medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Pesona Pantai Apparallang Surga Kecil Bulukumba, Sulawesi Selatan

Published in Ekowista & Traveling
Senin, 16 Februari 2015 15:03

Medialingkungan.com – Pantai Apparallang merupakan salah satu surga tersembunyi di Desa Ara, Kecamatan Bonto Tiro, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan yang sekarang sedang jadi sorotan di mata publik. Pantai ini terletak kurang lebih 20 km dari Pantai Tanjung Bira yang sudah lebih terkenal.

Di sepanjang pantai tampak batu karang yang tinggi besar mengelilingi pantai dari utara ke selatan, pantai ini sekilas mirip dengan Cliff Jump Point di Nusa Ceningan, Bali. Pantai ini bukan tipe pantai yang berpasir.

Di sepanjang pantai anda tidak akan menemukan pasir, hanya ada dermaga yang menyatu dengan pantai. Namun, untuk mencapai dermaga tersebut, anda akan menuruni tangga yang sangat terjal, namun tidak berbahaya.

Sensasi lain yang didapatkan dari pantai ini yaitu airnya yang jernih dan sangat biru, sehingga batu karang dapat dilihat di dasar laut. Ombaknya yang tenang menambah hasrat ingin mencicipi keindahan air lautnya.

Anda patut mecoba sensasi lompat dari tebing menuju laut lepas, tidak berbahaya karena laut yang berada di spot Cliff Jump sangat dalam dan arusnya tenang karena berada di teluk.

Daerah ini terletak 195 km atau 4-5 jam dari Kota Makassar atau 210 km dari Bandara Hasanuddin. Dari Kota Makassar pilihlah rute Jalan Poros Takalar-Jeneponto, nantinya akan melewati Bantaeng juga Kota Bulukumba. Dari sini masih terus ambil arah Bontobahari-Tanjung Bira.

Tidak ada kendaraan umum dari dan menuju ke Apparallang, karena pantainya yang dikelilingi oleh hutan dan tidak terdapat kawasan rumah di sekitarnya. Maka sangat disarankan untuk menyewa mobil dari Makassar dan direkomendasikan mencari penginapan di Tanjung Bira.

Sayangnya, di balik keindahan pantai ini masih saja terdapat orknum-oknum yang yang tidak bertanggung jawab yang membuang sampah pada sembarang tempat. Jadi, diharapkan anda yang berkunjung untuk menghargai warisan alam kita.

Anda tidak akan rugi untuk berkunjung ke Kabupaten Bulukumba, karena selain Pantai Apparallang, anda juga dapat mengunjungi berbagai wisata yang terkenal di kabupaten pembuat perahu Phinisi ini, yaitu Pantai Bara, Pantai Tanjung Bira dan kebudayaan Kajang. (TAN)

(Tempat ini juga sangat cocok untuk anda yang gemar berfoto. Photo by Andi Tanti)

(Air yang jernih dan ombak yang tenang akan anda dapatkan di pantai ini. Photo by : Wina Praja)

(Dermaga yang menghubungkan ke pantai untuk anda dapat berenang. Photo by: Wira Praja)

Indonesia Berkontribusi Besar Dalam Pencemaran Lautan

Published in Nasional
Minggu, 15 Februari 2015 15:46

Medialingkungan.com – Pencemaran lingkungan terutama pada laut menjadi salah satu penyebab terjadinya perubahan iklim. Akibat ini kondisi bumi makin parah dan mencapai titik yang menakutkan. Ironisnya, Indonesia sebagai negara yang memiliki wilayah perairan laut yang luas, diklaim sebagai salah satu yang berkontribusi besar dalam pencemaran lautan.

“Sejak tahun 2010 terdapat sekitar 8 juta ton lebih sampah baru yang didominasi oleh plastik telah dibuang kelautan,” menurut hasil penelitian, Shoddy dari Lembaga Penanggulangan Pencemaran Global.

Dari sekitar 192 negara yang memiliki pantai di seluruh belahan bumi, Indonesia menempati urutan kedua yang mencemari lautan, tentu saja ini adalah prestasi yang jauh kata membanggakan, tuturnya.

Shoddy menambahkan bahwa ada lima negara yang paling berjasa mengotori lautan yaitu China, Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka, Diilansir oleh Business Insider (12/02).

Seorang ilmuwan dari Universitas Georgia, Jenna Jambeck, kelima negara tersebut merupakan negara yang sedang mengalami perkembangan, sehingga menghasilkan sampah yang banyak namun minim dengan usaha daur ulang.

“Sialnya, jumlah sampah plastik yang dibuang ke lautan diprediksi bakal meningkat dua kali lipat dalam 10 tahun mendatang. Ini masih bisa bertambah parah, jika kita berasumsi bila kehidupan ekonomi masih akan terus berkembang seperti saat ini, jumlah penduduk terus meningkat maka sampah plastik otomatis ikut bertambah,” kata Jambeck.

Jambeck hawatir sampah plastik yang nantinya akan meningkat dua kali lipat, jika terkumpul akan membentuk pulau raksasa yang melebihi Ibu Kota Jakarta. (AH)

Peneliti: Cemara Laut Mampu Perbaiki Kondisi Lingkungan Pantai

Published in Nasional
Kamis, 12 Februari 2015 16:18

Medialingkungan.com – Kondisi lahan pantai berpasir pada umumnya diketahui tidak dapat dimanfaatkan sebagai areal budidaya. Sebab perbedaan suhu yang ekstrim pada siang dan malam hari, udara yang sangat kering, kencangnya hembusan angin, kandungan unsur hara yang rendah dan uap air yang mengandung garam-garaman pada lahan ini mengganggu pertumbuhan tanaman.

Peneliti Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), Beny Haryadi mengungkapkan kondisi ini dapat diperbaiki dengan teknik rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) menggunakan cemara laut atau cemara udang (Casuarina equisetifolia).

“Adanya cemara laut meningkatkan agregasi perkembangan struktur tanah karena memperbesar granulasi dan porositas tanah, memperbaiki unsur hara  dan meningkatkan kadar air tanah di bawah tegakan,” ujar Beny dalam forda-mof.org.

Beny menjelaskan jenis tanaman khas pantai ini mampu menciptakan iklim mikro yang memungkinkan budidaya tanaman semusim dan holtikultura pada areal setelah tegakannya, yang berdasarkan hasil kajiannya bisa menghasilkan tiga kali lipat lebih besar dibandingkan dengan budidaya tanah mineral.

Lebih lanjut Beny mengatakan selain hasil produksi di atas, suasana pantai yang hijau rimbun dan sejuk juga dapat dimanfaatkan sebagai obyek wisata alam.

Beny menyebutkan salah satu daerah yang berhasil menggunakan teknik konservasi tanah secara vegetative ini adalah Kebumen, Jawa Tengah yang terbukti dalam 3 tahun ini telah terjadi peningkatan kunjungan wisata sebesar 39.02%.

Beny juga menuturkan bibit tanaman cemara laut yang dikembangkan di lahan pantai berpasir ini  berasal dari perbanyakan generative yang dapat menghasilkan penampilan cemara laut dewasa yang lebih kokoh dan tajuk yang indah dibandingkan bibit dari cangkok.

“Bibit cemara laut yang dipakai adalah bibit yang berasal dari induk yang sehat, dengan kriteria memiliki batang coklat, daun hijau gelap dan ukuran diameter batang setengah cm atau keliling batang sekitar 2 cm dengan umur bibit sekitar 6 bulan sampai 1 tahun,“ lanjutnya.

Dia juga mengatakan pengembangan metode ini dapat dilakukan sebagai teknik perbaikan lingkungan pantai lain di Indonesia yang memiliki masalah serupa dengan di Kebumen, Jawa Tengah.

“Pelibatan pastisipasi masyarakat merupakan faktor penting untuk mendukung keberhasilan RLKT sehingga perlu terus dikelola dengan baik,” harap Beny. (Ir)

WWF: Taman Bawah Laut Australia Dalam Bahaya

Published in Internasional
Rabu, 11 Februari 2015 17:23

Medialingkungan.com – World Wide Fund (WWF) For Nature bergerak menuju penekanan terhadap pihak Pemerintah Australia mengenai ancaman rusaknya Taman Bawah Laut The Great Barrier Reef. Menjelang akan dilaksanakan pemilihan oleh UNESCO mengenai penempatan The Great Barrier Reef,taman bawah laut Australia yang terbesar di dunia itu masuk dalam daftar berbahaya.

Jika hal ini tidak ditindak lanjuti maka akan menyebabkan pembatasan dalam jalur pengiriman dan ekspansi yang akan menciderai sistem perdagangan Australia dalam hal komoditas dan energi.

“Pemerintah dan negara bagian Queensland melarang semua penggalian pasir untuk pelebaran pelabuhan yang berada di dekat karang. Apalagi untuk spot yang paling diminati oleh para wisatawan yaitu sekitar 2.300 km sepanjang pantai timur,” ujar Direktur Eksekutif WWF Australia, Dermot O’Gorman.

Namun, Menteri Lingkungan Hidup Australia, Greg Hunt tanggapi laporan dari WWF yang mengatakan bahwa data yang dihasilkan oleh WWF tidak akurat dan ketinggalan. Pihaknya mengaku telah mengeluarkan larangan untuk melakukan aktifitas yang dapat merusak taman bawah laut The Great Barrier. (UT)

Ilmuan Terkejut Temukan Ikan Hidup 740 Meter dibawah lapisan Es

Published in Internasional
Senin, 26 Januari 2015 19:53

Medialingkungan.com – Benua Antartika merupakan benua terdingin di dunia. Suhu rata-rata pada benua ini adalah -85 hingga 90 saat musim dingin dan 30 derajat lebih tinggi di musim panas. Sekitar 98% dari Antartika ditutupi oleh es yang rata-rata ketebalan minimal 1.9 kilometer persegi. Dengan kondisi seperti ini, tidak banyak makhluk hidup yang mampu bertahan dalam kondisi ekstrim ini.

Dalam sebuah penelitian mengenai dampak perubahan iklim pada lapisan es di Benua Antartika, tim ilmuan Amerika Serikat (AS), menemukan ikan dan udang-udangan hidup 740 meter di bawah lapisan es dan 850 meter di bawah permukaan air laut benua paling selatan bumi ini.

Penemuan tersebut didapatkan setelah para peneliti tersebut mengebor lapisan es dan mengirim robot penjelajah bernama Deep-SCINI. Robot ini kemudian diberi kamera untuk merekam lingkungan laut dalam antartika.

Dari kamera, mereka menjumpai bayangan yang bergerak. Mereka menggambarkan sosok ikan tersebut memiliki mata yang menonjol keluar. Berdasarkan pengamatan yang lebih saksama kemudian mengungkap bahwa ikan itu berwarna kebiruan dan berbadan transparan. Organ-organ dalamnya bisa dilihat dari luar.

Ross Powell, salah seorang Geolog Lingkungan Es dari Norther Illionis University, seperti dikutip Kompas.com dalam Scientific American mengungkapkan betapa ilmuan sangat terkejut dengan penemuan ini. "Itu sangat mengagumkan," kata Ross Powell.

Kamera robot tersebut mengabadikan sekitar 20 hingga 30 ikan pada 16 Januari 2015, saat pengeboran dilakukan. (Ir)

Pantai San Fransisco Tercemar, Ratusan Unggas Mati

Published in Internasional
Rabu, 21 Januari 2015 15:41

Medialingkungan.com – Ratusan burung yang habitatnya di sekitar tepi pantai sebelah timur San Fransisco di temukan mati. Hal tersebut terjadi karena adanya zat lengket misterius yang mencemari perairan sekitar pantai San Fransisco. Sampai pada saat berita ini keluar para peneliti dan ilmuan belum menemukan zat apa yang mencemari sungai tersebut.

Zat tersebut menempel pada burung yang kemudian menyebabkan kemampuan para unggas air tersebut menurun. Kebanyakan dari burung-burung tersebut mati karena mengalami kesulitan bergerak dan menderita hipotermia karena cairan tersebut menempel pada tubuh mereka.

Pada saat ini para ilmuan sedang meningkatkan upaya untuk menemukan zat apa sebenarnya yang mencemari perairan tersebut. Zat yang ditemukan menempel pada tubuh burung-burung tersebut tidak berwarna dan juga tidak berbau.

Para relawan yang tergabung dalam tim penyelamat burung telah menangkap sekitar 300 burung yang telah terkontaminasi zat lengket tersebut. Burung yang telah ditangkap kemudian akan dibersihkan dari lendir-lendir yang nantinya kemudian akan dikembalikan ke alam liar.

Menurut Rebecca Dmytryk, salah satu dari tim penyelamat tersebut mengatakan bahwa pada hari selasa beberapa jenis burung seperti ‘trinil’ dan jenis spesies lain telah ditemukan tercemar. Dan untuk proses pembersihannya akan memakan waktu yang sangat lama.

Para penyelamat burung berharap tidak adanya lagi kematian yang terjadi pada spesies unggas air tersebut dan semoga masih banyak spesies unggas air lainnya yang dapat diselamatkan dari paparan zat lengket tersebut. Masalah ini kemudian dijadikan sebagai prioritas utama bagi para pemerhati burung di San Fransisco. (UT)

Indonesia Sepertinya Butuh Teknologi Penginderaan Potensi Laut

Published in Informasi & Teknologi
Selasa, 04 November 2014 19:59

Medialingkungan.com – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyatakan bahwa Indonesia membutuhkan teknologi antariksa melalui penginderaan jauh yang salah satunya mampu memetakan potensi kelautan secara menyeluruh dan sistemik.

"Guna mendukung pembangunan di bidang maritim, diperlukan teknologi yang mampu memantau laut secara menyeluruh dan sistematik. Salah satunya yaitu dengan teknologi antariksa melalui penginderaan jauh," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Lapan, Jasyanto.

Menurut dia, teknologi penginderaan jauh dengan menggunakan satelit sangat bermanfaat untuk pemantauan sumber daya alam di laut. Sebagai contoh untuk pemantauan terumbu karang dan perencanaan pendayagunaan laut untuk berbagai sektor seperti ekonomi dan pariwisata.

Dia menambahkan, bahwa dengan teknologi penginderaan jauh, aspek fisika dan biologi laut seperti suhu permukaan laut dan kandungan klorofilnya dapat terdeteksi. Unsur-unsur ini sangat penting untuk mengetahui keberadaan ikan di laut melalui sistem Zona Potensi Penangkapan Ikan Indonesia (ZPPI).

Unsur-unsur itu, kata dia, sangat penting untuk mengetahui keberadaan ikan di laut melalui system ZPPI.

"Dengan adanya ZPPI, nelayan akan mudah mengetahui lokasi yang terdapat banyak ikan," imbuhnya.

Tujuannya, lanjut dia, untuk identifikasi dan perencanaan pengembangan pulau terluar yang terpadu sehingga informasi penginderaan jauh ini akan sangat bermanfaat bagi pemantauan keamanan laut.

Pengembangan teknologi pengindeeaan jauh dari antariksa itu akan dibahas dalam konferensi internasional bertajuk "Pan Ocean Remote Sensing Conference" (PORSEC) yang digelar Lapan dan Universitas Udayana.

Pengembangan teknologi pengindeeaan jauh dari antariksa itu akan dibahas dalam konferensi internasional bertajuk "Pan Ocean Remote Sensing Conference" (PORSEC) yang digelar Lapan dan Universitas Udayana.

Konferensi itu berlangsung pada 4-7 November 2014 di Sanur, Bali, dengan tema penginderaan jauh untuk keberlanjutan sumber daya kelautan.

PORSEC sendiri merupakan organisasi yang didedikasikan guna membantu negara-negara berkembang untuk meningkatkan pengembangan ilmu pengetahuan khusunya aplikasi teknologi penginderaan jauh untuk kelautan.

Konferensi yang diselenggarakan setiap dua tahun itu rencananya dihadiri oleh 400 peserta dari dalam maupun luar negeri yang merupakan para profesional di bidang penginderaan jauh dan juga dari lembaga-lembaga antariksa berbagai negara seperti Lapan, JAXA (Jepang), dan NASA (Amerika Serikat).

"Indonesia merupakan negara maritim yang besar. Kondisi ini mengharuskan negara memberikan banyak perhatian kepada bidang kelautan sesuai dengan visi Presiden Joko Widodo yang sedang berupaya meningkatkan kemajuan di sektor maritim," katanya. (AH)

Permukaan Air Laut Samudra Pasifik Alami Kenaikan Signifikan

Published in Nasional
Sabtu, 26 Juli 2014 19:09

Medialingkungan.com - Permukaan air laut terus naik di Samudra Pasifik di lepas pantai Filipina dan Australia Timurlaut karena manusia terus mengubah iklim. Para peneliti menggabungkan data permukaan air laut belakangan ini yang dikumpulkan dari satelit dan tradisional untuk mengetahui seberapa banyak fenomena iklim yang terjadi secara alamiah dan disebut Pacific Decadal Oscillation (PDO) mempengaruhi pola kenaikan permukaan air laut di Pasifik.

PDO adalah pola temperatur di Samudra Pasifik, yang berlangsung rata-rata 20-30 tahun dan memberi pengaruh penting pada kecenderungan permukaan air laut. Lalu, mereka menyisihkan dampak PDO sehingga bisa lebih memahami pengaruhnya pada peningkatan permukaan air laut di Pasifik saat ini.

Profesor Benjamin Hamlington selaku profesor  Colorado University di jejaring universitas mengatakan, jika PDO dihilangkan dari persamaan, maka tidak ada kenaikan air laut ini di beberapa bagian Pasifik.

 Tapi, saya mendapati bahwa kenaikan permukaan air laut di lepas pantai Filipina dan Australia Timurlaut tampaknya anthropoganic (disebabkan oleh manusia) dan akan terus berlangsung tanpa osilasi ini, tambahnya.

Hamlington mengungkapkan, walaupun pola permukaan air laut tidak secara geografis seragam –kenaikan permukaan air laut di beberapa daerah berkaitan dengan turunya permukaan air laut di daerah lain– rata-rata kenaikan permukaan air laut global ialah 3 meter per tahun.

Beberapa ilmuwan juga memperkirakan permukaan air laut global mungkin naik sekitar satu mata atau lebih hingga akhir abad ini sebagai akibat dari pemanasan rumah kaca. Studi baru itu memperlihatkan para ilmuwan mungkin bisa meneliti samudra lainnya guna mengukur dampak akibat ulah manusia, katanya. (AP)

Angin Darat Pengaruhi Armada Penyebrangan Laut Untuk Sandar

Published in Nasional
Rabu, 23 Juli 2014 09:22

Medialingkungan.com – Angin kencang dari darat membuat Kapal feri 'roll on roll off' (ro-ro) Titian Murni yang berlayar di Selat Sunda kesulitan sandar di Dermaga II Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni di Lampung Selatan.

Manajer Operasional PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry Cabang Bakauheni Heru Purwanto di Bakauheni, mengatakan kecepatan angin tersebut mencapai 20 knot, yang membuat tiga kapal feri kesulitan sandar.

"Angin darat sangat mempengaruhi armada penyeberangan untuk sandar, mengingat pada saat kapal feri itu berusaha merapat akan terdorong menjauh," kata Heru .

Menurutnya, KMP Titian Murni setidaknya membutuhkan waktu satu jam untuk dapat merapat kembali ke Dermaga II, karena kecepatan angin yang tinggi tersebut. Sedangkan KMP Nusa Mulya, kata dia, harus dibantu dengan tug boat (kapal penarik) agar dapat merapat ke Dermaga III.

"Akibat kesulitan sandar kapal feri tersebut, fasilitas vendor atau penahan kapal sandar rusak dan jatuh ke laut akibat tersenggol kapal Titian Murni yang gagal sandar itu," ujarnya.

Ia juga menjelaskan vendor tersebut tidak mempengaruhi kapal lainnya untuk sandar maupun keluar. "Kalau posisi vendor melintang barulah mengakibatkan kesulitan bagi kapal lainnya,"ungkapnya. (DN)

 

 

 

Harapan Nelayan Sulawesi Tenggara Kepada Presiden Terpilih

Published in Nasional
Senin, 21 Juli 2014 11:53

Medialingkungan.com – Sebentar lagi Indonesia akan memiliki presiden baru. Harapan demi harapan terus berdatangan untuk sang nakhoda baru. Tidak terkecuali para nelayan yang ada di Sulawesi Tenggara. Ketua Perkumpulan Nelayan dan Perempuan Nelayan Sulawesi Tenggara, Beloro, mengisyaratkan Presiden terpilih harus segera membentuk payung hukum bagi perlindungan dan pemberdayaan nelayan.

"Sebab, nelayan melaut dengan risiko besar hilang dan meninggal dunia di laut akibat derasnya ombak Laut Banda dan Laut Flores, sehingga payung hukum itu dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka," kata Beloro.

Harapan lainnya agar lebih karena hingga hari ini kesejahteraan nelayan belum memadai, bahkan nelayan masih mengalami kesulitan ketika mengurus perizinan melaut.

Menurutnya, birokrasi yang berbelit dan minimnya pengetahuan nelayan tradisional Indonesia dalam mengurus izin mengakibatkan nelayan menjadi rentan diskriminasi.

"Hal ini secara langsung berdampak bagi kesejahteraan nelayan tradisional Indonesia dan mengakibatkan kemiskinan semakin merajalela di kampung nelayan," ungkapnya.

Juni 2014, FAO telah mengesahkan Internasional Guidelines for Small Scale Fisheries (IGSSF) yang secara jelas mengakui pentingnya peran nelayan serta pembudidaya skala kecil bagi pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat dunia.

Upaya FAO ini patut diapresiasi karena telah mengakui peran nelayan dan pembudidaya, sehingga penting pembahasan RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan dipercepat penyelesaiannya.

Sementara itu, Abdul Halim, Sekretaris Jenderal KIARA memandang bahwa progam Legislasi Nasional DPR RI tahun 2010-2014 justru jalan di tempat.

"Sebab sampai akhir masa periode anggota DPR RI pun belum ada upaya konkret dari negara untuk memberikan payung hukum bagi perlindungan dan pemberdayaan nelayan Indonesia. Nelayan masih dianggap masyarakat kelas dua, padahal kontribusi mereka dalam pemenuhan gizi bangsa bisa dirasakan setiap hari "di piring-piring" masyarakat Indonesia,"ujarnya.

Bahkan dalam Rembug Pesisir Nelayan se-Sulawesi Tenggara yang difasilitasi oleh KIARA dan JPKP, kata Arman Manila, Koordinator JPKP Buton, 20 perwakilan nelayan dan perempuan nelayan dari 13 kabupaten kota mendesak negara untuk Menyegerakan (RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan itu.

"Karena itu nelayan dan pembudidaya Indonesia menaruh harapan besar pada "hadirnya' negara sebagai payung hukum perlindungan hak-hak mereka sebagai pahlawan protein bangsa,"jelasnya lagi. (DN)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini