medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

CEPF: Kawasan Wallacea, Pusat Biodiversity Dunia Yang “Mutlak” di Konservasi

Published in Nasional
Rabu, 11 Juni 2014 17:01

Medialingkungan.com - Wallacea adalah kawasan biogeografis yang mencakup sekelompok pulau-pulau dan kepulauan di wilayah Indonesia bagian tengah, terpisah dari paparan benua-benua Asia dan Australia oleh selat-selat yang dalam.

Kawasan Wallacea memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Wilayah yang mencakup kawasan Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara ini sebagai zona transisi yang terkurung oleh laut dalam, terpisah dari Asia ataupun Australia.

Sejak tahun 2000 sebuah organisasi global Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) yang mendukung masyarakat sipil dalam melestarikan ekosistem penting yang terancam mengkaji daerah Wallacea sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia.

 “Hal itu dimulai dengan analisis Conservation International, yang pada tahun 2000 menentukan kriteria apakah sebuah wilayah masuk hotspot keanekaragaman hayati atau tidak,” jelas Pete Wood, ketua tim Studi Profil Ekosistem Wallacea.

Di seluruh dunia tak kurang ada 35 hotspot keragaman hayati yang sekaligus juga terancam keberadaannya. “Salah satu patokannya, kawasan itu telah kehilangan 30 persen habitat aslinya,” lanjut Pete saat ditanyai di Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Pete melakukan studi dengan berbekal keberadaan jenis-jenis yang terancam punah. Salah satu tujuan pokok program CEPF ini untuk menghindari kepunahan berbagai spesies penting.

“Otomatis, agar kita tahu di mana tempat paling mendesak dan paling terancam adalah mengetahui jenis-jenis yang di ambang kepunahan,” tegasnya.

“sehingga, kita beranjak dari data-data jenis yang terancam punah.”

Daftar itu mengacu kriteria IUCN (persatuan konservasi dunia) yang menyusun Daftar Merah (Redlist) spesies dengan berbagai kategori: kritis, rentan, dan terancam punah. Dari analisis itu, terdapat 558 spesies yang terancam punah, yang sebagian ada di Wallacea. “Sebagian yang lain ada di luar cakupan Wallace, tapi juga kita perhatikan.”

Tahap selanjutnya adalah menyusun lokasi-lokasi keberadaan spesies tersebut yang terancam. Pete menuturkan kalau ingin menyelamatkan spesies yang terancam punah, informasi itu tidak cukup. “Kita harus tahu persis suatu spesies berada di kawasan mana, di sungai mana, atau di gunung mana.”

Lantaran itulah, Pete mengindentifikasi lokasi-lokasi penting itu, yang kemudian menjadi daerah penting bagi keanekaragaman hayati (key biodiversity area/KBA) Wallacea. “Jadi, pada dasarnya KBA adalah kawasan yang memiliki sedikitnya satu populasi spesies yang terancam punah,” terangnya.

Berdasarkan data-data yang diperoleh tim medialingkungan.com hasilnya ada sekitar 393 kawasan penting bagi keanekaragaman hayati di wilayah tersebut. “Ada 251 lokasi di daratan dan di perairan 68 kawasan. Tapi ada tambahan 74 lokasi.

Di Laut Banda misalnya terdapat 35 lokasi KBA, seluas 5,16 juta hektare. Sementara itu, di Halmahera ada 14 lokasi, seluas 471,2 ribu hektare; kawasan Sunda Kecil 56 lokasi, seluas 214,3 ribu hektare, dan Selat Makassar 20 lokasi, seluas 1,6 juta hekater dan Teluk Tomini, 8 lokasi, seluas 447 ribu hekater. Untuk kawasan KBA di daratan meliputi luas 8,7 juta hektare atau 25% wilayah Wallacea. (MFA)

 

 

World Oceans Day 2014: Peneliti Dunia Ungkap Wilayah Perairan Paling Tercemar di Dunia

Published in Internasional
Minggu, 08 Juni 2014 18:43

Medialingkungan.com – Dalam sebuah acara untuk meningkatkan kesadaran global mengenai ancaman terhadap lautan dan mempromosikan konservasi laut dalam memperingati Hari Laut Sedunia (World Oceans Day) yang jatuh pada hari ini, Minggu, 8 Juni.

Menurut World Wide Fund for Nature (WWF), lebih dari 80% pencemaran laut disebabkan oleh kegiatan berbasis lahan yang menyebabkan tumpahan minyak, pupuk dan limbah kimia beracun yang pembuangan limbahnya yang tidak teratasi.

Beberapa pencemaran air biasanya juga diawali polusi udara, yang mengendap ke saluran air dan lautan, menurut Layanan Kelautan Nasional Amerika Serikat.

Internasional Bisnis -Times UK merilis beberapa wilayah dengan kondisi perairan yang paling tercemar di dunia.

Samudera Atlantik - Zona Mati Teluk Meksiko 

Teluk Meksiko adalah cekungan di Samudera Atlantik, dikelilingi oleh pantai Teluk dari Amerika Serikat, Meksiko dan Kuba.

Zona kematian di sini adalah salah satu yang terbesar di dunia. Perairan ini dipenuh dengan nitrogen dan fosfor yang berasal dari negara-negara pertanian utama di Lembah Sungai Mississippi, termasuk Minnesota, Iowa, Illinois, Wisconsin, Missouri, Tennessee, Arkansas, Mississippi, dan Louisiana.

Kehadiran bahan kimia di perairan Teluk Meksiko ini mengakibatkan hipoksia  atau kadar oksigen yang rendah. Hipoksia ini penyebab ikan kerap mati dalam jumlah besar.

"Hipoksia di dasar perairan tertutup rata-rata 8.000-9.000 km2 di 1985-92, namun meningkat menjadi 16,000-20,000 km2 di 1993-1999," menurut National Oceanic and Atmospheric Administration.

 

Samudera Atlantik - Garbage Patch Atlantik Utara

Patch ini pertama kali didokumentasikan pada tahun 1972 dan seluruhnya terdiri dari sampah laut buatan manusia mengambang di Atlantik Utara pilin.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa Garbage Patch Atlantik Utara memiliki ukuran ratusan Km2 dengan 200.000 potongan-potongan sampah per kilometer persegi di beberapa tempat.

 

Samudera Pasifik - Great Pacific Garbage Patch

Terletak di Samudra Pasifik bagian utara, dekat Pasifik Utara pilin, koleksi ini dari sampah laut sebagian besar terdiri dari plastik dan kimia lumpur.

Patch ini diyakini telah terbentuk secara bertahap sebagai pencemaran laut yang terbawa bersama-sama oleh arus laut.

Ukuran yang tepat dari patch sampai saat ini belum diketahui, namun diperkirakan antara 700.000 km persegi (270.000 mil persegi) sampai lebih dari 15 juta km2 (5,8 juta mil persegi). Karena puing-puing mengambang sebagian besar terdiri dari potongan-potongan mikroskopis dari plastik, dan tidak terlihat dapat dipantau dari luar angkasa.

The Great Pacific Garbage Patch mengumpulkan sampah laut dari Amerika Utara dan Asia, serta kapal bepergian yang melalui area tersebut.

Sampah dari pantai Amerika Utara membutuhkan waktu sekitar enam tahun untuk mencapai Great Pacific Garbage Patch, sementara detritus dari Jepang dan negara-negara Asia lainnya membutuhkan waktu sekitar satu tahun.

 

Samudra India

Sebuah patch sampah di Samudera Hindia ditemukan pada tahun 2010. Patch ini, terutama dibentuk oleh sampah plastik dan lumpur kimia. Patch ini merupakan sepertiga dari total sampah plastik lautan dunia.

Menurut Samudera Hindia Experiment (INDOEX), Samudra Hindia secara preventif tercemar oleh sampah plastik dan limbah kimia, yang menyebabkan hipoksia.

INDOEX telah mendokumentasikan polusi luas mencakup sekitar 10 juta km persegi (3,86 juta mil persegi).

Menurut para ilmuwan, siklon tropis yang menyebabkan sejumlah besar kematian sekitar Laut Arab (wilayah di Samudra Hindia bagian utara) menjadi semakin umum sebagai akibat dari polusi.

 

Laut Tengah

The Mediterranean mungkin adalah laut yang paling tercemar di dunia.

The United Nations Environment Programme memperkirakan bahwa 650.000.000 ton limbah, 129.000 ton minyak mineral, 60.000 ton merkuri, 3.800 ton timah dan 36.000 ton fosfat dibuang ke Laut Tengah setiap tahun.

Menurut Greenpeace, karena kondisinya yang sangat tertutup, maka secara alami, kawasan Mediterania membutuhkan lebih dari 100 tahun untuk dapat bersih dan kembali ke keadaan normal.

Karena tingginya tingkat polusi, banyak spesies laut yang terancam punah, di antaranya Mediterania Monk Seal, salah satu mamalia laut yang paling terancam punah di dunia.

 

Laut Baltik

Over-fishing, tumpahan minyak dan polusi dari daratan adalah ancaman yang tertinggi Laut Baltik yang terletak di antara Eropa Tengah dan Timur.

Setengah dari spesies ikan di Baltik berada di bawah tingkat bawah biologis kritis.

Karena hanya memiliki ruang yang sempit ke laut, yakni antara Swedia dan Denmark, maka menurut IBT, kondisi air pada wilayah tersebut akan memakan waktu 25-30 tahun untuk memulihkan dirinya.

Pihak berwenang kesehatan Finlandia telah memperingatkan bahwa memakan beberapa spesies di wilayah itu, sama artinya dengan memakan ikan mati.

 

Laut Karibia

Terletak di bagian utara Samudera Atlantik, Laut Karibia adalah salah satu daerah yang mengalami kerusakan paling serius oleh aktivitas manusia.

Menurut sebuah studi oleh Pusat Nasional untuk Analisis Ekologis dan Sintesis (NCEAS) mengatakan bahwa akibat tumpahan minyak, over-fishing, polusi dan perubahan iklim sehingga kehidupan laut mati.

Lebih lanjut ia memprediksi bahwa oyster dan rumput laut, mangrove, ikan-ikan serta karang lambat laun akan menghilang dalam kurun waktu yang dekat. (MFA)

Menteri Perikanan dan Kelautan Keluhkan Lemahnya Pengawasan Perairan Indonesia

Published in Nasional
Minggu, 08 Juni 2014 13:05

Medialingkungan.com - Sharif C Sutardjo, Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia  mengakui, sistem pengawasan dan pengendalian laut di perairan Indonesia tidak optimal, bahkan sangat lemah. Hal ini ditengarai karena anggaran operasional kapal pengawas lautan sangat minim.

Sharif memaparkan, dari sekitar 5,58 juta kilometer persegi wilayah laut Indonesia, hanya ada 27 kapal yang beroperasi untuk mengawasi seluruh wilayah tersebut. 

"Yang lebih menyedihkan lagi, anggaran operasional untuk pengawasan (kendali) laut kita dari tahun ke tahun terus menurun. Kalau sebelumnya masih bisa 200 hari dari 365 hari dalam setahun, sekarang hanya untuk 120 hari saja," kata dia pada Antara di Malang, Jawa Timur, Minggu (08/06). 

Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, sambungnya, untuk mengawasi kawasan Zona Eksklusif Ekonomi hanya ada tujuh buah kapal.

Lebih lanjut ia jelaskan, anggaran di sektor kelautan dan perikanan sampai saat ini terlalu fokus pada biaya bantuan untuk para nelayan, baik bantuan berupa pelatihan-pelatihan maupun peralatan penangkapan ikan.

Menyikapi hal ini, kata dia, pemerintah Prancis memberi bantuan alat deteksi keberadaan kapal legal maupun ilegal yang berlayar di wilayah laut Indonesia, yang ditempatkan di kawasan perairan Bali.

Sekarang pemerintah juga sedang merintis kerja sama dengan China berupa bantuan pesawat yang mampu memotret dari ketinggian 10-20 meter di atas laut guna memonitoring illegal fishing yang kerap menimbulkan kerusakan pada ekosistem laut, utamanya terumbu karang. (MFA)

MSDC Ajak Warga Buat Komitmen Merawat Karang Pada World Coral Triangle Day 2014

Published in Event & Komunitas
Minggu, 08 Juni 2014 11:31

Medialingkungan.com - Memperingati Hari Lautan Sedunia yang jatuh setiap tanggal 8 juni, Marine Science Diving Club (MSDC) Universitas Hasanuddin melakukan campaign di sekitar Anjungan Pantai Losari untuk membuat komitmen bersama masyarakat yang ditandai dengan pengumpulan tandatangan di atas spanduk yang menyerukan pentingnya menjaga ekosistem laut, khususnya terumbu karang (coral).

Ketua panitia, Asri Febriawan Amansyah mengatakan, kampanye ini bertujuan untuk menginformasikan ke publik tentang kerusakan terumbu karang saat ini sekaligus memberikan proyeksi tentang potensi kelautan yang sangat besar. Ia menekankan agar pengelolaan laut harus sesuai dengan kaidah sustainable development.

“Kampanye ini akan memberikan masyarakat gambaran kerusakan coral saat ini, kemudian kita juga ingin memberi tahu bahwa potensi kelautan Indonesia sangat besar, sehingga harus kita kelola dengan baik dan berkelanjutan,” ujar Ketua Panitia yang akrab disapa Asri ini.

Kampanye yang dimulai sejak pukul 07.00 – 10.00 WITA ini, tak ayal menyedot perhatian masyarakat, khususnya di jalur car free day (CFD). Pasalnya, beberapa orang dari aktivis lingkungan ini menggunakan kostum yang terbuat dari kardus yang bertuliskan testimoni tentang perkembangan kondisi terumbu karang saat ini.

Salah satu kostum itu bertuliskan fakta-fakta tentang kondisi aktual terumbu karang. Dikatakan sekitar 75 persen spesies coral dunia terdapat di perairan Raja Ampat, Maluku Utara, Indonesia.

Diprediksikan, jika kerusakan coral terus meningkat, maka 70 persen spesies coral dunia akan lenyap pada tahun 2050.

Salah satu aktivis yang tergabung dalam aksi ini, Ulil Amri mengatakan, sekalipun terumbu karang hanya meliputi sekitar 15 persen dari permukaan bumi, namun sekitar 25 persen dari semua spesies ikan di bumi memiliki habitat di terumbu karang tersebut.

“Total terumbu karang di bumi meliputi 15 persen permukaannya dan 25 persen total ikan di bumi tinggal disana,” ungkap Ulil.

Menanggapi perubahan iklim, Ulil mengatakan, perubahan iklim memberikan dampak begitu besar terhadap coral. Pasalnya, batas toleransi suhu terumbu karang berkisar 30-31 derajat celcius, karena zooxanthela pada struktur tubuh terumbu karang dapat mati. Jika demikian, maka tidak ada lagi yang menyuplai makanan ke terumbu karang dan mengakibatkan pemutihan karang (bleaching) lalu mati.

Salah satu pengunjung yang memeberikan tanda tangannya sebagai bentuk komitmen perlindungan coral di Indonesia, Malik (47) berkomentar, “Sangat baik sekali kampanye ini, terumbu karang merupakan nyawa dari pesisir laut. Sejauh ini, pemerintah masih mengabaikan hal ini, padahal investasi di sektor kelautan dan perikanan sangat besar potensinya.”

Setelah tanda tangan pada spanduk terisi penuh, mereka kemudian konvoi di sekitar Anjungan Pantai Losari sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat yang belum sempat memberikan tanda tangan sebagai komitmen merawat SDA pesisir.

 

Asri juga mengemukakan bahwa kegiatan ini akan berlangsung hingga tanggal 10 Juni. Rangakain kegiatan ini akan diteruskan dengan kuliah umum di Aula Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin pada hari Senin (09/06), kemudian akan dilanjutkan di Pulau Pajenekang, Kabupaten Pangkep, pada hari Selasa 10 juni mendatang.

Disana, tambah Asri, “kami akan melakukan penyelaman bersama, underwater clean up, dan beach clean up. Selain itu, kami juga akan mengadakan games, lomba mewarnai, nonton bareng, dan pembagian buku untuk warga Pulau Pajenekang." (MFA)

Lewat 'Belitong Biru', Kabupaten Belitung Pecahkan Rekor Dunia

Published in Nasional
Sabtu, 07 Juni 2014 22:12

Medialingkungan.com - Dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Kabupaten Belitung menyelenggarakan festival kelautan dengan tema ‘Belitong Biru’ yang dimulai sejak Kamis lalu (05/06) dan berakhir hari ini, Sabtu (07/06/2014).

Berkat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan PB POSSI, kegiatan tersebut akhirnya dapat terselenggara di Pantai Tanjung Kelayang, Kabupaten Belitung.

Ketua penyelenggara acara, Amin Nurachman mengatakan, tujuan digelarnya acara ini ialah untuk meningkatkan potensi blue economy melalui wisata bahari. 

"Seperti diketahui, saat ini pantai-pantai di Belitung menjadi primadona, ke depannya kita harap destinasi wisata di Belitung tak hanya pantai saja karena banyak potensi lain yang bisa dieksplor di sini," ungkap Amin yang juga merupakan Ketua POSSI Kabupaten Belitung.

Pembukaan acara ini diawali dengan pelepasan tukik di bibir pantai, Pantai Tanjung Kelayang. Sedangkan acara utama diselenggarakan kemarin Jumat (06/06) yakni dengan melakukan penanaman mangrove di Pulau Kepayang bersama peserta yang berasal dari beberapa sekolah di Belitung, kemudian dilanjutkan dengan transplantasi terumbu karang yang melibatkan para penyelam dari dalam dan luar negeri. 

Puncak acaranya adalah pameran foto bawah laut di kapal karam yang berhasil memecahkan rekor dunia, Sabtu (07/06) yang berlokasi di laut sekitar Pulau "Mercusuar” Lengkuas yang dikenal sebagai salah satu ikon Bangka Belitung. 

Amin juga menambahkan, melalui pemecahan rekor dunia ini diharapkan  spot-spot diving  yang tersebar di seluruh Bangka Belitung dapat lebih dikenal masyarakat dalam dan luar negeri. (MFA)

Potensi Kelautan Tandingi Potensi Tambang Emas  

Published in Nasional
Kamis, 29 Mei 2014 17:57

Medialingkungan.com - Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Sharif Cicip Sutardjo menyatakan, luas indikatif potensi lahan budi daya laut nasional mencapai 4,58 juta. Namun, baru sekitar 2 persen di antaranya yang telah dimanfaatkan.

"Ini merupakan tambang emas yang belum tergali," kata Sharif melalui siaran pers, awal Mei lalu.

Menurut Sharif, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) secara intensif terus mengupayakan pengembangan kawasan budi daya laut atau marikultur. Ia menyadari komoditas budi daya laut mempunyai nilai ekonomis tinggi dari tahun ke tahun.

"Permintaan komoditas marikultur cenderung semakin meningkat dari tahun ke tahun," ujarnya.

Sharif menjelaskan, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi tinggi sebagai area pengembangan budidaya laut. Tercatat, hingga tahun 2011 pemanfaatan budidaya laut hanya seluas 115,03 hektare, sementara luas area budidaya laut mencapai 2.642 hektare. Ini merupakan peluang bagi para penggiat perikanan khususnya di Provinsi NTB.

Sharif menambahkan, potensi marikultur ini perlu diperkenalkan kepada investor dengan konsep usaha industri budi daya laut yang berkelanjutan. Hal ini akan mendorong pertumbuhan dan pergerakan ekonomi serta pemberdayaan masyarakat di pesisir dan pulau-pulau kecil.

Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi mengakui, hasil laut Indonesia berupa ikan dan udang merupakan salah satu komoditas ekspor utama. Tahun lalu, nilai ekspornya mencapai US$ 2,85 miliar. Dalam triwulan pertama tahun ini, ekspornya sudah mencapai US$ 735,8 juta atau naik 22,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. "Ini harus terus kita dorong," ujarnya. (MFA)

Menghindari Kerusakan Ekosistem Laut, Kementrian Kelautan dan Perikanan Tertibkan Pipa Migas Bawah Laut

Published in Nasional
Kamis, 29 Mei 2014 16:44

Medialingkungan.com – Sebagai wujud implementasi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia akan menyusun roadmap pemasangan instalasi pipa minyak dan gas di dasar laut. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan keberlangsungan konservasi ekosistem di bawah laut.

"Kami hanya ingin memastikan keberlangsungan konservasi ekosistem bawah laut," begitu yang di ucapkan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan, Syarief Widjaja pada awal Mei lalu.

Pada Undang-undang tesebut, tambah Syarief, diamanatkan empat norma, yaitu pemberdayaan masyarakat adat dan nelayan, penataan investasi, pengaturan sistem perizinan, dan pengelolaan kawasan konservasi laut nasional.

Saat ini, banyak terjadi konflik kepentingan di perairan karena kawasan 0-12 mil dianggap sebagai common property tanpa penataan ruang yang tegas. Untuk itu, pengelolaan ini kelak masuk dalam rencana zonasi tata ruang laut yang mencakup pemanfaatan umum, konservasi, alur pelayaran, dan alur pipa bawah laut.

"Ada dua izin yang diatur dalam UU revisi ini, yakni izin lokasi dan pengelolaan," ucapnya.

Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Sudirman Saad mengatakan, tata letak pipa migas dan kabel di dasar laut perairan Indonesia masih rancu. Sebab, Sudirman melihat belum ada koridor hukum yang tegas mengatur soal pemanfaatan ruang di dasar perairan laut. Ia mengaku, pihaknya banyak menemukan persilangan (crossing) pipa dasar laut di sebagian perairan.

Akibatnya, potensi kerusakan ekosistem bawah laut sangat besar. Jika ekosistem ini rusak, akan banyak kerugian negara yang dihasilkan untuk memperbaiki ekosistem rusak tersebut. Disamping itu, kerusakan itu juga dinilai akan menghambat arus investasi untuk pengelolaan wilayah laut dan pesisir. (MFA)

Kotoran Ikan Paus Sanggup Suburkan Lingkungan Laut

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 28 Mei 2014 21:47

Medialingkungan.com - Dr.Trish Lavery, peneliti dari Australia mengemukakan, kotoran ikan paus bermanfaat bagi kesuburan lingkungan laut dan pertumbuhan populasi ikan.

Hal ini berbeda dengan pendapat selama ini yang menyatakan, hewan mamalia ini mengancam populasi ikan di laut. Asumsi ini timbul karena paus sanggup memakan ratusan kilogram ikan kecil dalam waktu sehari.

Menurut Dr Lavery, dengan ukuran tubuh yang besar, ikan paus justru sanggup menyuburkan lingkungan laut dalam radius yang luas.

"Memang mereka binatang yang besar dan mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak," katanya.

"Namun, kebanyakan dari nutrisi yang mereka konsumsi tersebut kemudian dibuang sebagai kotoran dalam bentuk likuid ke permukaan laut," tambah Dr Lavery.

Ia mengatakan, hewan mamalia seperti ikan paus dan lumba-lumba membuang kotorannya ke permukaan laut dan menyuburkan pertumbuhan lamun atau rumput-rumputan laut.

Rumputan laut dalam ukuran mikroskopis tersebut diperlukan bagi terjadinya proses fotosintesis di lingkungan laut. (AP)

 

ISYF Selenggarakan Indonesian Youth Forum 2014 di Wakatobi

Published in Event & Komunitas
Senin, 05 Mei 2014 11:11

Medialingkungan.com - Indonesian Student and Youth Forum (ISYF) sebagai lembaga nirlaba yang bergerak untuk  pengembangan dan pemberdayaan pemuda dalam berbagai bidang akan menyelenggarakan kegiatan “Forum Pelajar Indonesia” atau Indonesian Youth Forum (IYF) 2014 di Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara yang akan berlangsung mulai tanggal 20-24 Mei 2014.

Sebelumnya pada 2008, ISYF terus melakukan sosialisasi dan melaksanakan berbagai kegiatan yang mendukung pencapaian MDGs 2015. ISYF kemudian resmi berdiri pada 2009 di Jakarta dan sejauh ini telah menyelenggarakan banyak kegiatan diantaranya, International Youth Forum (2008), Asean University Student Conference dan International Youth Camp (2009) dan Asia-Africa Youth Forum (2010) serta petukaran delegasi antar negara hingga saat ini.

Forum Pelajar Indonesia merupakan event tahunan ISYF, dimana tiap tahunannya ISYF mengundang ratusan pelajar dari seluruh Provinsi di Indonesia yang kemudian bersama-sama membuat aksi nyata demi kemajuan Tanah Air.

Indonesia Youth Forum 2014 mengusung tema “The Role of Youth : Action on Preserving Heritage and Marine Tourism Sustainability”, diharapkan mampu mempertemukan para pemimpin muda di Indonesia dan melahirkan rencana strategis dari gerakan generasi muda dalam upaya pelestarian lingkungan dan warisan budaya untuk keberlanjutan ekosistem.

Kegiatan yang akan dibuka oleh Menteri Pemuda dan Olah Raga ini akan diikuti oleh 250 orang peserta perwakilan seluruh Provinsi di Tanah Air yang telah melalui proses seleksi oleh tim ISYF.  

Beberapa tujuan kegiatan ini yaitu, character building, teamwork and networking, sharing, enterpreneurship, leadership, dan synergyze.

Wakil Presiden Republik Indonesia Prof. Dr. Boediono mengatakan Forum Pelajar Indonesia ini merupakan kegiatan yang positif dan perlu didukung oleh semua pihak.

Untuk ikut berkontribusi dalam kegiatan Indonesian Youth Forum anda bisa melakukan registrasi dengan mengunjungi website resmi ISYF di www.iswf.or.id untuk melengkapi syarat dan ketentuan sebagai peserta IYF 2014 di Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Silahkan mengunjungi situs youtube di https://www.youtube.com/watch?v=aSnBlrbZ5No untuk melihat cuplikan profil Indonesia Youth Forum 2014. (MFA)

 

Gempa 5,0 SR Guncang Lampung Barat

Published in Nasional
Minggu, 25 Mei 2014 08:03

Medialingkungan.com – BMKG melaporkan bahwa telah terjadi gempa bumi bermagnitude 5,0 skala Richter, di barat daya Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung, pada Minggu (25/05/2014), pukul 03.57 WIB.

Menurut Kepala Stasiun Geofisika Kotabumi Lampung Yuharman, gempa ini berada pada koordinat Lintang 6.39 derajat Lintang Selatan (LS) dan Bujur 103.98 derajat Bujur Timur (BT), dengan kedalaman 10 km.

Lokasi gempa di bagian tenggara Sumatera; 138 km barat daya Lampung Barat; 142 km barat daya Tanggamus; 161 km barat daya Pringsewu; 177 km barat daya Bandarlampung Provinsi Lampung; dan 316 km barat daya Jakarta.

Kendati demikian, BMKG menegaskan, gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Kawasan ini memang merupakan kawasan yang sangat sering terguncang gempa. (MFA)

 

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini