medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Sebuah Pulau Terbentuk Dari Tumpukan Sampah

Published in Internasional
Jumat, 23 Mei 2014 11:23

Medialingkungan.com – Setiap kali Amerika Utara, Asia Timur dan Australia membuang sampah ke laut, benda-benda tersebut berkumpul di tempat yang sama. Tempat ini bernama The Great Pacific Garbage Patch. Semakin lama sampah itu menumpuk hingga menjadi pulau sebesar negara bagian Texas kumpulan sampah tersebut diakibatkan karena area tersebut merupakan perputaran arus air dan angin.

Sampah tersebut terdiri dari berbagai macam konsentrat plastik, sampah kimia, dan barang rongsokan serta puing-puing atau sisa material lainnya. Keberagaman sampah ini dipengaruhi karena semua kapal yang berlayar membuang sampah mereka ke laut, kemudian arus laut membawa sampah tersebut dan terperangkap di pusaran arus laut Pasifik Utara yang terletak di antara Hawaii dan California, Amerika Serikat.

Keberadaan ‘Pulau sampah’ ini pertama kali diinformasikan oleh organisasi lingkungan Amerika Serikat National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pada tahun 1988. Kemudian ditemukan oleh pelaut asal Amerika Serikat Charles J Moore di tahun 1997 yang menemukan tumpukan sampah ini semakin membesar.  

Ukuran tumpukan sampah ini tidak bisa diketahui secara pasti karena tidak bisa dilihat dari permukaan laut. Sampah-sampah tersebut berada di bawah permukaan laut sehingga tidak bisa dilacak melalui satelit maupun pesawat. Menurut perkiraan, luasnya antara 700.000 - 15.000.000 km persegi.

Sampah-sampah plastik yang ada pada kawasan Garbage Patch ini telah mengakibatkan pencemaran lingkungan di laut. Hewan seperti ikan, burung albatros, kura-kura dan jenis makhluk laut lainnya telah terkontaminasi oleh sampah plastik tersebut.

Burung Albatros adalah salah satu contoh hewan yang terkena dampak kontaminasi sampah laut tersebut. Pada sistem pencernaan burung ini banyak ditemukan sampah plastik.

Dari 1,5 juta burung Albatros, menurut penelitian hampir semuanya terkontaminasi sampah plastik pada sistem pencernaannya dan ini berdampak negatif pada proses regenerasi burung ini. Sepertiga dari anak burung albatros ini mati karena kontaminasi sampah tersebut. (TAN)

 

Makassar Terancam Krisis Air Tawar

Published in Nasional
Jumat, 21 Maret 2014 12:11

Medialingkungan.com – Makassar terancam krisis air tanah 15 tahun mendatang. Krisis tersebut diduga kuat setelah ditemukan intrusi air laut dari sebelah barat Makassar yang memasuki kawasan permukiman, seperti di sepanjang Jl. Sultan hasanuddin dan Jl. Jenderal Sudirman. Bahkan kedalaman intrusi air laut di Kawasan Industri Makassar (KIMA), Pasar Daya Baru, dan Bandara Sultan Hasanuddin sudah mencapai 80 meter.

Intrusi air laut/asin adalah pergerakan air asin ke aukifaler tawar yang dapat mengkontaminasi sumber air minum. Intrusi air asin dapat terjadi secara alami hingga derajat tertentu pada sebagian besar akuifer pantai, dikarenakan adanya hubungan hidrolik antara air tanah dan air laut. Karena air asin memiliki kadar mineral yang lebih tinggi dari air tawar, maka air laut memiliki massa jenis yang lebih tinggi dan tekanan air yang lebih besar. Sehingga air asin bergerak menuju air tawar.

Sekretaris Dinas Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Sulawesi Selatan Syamsul Bachri mengatakan sejak 2009 hingga saat ini, intrusi air laut terus diteliti. Dari hasil penelitian tersebut terbukti tingkat keasinan air di permukiman naik 20 persen tiap tahun.

"Kami juga menemukan penurunan muka air tanah di KIMA sebesar 3 meter selama 10 tahun. Ini semua akibat pengambilan air tanah pada sumur bor yang berlebihan. Kalau secara teknik, harusnya maksimal satu sumur 2 liter per detik. Kalau berlebihan pengambilan bisa berakibat semakin turunnya permukaan air tanah," ujar Syamsul.

Menurut dia, kebutuhan masyarakat Makassar akan air tanah 60-70 persen. Sisanya, dipenuhi oleh perusahaan daerah air minum. Untuk mengantisipasi ancaman krisis ini ia meminta instansi terkait, untuk memastikan perizinan pembuatan sumur bor mengikuti aturan. Ia mencontohkan, kedalaman sumur bor di hotel-hotel harus lebih dari 100 meter dan penambahan sumur bor harus dihentikan.

Berbagai aktivitas manusia, terutama pemompaan air tanah dari akuifer pantai, dapat meningkatkan intusi air laut karena tekanan air tanah berkurang dan menjadi relatif lebih kecil dibandingkan tekanan dari air laut. Penyebab intrusi air asin lainnya yaitu kanal navigasi dan drainase yang menciptakan celah bagi air laut bergerak ke daratan melewati permukaan dan melalui pasang surut air.

Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan belum mengetahui hasil penelitian tersebut. Karena itu, dia tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Beliau masih memerlukan banyak kajian tentang ini sebelum membuat keputusan. (MFA)

HMI Cabang Mamuju : Hentikan Aktivitas Reklamasi Pantai Mamuju

Published in Nasional
Rabu, 26 Maret 2014 08:00

Medialingkungan.com - Upaya reklamasi pantai di Mamuju Sulbar menuai protes keras dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mamuju. Nanang Wahidin selaku ketua mengatakan reklamasi tersebut terkesan sangat dipaksakan oleh pihak pemerintah daerah. Menurutnya, pemerintah tidak memperhatikan kerusakan ekosistem yang diakibatkan oleh aktivitas itu.

“berdasarkan pendekatan ekologis, ancaman abrasi tentunya akan menimbulkan kekhawatiran masyarakat yang berktivitas di daerah tersebut. Disisi lain, coral serta vegetasi yang ada disekitar pantai akan ikut tertimbun. Bukankah harusnya biodiversity laut ini dilindungi,” kata nanang.

Selain itu, Analis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) pada aktivitas ini harus lebih meninjaudampak limbah yang dihasilkan jika rencana reklamasi pantai itu benar-benar akan terealisasi.

“kami HmI Cab. Mamuju telah duduk bersama untuk mengkaji masalah ini. Selain amdalnya yang belum jelas, UU no 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir pantai dan pulau pulau kecil ikut dicederai sehingga satu satunya solusi yang tepat adalah hentikan reklamasi pantai mamuju”, tegasnya. (AND)   

 

Jelang Hari Bumi Se-Dnuia 2014, LPPM UNUD Tanam 3000 Mangrove

Published in Nasional
Minggu, 20 April 2014 08:00

Medialingkungan.com – Mengusung tema Go Green 2014 ”Mangrove-Ku Masa Depan Anak Cucuku”, Pusat Studi Pembangunan Berkelanjutan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Udayana (LPPM UNUD) menanam sekitar 3.000 pohon bakau (mangrove) yang dilaksanakan di Pintu Masuk Jalan Tol Nusa Dua, Bali pada pukul 06.30 Wita.

Kegiatan penanaman pohon bakau kali ini melibatkan sedikitnya 300 mahasiswa. Kegiatan tersebut merupakan agenda peringatan Hari Bumi se-Dunia pada 22 April mendatang. Penanaman ini merupakan momentum bagi umat manusia untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet ini.

"Kami secara rutin melakukan penanaman pohon bakau yang melibatkan pelajar, mahasiswa dan masyarakat dalam upaya melestarikan tanaman penangkal gelombang laut tersebut," kata Ketua Pusat Studi Pembangunan Berkelanjutan LPPM Universitas Udayana Dr. Ketut Gede Dharma Putra di Nusa Dua, Bali, Minggu (20/04/2014).

LPPM UNUD juga melakukan pembibitan pohon bakau sehingga ada regenerasi untuk kegiatan lingkungan pada saat penerimaan mahasiswa baru di tahun selanjutnya.

"Setiap penerimaan mahasiswa diwajibkan melakukan kegiatan lingkungan, salah satunya melakukan bakti sosial penghijauan melalui penanaman pohon bakau," katanya.

Kali ini, UNUD bekerja sama dengan instansi terkait melakukan penanaman pohon bakau, diantaranya dengan Dinas Kehutanan Provinsi Bali dan PT Jasamarga Tol Bali. (MFA)

 

Diduga Akibat Pencemaran Limbah, Ribuan Ikan Mati di Pesisir Pantai Marunda

Published in Nasional
Minggu, 20 April 2014 08:00

Medialingkungan.com - Ribuan ikan mati di Pantai Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Belum diketahui pasti penyebab matinya ikan-ikan tersebut, dugaan sementara lantaran keracunan limbah industri.

Berdasarkan pantauan, ikan kecil hingga berukuran besar yang masih bisa bertahan menepi ke pinggir pantai. Meski begitu tidak ada seorangpun warga yang mengambil atau memakan ikan tersebut.

Menurut salah satu nelayan pesisir pantai Marunda, Bapak Aslik, mengakui kebenaran matinya ribuan ikan di Pantai Marunda. Meski begitu dia tidak kaget dan tidak merasa heran karena hal demikian sudah sering terjadi.

“Saya menduga penyebab matinya ikan-ikan ini karena pencemaran limbah rumah tangga dan limbah industri dari perusahaan-perusahaan besar yang berada di sekitar lokasi yang terbawa melalui kanal yang bermuara ke Laut Marunda,”Ujar Aslik.

Meski begitu dirinya tidak tahu persis limbah darimana, susah menebaknya. “saya berharap pemerintah bisa tanggap dan secepatnya mengatasi masalah ini,” tambahnya.

Kepala Unit Limbah Lingkungan dan Air Tanah (BPLHD) DKI Jakarta, Bawa Sarasa, mengakui, pihaknya memang belum sempat mengecek kondisi di perairan Pantai Marunda tersebut. Ia hanya mengklaim penyebab ikan mati tak hanya karena limbah, tetapi juga akibat adanya arus balik dari laut.

"Jadi arus balik laut bisa menyebabkan endapan-endapan yang ada di dasar laut naik ke permukaan dan menjadi racun. Kemungkinan ikan mati juga karena hal tersebut," terang Bawa.

Melihat kondisi ini maka, setiap kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup, ancaman terhadap ekosistem, kehidupan dan kesehatan perlu dilakukan pengkajian dan riset dalam meminimalisisr dampak lingkugan hidup yang ditimbulkan.

Untuk itu, pemerintah harus mendorong penanggung jawab usaha atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup dalam rangka meningkatkan kinerja lingkungan hidup sesuai UU nomor 32 tahun 2009. (AP)

 

20 Persen Mangrove di Balikpapan Timur Hilang Setiap Tahun

Published in Nasional
Jumat, 18 April 2014 08:00

Medialingkungan.com – Salah satu dari enam kecamatan di balikpapan yakni, kecamatan Balikpapan Timur dengan luas wilayah perairan 92,42 km2 dikabarkan kehilangan mangrove Setidaknya 20 persen setiap tahun di Kelurahan Tritip, Balikpapan Timur, Kalimantan Timur.

Vegetasi mangrove diduga mati akibat gelombang ombak yang deras dari Selat Makassar, limbah kayu, sendimentasi pasir laut, dan sampah plastik yang menutupi akar tanaman.

Hasil observasi Pengelola Daerah Perlindungan Laut dan Mangrove di Kelurahan Tritip menyebutkan tak banyak jenis mangrove yang kuat menghadapi sedimentasi dan sampah di lahan seluas 60 Hektare tersebut.

Untuk itu, pengelola akan melakukan penanaman bibit mangrove di kawasan pesisir dengan jarak tanamnya yaitu sekitar satu meter antar pohon.

Data menyebutkan setidaknya 20.500 bibit baru mangrove ditanam sepanjang 2013. Sedangkan pada empat bulan pertama di 2014, baru 1.220 bibit pohon ditanam sumbangan dari perusahaan, individu, maupun instansi pemerintahan.

Pemerintah Kota Balikpapan akan mempersiapkan peraturan untuk mencegah kehancuran mangrove dalam bentuk peraturan daerah (perda) kawasan konservasi daerah.

Hal ini dikatakan Walikota Balikpapan Rizal Effendi dalam rangkaian Rapat Koordinasi Lingkungan Hidup Ekoregion (Rakoreg) Kalimantan tahun 2014 bersama Menteri Lingkungan Hidup Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, M.B.A, beberapa akhir Maret lalu.

Sementara itu Menteri Lingkungan Hidup mendukung atas rencana Walikota Balikpapan untuk mengeluarkan Peraturan Daerah mengenai konservasi Mangrove di Kawasan Kota Balikpapan. (MFA)

 

Terancam Habis, Terumbu Karang Indonesia Butuh Kepedulian Semua Pihak

Published in Nasional
Jumat, 18 April 2014 08:00

Medialingkungan.com - Lebih dari 80 persen masyarakat Inodnesia hidup di sekitar wilayah pesisir atau dengan kata lain, lebih dari setengah total tersebut menggantungkan hidupnya dari SDA wilayah pesisir. Untuk itu, pemerintah berkomitmen melakukan perlindungan ekosistem laut dalam pengelolaan sumberdaya hayati pesisir.

Sejauh ini, terdapat sekitar 139.900 kilometer persegi kawasan yang dilindungi pemerintah. Selanjutnya, pemerintah masih terus berupaya mencapai 200.000 kilometer persegi pada 2020 meskipun ini merupakan tantangan yang sangat berat.

Salah satu unsur biotik pada ekosistem pesisir adalah terumbu karang (coral reef). Greenpeace mencatat, Indonesia meiliki 18% dari total kawasan terumbu karang dunia. Data terakhir (2012) Pusat Penelitian Oseano-grafi LIPI mengungkapkan hanya 5 persen karang Indonesia yang tergolong sangat baik, 27,18 persennya digolongkan dalam kondisi baik, 37,25 persen dalam kondisi cukup, dan 30,45 persen berada dalam kondisi buruk.

Selain membawa keuntungan ekonomi, ekosistem terumbu karang melindungi pantai dari hantaman gelombang, sehingga mengurangi abrasi dan kerusakan. Terumbu karang juga berkontribusi kepada sektor penangkapan ikan dengan menyediakan daerah pemijahan dan asuhan, penyediaan makanan dan tempat berlindung beragam jenis mahluk laut.

Ekosistem terumbukarang adalah unik karena umumnya hanya terdapat di perairan tropis dan sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan hidupnya terutama suhu, salinitas, sedimentasi,eutrofikasi dan memerlukan kualitas perairan alami (pristine).

Oleh sebab itu, pada tahun 1998 perubahan suhu lingkungan akibat pemanasan global yang melanda perairan tropis menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching) yang diikuti dengan kematian massal mencapai 90-95%. Salah satu peneliti perairan indonesia mencatat selama peristiwa pemutihan tersebut, rata-rata suhu permukaan air di perairan Indonesia adalah 2-3 derajat Celcius di atas suhu normal.

Segian besar terumbu karang Indonesia berada di bagian Kawasan Timur Indonesia (KTI) tepatnya di wilayah yang lazim disebut segitiga karang (coral triangle). Isu ancaman deforestrasi yang melanda wilayah ini membuat Kementerian Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan WWF-Indonesia dan Wildlife Conservation Society (WCS) melakukan Ekspedisi Pemantauan Terumbu Karang untuk Evaluasi Dampak di Alor dan Flores Timur di Nusa Tenggara Timur.

Dari hasil pengamatan ekspediksi ini Maret lalu, sebagian besar terumbu karang rusak. Banyak terumbu karang pada kedalaman 6 meter pecah berantakan bahkan mati. Kondisi lebih baik hanya terlihat pada kedalaman lebih dari 6 meter.

Penyebab kerusakan terumbu karang di kawasan ini diduga efek dari bom ikan, jaring, dan racun potas. Bom ikan yang diledakkan di kedalaman air, tak hanya membunuh ikan tetapi juga menghancurkan terumbu karang dan hanya menyisakan pecahan atau rubble.

Salah satu peneliti terumbu karang yang ikut dalam ekspedisi, Efin Muttaqin dalam lansiran NGIndonesia mengatakan Penggunaan potas adalah yang paling berbahaya karena cairannya bisa terbawa aliran air dan bisa menyebabkan perluasan kerusakan secara sistemik terhadap ekosistem di sekitarnya. 

Survei dan ekspedisi diharapkan menghasilkan laporan kondisi terkini dari kondisi terumbu karang di perairan Kabupaten Alor dan Flores Timur. Rencananya, dari data tersebut pemerintah daerah dan pusat akan membuat kebijakan untuk melindungi keanekaragaman hayati di laut yang juga merupakan salah satu sumber makanan masyarakat. (MFA)

 

Makanan Khas Jepang 'Sushi' Ancam Kepunahan Tuna

Published in Nasional
Sabtu, 15 Maret 2014 08:00

Medialingkungan.com – Sesaat terlihat maraknya rumah makan ala jepang yang menyajikan menu sushi menjadikan masyarakat di luar Jepang tidak perlu lagi berkunjung ke sana untuk merasakan nikmatnya maskan khas tersebut.

Berdasarkan grafik permintaan konsumen kebanyakan bahan yang digunakan sebagai komposisi utamanyanya adalah ikan tuna sirip biru. Panjang ikan terbesar lebih dari empat meter dan berbobot lebih dari setengah ton.

Berdasarkan data dari WWF yang kami temukan bahwa para peneliti mencatat meningkatnya industri perikanan tuna longline di Indonesia pada tahun 1995 dari 402 kapal yang beroperasi di Samudera Hindia lalu menjadi 435 kapal pada tahun 1996, 459 kapal tahun 1997, 460 kapal tahun 1998, 485 kapal tahun 1999 dan 537 kapal tahun 2000.

Tanpa adanya studi perhitungan kapasitas daya dukung usaha perikanan tuna yang layak untuk setiap zona perikanan di Indonesia maka peningkatan ini menjerumuskan pada situasi overfishing. Ditambah lagi dengan renggangnya kebijakan politik untuk mencegah overfishing.

Ada jenis tertentu dari tuna di Indonesia yang tengah mengalami masa kritis populasi. saatnya masalah ini menjadi keperdulian semua orang, tak hanya para penggiat lingkungan, konsumen tapi juga pejabat pengambil kebijakan, pengusaha industri longline.

Konsumsi ikan Tuna, terutama ikan Tuna Sirip Biru (Tuna Bluefin) memang sangat populer bagi pencinta sushi. Jumlah ikan tuna muda yang ditangkapi terus naik dan ini meningkatkan kekhawatiran akan punahnya jenis ikan itu.

Faktanya, permintaan naik namun ketersediaan bahan menurun

Studi terbaru oleh para ilmuwan perikanan menunjukkan bahwa spesies telah menurun lebih dari 80% sejak tahun 1970. Meskipun ada upaya perlindungan, populasinya terus menurun.

Meskipun spesies ini  terancam punah dan menjadi subjek perjanjian seluruh dunia untuk tidak diambil berlebihan. Meski begitu, ikan Tuna Sirip Biru masih saja disajikan di restoran sushi di seluruh dunia.

Penggemar sushi bersedia membayar lebih untuk ikan gemuk yang ini. Banyak yang tidak mengetahui tentang status tuna atau tidak percaya berdasarkan temuan ilmuwan yang mengatakan jumlah ikan Tuna Sirip Biru semakin sedikit. Ikan-ikan ini bahkan terancam punah.

Permintaan terhadap ikan ini tidak akan menurun. Restoran enggan untuk menghapus spesies ini dari menu atau menaikkan harga untuk mengekang permintaan, yang artinya ikan Tuna Sirip Biru ini akan terus mengalami penagkapan yang berlebihan sampai populasinya menurun drastis  yang diperkirakan akan terjadi pada awal tahun ini.

Setelah populasi yang menurun drastis, moratorium pelarangan penangkapan ikan Tuna Sirip Biru diberlakukan untuk memungkinkan populasinya pulih. Bilapun demikian pemulihan populasi ini akan memakan waktu puluhan tahun karena kematangan seksual ikan ini memiliki kebutuhan khusus dan bertelur dalam jumlah yang terbatas (dua pertiga tidak berhasil).  Selain itu, tingkat radioaktif dan merkuri yang ada dalam ikan Tuna Sirip Biru juga perlu dipertimbangkan. (MFA)

Hasil Riset Beberapa Ilmuan Dunia Ungkap Ketergantungan Masyarakat pada Coral

Published in Internasional
Minggu, 18 Mei 2014 08:00

Medialingkungan.com – Penelitian baru-baru ini yang dilakukan oleh ilmuwan dari University of Bologna, The Nature Conservancy (TNC), U. S. Geological Survey, Stanford University dan University of California, Santa Cruz, menyimpulkan bahwa sekitar 197 juta orang di seluruh dunia memperoleh manfaat dari terumbu karang atau sebaliknya harus menanggung biaya yang lebih besar jika terumbu terdegradasi.

Mereka adalah penduduk yang tinggal di desa dan kota kecil di kawasan pesisir (di bawah ketinggian 10 meter) yang rentan terhadap ancaman bencana alam dan berjarak sekitar 50 kilometer dari terumbu karang.

Penelitian ini berhasil menghasilkan sintesa global pertama mengenai kontribusi terumbu karang terhadap pengurangan dan adaptasi resiko di kawasan Atlantik, Pasifik, dan Samudera Hindia.

Dalam laporan itu menerangkan bahwa terumbu karang dapat memberikan perlindungan yang substansial terhadap bencana alam dengan mengurangi energi gelombang rata-rata 97%. Tubir terumbu karang atau rataan karang dangkal yang pertama kali memecah ombak, dapat mengurangi kekuatan ombak hingga 86%.

"Terumbu karang dapat berfungsi sebagai lini pertahanan pertama dari terjangan ombak, badai, dan peningkatan permukaan laut,” kata Dr Michael Beck, kepala peneliti kelautan TNC dan salah satu penulis dalam studi ini.

Sementara itu, Penelitian ini juga menyatakan bahwa lebih dari 41 juta penduduk Indonesia memiliki ketergantungan tinggi terhadap sumberdaya terumbu karang. Hal itu disampaikan oleh Gondan Renosari, Direktur Program Kelautan TNC Indonesia. 

“Sebagai tempat bagi 16% terumbu karang dunia dan sekitar 590 spesies karang keras yang tersebar di seluruh penjuru nusantara, Indonesia memiliki peran penting dalam ekosistem laut dunia,” tandasnya. (AND) 

IBCS 2014 : Mangrove Indonesia Berpengaruh Pada Perubahan Iklim Dunia

Published in Nasional
Kamis, 15 Mei 2014 08:00

Medialingkungan.com - Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutardjo, dalam sambutannya pada pembukaan International Blue Carbon Symposium (IBCS) di Manado, Kamis (15/05/2014), mengatakan bahwa ekosistem pesisir dan lautan Indonesia memiliki kontribusi yang sangat besar dalam penyerapan karbon bahkan diperkirakan hingga 138 juta ton/tahun.

Menurut Sharif, Indonesia sebagai negara kepulauan, terletak di sepanjang garis khatulistiwa pada jantung yang disebut ‘Segitiga Karang’. Karakteristik geografisnya menyebabkan iklim hangat di seluruh negeri, dan telah membuat lingkungan laut dan pesisir Indonesia menjadi habitat yang cocok untuk pertumbuhan dan padang lamun.

“Bahkan, Indonesia memiliki ekosistem mangrove 3,1 juta hektar atau 23% dari mangrove dunia dan padang lamun terbesar di dunia, yaitu 30 juta hektar. Hal ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan untuk mengurangi dampak  perubahan iklim tidak hanya untuk ekosistem pesisir dan laut tetapi juga untuk lingkungan daratan,” ujar Sharif.

Di  area Coral Triangle, ekosistem ini mencakup 52% dari distribusi global. Potensi ekosistem tersebut perlu dikelola, dimanfaatkan dan dipertahankan keberlanjutannya sehingga ekosistem ini diharapkan dapat mengurangi 25% emisi karbon secara global. (AH)

 

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini