan, pemerintah melarang penggunaan cantrang karena bisa merusak lingkungan dan eko sistem bawah laut.

Oleh karena itu, Dirjen Perikanan Tangkap melalui surat No 1722/DPT.4/PI.420.D4/IV/09 tertanggal 30 April 2009 mengimbau Dinas KP Provinsi Jawa Tengah menghentikan pemberian izin kepada kapal-kapal yang menggunakan cantrang. 

"Sebelumnya, pada Kepala Dinas KP Provinsi Jawa Tengah melalui surat No 523.4/1037 tanggal 16 Agustus 2005 menyatakan penerbitan izin penangkapan ikan menggunakan cantrang dihentikan pada tanggal 1 September 2005," ujar Gellwyn dalam jumpa pers di kantor KKP, Jakarta, Minggu (22/02).

Sementara itu, Pengamat Kelautan, Rokhmin Dahuri mengungkapkan kini 80 persen nelayan tradisional kita sampai saat ini masih menggunakan alat tersebut. Alat tangkap pancing atau pum rawai memang ramah lingkungan, tetapi walhasil tidak efisien dalam penangkapan ikan, dilansir oleh Liputan6.com, Selasa (17/02).

Pria kelahiran 16 Februari 1963 ini mengatakan jika dilihat dari dampak terhadap lingkungan, larangan alat tangkap ini memang baik. Menurut dia dampak sosial terhadap nelayan yang patut disayangkan karena membuat banyak nelayan lokal menganggur.

"Memang secara lingkungan benar, tapi karena faktanya sebagian besar nelayan gunakan itu, nelayan jadi nganggur karena belum ada usaha lain," katanya. (DM)

Wakatobi, Surganya Gugusan Terumbu Karang

Published in Ekowista & Traveling
Senin, 16 Februari 2015 21:09

Medialingkungan.com –Taman Nasional Wakatobi (TNW) terkenal sebagai surga bawah laut yang dimiliki oleh Indonesia. Taman Nasional tersebut terletak di Kabupaten Wakatobi. Ibu kota Wakatobi adalah Wangi-Wangi. Kabupaten Wakatobi terdiri dari empat pulau utama, yaitu Wangiwangi, Kalidupa, Tomia, dan Binongko. Jadi, Wakatobi adalah singkatan nama dari keempat pulau utama tersebut.

Di taman nasional ini ada 25 gugusan terumbu karang yang mengelilingi pantai sepanjang 600 km, dan terdapat 113 jenis karang yang terdapat di dalamnya. Memiliki hampir seratus spesies ikan yang berwarna warni, raja udang erasia dan beberapa jenis penyu yang sering bertelur di pantai. Berbagai jenis burung laut yang bertengger di karang seperti: angsa-batu coklat dan cerek melayu terbang ke laut untuk berburu ikan.

Taman Nasional Wakatobi merupakan keindahan alam perairan yang sangat menakjubkan. Keindahan darat dan bawah lautnya akan memuaskan mata, menyegarkan hati dan pikiran anda serta menambah pengalaman anda mengenai kehidupan bawah laut. Beberapa kegiatan yang pasti bisa anda lakukan di sini mulai dari menyelam, snorkeling dan berenang untuk melihat gugusan terumbu karang yang indah dan berbagai biota laut.

Anda juga bisa mengunjungi perkampungan masyarakat adat yang tinggal di sekitar Taman Nasional ini. Masyarakat asli yang tinggal di sekitar taman nasional yaitu suku laut atau yang disebut Suku Bajau. Menurut catatan Cina kuno dan para penjelajah Eropa, menyebutkan bahwa manusia berperahu adalah manusia yang mampu menjelajahi Kepulauan Merqui, Johor, Singapura, Sulawesi, dan Kepulauan Sulu. Dari keseluruhan manusia berperahu di Asia Tenggara yang masih mempunyai kebudayaan berperahu tradisional adalah Suku Bajau. Melihat kehidupan mereka sehari-hari merupakan hal yang menarik dan unik, terutama penyelaman ke dasar laut tanpa peralatan untuk menombak ikan.

Untuk mengunjungi wisata ini yaitu dari Kendari ke Bau-bau dengan kapal cepat regular setiap hari dua kali dengan lama perjalanan lima jam atau dengan kapal kayu selama 12 jam. Kemudian dari Bau-bau ke Lasalimu menggunakan mobil selama dua jam, lalu naik kapal cepat Lasalimu-Wanci selama satu jam atau kapal kayu Lasalimu-Wanci selama 2,5 jam. Wanci merupakan pintu gerbang pertama memasuki kawasan Taman Nasional Wakatobi. (TAN)

(Gugusan terumbu karang yang ada di Taman Nasional Wakatobi)

(Keindahan Wakatobi)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini