medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Kementrian Kelautan Dan Perikanan Terus Mengembangkan Konsep Blue Economy

Published in Nasional
Kamis, 17 Juli 2014 09:10

Medialingkungan.com - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tetap konsisten untuk mengembangkan program dan kebijakan industrialisasi kelautan dan perikanan yang berbasis Blue Economy.


“Program ini sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang berwawasan lingkungan dengan memberi nilai tambah untuk peningkatan daya saing produk perikanan Indonesia, bagi kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan  RI, Sharif C. Sutardjo pada acara Peringatan Nuzulul Qur’an 1435 H, di Jakarta, Rabu (16/7/2014).

Syarif menjelaskan, pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan merupakan upaya manusia sebagai hamba Allah SWT, dalam mensyukuri nikmat yang telah diberikan dari-Nya.

Laut harus dikelola dengan tetap memperhatikan kelangsungan sumber daya hayati di dalamnya. Ikan yang merupakan salah satu makhluk hidup ciptaan-Nya juga harus dijaga kelestariannya melalui budidaya secara berkelanjutan.


“Peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat kelautan dan perikanan yang menjadi salah satu tujuan pembangunan kelautan dan perikanan akan terwujud apabila kita Istiqomah dalam menjaga, merawat, memberdayakan dan memanfaatkan kekayaan alam yang diberikan Allah SWT untuk kepentingan bersama,” kata Sharif.


Menurut Sharif, Indonesia harus mampu memberdayakan dan mengelola segenap potensi sumber daya perikanan budidaya yang ada secara berkelanjutan. Terutama untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi nasional bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.


“Kami menyadari dalam pelaksanan program dan kebijakan industrialisasi tersebut memerlukan dukungan dan kerjasama yang baik dari lintas sektoral dan seluruh stakeholders pelaku usaha perikanan, untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang maju,” jelas Sharif. (AH)

 

Jabodetabek Akan Dilanda Angin Kencang Hingga Jumat.

Published in Nasional
Rabu, 16 Juli 2014 14:35

Medialingkungan.com -  Angin kencang yang terjadi di Jabodetabek sejak Minggu, (13/7/2014), akan berlangsung hingga tiga-empat hari mendatang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Dramaga, Bogor, Menjelaskan Angin kencang ini terjadi karena terdapat pusat tekanan rendah di Lautan Hindia barat atau di sebelah Sumatera Selatan. 

Kepala Stasiun Klimatologi Dramaga Dedi Sucahyono, Senin (14/7/2014) mengatakan hal ini dikarenakan kondisi cuaca di wilayah Australia suhu udaranya sangat dingin, sehingga embusan anginnya ke tekanan rendah di wilayah Indonesia.

Angin kencang ini memiliki kecepatan hingga 11 knot atau setara dengan 20 kilometer/jam. Padahal, dalam kondisi normal, kecepatan angin rata-rata hanya 5 knot atau 10 km/jam.

"Peningkatan kecepatan angin hingga dua kali lipat ini bukan hanya terjadi di wilayah Jabodetabek saja, melainkan juga terjadi di wilayah Jawa bagian barat dan Jawa Tengah," ujar Dedi.

Kondisi angin kencang seperti ini biasa terjadi pada musim kemarau. Namun anomali cuaca di Jawa dan Australia menyebabkan hujan, meski telah memasuki musim kemarau.

"Karena ada perubahan cuaca yang tidak menentu saja sehingga beberapa daerah seperti Bogor, Depok, Jakarta, dan Bekasi, kerap terjadi hujan lokal," kata Dedi.

Kendati tiupan angin kencang akan terjadi hingga beberapa hari ke depan, BMKG memprediksi angin tersebut tidak sampai menimbulkan puting beliung.

"Potensinya tidak ada. Hanya ada perbedahan tekanan rendah ke sedang di Australia, sehingga tiupan angin membawa hawa dingin dan kelembaban mencapai 40 persen," tambahnya .

Meski tak menimbulkan puting beliung, tiupan angin yang cukup kencang ini menyebabkan beberapa tenda kios pasar murah bulan Ramadan di beberapa tempat di Kota Bogor rusak. (AH)

Menjaga Terumbu Karang Dengan Konser Musik Selama Empat Jam

Published in Internasional
Selasa, 15 Juli 2014 15:40

Medialingkungan.com – Kegiatan tahunan konser musik di bawah laut kembali di selenggarakan di Looe Key Reef di Amerika Serikat, Senin (14/7/2014).

Sekitar 500 penyelam dan perenang melakukan aksi yang sangat mengagumkan dalam konser ini.

Konser bawah laut ini dilakukan untuk memeriahkan acara tahunan Lower Keys Underwater Music Festival yang ke-30. Konser yang unik ini berlangsung selama empat jam dengan memainkan musik-musik terkenal dari seluruh dunia.

"Kami memulai ini sebagai seni dan acara budaya 30 tahun yang lalu," kata pendiri acara dan koordinator, Bill Becker.

“Ini adalah satu-satunya tempat yang bisa kita kunjungi jika ingin mendengarkan musik ketika sedang di bawah air bagi para penyelam, perenang, dan biota laut lainnya,” tambahnya.

Becker menjelaskan, selain menawarkan pengalaman yang tidak biasa untuk menyelam dan snorkeling, acara ini bertujuan untuk mempromosikan perlindungan terumbu karang.

"Kami mencoba untuk memberikan informasi kepada para penyelam untuk menyadari dampaknya terhadap terumbu karang, sehingga mereka bisa menjaganya dan karang ini bisa berada di sini untuk generasi mendatang," Ujar Becker.

Sejumlah musik yang dimainkan dalam konser ini adalah lagu-lagu seperti Octopus' s Garden dari The Beatles, soundtrack film Disney ‘The Little Mermaid’, dan soundtrack sebuah acara televisi Flipper.

Becker menambahkan, konser bawah laut ini dapat didengarkan sampai jarak 50 meter.

Salah seorang penyelam dari Munich, Jerman, Uli Clef, mengatakan bahwa dia sangat terkesan dengan warna dan ikan tropis yang hidup di bawah air.

"Saya telah melihat warna dari merah ke biru, dan bahkan nuansa matahari yang datang dari garis air. Semua ikan berwarna-warni dan terlihat sangat sempurna," kata Clef.

Yang unik dari konser ini yaitu ketika beberapa penyelam memakai berbagai macam jenis kostum dan berpura-pura memainkan alat musik yang diukir oleh seorang seniman asal Florida Keys,  August Powers. Mereka melakukan aksi yang unik seakan-akan sedang melakukan konser.

Konser ini diharapakan dapat memberi peyadaran kepada masyarakat betapa pentingnya menjaga dan melestarikan terumbu karang. Selain keindahannya dapat dinikmati, manfaatnya pun besar bagi lingkungan. (AH)

Ketinggian Gelombang 3,0 Meter Diperkirakan Terjadi Di Laut Arafuru Bagian Tengah

Published in Nasional
Senin, 14 Juli 2014 15:45

Medialingkungan.com - Gelombang Laut Arafuru Bagian Barat mulai hinggasenin diperkirakan mencapai 3,0 meter hingga 4,0 meter.

Menurut Kasi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Maritim Kendari, Aris Yunatas (14/7/2014), Gelombang di akibatkan oleh kecepatan angin di Laut Arafuru Bagian Barat yang akan bertiup dari Timur ke Tenggara diramalkan antara 5-20 kilometer/jam.

Ketinggian gelombang 3,5 meter diprediksi terjadi di perairan Kepulauan Tanibar, perairan Kepulauan Babar dan perairan Kepulauan Sermata-Kepulauran Leti.

Aris mengatakan gelombang tinggi ini bisa membahayakan kegiatan pelayaran, baik bagi nelayan maupun transportasi kapal laut.

"BMKG mengimbau pemilik kapal, calon penumpang dan pihak syahbandar agar cermat mengeluarkan surat berlayar," kata Aris.

Ketinggian gelombang 3,0 meter diperkirakan terjadi di Laut Arafuru Bagian Tengah, perairan Kepulauan Kai, Laut Banda Bagian Selatan, Laut Banda bagian Utara, perairan Selatan Ambon dan Laut Seram Bagian Barat.

Kecepatan angin perairan Selatan Ambon, Laut Banda bagian Utara, Laut Banda bagian Selatan, Kepulauan Kai, Laut Arafuru bagian Tengah dan Laut Seram Bagian Barat yang akan bertiup dari arah Timur ke Tenggara diramalkan antara 2-20 kilometer/jam.

Gelombang yang diperkirakan setinggi 2,5 meter bakal terjadi di perairan Bau Bau, perairan Kepulauan Wakatobi, perairan Menui-Kendari dan Laut Banda Timur Sultra.

Kecepatan angin di perairan sekitar Bau Bau yang akan bertiup dari arah Timur Luat ke Tenggara antara 2-5 kilometer/jam dan Selatan diprediksi antara 5-25 kilometer/jam.

BMKG juga memperkirakan gelombang setinggi 2,0 meter akan terjadi di Teluk Tolo Kendari, Perairan Kepulauan Banggai, Kepulauan Sula dan Laut Seram Bagian Barat.

Kecepatan angin di Teluk Tolo Kendari dan perairan Kepulauan Banggai yang bertiup dari arah Tenggara ke Barat Daya diramalkan 2-15 kilometer/jam.

Sedangkan kecepatan angin di Kepulauan Sula dan Laut Seram Bagian barat yang bertiup dari arah Timur ke Selatan dan Timur ke Tenggara diramalkan 2-15 kilometer/jam.

Prakiraan Stasiun Meteorologi Maritim Kendari berlaku selama 2 x 24 jam mulai tanggal 13 sampai 14 Juli 2014. (AH)

Reklamasi Tanjung Benoa Akan Tetap di Lanjutkan.

Published in Nasional
Sabtu, 12 Juli 2014 07:00

Medialingkungan.com – Meskipun mendapat penolakan dari ribuan warga, reklamasi terhadap Tanjung Benoa akan tetap dilanjutkan. Menteri Lingkungan Hidup Baltasar Kambuaya menyatakan alasannya mengapa hal ini akan terus dilakukan.

Menurutnya, apabila Tanjung Benoa menjadi kumuh dan tidak terawat akan sangat merugikan. "Kita mau jadikan tempat wisata luar biasa untuk kita semua di Tanjung Benoa sehingga harus dikelola dengan baik," ujarnya.

Baltasar juga menegaskan proses pengelolaan Tanjung Benoa bukanlah reklamasi. Ia menilai pihaknya hanya mengelola untuk menjadi lokasi yang menguntungkan bagi masyarakat sekitar.

"Sebenarnya ini bukan reklamasi, ini kita mau kelola daerah itu untuk dikelola menjadi dari segi ekonomi yang dapat menguntungkan masyarakat, kalau tidak dikelola ditakutkan daerah itu menjadi kumuh," jelasnya

Tambahnya lagi, proses pengelolaan Tanjung Benoa bukanlah reklamasi. Ia menilai pihaknya hanya mengelola untuk menjadi lokasi yang menguntungkan bagi masyarakat sekitar.

"Sebenarnya ini bukan reklamasi, ini kita mau kelola daerah itu untuk dikelola menjadi dari segi ekonomi yang dapat menguntungkan masyarakat, kalau tidak dikelola ditakutkan daerah itu menjadi kumuh," katanya.

Sebelumnya, Selasa (17/6/2014) ribuan warga turun ke jalan untuk menolak reklamasi Tanjung Benoa. Penolakan warga tersebut berdasarkan perpres No. 51/2014 yang dikeluarkan pertengahan Juni 2014 dan mengatur rencana kawasan perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan.

"Ada Perpres telah dibuat, yang penting itu bahwa penanggung jawab kegiatan di situ membuat analisa dampak lingkungannya agar kegiatan tersebut dapat berjalan," ujar Menteri Lingkungan Hidup Baltasar Kambuaya di kantor BMKG, Kemayoran, Jakpus.(ADN)

 

Seorang Pemuda Temukan Mesin Pembersih Sampah Plastik di Laut

Published in Informasi & Teknologi
Sabtu, 05 Juli 2014 07:40

Medialingkungan.com - Sekitar 10-20 juta ton plastik memasuki lautan setiap tahunnya.Berdasarkan perhitungan terakhir, terdapat sekitar 80 persen sampah yang berasal dari laut dan pantai.Sampah plastik merupakan limbah yang mendominasi dan sangat berbahaya. Samprah-sampah ini berpotensi membahayakan ikan dan satwa laut lainnya.

Boyan Slat, seorang remaja berusia 19 tahun pendiri organisasi bernama yang berfokus pada kebersihan laut dan pantai -- The Ocean Cleanup. Organisasi ini baru saja merilis sebuah laporan berdasarkan hasil riset selama setahun terakhir, yang mengungkap sebuah metode yang sangat cocok digunakan untuk membersihkan wilayah laut.

Melalui simulasi komputer, diperkirakan hanya dalam waktu 10 tahun, mereka dapat membersihkan sampah plastik di perairan Pasifik sekitar 50 persen.

Metode ini memanfaatkan arus alami laut dan angin yang secara pasif menggiring sampah ke lokasi penampungan. Sebuah pembatas terapung kemudian digunakan untuk menangkap dan mengumpulkan sampah yang ada di lautan, namun menghindarkan satwa liar terjerat atau tertangkap secara tidak sengaja.

Melalui tes pertama yang dilakukan di Kepulauan Azores, terbukti cara kerja ini berhasil. Setelah semua plastik yang tertangkap dipindahkan dengan mesin, berdasarkan laporan itu, plastik tersebut bisa dikonversi menjadi material lain atau minyak.

Sayangnya, proyek pembersihan ini tidak semurah yang dibayangkan, diperkirakan biayanya mencapai 43 juta dollar per tahun. Biayanya mungkin mahal tapi Boyan mengatakan, biaya ini sebetulnya 33 kali lebih murah dibanding metode pembersihan biasa.

Untuk menekan biaya, The Ocean Cleanup berkolaborasi dengan berbagai lembaga, termasuk perusahaan swasta, untuk penelitian dasar. Agar dapat mengimplementasikan tahap berikutnya dari proyek ini, Ia melakukan penggalangan dana untuk mengumpulkan 2 juta dolla untuk mengujicoba secara teknis dalam skala yang besar. (TAN)

Sumber: iflscience.com

UNESCO Tolak Permintaan Pencabutan Status Warisan Dunia oleh Australia

Published in Internasional
Selasa, 24 Juni 2014 20:12

Medialingkungan.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Badan Kebudayaan PBB (UNESCO) menolak permohonan Australia untuk mencabut status warisan dunia bagi hutan seluas 74.000 hektar di negara bagian Tasmania sehingga dapat kembali dibuka bagi aktivitas penebangan.

Sejak 1982, Hutan Tasmania Wilderness telah masuk ke dalam daftar Warisan Dunia dikarenakan seperlima dari luas daratan pulau Tasmania merupakan salah satu bentangan hutan hujan tropis yang masih tersisa di dunia.

Berdasarkan pemberitaan sejumlah media di Australia, tercatat beberapa anggota komite UNESCO yang menolak permohonan tesebut pada pertemuan di Doha, diantaranya, Jerman, Kolombia, dan Portugal.

"Argumentasi yang ditawarkan untuk mengurangi wilayah warisan dunia sangat lemah. Jika menerima usulan itu, maka kami akan menciptakan preseden sehingga sulit untuk menolak permintaan serupa di masa mendatang," demikian keterangan dari delegasi Portugal sebagaimana dikutip dari Fairfax Media.

Menanggapi keputusan UNESCO, pemerintah Australia mengaku kecewa dan akan mempelajarinya lebih lanjut sebelum mengambil langkah berikutnya. Pasalnya, pada permohonan tersebut, wilayah yang diminta untuk dilepaskan merupakan hutan yang terdegradasi.

"Kami kecewa dengan keputusan itu, namun kami tetap beranggapan bahwa usulan kami adalah masuk akal karena area yang ingin kami cabut statusnya adalah wilayah hutan yang terdegradasi," kata Abbott.

"Kami akan mempelajari keputusan UNESCO sebelum memutuskan apa yang terbaik," kata Abbott, seperti dikutip dari Reuters.

Pekan lalu, UNESCO memutuskan untuk menunda keputusan sampai tahun 2015 mengenai pembangunan pelabuhan dan fasilitas gas alam yang dinilai membahayakan Great Barrier Reef, situs warisan dunia lain di Australia. (MFA)

Setelah Kota Padang Diobrak-abrik Angin Kencang, Wilayah Lain Juga Siap Diterjang

Published in Nasional
Kamis, 19 Juni 2014 19:16

Medialingkungan.com - Angin kencang yang melanda Sumbar pada Rabu (18/06) sore kemarin menimbulkan kerusakan di kota Padang. Sedikitnya terdapat enam titik yang mengalami pohon tumbang, dan ada longsoran kecil yang terjadi di kawasan Agam.

Akibat efek yang ditimbulkan, masayarakat sekitar pesisir pantai mulai khawatir jika terjadi bencana susulan yang sulit diprediksi kedatangannya. Sebagian masyarakat juga telah mengevakuasikan diri ke daerah yang lebih aman.

“Kita takut lah Pak, angin kencang, ditambah lagi dengan pasang laut yang semakin meninggi, kita lihat dulu, kalau bertambah parah, kita mungkin mengungsi sebentar,” ucap Iwan (37), pedagang di kawasan Pantai Padang pada JPPN.

Berdasarkan Informasi yang dihimpun JPPN dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, rata-rata yang terkena efek angin kencang tersebut adalah Kota Padang. Untuk wilayah lain di Sumbar, hanya sedikit longsor di kawasan Agam dan sekitarnya.

“Yang terparah adalah Kota Padang, dan untuk Sumbar tidak ada kerusakan yang berarti,” tutur Kepala BPBD Sumbar, Yazid Fadhli saat dihubungi Posmetro Padang (JPNN Group), Rabu malam.

Pihak BMKG sebelumnya telah memperingati seluruh masyarakat Indonesia untuk mewaspadai fenomena alam El-Nino yang berpoensi besar disusul oleh El-Nina. Kabar ini tersiar pada pertengahan April lalu setelah pihak otoritas iklim Australia mengrimkan pesan kepada pihak Indonesia tentang ancaman badai El Nino yang ia prediksi akan masuk pada Juni ini.

Data dari BMKG terpantau kalau wilayah Indonesia berada pada posisi rentan terhadap perubahan iklim dan cuaca. Pada bulan Juni ini, pihaknya mengakui bahwa Indonesia tengah bersiap untuk menghadapi fenomena ini.

“Gerakan angin yang sangat cepat di Samudera Hindia berefek hingga ke perairan barat kota Padang. Ditambah lagi dengan potensi El Nino yang dimulai pada Juni ini,” sebut Forecaster BMKG Maritim, Carles.

Ia juga menyampaikan bahwa kemungkinan, kejadian ini akan berlangsung hingga tiga hingga empat hari kedepan. Selain itu, angin kencang yang terjadi ini juga membuat naiknya permukaan air laut.

Ia juga menyerukan kepada para nelayan untuk mewaspadai hal tersebut. Pasalnya, badai tersebut tidak hanya terjadi di daratan saja, namun di laut badai tersebut bisa berhembus bahkan dengan tekanan lebih tinggi. (MFA)

Ahli: Permukaan Laut Naik 2,3 Meter Tiap Kenaikan Suhu Global 1 Derajat Celsius

Published in Informasi & Teknologi
Kamis, 19 Juni 2014 07:12

Medialingkungan.com - Para peneliti mengatakan suhu global kemungkinan akan naik sebesar dua derajat Celsius di atas suhu ‘sebelum’ zaman industri dalam 30 tahun mendatang.

Dalam sebuah laporan baru, para ilmuwan perubahan iklim meramalkan bahwa untuk setiap derajat Celsius kenaikan suhu global, permukaan laut akan naik 2,3 meter.

Perkiraan tersebut menurut mereka, kemungkinan tepat pada tahun 4000 atau sekitar 2000 tahun yang akan datang.

Penelitian sebelumnya telah meramalkan berbagai perubahan pada permukaan laut ketika iklim memanas, tetapi tim dari Postdam Institute for Climate Impact Research mengatakan, analisa mereka lakukan merupakan yang pertama, yang  mempertimbangkan data berdasarkan sejarah perubahan iklim diserta simulasi faktor-faktor yang menstimulun perubahan tingkat permukaan laut di masa depan.

Penulis hasil penelitian itu, Anders Levermann mengatakan, kombinasi fisika dan data memberinya keyakinan pada keakuratan prediksi tersebut.

Menurut Bank Dunia, para peneliti mengatakan suhu global kemungkinan akan naik sebesar dua derajat Celsius di atas suhu sebelum zaman industri dalam 30 tahun mendatang yang ditengarai akibat peningkatan konsentrasi gas-gas yang memerangkap panas di atmosfir.

Secara logis, Hal itu akan mengakibatkan kenaikan permukaan laut sedunia karena es di kawasan kutub mencair, dan samudera akan memuai karena panas yang tinggi.

Pejabat Bank Dunia, Robert Bisset mengatakan kepada VOA bahwa “kenaikan permukaan laut setinggi 50 sentimeter sebelum tahun 2050-an kemungkinan tidak akan dapat dihindarkan. Ini akan menimbulkan akibat yang nyata di khatulistiwa, terutama sekitar daerah-daerah berpenduduk padat seperti Bangkok di Thailand, dan Ho Chi Minh di Vietnam.”

Para ilmuwan memperkirakan terjangan badai tropis yang lebih deras, kekurangan pangan, gelombang panas yang berbahaya, dan diikuti banjir dahsyat akan mengakibatkan wilayah pesisir tidak dapat dihuni masyarakat.

Kendati demikian, perkiraan ini masih dapat bergeser. Salah satu praktisi perubahan iklim Indonesia menegaskan bahwa melakukan ‘reframing’ atas dogma pada mindset tentang ancaman dan intaian dampak prubahan iklim yang timbul akibat perilaku tak sadar lingkungan masyarakat dapat disentuh melalui kebijakan-kebijakan multisektoral yang membatasi aktivitas manusia yang memungkinkan terjadinya pengrusakan lingkungan.

Melalui penelitian ini, Levermann lebih lanjut memperingatkan, “kenaikan permukaan laut tidak terelakkan kecuali kalau suhu sedunia turun.”

Para peneliti Postdam Institute menganjurkan agar melakukan perencanaan yang tepat untuk ratusan tahun ke masa depan sebagai tindakan penanggulangan akibat jangka panjang yang ditimbulakn dari perubahan iklim. (MFA)

Greenpeace: Visi Misi Capres belum sentuh Ranah Perlindungan Lingkungan

Published in Nasional
Jumat, 13 Juni 2014 16:57

Medialingkungan.com - Greenpeace Indonesia menilai visi misi kedua calon Presiden serta calon Wakil Presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla, belum memprioritaskan perlindungan lingkungan secara maksimal dalam agenda politik mereka.

Menurut Kepala Greenpeace Indonesia, Longgena Ginting, "Komitmen dan program dalam visi misi keduanya tampak masih sangat mengandalkan eksploitasi sumber daya alam (SDA) untuk menopang pertumbuhan ekonomi tanpa mendorong prinsip-prinsip keberlanjutan dan keadilan lingkungan dalam startegi pembangunan nasional.”

Dalam dokumen visi misi pasangan Jokowi-JK maupun Prabowo-Hatta menjadikan kedaulatan energi dalam salah satu skala prioritas namun Jokowi-JK masih menempatkan batu bara sebagai solusi energi di Indonesia begitu juga dengan Prabowo-Hatta yang ingin mendorong peningkatan industri ekstraktif termasuk batu bara, katanya.

Longgena menilai, kedaulatan energi yang dicanangkan bertentangan dengan rencana lain untuk meningkatkan sumber energi yang berasal dari fosil seperti batu bara, minyak bumi ataupun gas alam. Sumber energi fosil suatu saat akan menjadi langka dan habis, sehingga harus mencari jalan keluar lain untuk beralih pada sumber energi yang terbarukan, tambahnya.

Selain itu, pasangan Prabowo-Hatta belum menjawab desakan kebutuhan pembenahan tata kelola perikanan termasuk lemahnya evaluasi dan pengawasan perizinan yang akhirnya bermuara pada praktik perikanan ilegal dan penangkapan ikan berlebihan. Begitupun dengan pasangan Jokowi-JK belum juga menyatakan akan memprioritaskan pembenahan terkait tata kelola perikanan dan perairan, ujarnya. (AP)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini