medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Bertopi Koboi Naik Kuda di Intramuros

Published in Opini
Rabu, 01 April 2015 22:35

Oleh Arpan Rachman, peraih beasiswa jurnalistik Asia Tenggara 2014 dari SEAPA (Southeast Asian Press Alliance)

 

MANILA – Hap! Hap!

Begitu gesitnya Joniboy (43) berjualan. Dia menjual topi koboi dan busur lengkap dengan anak panahnya. Jualan itu dia jajakan di taman seberang pelataran katedral di kawasan antik Intramuros.

Intramuros cagar budaya yang penuh daya tarik wisata merupakan satu dari 10 situs warisan dunia UNESCO di Asia Tenggara. Inilah distrik tertua dan warisan sejarah di Manila, ibukota Filipina. Situs ini diidentifikasi The Global Heritage Fund sebagai salah satu dari 12 situs di seluruh dunia yang berada di ambang kerusakan dalam laporan berjudul Saving Our Heritage Vanishing pada tahun 2010.

Joniboy (43), sedang berjualan Topi Koboy di sekitar areal katerdal pada kawasan antik Intramuros (Gambar: Arpan Rachman)

Juga disebut “Walled City” (Kota Berdinding), kawasan kuno yang menjadi pusat pemerintahan ketika negeri itu takluk di bawah jajahan Spanyol. Sementara daerah di luar dinding disebut sebagai“Extramuros” dari Manila, yang berarti “di luar tembok”.

Kata “Intramuros” konon berasal dari bahasa Latin yang secara harfiah bermakna “di dalam dinding”. Tapi Mahmod (52), seorang warga Manila, punya asumsi berbeda. Katanya, Intramuros berarti “Entrance Moro” atau kawasan di mana pertama kali orang-orang asal Bangsamoro dari Pulau Mindanao datang ke Manila di Pulau Luzon ini. Migrasi itu bergerak dari selatan ke utara kepulauan Filipina.

Selesai urusan sejarah, kita kembali ke si penjual topi.

Ah, ke mana dia tadi?

Bukannya duduk diam asyik santai menunggu pembeli, Joniboy justru sigap berburu menghampiri pengunjung yang datang. Di tangannya terjaja setumpuk topi.

“Murah ini, cuma 300Peso, mari Tuan. Ayo Nona jangan malu-malu. Ada banyak pilihan, Anda mau warna hitam atau cokelat. Coba dulu silakan!” rayu Joniboy.

Empat turis asal Indonesia, Malaysia, dan Burma – tiga laki-laki dan satu perempuan – tertarikperhatiannya melihat tingkah atraktif si penjual topi. Dua dari mereka langsung mendekat. Seorang di antaranya mencoba memakai topi. “Wah, yang ini besar sekali. Tenggelam kepalaku nanti,” kata Kyaw Lynn, si calon pembeli, turis dari Burma.

Joniboy segera mencari topi berukuran lebih kecil berwarna biru. Sempat dicoba sebentar. Tapi terjadi penolakan kembali karena Kyaw tidak suka warnanya. Topi itu dikembalikan ke tumpukan. Akhirnya, di tumpukan lain ada pilihan warna baru, coklat muda. Lalu, tawar-menawar pun tak terelakkan lagi.

Transaksi jual-beli topi koboi itu mencapai kecocokan di angka 150Peso. Setengah harga dari tawaran pertama!

Selain penjual topi koboi, di Intramuros juga tersedia kereta kuda sewaan. Tapi harus hati-hati kalau digoda untuk tur keliling kawasan kuno di mana banyak berdiri gedung bangunan bersejarah peninggalan Spanyol ini.

Seorang kusir yang menghela satu kereta kuda bisa mengangkut empat orang penumpang. Awalnya, dia menaruh harga 350Peso selama 30 menit tur naik kereta.

Janjinya amat manis hendak membawa keliling Intramuros. Tapi, baru lima menit berjalan, kereta berhenti.

“Mari turun, amigo! Nah, saya tunjukkan dulu ini gereja tua yang pertama dibangun Spanyol di Manila,” kata sang kusir mengajak empat penumpangnya turun di depan Gereja St Agustin yang dibangun pada tahun 1571.

Tur sejarah itu tidak gratis, melainkan harus beli tiket lagi di loket. Cuma di bangunan utamanya saja pintu gerbang terbuka tanpa dipungut biaya. Jadi, kalau mau masuk, ya bayar dulu!

Di saat terlena, para turis asyik mengambil foto, waktu berlalu lebih dari setengah jam. Si kusir minta tambah ongkos perjalanan, “Sekaligus saja buat satu jam, totalnya 700Peso,” katanya.

Hah?!

Aih, tur ke gereja itu ternyata dihitungnya sebagai paket terpadu dalam perjalanan naik kereta kuda! Bukan main licik tipuannya. Padahal kereta kuda tidak boleh masuk ke halaman gereja....

Selama lima menit naik kereta kuda di Intramuros sewanya sebesar 350Peso. Atau kalau dirupiahkan jadi Rp105 ribu (1Peso=Rp300). Bisnis wisata yang ini benar-benar meraup untung besar!

Maka lebih nyaman berjalan kaki saja. Udara dingin sejuk banyak angin benar-benar terasa menyegarkan kala menyusur ruas jalan-jalan lengang yang dibatasi tembok berlumut dan dinding-dinding tua di Intramuros. Beberapa benteng di dalamnya bahkan masih menyimpan senjata perang kuno seperti mitraliur dan meriam.

Dari pelbagai referensi diketahui sebelum kedatangan pertama orang Eropa di pulau Luzon, pulau itu bagian dari kerajaan Majapahit sejak sekira abad ke-14 menurut naskah Nagarakretagama yang mengisahkan penaklukan oleh Maharaja Hayam Wuruk. Daerah itu diserbu Sultan Bolkiah pada 1485 dan menjadi bagian Kesultanan Brunei. Situs Intramuros kemudian dikenal sebagai Kerajaan Islam Maynila yang diperintah oleh para datuk, raja, dan sultan.

Pemerintah berganti dan Filipina berdiri. Sekarang, lokasi kuno itu dilindungi sebagai cagar budaya di bawah tanggung jawab dari Perserikatan Bangsa Bangsa.

Sylva Indonesia PC. UNTAN Sulap Kebun Ubi jadi Arboretum

Published in Opini
Selasa, 31 Maret 2015 01:36

Oleh: Bendril Sepito

Mahasiswa Universitas Tanjungpura (UNTAN)

Universitas Tanjungpura (UNTAN) merupakan universitas negeri di kota Pontianak, Indonesia. Lokasi kampus UNTAN ini berada di kota Pontianak dan dengan mudah dapat dikenali dari adanya Tugu Digulis yang berada di muka kampus. UNTAN memiliki kawasan bekas kebun ubi dan jagung yang terbengkalai kemudian ditumbuhi rumput dan alang-alang yang berada di lingkungan UNTAN kini disulap oleh Sylva Indonesia PC. UNTAN menjadi Arboretum untuk pelestarian dan perlindungan bagi flora dan fauna spesifik Kalimantan Barat khususnya. Yang merupakan sebuah kawasan yang ditanami pepohonan dan tumbuhan lainnya sehingga membentuk struktur menyerupai hutan dan merupakan sebuah kawasan untuk pelestarian plasma nutfah di Kalimantan Barat.

Arboretum Sylva Indonesia PC. UNTAN berada di tengah kota Pontianak Kalimantan Barat tepatnya di lingkungan Untan. Secara geografis Arboretum Sylva Indonesia PC. UNTAN terletak diantara garis 6 23 21 LS - 109 21 07 BT.

Dalam pengelolaan secara teknisnya diserahkan penuh kepada Sylva Indonesia PC. UNTAN ( Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kehutanan) dengan luas 3,2 ha. Areal Arboretum Sylva Indonesia PC. UNTAN memiliki topografi yang relatif lebih datar dengan altitude 0 - 1 dpl. Struktur geologi Arboretum berdasarkan peta geologi mempunyai skala 1 : 2.000.000 terdiri dari batuan kuarter sedangkan tanahnya adalah alluvial.

Keinginan Sylva Idonesia PC. UNTAN untuk memiliki sebuah Arboretum (suatu Kawasan yang dapat Mengkoleksi Tanaman Hutan), tercetus pada masa kepengurusan Ir. Achmad Sanusi. T (Periode 1986 - 1988). Pencetusan ide pembangunan sebuah areal peletarian plasma nutfah yang sekaligus merupakan hijauan kampus ini dilatar belakangi oleh keinginan dalam menindak lanjuti salah satu hasil rumusan dari Seminar tentang Hutan Kota dan Hijauan Kampus yang diadakan pada tahun 1987.

Kemudian, pada tahun 1990 pada masa kepengurusan Ir. Gusti Kamboja (Periode 1988 – 1990) pada saat konfrensi nasional Sylva Indonesia di Bogor timbul gagasan untuk mengubah kawasan hijau tersebut menjadi sebuah kawasan Arboretum yang lokasinya berada disamping Gedung Fasilitas Bersama dengan luas lebih kurang 3,25 Ha. Kemudian Secara fisik pembangunan Arboretum yang baru dimulai dengan melakuan pembersihan semak belukar dengan melibatkan segenap pengurus dan anggota Sylva Indonesia PC. UNTAN yang terdiri dari angkatan 1984 sampai 1988 serta pengukuran yang dilakukan oleh Dr. Ir. H. Gusti Hardiansyah MSc. Qam, Ir. Fahrizal, Ir. Kamboja, Ir. Adi Mulya dan Ir. Budi Suriansyah.

Di masa awal penanaman pohon di Arboretum sempat beberapa kali mengalami kegagalan di karenakan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah struktur tanah yang buruk dan pemilihan jenis pohon yang ditanam kurang tepat dengan kondisi lapangan Pembangunan ini sempat tersendat karena selain kekurangan dana juga tidak ada badan khusus yang menanganinya. Menyadari akan hal itu, pada tanggal 5 Maret 1990 Ir. Kamboja mengadakan Diskusi Informal Pembangunan Arboretum dari hasil diskusi ini dipandang perlu adanya badan khusus untuk membangun Arboretum ini.

Pada tanggal 9 Maret 1990 beliau menunjuk Ir. Budi Suriansyah sebagai ketua pelaksana pembangunan Arboretum, dalam menjalankan mandat tersebut langkah awal yang dilaksanakan oleh pertama dan dilakukan oleh Ir. Budi Suriansyah adalah membentuk suatu organisasi badan khusus yang diberi nama Staff Arboretum (STAR ) yang anggotanya sebagian besar adalah dari angkatan 1987 dan sebagian lagi angkatan 1986 dan 1985. Selanjutnya guna adanya pusat segala kegiatan pembangunan Arboretum maka pada tanggal 24 Maret 1990 dibangunlah sebuah pondok kerja dengan ukuran 3 X 4 meter yang dinamai dengan sebutan CAPPA (Camp Pembinaan Dan Pengembangan Arboretum) dengan fasilitas persemaian dengan ukuran 2 X 4 meter.

Tujuan dibuatnya Arboretum adalah sebagai tempat pengembangan keanekaragaman hayati, tempat pengembangan pendidikan, pengembangan hutan kota serta sarana rekreasi dan hiburan bagi masyarakat.

Adapun sasaran yang ingin dicapai dalam pengelolaan Arboretum Sylva Indonesia PC. Universitas Tanjungpura yaitu :

1. Melestarikan sumber daya alam berupa flora dan fauna yang merupakan aset ilmu pengetahuan ilmiah bagi orang banyak dan bagi generasi-generasi mendatang.

2. Mengembangkan Arboretum Sylva Indonesia PC. Universitas Tanjungpura menjadi sebuah replika hutan Kalimantan dengan mengkoleksi tumbuhan-tumbuhan yang dapat mewakili hutan-hutan di Kalimantan Barat khususnya.

3. Mempertahankan nilai-nilai dari arti pentingnya keberadaan hutan, terlebih khusus keberadaan hutan atau ruang terbuka hijau didalam kota.

4. Meningkatkan upaya konservasi sumber daya hutan.

5. Meningkatkan fungsi dan nilai lahan yang terdapat di lingkungan kampus sehingga Arboretum Sylva Indonesia PC. Universitas Tanjungpura dapat menjadi hutan pendidikan dan penelitian, sebagai ruang terbuka hijau yang menciptakan iklim mikro dan nilai estetika serta mengembangkan sejumlah fasilitas yang dapat dinikmati oleh orang banyak tanpa merusak areal Arboretum Sylva Indonesia PC. Universitas Tanjungpura.

Pengelolaan kawasan Arboretum terus dilakukan hingga sekarang dengan kegiatan-kegiatan rutin seperti perawatan, pemeliharaan, perbaikan dan penanaman. Penanaman terus dilakukan hingga sekarang dengan tujuan menambah jenis-jenis tumbuhan baru yang belum ada sebelumnya di kawasan tersebut sehingga memperkaya koleksi tumbuhan hidup dari hutan.

Areal 3,2 Ha dibagi menjadi 20 Blok (Blok A,B,C,D,E,F,G,H,I,J,K,L,M,N,O,P,Q,R.S,T ), 3 Bufferzone( bagian depan 2 dan dibelakan 1) dengan 3 parit utama.Disetiap batas blok terdapat parit-parit dengan tujuan mempermudah drainase dan proses penampungan air. Semua Blok dan bufferzone yang ada di Arboretum mempunyai luasan yang berbeda-beda dangan blok terkecil Blok I dan blok terbesar yaitu Blok S ,serta mempunyai tutupan tajuk yang berbeda.

Keadaan iklim pada di Arboretum adalah iklim tropis yang termasuk kedalam tipe A dengan nilai Q berkisar antara 0 - 26 % (Ferguson dan Schmidt), dengan curah hujan berkisar 130 - 399 mm dengan hari hujan berkisar 10 - 15 hari perbulan. Temperatur suhu udara bervariasi antara 22⁰ C - 30⁰ C dengan temperatur rata-rata 25⁰ C dan kelembaban udara relatif 84 - 89 % (sumber : data Riset Arboretum Sylva Indonesia PC. Universitas Tanjungpura dan BMG Kab. Pontianak, 2003).

Untuk jenis-jenis tumbuhan yang ada di Arboretum terdapat beberapa tumbuhan endemik kalimantan barat ada di sini diantaranya kawi (Shorea balangeran ), Ulin (Eusideroxsylon zwageri ), Jelutung (Dyra costulata), Agathis (Aghatis borneosis).jenis tanaman lain nya yang ada di Arboretum terdapat 214 jenis tanaman (data kpsda daon 2014).Dominasi tanaman yang ada di Arboretum saat ini banyak dari famili Euphorbiaceae, Rutaceae, Dipterocarpaceae, Myrtaceae,dan Moraceae. Selain itu juga Arboretum Sylva Indonesia PC. Universitas Tanjungpura memiliki koleksi ±43 jenis anggrek.

Kendala dalam pembangunan Arboretum telah berjalan hampir satu dasawarsa, dan bila disimak tahun demi tahun perjalanan tersebut akan jelas terlihat bahwa pembangunan Arboretum bukan suatu pekerjaan yang mudah dan ringan, karena berbagai permasalahan dan kendala seperti masih belum diakuinya secara sah areal Arboretum sebagai salah satu peruntukan ruang dalam pembangunan Untan disamping itu kurangnya pengetahuan dan persepsi dari sebagian besar kalangan Civitas Akademika tentang Arboretum ini mengakibatkan kurangnya dukungan dalam pembangunannya.

Pada sisi lain keterbatasan dana, sarana dan prasarana serta keterbatasan kemampuan pengelola menyebabkan pembangunan dan pengembangan Arboretum berjalan dengan lamban.

Arboretum adalah aset yang luar biasa, untuk itu sangat penting untuk dipertahankan keberadaannya karena banyak memiliki manfaat penting yang tidak bisa dipandang sebelah mata, untuk itu diperlukan bantuan dan partisipasi dari banyak pihak untuk mewujudkan mimpi-mimpi dalam pengelolaan kawasan ini kedepannya.

Seni, Senjata Perlawanan Bagi Perusak Lingkungan

Published in Opini
Sabtu, 14 Februari 2015 16:40

Oleh : Kasman Nasir

Penggiat Seni

Seni daur ulang dewasa ini menjadi semakin populer di dunia, khususnya untuk menyadarkan pentingnya daur ulang ekstrem. Banyak seniman menemukan cara-cara luar biasa dan kreatif untuk mengelola limbah menjadi emas.

Seni mendaur ulang merupakan kontribusi yang luar biasa tidak hanya pada dunia seni tetapi untuk dunia (bumi) itu sendiri. Seniman yang menggabung-gabungkan benda daur ulang ke dalam karya seni mereka hingga berhasil menghemat jutaan benda yang terbuang, memenuhi tanah dan mencemari bumi.

Seniman dunia asal Norwegia, Tone Holmen salah satu master upcycle yang mampu mengkombinasikan art dan waste. Ia fokus membahas perubahan iklim, peta, geografi dan bentang alam. Holmen mengatakan bahwa tema untuk karya seni nya adalah “perubahan iklim dan bagaimana hal itu mempengaruhi bumi kita”.

Holmen concern dalam seni khusus dengan background daerah kutub dan mencairnya es serta gletser. Salah satu karyanya adalah kantung plastik yang di daur ulang menjadi Boneka Beruang Polar Bears – yang pertama kali dipamerkan di Kebun Binatang London pada 8 Agustus 2008 lalu.

Seniman berikutnya, berasal dari Virginia, Aerika Serikat, Sandhi Schimmel Gold. Dalam visinya kreatifitasnya, ia mengemukakan bahwa kebanyakan orang menganggap kertas bekas seperti kalender, kartu pos, foto usang, dan surat-surat yang sudah tidak terpakai adalah sampah. Namun, bagi Schimmel, benda-benda tersebut bisa menjadi karya seni mosaik yang menakjubkan.

Berkat dedikasinya, kini karya-karya hasil sentuhan artistiknya telah menarik perhatian banyak orang dan mulai dikenal sebagai seniman yang peduli terhadap lingkungan.

Sampah tak selamanya menjadi sumber penyakit dan berbagai persoalan lainnya. Di Indonesia sejumlah siswa berhasil menciptakan bak sampah dari limbah tutup botol air mineral. Di samping unik dan ramah lingkungan, pembuatan bak sampah tersebut tak memerlukan biaya sama sekali, justru membuat inovasi yang bernilai seni.

Mereka hanya bertujuan untuk mengubah potret limbah yang memberikan kesan negatif menjadi  seni yang unik dan berkualitas sembari mengkonservasi lingkungan dengan mengoptimalkan benda-benda tak terpakai.

Banyak seniman yang mengatakan bahwa inspirasi mereka timbul dari alam (lingkungan hidup). Alam mengantarkan kepada mereka ide-ide besar terhadap karya imajinya. Perspektif yang heterogen yang terpercik dari alam di konversi dari sudut-sudut pandang seorang seniman untuk membentuk sebuah masterpiece yang semua orang bisa bebas menginterpretasi maha-karyanya.

Alam memberikan karunia tersendiri bagi para seniman. Bagi setiap seniman yang cinta akan lingkunganya menganggap seni daur ulang adalah ungkapan berani dan kreatif yang secara fisik memungkinkan dunia untuk melihat limbah menghasilkan sebuah gagasan, pesan yang baik, yang kuat, dan inovasi.

Sandaran pada alam bukanlah ucapan klise yang dianggap prioritas orang-orang yang berkecimpung di bidang itu. Namun pengaruh besar atas kerusakan dan kebaikan alam merupakan impact dari aktivitas manusia yang melihat alam sebagai aspek keindahan atau sebagai alat untuk memperkaya pihak-pihak tertentu.

Bumi adalah anugerah luar biasa dari peciptaNya, yang dititipkan untuk manusia bisa jalan beriringan, baik dalam pandangan seni, ekonomi, sosial, dan sebagainya. Hal-hal kecil seperti daur ulang bisa menjadi landasan gerak kita untuk menyelamatkan bumi.

 

Ratusan Bangsa Gerogoti Bumi yang Hanya Satu

Published in Opini
Selasa, 03 Februari 2015 22:12

Oleh A. Vika Faradiba

Mahasiswi Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas)

Perubahan iklim bukan lagi hal yang baru untuk diperbincangkan, kini seluruh lapisan masyarakat mulai gempar dengan isu-isu perubahan iklim yang saat ini terjadi. Sesungguhnya hal ini merupakan sebuah malapetaka yang pastinya akan mengahampiri seluruh umat manusia. Jika pemanasan global terus menerus terjadi, itu diakibatkan oleh penggunaan bahan bakar dari fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas bumi.Dengan terjadinya pemanasan global, maka akan terjadi fenomena alam seperti, tudung es di Kutub Utara akan mencair, kekeringan yang berkepanjangan, dan peningkatan suhu lautan yang akan menjadi kutukan terbesar bagi manusia.

Bapak lingkungan hidup Indonesia Emil Salim dalam bukunya yang berjudul Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi mengungkapkan “Dalam 200 tahun terakhir, seluruh negara di dunia membangun dengan merusak Bumi yang hanya satu-satunya ini. Pemanfaatan tanpa batas minyak bumi dan batu bara sebagai penggerak utama pembangunan tanpa disadari telah menaikkan pelepasan gas rumah kaca (GRK) dari hanya 280 ppm pada masa sebelum revolusi industri (1780) menjadi 380 ppm. Kenyataan inilah yang menjadi biang keladi terjadinya proses pemanasan global dan perubahan iklim yang kini mengancam hidup segenap penduduk bumi.”

Suhu rata-rata global pada permukaan bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C(1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change(IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kacaakibat aktivitas manusia" melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional.

Berikut Jenis-jenis Gas Rumah Kaca (GRK):

GRK: karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O), sulfurheksafluorida (SFx),

perfluorokarbon (PFC) dan idrofluorokarbon (HFC)(Naylor,2011)

Peningkatan GRK diakibatkan oleh aktivitas manusia yang tak bertanggung jawab terhadap lingkungan, menurut Rosegrent, dkk, (2008), secara global emisi GRK merupakan kontribusi dari berbagai sektor kehidupan. Sektor energi memberikan kontribusi sebesar 63%, sektor kehutanan dan alih fungsi lahan sebesar 18%, sektor pertanian sebesar 13%, sektor industri dan sampah rumah tangga masing-masing sebesar 3%.

Berdasarkan data yang dirampung oleh PEACE (2007), distribusi terbesar GRK di Indonesia adalah karbondioksida (CO2), metana (CH4) dan dinitrogenoksida (N2O). Indonesia merupakan salah satu negara yang memberikan sumbangsih terhadap perubahan iklim dengan kontribusi GRK sebesar 3.014 MtCO2e yang terdiri dari sektor kehutanan sebesar 2.536 MtCO2e, sektor energi sebesar 275 MtCO2e, sektor pertanian sebesar 141 MtCO2e, dan sector limbah sebesar 35 MtCO2e. Selain CO2, gas rumah kaca terbesar kedua yang memberikan kontribusi terhadap pemanasan global di Indonesia adalah CH4 yang mayoritas berasal dari sektor pertanian, termasuk di dalamnya kegiatan peternakan.

Tapi, kini pemerintah Indonesia berkomitmen menurunkan emisi GRK secara nasional hingga 26% pada tahun 2020 yang akan datang. Pemerintah akan menggunakan sumber pendanaan dalam negeri, serta penurunan emisi hingga 41% jika ada dukungan dari international dalam aksi mitigasi. Kegiatan ini dituangkan dalam Program Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (Bappenas, 2010).  

Namun , ada satu cara yang “AMPUH” untuk mengurangi GRK, hanya dengan menanam dan memelihara pohon lebih banyak, karena daya menyerap karbon dioksida lebih cepat dalam jumlah banyak, memecahnya melalui fotosintesis, maupun menyimpan karbon pada kayunya hanya mampu dilakukan oleh sebatang pohon.

 

               

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Feminism, Hutan, dan Perubahan Iklim

Published in Opini
Senin, 02 Februari 2015 20:16

Oleh A. Vika Faradiba

Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin

“Jika hanya laki-laki yang berkembang, maka kehidupan masyarakat tidak berimbang, yang satu mendominasi yang lainnya. Padahal, masyarakat membutuhkan partisipasi dan kontribusi perempuan sementara ada kesenjangan antara laki-laki dan perempuan yang mengakibatkan perkembangan masyarakat tidak berimbang, yang merupakan warisan dari budaya patriarkhi yang mengesampingkan perempuan. Untuk mencapai masyarakat ideal, maka perlu pemberdayaan perempuan dan mendorong terwujudnya kesetaraan gender melalui perubahan pola fikir baik di kalangan perempuan itu sendiri maupun laki-laki.”

Isu perubahan iklim global merupakan persoalan yang tak hanya membutuhkan peran dan kontribusi dari sekelumit petinggi elit negara, atau bahkan hanya badan negara yang betugas untuk mengatasi problem ini. Dalam benak yang tak begitu luas ini, kutipan di atas penulis tuangkan atas pandangan feminism yang sepertinya kurang diberi ruang, dan kita tak bisa menutup mata atas keterkaitan kaum perempuan terhadap tata kelola hutan bahkan dalam kasus perubahan iklim.

Di beberapa tempat, perempuan berperan sebagai agen perubahan dalam proses tata kelola kehutanan yang lebih baik. Namun, sistem patrimonial yang kuat di Indonesia yang mengutamakan peran laki-laki daripada perempuan, apalagi sektor kehutanan yang mentok pada karakter “kelaki-lakian” menyebabkan cara pandang kita terhadap kaum perempuan menjadi sepele.

Skema kerja Pengurangan Emisi dari Degradasi dan Deforestrasi Hutan (REDD) memungkinkan terciptanya paradigma baru dalam tata kelola hutan yang mengutamakan penyepakatan presepsi para pihak melalui pendekatan pengarus-utamaan gender.

Lima prinsip dasar dalam implementasi REDD+ di Indonesia adalah (1) effektifitas, (2) efisiensi, (3) keadilan dan kesetaraan gender, (4) transparan dan (5) akuntablitilitas.

Yani Septiani dari Kelompok Kerja Perubahan Iklim dalam sebuah talkshow beberapa tahun silam pernah mengungkapkan bahwa  pengalaman dan pengetahuan perempuan harus menjadi acuan dan pertimbangan dalam setiap pembuatan kebijakan maupun program, termasuk program–program perubahan iklim/REDD.

Ia menyebutkan cara–cara perempuan dalam mengatasi dan mencegah percepatan pemanasan global, muncul melalui pengalaman dan pengetahuan keseharian perempuan. Kegiatan REDD harus meningkatkan hak dan posisi kelompok marjinal seperti kelompok perempuan.

Realita sosial yang terjadi di masyarakat mempresepsikan bahwa gender dan perbedaan biologis adalah sesuatu hal yang sama dan merupakan kodrati dari Tuhan, namun pada hakikatnya gender berbicara tentang perilaku antara laki-laki dan perempuan -- yang dikonstruksi melalui jenjang proses sosial dan kultural yang panjang, kemudian manusia me-maktub-kan sendiri masing-masing pandangan itu.

Sebenarnya dalam pengelolaan hutan ada cara yang berbeda yang ditunjukkan oleh kaum laki-laki dan perempuan dalam pemanfaatan sumberdaya alam sesuai dengan metode dan prioritas masing-masing.

Pada umunya, Laki- laki melakukan penebangan untuk memperoleh uang tunai dan perempuan lebih memanfaatkan produk hutan non-kayu untuk menghasilkan kerajinan tangan, bertanggung jawab dalam ketahanan pangan keluarganya, menyediakan air bersih dan merawat lingkungan sekitar.

Hal ini terlihat pada program Hutan Kemasyarakatan dengan startegi pengarusutamaan gender (PUG) pada model percontohan pengelolaan hutan yang responsive gender di Kabupaten Agam Sumatra Barat yang saat ini sedang dibangun bersama oleh Menteri kehutanan dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak.

Salah satu pahlawan hutan perempuan yang sangat popular yakni Angela Cropper. Kesetaraan selalu menjadi inti dari pekerjaan Cropper dan beliau didorong oleh nilai-nilai yang kuat dalam keadilan sosial.

“Kebijakan kehutanan dapat memberi manfaat jauh lebih banyak kepada keluarga miskin, perempuan dan minoritas etnis bila suara kelompok-kelompok tersebut didengar dan para pembuat kebijakan memahami dampak dari berbagai tindakan mereka. Penelitian dapat memfasilitasi kedua hal tersebut,” tulisnya dalam kata pengantar Laporan Tahunan CIFOR tahun 2005 silam.

Selama hidupnya, ia telah bergelut dengan lingkungan hidup dan kehutanan selama 39 tahun. Atas dedikasinya itu, pada tahun 2007, beliau ditunjuk sebagai Asisten Sekretaris Jenderal dan Wakil Direktur Eksekutif dari United Nations Environment Programme (UNEP) oleh Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-Moon. Posisi ini diembannya sampai tahun 2011.

Hal ini membuktikan bahwa perempuan dengan bekal pengalamannya dan sifat kodratinya tentu bisa memberikan nilai positif dalam pelestarian. Kepekaan perempuan melihat fenomena juga mendukung partisipasi perempuan dalam proses pengelolaan secara komprehensif. 

KLHK dan Kelembagaan Pengendalian Perubahan Iklim

Published in Opini
Senin, 02 Februari 2015 17:58

Oleh : Adrayanti Sabar

Dosen Program Studi Kehutanan Universitas Indonesia Timur


Kebijakan perampingan di tubuh pemerintahan Jokowi meliputi berbagai bidang, termasuk kehutanan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) merupakan fusi dua kementerian, yakni Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup.

Dampak perampingan ini juga menyuguhkan tugas baru pada KLHK. Adalah Badan Pengelola Penurunan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (BP-REDD+) dan Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) yang merupakan dua lembaga yang tugas dan fungsinya diserahkan pada KLHK. Dapatkah dikatakan positif proses perampingan tersebut di tengah isu pemanasan global dan rumitnya upaya pengendalian emisi karbon?

***

Terhitung sejak tanggal 23 Januari 2015, melalui Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2015 mengenai Struktur Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan disebutkan bahwa BP REDD+ dan DNPI dilebur ke kementerian ini. Dalam peraturan tersebut ditegaskan bahwa tugas dan fungsi penurunan emisi gas rumah kaca yang diselenggarakan Badan Pengelola REDD+ yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2013 diintegrasikan menjadi tugas dan fungsi Kementerian LHK.

DNPI juga menghadapi hal yang serupa. Dalam peraturan itu dinyatakan bahwa tugas dan fungsi perumusan kebijakan dan koordinasi kebijakan pengendalian perubahan iklim oleh DNPI sebagaimana diatur PP Nomor 46 Tahun 2008 kini menjadi tugas dan fungsi Kementerian LHK.

DNPI yang dibentuk pada tahun 2008, sebenarnya memiliki peranan yang strategis dalam upaya mengantisipasi perubahan iklim dunia. Dengan dihapuskannya badan ini, ada kemungkinan peran Indonesia dalam perubahan iklim akan mengalami buffering. Mengingat begitu banyaknya intrik birokrasi saat semua peran yang sifatnya strategis masuk dalam program kementerian.

Lebih menarik lagi BP REDD+, institusi yang baru meniti alur kelembagaan sebagai sebuah badan negara secara tiba-tiba harus dinon-aktifkan. Langkah dan program penanganan kerusakan hutan yang menjadi tugas badan Negara yang baru berusia setahun lebih ini kini berujung pada isapan jempol belaka.

***

Jika kita cermati lebih mendalam, sesungguhnya peleburan ini memiliki dua sisi positif. Pertama, semakin banyaknya badan-badan yang dibentuk akan berakibat pada ketimpangan kebijakan. Setiap institusi akan memiliki kebijakan-kebijakan tersendiri terkait bagian yang menjadi tanggung jawabnya.

Masuknya suatu kepentingan akan mempengaruhi arah kebijakan tersebut. Sehingga bukan tidak mungkin, kebijakan tersebut justru memunculkan gesekan horizontal dua institusi atau lebih terhadap penyelesaian satu problem yang sama.

Mungkin saja Jokowi bermaksud untuk mempercepat implementasi kebijakan, karena bersumber dari satu komando. Selain itu, cukup logis jika opini masyarakat yang berkesimpulan  bahwa upaya tersebut perampingan ini sanggup menghemat anggaran yang selama ini digunakan secara tidak tepat sasaran dan tepat guna.

Kedua, pada lingkup tata kelola kehutanan terdapat mekanisme yang saling tumpang tindih. Dua badan tersebut pada hakikatnya tidak ada hubungan struktural dengan kementerian LHK. Sehingga dikhawatirkan tatkala suatu kepentingan masuk ke dalam salah satu institusi tersebut, maka akan timbul potensi gesekan. Mengingat objek kajiannya adalah hutan, yang secara lugas kita mengerti ada begitu banyak tangan yang ingin mengambil manfaat darinya.

Klaim BP REDD+ yang menyatakan bahwa pihaknya telah berhasil mengurangi laju deforestasi – setidaknya perlu dikaji ulang. Munculnya asumsi ini boleh jadi merupakan upaya badan negara itu untuk menjaga agar lembaganya tetap langgeng.

Sementara, pada tataran implementasinya, ditemukan bahwa laju deforestasi meningkat tajam dari tahun ke tahun. Sebagaimana dilansir oleh www.beritalingkungan.com menyebutkan penelitian terbaru yang diterbitkan oleh jurnal Nature Climate Change (29/06/2014) menyebutkan bahwa setahun setelah moratorium diterbitkan, deforestasi di Indonesia malah meningkat dengan cepat., Indonesia kehilangan 6,02 hektare hutan setiap tahunnya, terhitung antara tahun 2000-2012.

Terlepas dari klaim tersebut, sebenarnya yang perlu dipertanyakan adalah sejauh mana komitmen pemerintah terhadap hutan?

Meskipun dalam laporan resmi Kementerian Kehutanan menyatakan tidak separah itu, namun kenyataan lagi-lagi menyatakan bahwa luas hutan kita ini tidak pernah bertambah. Karena banyak atau sedikit -- yang diambil dari hutan, pembalakan hutan tetap merugikan.

Sederhananya, meskipun dibentuk badan khusus untuk memulihkan kondisi hutan di Indonesia, tapi mereka tak boleh lupa bahwa mereka akan berhadapan dengan berbagai kepentingan. Bahkan tidak menutup kemungkinan -- ada kepentingan asing di dalamnya. Karena setiap jengkal dari negeri ini sudah menjadi target eksploitasi asing.

***

Lalu bagaimana kondisi iklim dunia yang semakin memburuk akibat pembalakan liar?. Tidak hanya Indonesia, negara-negera lain pun perlu ikut andil dalam menciptakan iklim yang sehat, atau justru menghasilkan kondisi iklim yang buruk.

Seolah berjalan sambil duduk yang dilakukan secara bersamaan, disaat yang sama negara-negera maju mengecam pembalakan liar, namun di sisi lain -- mereka mendirikan industri yang mengancam kondisi iklim dunia itu sendiri.

Bahkan yang lebih tragis lagi, negara-negara maju justru menjadi konsumen dari produk-produk hasil pembalakan liar. Hal yang menarik, tatkala mereka menggelontorkan biaya untuk REDD+, muncul satu pertanyaan, dari mana alokasi dana itu diperoleh?, mengingat dana yang dianggarkan tidaklah sedikit. Tentunya ada pihak tertentu yang memiliki kepentingan besar terhadap hutan Indonesia.

Kesimpulannya, peleburan kedua badan tersebut sebenarnya tidak akan menimbulkan salah persepsi tentang kehutanan. Pengelolaan yang profesional dan berbasis kemakmuran untuk seluruh masyarakat adalah kuncinya.

Tidak mesti harus ada badan khusus yang mengurusi deforestasi dan pengendalian iklim. Munculnya asumsi bahwa perampingan akan menghemat biaya itu kurang efektif dijadikan alasan. Karena dalam pengerjaannya juga justru bisa terjadi sebaliknya. Yang terpenting saat ini adalah optimalisasi kerja dari Kementerian LHK sebagai upaya transparan yang juga menjadi tugas bersama untuk mengawasinya. Akhirnya, peran serta seluruh pihak ini menjadi harapan kita semua dalam menciptakan iklim global yang lebih baik. 

Perubahan Iklim Sebabkan Sakit ?

Published in Opini
Kamis, 27 November 2014 23:08

Oleh : Sri Putriana, Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia


Bukti-buktinya mencemaskan. Perubahan iklim membahayakan kesehatan manusia. Demikian yang dikatakan Margaret Chan, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada konferensi pertama iklim dan kesehatan pada Agustus lalu.

Perubahan iklim tak hanya menjadi fokus dari mereka yang bergelut di bidang lingkungan hidup, bahkan dunia medis juga. Gelombang panas dan semakin tingginya suhu meresahkan manusia dan menjadi tantangan besar dalam dunia medis.

Gelombang panas bisa menyebabkan kematian ribuan orang, bahkan puluhan ribu. Kita tentu ingat, gelombang panas yang menjadi top rekor pada tahun 2003 di Eropa, menyebabkan sekitar 70.000 orang lebih meninggal dunia. Fakta ini tentu memberikan gambaran eksplisit bahwa perubahan iklim mempengaruhi segala aspek kehidupan.

Salah satu penyakit yang berbahaya – yang tengah mengintai manusia dan dengan cepat menyebar di seluruh dunia, Malaria, setiap tahunnya menelan korban hingga 600.000 orang. Penyakit yang dilekatkan pada wilayah tropis ini, di masa mendatang bisa jadi merambah negara-negara "lebih dingin" dan daerah-daerah lebih tinggi. Penyebabnya, fenomena pemanasan global dan perubahan iklim telah membuat daerah-daerah itu menjadi lebih hangat.

Perubahan iklim menyebabkan peningkatan suhu udara dan curah hujan pada suatu daerah. Dengan tidak adanya sistem drainase yang baik maka akan terbentuk genangan-genangan air yang sangat cocok untuk tempat berkembang nyamuk Anopheles yang kemudian terjangkit parasit Plasmodium (ovale, malariae, falciparum, vivax) dan menginfeksi mereka yang terkena gigitan nyamuk ini.

Penyakit malaria merupakan suatu penyakit ekologis. Meski ditularkan oleh nyamuk, penyakit ini sangat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi lingkungan yang memungkinkan nyamuk untuk berkembang biak dan berpotensi melakukan kontak dengan manusia dan menularkan parasit malaria.

Berubahnya pola iklim dan intensitas curah hujan dengan indikasi peningkatan gas rumah kaca (GRK) membawa beberapa konsekuensi, seperti peningkatan laju penguapan yang memicu peningkatan curah hujan, kemarau basah, dan cuaca ekstrem.

Untuk mengantisipasi peningkatan kasus penyakit tersebut, pemerintah harus bisa melakukan upaya mitigasi. Beberapa cara yang dapat dilakukan dengan mengurangi sumber-sumber penghasil GRK seperti gas karbon dioksida (CO2) yang bisa ditumbulkan dari industri atau kendaraan bermotor.

Selain itu, adaptasi melalui sinerjitas program pengendalian dan pencegahan secara menyeluruh dan terpadu dengan penguatan pengawasan kegiatan di lapangan.

Menurut perkiraan WHO, tidak kurang dari 30 juta kasus malaria terjadi setiap tahunnya di Indonesia, dengan 30.000 kematian. Pada survei kesehatan nasional tahun 2001 didapatkan angka kematian akibat malaria sekitar 8-11 per 100.000 orang per tahun.

Sementara itu, United Nation Development Program (UNDP, 2004) juga mengklaim bahwa akibat malaria, Indonesia sedikitnya mengalami kerugian ekonomi sebesar $ 56,6 juta pertahun. Kasus malaria di Jawa dan Bali selalu meningkat dari tahun ke tahun. Dari 18 kasus per 100 ribu penduduk pada 1998, menjadi 48 kasus per 100 ribu penduduk pada 2000, atau naik hampir tiga kali lipat. Sementara di luar Jawa dan Bali, terjadi peningkatan kasus sebesar 60% dari tahun 1998–2000. Kasus terbanyak ada di NTT yaitu 16.290 kasus per 100 ribu penduduk.

Penanganan melalui bantuan obat, benarkah efektif ?

Benar, perlu penangan cepat saat terinfeksi penyakit ini. Penggunaan obat-obatan menjadi jalan keluar untuk penanganan cepat. Namun, resistensi obat terhadap seringnya penggunaan anti malaria secara tidak benar juga bisa mejadi bumerang. Resistensi terhadap obat anti-malaria bisa disebabkan beberapa faktor, terutama faktor genetik (mutasi gen) dari Plasmodium falciparum.

Untuk mencegah kondisi ini, pengobatan sebaiknya digunakan melalui kombinasi sebagai ACTs (Artemisinin-based Combination Therapies), dan bukan artemisinin monoterapi , yaitu penggunaan satu artemisinin berbeda dan dikombinasikan dengan pil anti malaria lainnya.

Dalam dunia medis, pengobatan single-drug dapat meningkatkan kemungkinan parasit berkembang dan menjadi kebal terhadap obat. Sementara itu, pengobatan dini terhadap malaria akan mengurangi durasi pengobatan, mencegah komplikasi serta memungkinkan terjadinya kematian.

Sekawanan dengan malaria, penyakit diare juga demikian mengancam. Akibat diare, sekitar 600.000 anak juga meninggal dunia. Data WHO tersebut menunjukkan agresifitas timbulnya penyakit akibat perubahan iklim.

Pengawasan intensif terhadap obat juga penting  dilakukan sebagai pencegahan perkembangan malaria yang resisten ke belahan dunia  lain. WHO menyarankan perlu dilakukannya pengawasan berkelanjutan dan mendampingi beberapa negara untuk memperkuat upaya pengawasan obat.

E b o l a

Dampak perubahan iklim juga mempengaruhi timbulnya berbagai penyakit infeksi baru seperti Ebola. Tak bermaksud menakut-nakuti, tapi sebaiknya kita mengenali penyakit yang satu ini. Lantas apa itu Ebola? Virus yang telah menewaskan ribuan orang di Afrika Barat, dan menjadi momok berbahaya bagi banyak negara termasuk Indonesia.

Ebola adalah penyakit menular yang bisa berakibat fatal. Virus Ebola diduga berasal dari kelelawar buah dan pertama kali dideteksi pada 1976 dekat Sungai Ebola yang berada di negara Kongo.

Bagaimana penyakit ini menular?

Virus Ebola bisa tertular lewat melalui darah, muntah, feses, dan cairan tubuh dari manusia pengidap Ebola ke manusia lain. Virus juga bisa ditemukan dalam urin dan cairan sperma.

Infeksi terjadi ketika cairan-cairan tubuh tersebut menyentuh mulut, hidung, atau luka terbuka orang sehat. Bersentuhan langsung pada kasur, pakaian, atau permukaan yang terkontaminasi juga bisa menyebabkan infeksi - tetapi ini hanya melalui luka terbuka orang sehat.

Penyakit ini tidak menular melalui udara, seperti flu. Namun ketika terinfeksi, virus membutuhkan ini waktu 2-21 hari hingga menunjukan gejala.

Apa gejalanya?

Gejala awal adalah demam mendadak, nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Kemudian diikuti dengan muntah, diare, ruam dan perdarahan - baik internal maupun eksternal - yang dapat dilihat pada gusi, mata, hidung dan di tinja. Pasien cenderung meninggal karena dehidrasi dan kegagalan sistem organ. Namun, demam belum tentu Ebola. Bisa jadi hanya terkena demam biasa atau malaria.

Bagaimana cara menghindarinya?

Kendati di Indonesia telah dinyatakan belum terjadi penyebaran, namun WHO menyarankan agar menghindari kontak dengan penderita Ebola dan cairan tubuh mereka,. Jangan menyentuh barang apa pun – seperti handuk – yang bisa berpotensi terkontaminasi di tempat umum.

WHO juga memperingatkan terhadap mengkonsumsi daging satwa liar mentah dan kontak dengan kelelawar yang terinfeksi atau monyet dan kera. Kelelawar buah secara khusus dianggap lezat di daerah Guinea di mana wabah dimulai.

Dalam jurnal Nature, Peneliti itu mengatakan bahwa perubahan iklim, mengubah dinamika transisi agen penyebar penyakit. Selain itu, juga mempengaruhi rentang, perilaku, siklus biologis, sejarah hidup patogen dan vektor spesies penyakit. Jadi, perubahan iklim saat ini membutuhkan konsen yang serius oleh segala bidang ilmu. Tantangan masa depan akibat perubahan iklim dilimpahkan pada ego sektoral. 

Ada Beberapa Sumber Energi Alternatif yang Dapat Dikembangkan di Indonesia

Published in Opini
Jumat, 21 November 2014 14:21

Oleh: Arif Hidayat S,Hut, Kontributor Medialingkungan.com

Pemerintah indonesia di bawah kepemimpinan Jokowidodo (Jokowi) saat ini menghadapi masalah Pro dan Kontra terkait kenaikan harga bensin jenis premium. Tak bisa dipungkiri bahwa bensin premium ini sudah menjadi semacam kebutuhan primer bagi masyarakatIndonesia.

Paradigma masyarakat seperti ini seharusnya di ubah mulai dari sekarang– sumberenergi alternatif bisa menjadi solusinya.Di negara-negara eropa,Penggunaan energi alternatif menjadi solusi tepat suatu bangsa terkait masalah kenaikan harga bahan bakar fosil. Hal tersebut juga mengurangi ketergantungan pada berbagai negara lain pada pasokan minyak.

Selain itu, sumber energi alternatif akan membatasi konsumsi sumber energi tak terbarukan seperti minyak bumi dan batubara, dan yang paling penting, mengurangi pencemaran lingkungan dan efek negatif pada sumber daya alam seperti air, tanah, udara, hutan, dsb.

Berikut ini sumber energi alternatif yang dapat dikembangkan di indonesia menurut sumber yang di himpun Medialingkungan.com:

  1. Sinar Matahari, Sinar matahari ternyata bisa menjadi sumber energi untuk membuat panel surya yang bisa dimanfaatkan untuk memasak. Sinar matahari memang sudah sejak lama digunakan untuk menciptakan panel surya yang lebih murah dan hemat. Bahkan panel surya bisa digunakan dalam bidang teknologi seperti transportasi, komunikasi, dan lainnya.
  1. Listrik, Listrik berpotensi menjadi sumber energi alternatif untuk masa depan. Hanya saja, di sebagian belahan dunia, listrik masih menjadi sumber daya langka yang belum tersebar merata. Namun di masa depan, mobil bertenaga listrik tetap menjadi solusi yang menjanjikan. Ini didukung oleh banyak pabrikan mobil yang sudah mulai memproduksi mobil listrik.
  1. Angin, Angin menjadi salah satu sumber energi terbarukan untuk menggantikan bensin. Manusia bisa memanfaatkan angin untuk menghasilkan listrik, memompa air, menambang, hingga mambajak sawah dengan menggunakan kincir angin. Kincir angin memang sejak zaman dahulu sudah digunakan oleh manusia, untuk pembangkit listrik. Selain murah, menggunakan angin juga tidak menimbulkan polusi untuk manusia.
  1. Gas Alam, Gas alam merupakan sumber energi bersih yang juga tersedia dalam jumlah besar. Gas alam diperoleh langsung dari alam atau dari hasil sampingan pengeboran minyak bumi. Gas alam dikenal memiliki emisi buang lebih rendah dibanding bensin atau solar sehingga lebih ramah lingkungan. Fakta juga menunjukkan gas alam mengeluarkan emisi karbon monoksidan 90 persen lebih rendah dibandingkan bensin atau solar.
  1. Etanol atau Metanol, Bahan bakar ini merupakan varian dari alkohol dan dapat dihasilkan dari gas alam atau sumber daya alam lain yang mengandung karbon. Masa depan alkohol sebagai bahan bakar alternatif cukup menjanjikan yang didukung oleh tingkat polusi rendah sehingga lebih ramah lingkungan. Etanol atau metanol juga relatif lebih murah diproduksi, meskipun sebagian masih bergantung pada cadangan gas alam.
  1. Hidrogen, Hidrogen diproduksi dengan memecah gas alam dan sumber daya lain yang sejenis. Namun, sumber terbesar hidrogen adalah air. Ketika teknologi untuk mensintesis hidrogen dari air telah ekonomis, hidrogen berpotensi besar menjadi arus utama bahan bakar di masa depan. Banyak penelitian masih harus dilakukan, namun potensi hidrogen sebagai bahan bakar alternatif jelas tidak bisa diremehkan.
  1. Biomassa, Biomassa adalah suatu bahan yang diperoleh dari makhluk hidup baik masih hidup atau baru mati yang dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif dalam jumlah yang besar. Pada umumnya biomassa berasal dari tanaman namun juga terdapat biomassa dari hewan. Biomassa dapat merujuk pada limbah pertanian atau peternakan seperti jerami, serbuk gergaji, kotoran hewan, sampah dapur, dan sebagainya.
  1. Urine, Di indonesia sudah dilakukan penelitian penggunaan urine atau air seni ini sebagai pengganti BBM menurut penelitian yang dilakukan dua siswa Jurusan IPA SMA Negeri 10 Malang, bernama Nurul Inayah dan Nando Novia. Menurut kedua peneliti muda tersebut, cara mengubah urine ini menjadi sumber energi alternatif cukup dengan memanaskan air seni yang mengandung senyawa amonia secara perlahan. Urine pun akan berubah menjadi gas amonia. Gas ini kemudian dimasukkan ke dalam sel bahan bakar, sejenis generator, dan digunakan untuk memproduksi energi listrik.
  1. E85, E85 adalah jenis bahan bakar yang bisa digunakan sebagai alternatif bagi bensin. E85 adalah campuran etanol 85 persen dan 15 persen bensin. Kelemahannya, E85 kurang efisien dibandingkan dengan bensin. Dibutuhkan dua kali E85 lebih banyak dibanding bensin untuk menempuh jarak yang sama.

Counter Attack virus di musim penghujan

Published in Opini
Sabtu, 08 November 2014 14:04

Oleh : Aswiny Putri 

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar

 

Menghadapi perubahan iklim, musim hujan di Indonesia kini sulit diprediksi datangnya. Hujan memiliki peranan penting utamanya dalam siklus hidrologi. Ketika proses prespitasi dari laut menguap, terkondensasi menjadi awan, kemudian awan terkumpul dalam skala yang besar, lalu titik air tadi terefleksi kembali turun ke bumi, dan pada akhirnya kembali ke laut melalui sungai dan anak sungai untuk mengulangi daur ulang tersebut.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, mengapa pada awal musim hujan banyak masyarakat yang terserang penyakit?. Ya, fenomena ini memang sudah menjadi rahasia publik bahwa saat peralihan musim kemarau ke musim penghujan tiba, virus penyakit seolah-olah melakukan counter attack atau serangan balik terhadap manusia.

Kandungan zat kimia dalam air hujan

Kita coba runutkan peristiwa serangan penyakit ini. Zat kimia dalam air hujan utamanya mengandung H2O, mencapai 99.9 persen dari massa totalnya. Sisanya beragam, yaitu asam sulfat, asam nitrat, dan senyawa asam lainnya yang bisa berasal dari industri atau gunung berapi. Bisa juga karbon dalam bentuk abu ringan (fly ash) yang berasal dari industri atau gunung berapi. Bisa juga silika, yang merupakan debu yang berasal dari gurun seperti gurun sahara. Jadi, banyak faktor yang mempengaruhi, terutama lokasi kejadian hujan dan arah angin.

Kandungan kimia air hujan sebenarnya relatif tidak akan menimbulkan efek bahaya – sekalipun di peralihan musim hujan separti saat ini.

Faktor lain yang mempengaruhi datangnya serangan penyakit adalah jatuhnya air hujan pada lokasi lingkungan yang kotor. Sehingga air hujan tadi bisa mempercepat penyebaran penyakit. Lonjakan mikroorganisme yang dibawa oleh air hujan akan meng-kontaminasi lingkungan kita.

Namun, menurut dr. Irsyal Rusad, Sp.PD, anggota Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), perubahan cuaca memang dapat mempengaruhi kondisi ketahanan tubuh seseorang. Namun, ada faktor lain yang juga berperan dalam membuat seseorang mudah terserang penyakit ketika pergantian musim, yaitu imunitas atau daya tahan tubuhnya.

Terbiasanya tubuh selama beberapa bulan (pada musim kemarau) dengan suhu yang panas, kemudian beralih (sesuai hukum alam) ke musim dingin dengan suhu yang lembab menuntut tubuh memiliki sistem imun yang kuat. Sehingga kondisi tubuh yang belum terbiasa seperti ini menyebabkan kerentanan terhadap serangan penyakit.

Daya tahan tubuh atau sistem imun adalah perisai untuk melindungi tubuh dari serangan berbagai virus dan penyakit, daya tahan tubuh tidak datang dengan sendirinya, harus dibangun dengan makanan dan gaya hidup sehat. Sistem imun sangat berperan sebagai tirai pertahanan pertama yang akan melawan mikroorganisme penyebab penyakit.

Kondisi daya tahan setiap orang tentu berbeda. Sehingga sistem imun sesorang yang tidak sanggup melawan mikroorganisme ini menjadikan tubuhnya bisa jatuh sakit.

Pentingnya mendeteksi sistem imun

Secara umum terdapat beberapa ciri-ciri ketika daya tahan tubuh mengalami pelemahan. Beberapa indikasi tersebut anatara lain:

  1. Rongga hidung terlalu kering

Hidung yang tersumbat tentu sangat mengganggu kenyamanan. Tapi, kalau rongga hidung kita terlalu kering, itu juga tak baik. Sebab, lendir di dalam hidung berguna untuk membantu menjebak dan membersihkan virus yang masuk. Tak adanya lendir di dalam hidung, sama artinya memberi jalan masuk bagi kuman untuk menyerang pertahanan tubuh kita.

  1. Tidak cukup minum

Ada alasan mengapa dokter selalu mendorong kita banyak minum ketika sakit. Tubuh membutuhkan banyak air putih untuk mengeluarkan racun. Kebutuhan minum setiap orang berbeda-beda, tergantung dari kondisi tubuh dan aktivitas masing-masing. Cara mengetahui apakah kita sudah cukup minum atau belum adalah dengan melihat warna urin. Urin yang baik adalah yang berwarna jernih atau kuning muda jernih.

  1. .Stres berkepanjangan

Bukan kebetulan kalau kita jadi pilek kala pekerjaan di kantor sedang menumpuk. American Psychological Association melaporkan, stres jangka panjang dapat melemahkan respon kekebalan tubuh kita. Jika kita stres saat sedang flu, bisa dipastikan gejala yang akan kita alami pasti akan lebih buruk lagi.

  1. Sering tidak enak badan

Biasanya, orang dewasa mendapat flu sekitar 2-3 kali dalam setahun. Jika kita mengalaminya lebih dari jumlah ini, sudah bisa dipastikan kondisi tubuh sedang di level yang rendah dan perlu segera ditindaklanjuti dengan istirahat dan makanan bergizi.

  1. Mengonsumsi gula terlalu banyak

Studi yang dimuat di American Journal of Clinical Nutrition menyebutkan, 5 jam setelah kita mengasup 100 gram gula, kemampuan sel darah putih melawan kuman akan turun drastis. Seratus gram gula setara dengan tiga kaleng minuman bersoda ukuran sedang.

Di saat sistem pertahanan tahan tubuh sedang melemah, disarankan untuk melakukan antisipasi agar virus penyakit tidak berkembang. Untuk itu, penting sekali mengenali tanda-tanda daya tahan tubuh sedang melemah.

Makan teratur dengan gizi seimbang, tidur yang cukup, olahraga dan menghindari rokok serta minuman beralkohol akan sangat membantu meningkatkan daya tahan tubuh Anda. Daya tahan tubuh yang baik akan membuat Anda lebih bersemangat dan menikmati berbagai rutinitas dengan kesehatan prima dan terhindar dari penyakit saat peralihan musim seperti saat ini. Jadi, sebenarnya virus tidak melakukan counter attack, tapi sistem imun sesorang yang lemah sehingga kapanpun bisa terserang sakit.

Siti Nurbaya Menteri Lingkungan Hidup & Kehutanan, Harus Bekerja Keras

Published in Opini
Rabu, 29 Oktober 2014 15:15

Oleh Ricky Valentino, Ketua Bidang Lingkungan Hidup & PKBL PENGURUS BESAR Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Periode 2013-2015

Tidaklah mudah mengemban posisi menteri apalagi dengan komposisi baru yaitu penggabungan kementerian yang dilakukan oleh Presiden RI, di mana dalam wilayah kerjanya pasti banyak masalah yang tersisa dari pejabat menteri sebelumnya (KIB-II). Berbicara kondisi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI di mana dulunya kementerian ini berdiri sendiri dengan tupoksi masing-masing, saya agak pesimis dengan kebijakan yang dilakukan oleh presiden Jokowi, entah apa maksud dari tujuan penggabungan dua kementerian ini ditambah ibu menteri tidak berasal dari penggiat lingkungan hidup walaupun basic keilmuannya tentang pertanian.

Padahal secara disiplin ilmu, pak presiden jokowi lebih paham tentang Kehutanan. Ditambah lagi belum adanya konfirmasi langsung tentang kelebihan dan kekurangan dari pemerintah, terkait penggabungan beberapa kementerian termasuk Lingkungan Hidup & Kehutanan.

Hutan menjadi topik yang menarik ketika kita melihatnya dalam beberapa tahun terakhir ini. Kebakaran hutan yang tiap tahunnya melanda hutan-hutan di Indonesia seolah sebagai pemandangan yang sudah biasa di beberapa daerah seperti di Pulau Sumatera & Kalimantan. Masyarakat yang ada di dua pulau ini setiap tahunnya harus bergelut dengan asap, sehingga banyak mengakibatkan gangguan pada kesehatan mereka.

Tidak hanya itu, beberapa kasus soal penyeludupan kayu (illegal logging) dari hutan terdalam Indonesia menjadi sebuah masalah besar karena di dalam prakteknya terjadi proses yang tidak menguntungkan negara yaitu adanya para 'Mafia', dan soal Lingkungan hidup masih menjadi masalah besar buat pemerintah di mana banyaknya kasus soal beberapa perusahaan yang tidak mempunyai izin dan tidak melalui seleksi yang baik seperti analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) & Uji kelayakan lainnya.

Banyak perusahaan yang menghasilkan limbah pabrik dan tidak memperhatikan kesehatan orang di sekelilingnya. Perushaaan itu lantas membuang limbah tersebut ke tempat yang tidak mengikuti prosedurnya, seperti ke sungai maupun ke laut.

Saatnya ibu menteri Siti Nurbaya menunjukkan kinerjanya dalam bertugas untuk dapat menyelesaikan  semua masalah hutan dan lingkungan hidup karena kedua masalah tersebut mencakup luasan yang sangat kompleks, tak mungkin kita hanya menyelamatkan 'hutan' namun tak memperdulikan soal 'lingkungan hidup', begitu pun sebaliknya karena keduanya sangat berpengaruh terhadap kehidupan orang banyak.

Ibu menteri mesti merangkul para penggiat lingkungan hidup dan tenaga profesional di bidang kehutanan di-karena-kan itu akan lebih memudahkan kerja-kerja kementerian dalam mengontrol dan mengidentifikasi masalah yang ada.

Dan selama 5 tahun ke depan kami akan mengawasi dan mengawal kebijakan dari pemerintah (Kementerian LH & Kehutanan), dan semoga saja sinergitas bisa terjadi.

 

 

Halaman 1 dari 2

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini