medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Agrocomplex Go Green 2017 Tanam 10 Ribu Mangrove

Published in Event & Komunitas
Senin, 28 Agustus 2017 01:05

Medialingkungan.com - Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang dan Walikota Makassar Moh Ramdhan Pomanto bersama Asosiasi Teman Kuliah Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin (TKP-UNHAS) menanam bibit Mangrove dan menebar benih Rajungan Kepiting dan Udang yang dipusatkan di Pantai Lantebung Kelurahan Bira, Kecamatan Biringkanaya Makassar Sabtu (26/8).

Kegiatan ini dinamakan Agrocomplex Go Green 2017 oleh TKP-UNHAS dalam 1 dekade keberadaanya dengan bentuk penanaman 10.000 bibit mangrove dan restocking Benih Rajungan dan Udang 100.000 ekor yang melibatkan TNI, Polri, Bank BRI, Mahasiswa Fakultas Kehutanan, Pertanian dan Kelautan Unhas serta masyarakat Lantebung yang berlangsung selama dua hari.

Melalui acara ini Ahmad Sukri selaku Ketua Tim Kerja TKP-UNHAS mengatakan bahwa, “Kegiatan ini bentuk kepedulian terhadap lingkungan, dimana Mangrove ini sangatlah penting, karena sepertiga kawasan mangrove dunia berada di Indonesia dan setiap tahunnya berkurang sebanyak 30%, karena itulah kegiatan ini berlangsung untuk menghidupkan kembali fungsi-fungsi ekologi dan juga restoking benih rajungan sebagai budidaya bebas untuk dinikmati masyarakat Lantebung, agar tidak ada lagi exploitasi pada kawasan mangrove”.

Wakil Gubernur Sulsel juga mengatakan bahwa, “pohon mangrove adalah pohon yang paling kuat untuk menahan ombak dibandingkan dengan tembok”.

Moh Ramdhan Pomanto menegaskan bahwa, “Mangrove sangatlah penting untuk ekosistem laut” seperti yang disampaikan dalam sambutannya pada pembukaan acara. {Ira Anugerah Abbas}

Peringati Hari Bakti Rimbawan 2016, KLHK dan KOWANI Tanam Mangrove

Published in Nasional
Senin, 07 Maret 2016 10:57

Medialingkungan.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) menanam sekitar 100 pohon mangrove di Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, Muara Angke, Jakarta, Minggu (06/03). Kegiatan terswbut merupakan rangkaian memperingati Hari Bakti Rimbawan dan Lingkungan Hidup ke-33 tahun 2016.

Bertemakan “Bakti Rimbawan Membangun Hutan dan Lingkungan”, KLHK mengajak KOWANI sebagai federasi keorganisasian dari 86 organisasi wanita seluruh Indonesia untuk ikut berkontribusi menanam mangrove.

Hutan mangrove Indonesia merupakan yang terluas di dunia dengan luas lebih dari 37 juta ha sekaligus sebagai salah satu penyimpan karbon terbesar. Mangrove tersebar dominan di Papua, Kalimantan dan Sumatera dengan garis pesisir sepanjang 95.000 kilometer. Atau dengan kata lain, Indonesia mewakili 23 persen dari keseluruhan ekosistem mangrove dunia.

Namun, dalam tiga dekade terakhir Indonesia kehilangan 40 persen mangrove. Deforestasi mangrove Indonesia terhitung sebesar 6 persen dari total kehilangan hutan tahunan.

Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam, Agus Justianto berharap, KOWANI sebagai organisasi wanita dapat memberi pengetahuan dan mendidik anak-anak bangsa agar cinta lingkungan.

Agus yang juga selaku Ketua Panitia Peringatan Hari Bakti Rimbawan dan Lingkungan Hidup Tahun 2016 tak lupa mgnimbau seluruh anggota KOWANI untuk menanam pohon minimal 25 batang per orang, mengembangkan usaha berbasis hasil hutan bukan kayu, serta melakukan aksi nyata peduli lingkungan bagi seluruh wanita Indonesia.

Ketua KOWANI 2014 – 2019, Giwo Rubianto, mengapresiasi Kementerian LHK atas kegiatan penanaman mangrove tersebut. Kegiatan itu sejalan dengan Flatform KOWANI di bidang Lingkungan Hidup berupa sosialisasi pengendalian kerusakan lingkungan, pencegahan bencana lingkungan, sadar dampak perubahan iklim, dan penanaman budaya tanam dan pelihara.

“Hari ini sebuah upaya kecil dengan komitmen besar dimulai untuk kelestarian alam dan lingkungan”, tutur Giwo, seperti dilansir Mediajakarta.com (06/03).

Pada kesempatan yang sama Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Tachrir Fathoni mengungkapkan apresiasinya atas upaya KOWANI dalam pelestarian lingkungan.

“Sungguh merupakan sejarah jika KOWANI bisa menanam mangrove, sebab kehidupan dimulai dari air, jika tidak ada air, tidak ada kehidupan, sementara air berasal dari pohon,” katanya.

Lebih lanjut ia katakan bahwa air dan oksigen adalah sumber kehidupan utama yang dihasilkan oleh pohon. Mudah-mudahan pohon yang ditanam hari ini menjadi tonggak sejarah, “dan Blok tanaman KOWANI di TWA ini akan dikenang sepanjang sejarah bangsa dan dunia.” {Fahrum Ahmad}

Wisata Di Tengah Kota Jakarta

Published in Ekowista & Traveling
Selasa, 06 Oktober 2015 14:57

Medialingkungan.com – Jika kita mendengar kata Jakarta rasanya tidak mungkin menemukan tempat yang dipenuhi dengan pepohonan dan suasana asri dan alami. Karena kenyataannya Jakarta terkenal dengan padatnya kendaraan serta polusi udara. Namun, ternyata dibalik semua itu Jakarta mempunyai wisata alam yang harus anda kunjungi yaitu Hutan Mangrove di Taman Wisata Alam Angke Kapuk. 

Pada mulanya kawasan hutan mangrove Angke Kapuk dikukuhkan sebagai Cagar Alam sejak tahun 1939 dengan luas 1.114 ha pada masa pemerintahan Kolonial Belanda. Kawasan ini dirancang sebagai daerah penyangga lahan basah untuk menampung masa air pada saat pasang besar dan banjir.

Seiring dengan perkembangan, kawasan mangrove Angke Kapuk banyak dikonversi menjadi peruntukan lain seperti pemukiman, tambak terbuka, jalan jalur tol Cengkareng dan lapangan golf pantai indah kapuk.

Tidak hanya menjadi tempat wisata saja, kawasan ini juga sebagai tempat edukasi dengan mendokumentasikan nama-nama jenis pohon yang ada di sana. Tanaman mangrove memang memiliki banyak jenis dan anda dapat mempelajarinya. 

Pada tiap-tiap bagian mempunyai fungsi tersendiri, ada sekedar tanaman-tanaman bakau yang berfungsi sebagaimana mestinya, dan ada juga tempat untuk pembibitan bagi instansi, masyarakat atau pengunjung yang ingin melakukan penanaman.

Untuk menuju ke Taman Wisata Alam Angke Kapuk anda mesti menggunakan kendaraan pribadi dari arah tol Soekarno-Hatta, keluar tol Pantai Indah Kapuk (PIK). Dari pintu keluar, mengikuti jalur perempatan Grand Cengkareng, kemudian belok kanan hingga bertemu perempatan lalu belok kanan. Lokasinya kira-kira 20 meter di sebelah kanan jalan.

Jika anda menggunakan Busway Koridor 9 sampai shelter terakhir di Pluit. Dari shelter Pluit, anda dapat menggunakan ojek atau bajaj ke Kawasan Ekowisata Mangrove Tol Sedyatmo di Pantai Indah Kapuk.

Opsi kedua adalah menggunakan Busway Koridor 9 sampai shelter Grogol naik angkot merah B-01 sampai perempatan Muara Karang. Kemudian anda lanjutkan dengan menggunakan angkot merah U-11 sampai Kawasan Ekowisata Mangrove Tol Sedyatmo.

Hutan bakau atau mangrove merupakan hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak di garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut tepatnya di daerah pantai dan di sekitar muara sungai. (Andi Tanti)

1. Suasana disaat sore hari pada kawasan mangrove angkek (Gambar: jayanjayan)

 

2. Jalur yang mesti dilewati saat menuju lokasi (Gambar: jayanjayan)

Medialingkungan: Visit Taman Wisata Alam Angke Kapuk Jakarta - Wonderful Indonesia

Mengisi Liburan Dengan Menikmati Pesona Gugusan Pulau Togean

Published in Ekowista & Traveling
Jumat, 11 September 2015 20:18

Medialingkungan.com – Jika anda mencari tempat wisata yang indah namun jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, Taman Nasional Kepulauan Togean menjadi pilihan yang tepat dalam mengisi agenda liburan anda. Terletak di Teluk Tomini, Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah.

Kepulauan ini merupakan gugusan pulau kecil yang terbentang di tengah Teluk Tomini. Beberapa pulau yang tersohor antara lain Pulau Malenge, Pulau Una-Una, Pulau Batudaka, Pulau Talatakoh, Pulau Waleakodi, dan Pulau Waleabahi.

Selain hamparan pasir putih dan lautnya yang biru jernih, anda juga dapat menikmati hutan mangrove dengan 33 spesies mangrove-nya. Gua-gua, sungai dan air terjun di sekitar pulau, menambah keindahan pulau ini.

Penyu hijau (Chelonia mygas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbriocata), yang tergolong spesies penyu langka, juga terdapat di tempat ini dengan menjadikan pantainya sebagai tempat mencari makan dan berkembang biak.

Kepulauan Togean termasuk bagian penting dari segitiga terumbu karang dunia, yaitu Sulawesi, Filipina dan Papua Nugini. Spesies yang berada di bawah laut yaitu paus pilot, kima raksasa (Tridacna gigas), dan lola (Trochus niloticus), ikan pari manta, hiu karang abu-abu, dan ikan trevally mata besar, dan tentunya warna-warni karang.

Di daratan, terdapat hewan endemik Sulawesi yang dilindungi seperti tangkasi (Tarsius sp), kuskus (Ailurops ursinus), rusa (Cervus timorensis), dan ketam kenari (Birgus latro). Ada pula monyet togean (Macaca togeanus), biawak togean (Varanus salvator togeanus) dan babi rusa togean (Babyrousa babirussa togeanensis) yang hanya ada di Kepulauan Togean.

Untuk menuju ke pulau ini dari Kota Palu ditempuh dengan lama perjalanan sekitar 10 jam. Di perjalanan anda akan menikmati keindahan gunung kebun kopi dan keindahan pantai di Garis Khatulistiwa. Kemudian dilanjutkan dengan perjalanan melalui perahu dari Ampana ke Wakai dan Malenge. (Andi Tanti)

1. Wisata hutan mangrove yang terletak di Pulau Togean (Gambar: www.indonesia.travel)

2. Keindahan pasir putih di pulau Togean (Gambar: www.indonesia.travel)

 

Masyarakat Desa Deaga Buat Perdes Lindungi Hutan Mangrove

Published in Nasional
Selasa, 02 Juni 2015 20:45

Medialingkungan.com – Masyarakat Desa Deaga, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sulawesi Utara, saat ini berupaya menjaga ekosistem hutan mangrove. Pada bulan Mei 2015 masyarakat keluarkan Peraturan Desa (Perdes) terkait pengelolaan ekosistem mangrove. Pembuatan perdes tersebut melibatkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda.

“Perusakan hutan mangrove mengakibatkan potensi sumberdaya pesisir dan laut yang menjamin kehidupan masyarakat berkelanjutan makin terancam,” ujar Kepala Desa Deaga, Ruslani Mokoginta.

Dibuatnya perdes tersebut memiliki beberapa tujuan yakni, mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang adil, menjamin kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat desa Deaga, terpenuhi, kelestarian, keselarasan dan keseimbangan lingkungan hidup dan sumberdaya alam desa, dan yang terakhir, menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia maupun kelangsungan kehidupan makhluk hidup, serta kelestarian ekosistem mangrove, katanya.

“Dengan dilindunginya pohon mangrove, maka perekonomian masyarakat juga bias meningkat, walaupun tidak seberapa,” ucap Ruslani.

Dalam perdes ini, pemerintah desa menetapkan Wilayah Perlindungan Mangrove (WPM) di empat titik, dan luas diperkirakan 150 hektar.

Ruslani mengungkapkan, penetapan WPM untuk melindungi daerah pesisir pantai dari berbagai kegiatan perusakan yang mengancam kelestarian pesisir pantai  dan keselamatan pemukiman masyarakat.

“WPM akan jadi bagian rencana tata ruang desa. Penetapan berkoordinasi dengan Dinas Kehutanan, sambil mempertimbangkan karakteristik ekosistem mangrove serta aspek-aspek flora dan fauna,  sosial budaya, dan kelembagaan masyarakat.” ujarnya, seperti yang dikabarkan mongabay.

Dalam pembuatan perdes ini, pemerintah desa didukung Perkumpulan Kelola dan Mangrove For the Future (MFF). Selain itu, dalam satu tahun, sudah rehabilitasi mangrove di desa ini, salah satu penanaman Rhizopora 4.000 bibit di bagian utara hutan mangrove Desa Deaga.

Sementara itu, Staf Lapangan Perkumpulan Kelola Hutan, Yakob Botutihe mengatakan, area yang akan ditanami seluas satu hektar, jenis ini sesuai indicator biologis pada daerah tersebut. (Angga Pratama)

Pelestarian Lingkungan, Toyota Tanam 10 Ribu Pohon Mangrove

Published in Event & Komunitas
Rabu, 27 Mei 2015 15:43

Medialingkungan.com – Perusahaan Toyota Indonesia tunjukkan wujud kepeduliaan dalam pelestarian lingkungan dengan melakukan kegiatan penanaman pohon mangrove, di Pulau Pramuka,Kepulauan Seribu, akhir pekan kemarin. Sejumlah karyawan Toyota yang tergabung dalam kelompok pecinta alam Toyota Indonesia Adventurers Club (TIAC) menanam pohon mangrove sebanyak sepuluh ribu pohon.

Kegiatan penanaman tersebut, dihadiri Bupati Kepulauan Seribu, Tri Margianto dan Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, Wahju Rudiyanto. Kegiatan ini diinisiatif karyawan secara sukarela dan didukung manajemen PTToyota Motor Manufacturing Indonesia (Tmmin) dan PT Toyota Astra Motor (TAM).

“Kami menyambut baik dan mendukung aksi kepedulian ini sebagai langkah positif bagi pelestarian lingkungan. Kami berharap, kegiatan ini bisa menginspirasi lebih banyak pihak,” ujar Direktur Korporasi dan Hubungan Eksternal PTToyota Motor Manufacturing Indonesia, I Made Dana Tangkas.

Pemilihan lokasi penanaman bakau di pulau pramuka dilatarbelakangi oleh ancaman abrasi air laut yang mulai terjadi, mengingat Pulau Pramuka sebagai pusat administrasi dan daerah wisata di wilayah Kepulauan Seribu sehingga perlu dibentengi oleh hutan bakau sebagai pelindung pantai, katanya.

Tidak hanya menanam, TIAC akan melakukan pemeliharaan pohon bakau hingga tanaman tersebut dapat tumbuh dengan baik. Kegiatan penanaman ini merupakan kelanjutan dari dua program serupa di tahun 2010 dan 2013 lalu. Jika ditotalkan, karyawan Toyota Indonesia telah menanamkan sebanyak lebih dari 21.000 bakau di Pulau Pramuka.

Sementara itu, Direktur Pemasaran Toyota Astra Motor, Rahmat Samulo mengungkapkan sejauh ini Toyota Indonesia dan grupnya telah menanam sebanyak lebih dari 700.000 pohon bakau dan 150.000 pohon lainnya. Kedepannya, kami akan terus mengupayakan berbagai aktivitas pelestarian lingkungan yang berkesinambungan, seperti yang dikabarkan Antaranews.

Toyota berkomitmen untuk tumbuh bersama masyarakat Indonesia sesuai dengan semangat Toyota Berbagi  melalui penyediaan produk dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan, menjadi bagian dari perkembangan industri otomotif nasional, serta berperan aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. (Arif Hidayat)

Pemerintah Aceh Perlu Perhatian Penuh Pada Hutan Mangrove

Published in Nasional
Sabtu, 02 Mei 2015 17:56

Medialingkungan.com – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia asal Aceh, Rafly, meminta Pemerintah memberi perhatian penuh terhadap penyelamatan hutan mangrove yang terhampar di Aceh Timur, Kota Langsa, dan Tamiang. Sekitar 33 ribu hektare lebih areal mangrove di Aceh dan sebagian besar berada di tiga daerah tersebut.

“Masih terdapat sekitar 500 hektare lagi potensi areal mangrove di daerah itu yang harus segera ditanami kembali,” ujar Rafly, seperti yang dilansir tribuntimur.

Menurutnya, dalam areal hutan mangrove terdapat habitat beragam jenis ikan dan biota laut yakni, Langsa dan Tamiang tersimpan 40 jenis. Dia mengkhawatirkan, apabila pemerintah tidak memiliki perhatian serius terhadap hutan mangrove Aceh, maka akan menghancurkan kehidupan kawasan pesisir.

Rafly juga akan menggelar konser “Mangrove” di Langsa dalam rangka kampanye penyelamatan hutan mangrove Aceh, konser musik tersebut akan berlangsung 3 Mei 2015.

Sementara itu, Direktur Bina Rehabilitasi Hutan dan Lahan, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK), Herudoyo berjanji segera menindaklanjuti program penyelamatan mangrove Aceh tersebut. “Ini telah menjadi konsen kita bersama. Usulan ini wujudkan segera,” ucapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Medialingkungan.com, data yang ada di KLHK pada areal hutan mangrove Aceh seluas 33.530 hektare, di daerah Langsa 19.000 hektare, Tamiang 15.000 hektare, Aceh Timur 8.900 hektare, Simeulue 2.400 hektare, dan sedangkan Aceh Barat 367 hektare. Namun, Potensi areal yang masih dimungkinkan untuk ditanami kembali adalah seluas 542 hektare. (Angga Pratama)

 

Menteri PPPA Mendukung Program Pemerintah ‘Go Green’

Published in Nasional
Minggu, 05 April 2015 13:51

Medialingkungan.com – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise bersama peserta Konferensi Wanita Internasional melakukan penanaman pohon mangrove di perairan pantai daerah Pura Tirta Harum, Pulau Serangan, Denpasar.

Penanaman ini untuk mengingatkan perempuan-perempuan di Indonesia terkhusus perempuan di Bali agar bersama-sama dalam mendukung pemerintah untuk menciptakan udara yang bersih dan peduli lingkungan.

“Mari bersama-sama menjaga lingkungan, salah satunya menanam mangrove, untuk mendukung program pemerintah go green. Perempuan mempunyai peran yang cukup besar, juga anak-anak bangsa sebagai penerus dalam menjaga dan melestarikan lingkungan,” ujar Yohana Yembise, di Denpasar, Bali, seperti yang dilansir kompas.com, Sabtu (04/04).

Menurut dia, Bali sebagai daerah wisata, keindahan dan kelestarian lingkungan harus diperhatikan karena bagaimanapun juga wisatawan yang datang tidak sedikit dari anak-anak dan perempuan yang tentunya membutuhkan suasana sejuk, indah, udara bersih, lingkungan bersih yang terbebas dari sampah. Untuk itu peran PKK sangat dibutuhkan dalam pemahaman akan kebutuhan menjaga lingkungan, minimal di lingkungan masing-masing, katanya.

“Peran PKK sangat penting. Perempuan Indonesia sudah cukup cerdas untuk menjadikan lingkungan bersih dan sehat. Penanaman pohon ini kan rangkaian dari konferensi,” ujarnya.

International Women’s Conference atau Konferensi Wanita Internasional ke-7 akan digelar di Nusa Dua Bali pada Minggu 5 April 2015. Dalam acara ini akan dibahas mengenai etika dan kepemimpinan, wanita dan perdamaian, dampak sosial media, juga pembahasan terkait lingkungan, mengapa kepedulian terhadap planet sangatlah penting. Dipastikan wanita-wanita dari 75 negara akan hadir di acara ini. (Angga Pratama)

Hutan Mangrove di TNK Dipangkas Habis Warga

Published in Nasional
Kamis, 05 Maret 2015 01:01

Medialingkungan.com – Hutan Mangrove yang menjadi penyangga di wilayah Taman Nasional Komodo (TNK), Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terancam rusak akibat dibabat oleh pemilik lahan.

Pembabatan hutan mangrove tersebut sengaja dilakukan pemilik lahan agar bisa menjadi kawasan pantai yang memilki nilai jual tinggi. Lahan yang ditumbuhi mangorove di Desa Warloka itu dipangkas sekitar dua hektar, milik Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Mabar, Matheus Hamsi, seperti dilansir vnewsmedia.com.

“Memang betul itu tanah milik Matheus Hamsi, dan saat kami melakukan penebangan beliau datang mengawasi kami,” ujar salah satu warga Desa Marloka yang enggan menyebutkan namanya.

Menanggapi pernyataan tersebut,Matheus menyangkal saat ditanya apakah benar, ia yang menyuruh masyarakat untuk melakukan pembabatan hutan. “Tidak lah,” kata Matheus, Selasa (03/03), seperti yang dikutip dari Floresa.co.

Sebelumnya, Secara terpisah, Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI), Herman Khaeron saat melakukan kunjungan kerja di Mabar menyatakan, pelaku pengrusakan kawasan hutan penyangga TNK mestinya diproses sesuai hukum posotif. Karena, kawasan TNK jelas diatur yang mana zona inti, zona penyangga, dan zona pemanfaatan.

Menurut dia, pihaknya akan melaporkan kondisi kerusakan hutan penyangga ke Kementrian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK), agar segera membentuk tim khusus guna melakukan investigasi di kawasan hutan zona penyangga yang dirusak. “TNK masuk dalam tanggung jawab Komisi IV DPR, jika ditemukan pelanggaran, maka harus disikapi secara tegas sesuai ketentuan perundang-undangan,” katanya. (DM)

Direktur Utama Pertamina Pimpin Langsung Penanaman Mangrove di Bali

Published in Event & Komunitas
Sabtu, 14 Februari 2015 00:14

Medialingkungan.com – PT Pertamina (Persero) kembali menunjukkan diri sebagai perusahaan terdepan yang melestarikan hutan mangrove di Indonesia. Perusahaan tersebut kembali melakukan penanaman 2.000 bibit pohon mangrove di Kawasan Pantai Mertasari, Denpasar, Bali, Jum’at (13/2). Upaya penanaman dan pelestarian mangrove tersebut merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina.

Dalam penanaman bibit mangrove dipimpin langsung oleh Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto. Hadir pula, Perwakilan Kementerian Kehutanan dan Linkungan Hidup, Pemprov Bali, serta Pemimpin Redaksi Harian Kompas Budiman Tanuredjola. Masyarakat penggiat pelestarian mangrove, serta pelajar dari sekitar Bali juga turut andil dalam penanaman mangrove.

“Kegiatan pelestarian lingkungan sebagai tanggung jawab sosial dan lingkungan Pertamina. Kegiatan tersebut terangkum dalam program pertamina yaitu Menabung 100 Juta Pohon. Program tersebut telah dilaksanakan sejak tahun 2011 dan akan berakhir di tahun 2015,” ujar Dwi Soetjipto.

Menurut Dwi kini kebih dari dua juta pohon mangrove telah ditanam di seluruh daerah Indonesia. Ia menegaskan bahwa jumlah pohon tersebut akan terus ditingkatkan,  seiring komitmen Pertamina yang juga terus menguat akan upaya pelestarian lingkungan hidup untuk menunjang operasi bisnis yang berkelanjutan. (PK)

Halaman 1 dari 2

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini