medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Mikroba sebagai Bakteri Pengunyah Minyak Perairan

Published in Informasi & Teknologi
Minggu, 11 Mei 2014 08:00

Medialingkungan.com – Minyak terbukti menjadi pencemar lautan nomor satu. Separuhnya dari total pencemaran tersebut dihasilkan dari aktivitas industri. Selebihnya akibat kegiatan pelayaran hingga kecelakaan kapal tanker. Banyaknya peristiwa kebocoran gas alam di dunia sangat berdampak buruk terhadap lingkungan. Salah satu contohnya, ledakan minyak yang terjadi di Deepwater Horizon Teluk Meksiko menewaskan 11 orang dan memuntahkan hampir lima juta barel minyak ke permukaan Teluk. Contoh tersebut dinilai sebagai bencana laut terbesar dalam catatan sejarah Amerika, namun ini bukan satu-satunya.

Menurut Badan Perlindungan Lingkungan AS kira-kira 14 ribu tumpahan minyak dilaporkan terjadi setiap tahunnya di Amerika Serikat saat minyak dan gas alam ditransfer melalui jaringan pipa, kapal tongkang, kereta api, dan truk. Komponen minyak mentah terdiri dari lebih 100 jenis senyawa yang terkelompok dalam alkana, aromatik, resin dan asphaltene. Komponen tersebut merupakan polutan utama di tanah dan lingkungan perairan yang bersifat toksik (racun). Informasi konsorsium mikroba pendegradasi mintak mentah sangat diperlukan. Ini sesuai dengan satu proses bioremediasi yaitu teknik biostimulasi yang aplikasinya lebih efektif karena langsung merangsang aktivitas mikroba yang ada di kawasan cemaran limbah.

Bioremediasi mengacu pada segala proses yang menggunakan mikroba atau enzim-enzim yang dihasilkan oleh mikroba tersebut untuk membersihkan atau menetralkan bahan-bahan kimia dan limbah secara aman. Para ilmuwan berhasil mengidentifikasi dan memperkirakan bahwa sekitar 100 jenis mikroba yang mengkomsumsi tumpahan minyak yang terjadi empat tahun lalu itu di anjungan pengeboran minyak lepas pantai di Deepwater Horizon di Teluk Meksiko. Menurut Colin Murrell, ahli mikrobiologi lingkungan di University of East Anglia di Inggris pada eksperimenya mengatakan bahwa temuan ini memberi informasi bagi pembuat keputusan tentang potensi mikroba untuk memperbaiki kerusakan alam.

“Dari segi pembersihan lingkungan atau dalam konteks organisme yang menghasilkan bahan kimia bermanfaat dan secara hayati lebih bersih dibandingkan penggunaan bahan kimia berbahaya, sehingga ini merupakan proses kimia yang ramah lingkungan,” papar Murrel.  Murrell juga menyarankan bahwa efek metana pada pemanasan global 20 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida. Jadi, penting untuk memahami bagaimana metana ini bisa dibersihkan dari lingkungan secara alamiah sebelum gas-gas ini terlepas ke atmosfir. (IRL)

400 Milliar Ton Gas Metana di kutub Utara dan Selatan Terancam Mencair

Published in Internasional
Minggu, 11 Mei 2014 08:00

Medialingkungan.com – Metana adalah hidrokarbon yang mirip dengan karbondioksida. Kedua gas tersebut memiliki peran penting dalam pemanasan global atau gas rumah kaca. Namun metana lebih berbahaya jika dibandingkan dengan karbondioksida karena metana dapat memerangkap panas matahari 21 kali lebih kuat dibanding karbondioksida. Jika menelisik dan mengingat kembali bahwa gas metana juga terseimpan di dalam tumpukan es di Kutub Utara dan Selatan. Sebuah hal yang pasti bahwa pemanasan global menjangkau seluruh wilayah di dunia termasuk wilayah gunung es di kedua kutub tersebut., sehingga gas metana beku yang berada dalam lapisan es tersebut juga ikut terlepaskan ke atmosfer.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa Antartika menyimpan kurang lebih 400 miliar ton metana beku. Gas ini dilepaskan sedikit demi sedikit ke atmosfer seiring dengan semakin banyaknya bagian-bagian es di antartika yang mulai runtuh dan mengalami penncairan. Bila Antartika kehilangan seluruh lapisan esnya, maka 400 miliar ton metana tersebut akan terlepas ke atmosfer. Temuan ini belum termasuk metana beku yang tersimpan di dasar laut yang juga terancam mencair jika panasnya suhu sanggup menembus hingga dasar laut.

NASA mencatat, Kalkulasi emisi gas metana yang dihasilkan oleh hewan dan manusia tiap tahunnya adalah sebagai berikut : Seperti yang dimuat VOA Tahun 2013 lalu, beberapa ilmuwan dalam jurnal “Nature” melaporan bahwa milyaran gas metana terperangkap di bawah es Arktik selama ribuan tahun dan dapat bocor saat suhu global memanas. Para ilmuwan itu menegaskan jika metana ini terlepas secara besar-besaran, maka akan menjadi ancaman yang besar terhadap keberlangsungan hidup manusia. Bahkan para ilmuwan itu memperkirakan kerugian ekonomi dunia yang dapat diakibatkan kebocoran itu mencapai $ 60 triliun. (AND)

Efek Pemanasan Global, Negara Tuvalu Terancam Hilang

Published in Internasional
Kamis, 08 Mei 2014 08:00

Medialingkungan.com – Akibat pemanasan global, Tuvalu, Negara kepulauan yang dulunya dikenal sebagai Kepulauan Ellice yang terletak di antara Hawaii dan Australia di Samudra Pasifik mulai mengalami pengasinan tanah (intrusi) dan kuat dugaan pulau ini akan tenggelam. Tuvalu merupakan negara ketiga terkecil di dunia setelah Vatican City dan Nauru. Luas Tuvalu hanya 26 km persegi dan jumlah penduduk berdasarkan data World Bank hanya berkisar 11.000 jiwa.

Tuvalu menjadi sorotan dunia ketika berbicara tentang bukti perubahan iklim. Dahulu, cuaca dan iklim di negara ini masih bersahabat dengan curah hujan yang teratur. Kini, dengan naiknya permukaan air laut menyebabkan tumbuhan sekitar pantai menjadi mati, seperti pohon kelapa yang merupakan tumpuan ekonomi negara ini. Disamping itu, permasalahan yang paling mendasar adalah kebutuhan masyarakat setempat terhadap ketersediaan air minum yang kini mengasin. Kebanyakan sumur bawah tanah kini tidak digunakan lagi karena air tanah menjadi asin.

Savilivili , salah satu dari delapan pulau di negara telah tenggelam pada tahun 1997. Hal yang sama mengancam Tuvalu secara keseluruhan. Negara ini akan tenggelam secara keseluruha. Pasalnya,  titik tertinggi wilayah ini hanya setinggi 4.5 meter (15 kaki). Pada wilayah ini, air laut naik sekitar 40 cm setiap tahunnya, jika hal yang demikian tersu terjadi, maka dalam seratus tahun lagi Tuvalu akan hilang dari permukaan bumi. Bahkan jika air laut naik dua kali lipat atau sekitar 80 cm setiap tahunnya, maka Tuvalu diprediksi akan hilang pada tahun 2060. (TAN)

Gempa Berkekuatan 5.7 SR Guncang Daerah Sumbawa

Published in Nasional
Jumat, 09 Mei 2014 08:00

Medialingkungan.com - Gempa berkekuatan 5,7 Skala Richter (SR) mengguncang wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) sekitar pukul 10.42 WITA atau 09.42 WIB, Sabtu (10/05/2014). BMKG mencatat gempa terjadi di 39 Km sebelah Timur Laut Sumbawa dengan kedalaman 226 Km. Lokasi tepatnya ada pada 6 LU – 11 LS dan 142 BT – 94 BT jarak 39 kilometer timur laut Sumbawa, NTB.

Kekuatan gempa yang mengguncang daerah Sumbawa itu bermagnitud antara 5.0 skala richter hingga 5.7 skala richter. Hingga kini belum dilaporkan adanya kerusakan atau korban jiwa yang menimpa masyarakat sekitar. Namun yang pasti masyarakat cukup terkejut dengan munculnya gempa ini. Tentunya semua pihak berharap tak terjadi kerusakan parah akibat bencana gempa di Sumbawa, NTB kali ini, walau kekuatannya cukup besar.(AP)

Halaman 7 dari 7

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini