medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Pemerintah Gelar Rapat Tertutup Bahas Kabut Asap di Sumatera

Published in Nasional
Sabtu, 05 September 2015 15:52

Medialingkungan.com – Kebakaran yang melanda di daerah Sumatera belum lama ini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Melihat kondisi ini, pemerintah Indonesia kini melakukan tapat tertutup untuk membahas kebakaran hutan yang melanda Sumatera.

Dalam rapat tertutup itu dihadiri beberapa pihak yakni, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (SDM), Sudirman Said, Kapolri Jenderal, Badrodin Haiti, Panglima TNI, Gatot Nurmantyo, serta perwakilan kepala daerah dari Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau.

Rapat tertutup ini digelar di Gedung Manggala Wanabakti, Sabtu (05/09). “Presiden Jokowi meminta untuk cepat mengambil tindakan. Tak hanya pencegahan untuk saat ini, juga jangka panjang ke depannya. Agar kejadian semacam ini tak berulang-ulang terus,” kata Sudirman Said, seperti yang dilansir oleh tempo.

Sudirman mengungkapkan, sudah hampir seminggu aktivitas anak sekolah mandek diakibatkan asap kebakaran hutan ini. “Gangguan kebakaran hutan di spot-spot yang terkena mesti sesegera mungkin diatasi,” ucapnya.

Dia menegaskan, kami akan segera mencari cara untuk menyelesaikan permasalahan kebakaran hutan ini agar tak merisaukan masyarakat Indonesia. (Angga Pratama)

Tercemar Limbah Tambang, 400 Ekor Sapi di NT Dimusnahkan

Published in Internasional
Senin, 24 Agustus 2015 08:56

Medialingkungan.com – 400 ekor sapi di kawasan peternakan Roper River, Northern Territories (NT), wilayah utara Australia yang beribukota di Darwin, tercemar limbah dari pertambangan McArthur River. Tudingan ini disampaikan oleh pengacara lingkungan NT.

Departemen Industri Primer NT, pada Jum’at (21/08) lalu mengumumkan ratusan ternak berpotensi tercemar racun berbahaya setelah merumput di sebuah lokasi tambang di wilayah Roper River Northern Territories, tapi tidak menyebutkan nama tambang tersebut demi alasan hukum.

Separuh dari total ternak terkena dampak limbah telah ditembak, dan sisanya dikarantina karena dikhawatirkan mengontaminasi hewan lain di wilayah tersebut.

Tambang McArthur River (MRM) adalah salah satu produsen timbal, seng dan perak terbesar di dunia. Orang-orang dari kota terdekat  -- Borroloola -- telah menyuarakan keprihatinan tentang potensi limbah dari tambang itu yang mengalir ke sungai dan pada bulan Oktober tahun lalu, yang dilanjutkan dengan penyelidikan.

Tim penilai lingkungan hidup menemukan sembilan dari sepuluh ikan di sungai terdekat mengandung kadar timbal di atas ambang batas aman untuk dikonsumsi manusia.

Ke-400 ekor ternak yang berada dalam radius 100 km persegi dari lokasi tambang tersebut telah dikarantina dan dimusnahkan, kata Kepala Peternakan dari Departemen Industri Primer NT, Dr Malcolm Anderson, seperti dikabarkan Radio Australia.

Menurut Anderson, tidak ada ternak yang positif tercemar, yang sudah dijual ke pasar lokal maupun ekspor.

"Kami mendapati masalah ini 12 bulan lalu dari Departemen Tambang dan Energi kalau ternak-ternak di kawasan ini berpotensi terpapar kontaminasi limbah beracun.”

"Kami menyelidikinya dan baru-baru ini kami menemukan dua ekor lagi ternak yang tercemar karena digembalakan di dekat kawasan tambang,”

Menurutnya, kontaminasi ini hanya akan berdampak pada manusia setelah ternak-ternak itu terpapar dalam waktu yang lama akibat mengkonsumsi makanan yang tercemar limbah beracun itu.

Kepala Pengacara Lingkungan NT, David Morris mengatakan, pihaknya sudah meminta keterangan dari publik terkait pencemaran ini melalui mekanisme Kebebasan Informasi sejak 4 bulan yang lalu.

"Perusahaan tambang McArthur River diwajibkan untuk menerbitkan informasi apapun terkait masalah ini,” katanya.

Dalam menanggapi tuduhan ini, pemilik tambang, Glencore mengatakan, tambangnya terletak dilahan yang disewakan untuk menggembalakan sekitar 17 ribu ekor sapi.

"Sebagian besar dari rencana pengelolaan ternak kami berfokus pada wilayah berpagar di dalam lokasi tambang dan di daerah sekitar dekat beroperasinya pertambangan dan situs penting bagi budaya untuk masyarakat adat lokal seperti Barramundi,” demikian kata juru bicara tambang tersebut.

"Kami akan terus bekerja dengan pemerintah mengenai rencana pengelolaan ternak kami. Selain itu, pemagaran akan dilakukan secara teratur untuk mencegah ternak ke lokasi tambang,”

"Sebagai penduduk Teritori tahu menjaga pagar tetap berdiri selama musim hujan merupakan tantangan besar karena banjir kerap menghancurkan pagar-pagar tersebut setiap tahunnya. MRM juga mempertimbangkan saran mengenai bagaimana membangun pagar di sungai dan saluran sungai untuk lebih bisa kuat menahan hujan pada musim hujan." (Fahrum Ahmad)

Greenpeace dan Harvard Ungkap Masalah Kematian Akibat PLTU Batubara

Published in Nasional
Kamis, 13 Agustus 2015 13:26

Medialingkungan.com – Greenpeace bersama Harvard mengeluarkan sebuah laporan yang berjudul ‘Ancaman Maut PLTU Batubara’ terkait penyakit dan kematian yang diakibatkan pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) di Indonesia, Jakarta.

PLTU batubara di Indonesia menyebabkan sekitar 6,500 jiwa kematian prematur setiap tahun. Jumlah ini bisa naik hingga 15,700 jiwa per tahun jika pemerintah Indonesia meneruskan peluncuran rencana ambisius lebih dari seratus pembangkit listrik tenaga batubara yang baru.

Angka-angka mengkhawatirkan ini didasarkan pada model atmosfer baru yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Harvard, menggunakan model atmosfer transport-kimia canggih, GEOS-Chem.

“Indonesia berada di persimpangan jalan,” kata Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Hindun Mulaika, seperti press rilis yang diterima oleh Medialingkungan.

“Presiden Jokowi memiliki pilihan, tetap dengan pendekatan bisnis seperti biasa untuk menghasilkan listrik dan mengambil  kehidupan ribuan orang Indonesia, atau memimpin perubahan dan ekspansi yang cepat untuk energi yang aman, bersih, yaitu energi terbarukan,” lanjutnya.

Hindun menyatakan, laporan tersebut sudah jelas menunjukkan polusi batubara yang berdampak pada kehidupan rakyat Indonesia. “Masyarakat mengalami pendek usia akibat penyakit stroke, serangan jantung, kanker paru-paru, gangguan pernapasan dan yang memprihatinkan kematian pada anak-anak,” ucapnya.

Laporan ini diluncurkan menyusul pengumuman baru oleh Presiden Jokowi untuk membangun tambahan 35GW pembangkit listrik baru, dimana sebanyak 22GW diantaranya akan datang dari pembangkit listrik batubara.

Sementara itu, Profesor Shannon Koplitz dari Harvard mengungkapkan, emisi dari pembangkit listrik tenaga batubara membentuk partikel dan ozon yang merugikan kesehatan manusia. Indonesia adalah salah satu negara di dunia dengan rencana terbesar untuk memperluas industri batubara, namun sedikit yang telah dilakukan untuk mempelajari dampak kesehatan yang ditimbulkannya.

Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa ekspansi batubara yang direncanakan secara signifikan dapat meningkatkan tingkat polusi di seluruh Indonesia. Biaya kesehatan manusia dari meningkatnya polusi batubara ini harus dipertimbangkan ketika membuat pilihan tentang masa depan energi Indonesia.

Sementara itu ahli batubara dan polusi udara dari Greenpeace, Lauri Myllyvirta menyatakan, setiap pembangkit listrik berbahan bakar batubara baru berarti berisiko bagi kesehatan orang-orang Indonesia.

“Pembangkit listrik batubara yang diusulkan di Batang saja bisa menyebabkan 30.000 kematian dini melalui masa operasi 40 tahun. Ketika biaya energi terbarukan menurun dengan cepat dan dampak kesehatan yang serius batubara diperhitungkan, menjadi jelas bahwa ekonomi Indonesia akan mendapat manfaat lebih besar dari pengembangan energi terbarukan modern,” tuturnya. (Press Rilis)

Cina Akan Atur Standar Emisi Kapal Laut Yang Masuk Beijing

Published in Internasional
Senin, 08 Juni 2015 23:36

Medialingkungan.com – Pemerintah Cina, melalui Departemen Lingkungan Hidupnya akan mengatur standar emisi kapal laut yang bisa beroperasi di wilayah Beijing. Hal ini dilakukan Pemerintah Cina menanggapi desakan masyarakat Beijing agar menekan polusi udara yang terjadi akibat pembakaran batu bara.

Departemen Lingkungan Hidup Cina kini tengah menunggu tanggapan masyarakat untuk menemukan model baru terkait standar kualitas bahan bakar yang digunakan sektor yang mendominasi jalur pengiriman barang di negeri tirai bambu tersebut.

Sebelumnya, sebuah kelompok lingkungan Amerika Serikat (AS) Oktober lalu, menyatakan sektor pengiriman adalah penyumbang signifikan polusi udara di Cina.

Xiong Yuehui, salah seorang pejabat Kementerian Lingkungan Hidup Cina seperti dilansir bussinessinsider.com mengungkapkan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh sektor pengiriman barang melalui kapal laut sudah jelas.

Dia menuturkan Cina memiliki 172.600 kapal pada akhir 2013 lalu, yang menurut perkiraannya sektor tersebut menyumbang 8,4 persen emisi sulfur dioksida dan 11,3 persen emisi oksida nitrogen pada tahun 2013.

International Maritime Organization (IMO), sebuah organisasi yang mengawasi penggunaan bahan bakar kapal laut rendah sulfur secara global ini belum menyentuh benua Asia. Hingga saat ini, IMO baru mampu mengawasi penggunaan bahan bakar kapal laut di Amerika dan Eropa. (Irlan)

Lewat Flash Mob, Greenpeace Bersama Masyarakat Kampanye Perubahan Iklim

Published in Nasional
Minggu, 31 Mei 2015 00:08

Medialingkungan.com – Sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia bersama masyarakat menggelar flash mob di beberapa kota di Indonesia termasuk Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, Padang, Pekanbaru, dan Purwokerto, Sabtu (30/5).

Aksi kreatif tersebut bertujuan untuk menyoroti permasalahan perubahan iklim akibat penggunaan bahan bakar fosil berlebih serta pengrusakan hutan (deforestasi).

Kampanye yang dilakukan Greenpeace dan masyarakat ini merupakan bagian dari Global Day of Action, yang dilakukan di lebih dari 30 negara di seluruh dunia untuk menyerukan perlunya aksi untuk mengatasi perubahan iklim.

“Apabila Pemerintah gagal mengurangi emisi karbon dari dua sumber emisi terbesar di atas, maka bisa dipastikan Indonesia tidak dapat memenuhi komitmen penurunan emisi yang telah disampaikan pemerintah kepada dunia,” ucap Hindun Mulaika, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia dalam sebuah rilis kepada medialingkungan.com.

Hindun juga menjelaskan di Indonesia, aksi serentak ini dilakukan dengan pesan kuat untuk menanggapi rencana pembangunan PLTU Batang, yang diklaim sebagai PLTU terbesar se-Asia Tenggara.

“Kami mendesak kepada Presiden Jokowi untuk membatalkan rencana pembangunan PLTU Batang, yang akan merugikan ribuan nelayan dan petani karena kehilangan mata pencaharian mereka, jika proyek PLTU ini dibangun,” lanjut Hindun.

Berdasarkan informasi Greenpeace Indonesia, saat ini pemerintah bermaksud mengembangkan program energi sebesar 35.000 MW untuk Indonesia, dimana 60 persen berasal dari PLTU yang berbahan bakar batubara.

Menurut mereka hal ini menunjukkan bahwa sampai 20 tahun ke depan Indonesia masih akan bergantung pada batubara sebagai sumber energi yang dianggap sebagai salah satu sumber energi fosil yang paling kotor penyebab perubahan iklim.(Press Rilis)

Warga Bersama Walhi Desak PT. Sumit Biomas Untuk Lakukan Kajian Amdal

Published in Nasional
Selasa, 26 Mei 2015 16:11

Medialingkungan.com – PT. Sumit Biomas diduga melakukan pencemaran lingkungan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung akan advokasi 410 warga Jl. Tirtayasa, dari RT 07, 08, dan 09, Lk. 1, Kampung Gali, Kelurahan Campang Raya, Sukabumi, Selasa (26/06).

“Dari hasil investigasi lapang Walhi pada Senin (18/05) dan Kamis (23/05) Walhi menemukan telah terjadi pencemaran yang dilakukan perusahaan PT. Sumit Biomas. Dari sampel air yang diambil terlihat dari aroma tidak sedap yang mengganggu, tercemarnya udara membuat pernafasan warga tersendak,tercemarnya sumur warga akibat produksi sehingga warna, rasa, dan bau berubah,” ujar Direktur Walhi Lampung, Hendrawan.

Data yang berhasil Walhi klasifikasikan sebanyak 54 Kartu Keluarga (KK) warga RT 07 sebanyak yang mengalami pencemaran udara, berupa bau yang menyengat dan polusi asap limbah. Warga RT 08 sebanyak 197 KK terjadi, pencemaran air sumur, sebanyak 13 sumur apabila sumur tersebut digunakan badan menjadi gatal-gatal, dan airnya bau.

Selanjutnya, pada warga RT 09 sebanyak 159 KK telah terjadi pencemaran udara berupa bau yang menyengat dan polusi asap limbah, dan suara bising ketika mesin perusahaan operasional.

Hendrawan mengungkapkan, warga bersama Walhi menuntut Pemkot Bandar Lampung melalui Badan Pengelolaan dan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPPLH) Bandar Lampung untuk segera melakukan kajian Amdal yang dimiliki PT.Sumit Biomas.

”Kami juga meminta perusahaan tersebut untuk menghentikan operasional perusahaan sampai permasalahan ini selesai. Lalu, Pemkot Bandar Lampung segera melakukan penutupan operasional perusahaan karena telah melakukan pencemaran dan melanggar UU 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup,” katanya, seperti yang dikabarkan tribunnews.

Sedangkan, menurut keterangan warga, Siti Rohmah (36) warga RT 08, masalah yang timbul di tiga RT datang ketika PT. Sumit Biomas yang bergerak pada pengolahan limbah cangkang sawit mulai beroperasi sekitar bulan Mei Tahun 2013 lalu.

”Dulunya kampung kami udaranya bersih, lingkungan nyaman dan sejuk. Namun, semenjak beroperasinya perusahaan tersebut suasana nyaman tersebut berubah menjadi kekhawatiran,” ucapnya. (Angga Pratama)

Peringati Hari Bumi, Wajah Bumi Makin Tua

Published in Internasional
Rabu, 22 April 2015 08:26

Medialingkungan.com – Hari bumi yang jatuh pada tanggal 22 April merupakan moment untuk membangun kesadaran dalam memperhatikan wajah bumi yang dari hari ke hari makin keriput. Planet bumi yang menampung berbagai jenis spesies mahluk hidup antara lain manusia, hewan, dan tumbuhan menjadi penghuni yang begitu menikmati keadaan bumi sekarang ini.

Dalam 3.000 dasawarsa lalu, bumi mengalami eksploitasi yang luar biasa oleh spesies yang bernama manusia. Populasi manusia yang meledak lebih tujuh miliar merupakan preseden yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah planet. Eksploitasi atas sumberdaya alam untuk memenuhi konsumsi manusia semakin melemahkan daya dukung bumi dalam menjaga keberlangsungan kehidupan.

Ke arah mana proses ini semua akan berujung?

Negara Mexico kini menjadi lautan manusia. “Jika spesies manusia hanya dimulai dari dua manusia saja sekitar 10.000 tahun yang lalu, dan meningkat satu persen per tahun, saat ini manusia akan menjadi bola daging padat dengan diameter ribuan tahun cahaya, dan terus membesar dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya,” Gobar Zovanyi, penulis “The No-growth Imperative” seperti kutipan dari The Guardian.

Berbeda dengan di Mexico, pulau Vancouver, Brazil kini hutan-hutannya telah menjadi gundul tak ada sisa sama sekali. “Dominasi manusia atas alam sesungguhnya hanyalah sebuah ilusi, mimpi di siang bolong oleh spesies naif. Ini adalah ilusi yang telah membuat bumi kita menderita begitu parah, menjerat kita dalam sistem yang kita bangun sendiri,” Donald Worster, penulis “Dust Bowl”.

Melihat bumi yang makin parah, hutan diberbagai belahan bumi juga makin terdegradasi tiap detiknya. Hutan Amazon yang dulunya terbakar membuat Garrett Hardin, penulis Living Within Limits: Ecology, Economics and Population Taboos mengungkapkan Sepanjang sejarah, eksploitasi alam yang dilakukan oleh manusia telah menghasilkan satu pola tetap: kuasai-hancurkan-pindah.

“Globalisasi, yang mencoba mencampur dan menyatukan semua jenis sistem ekonomi baik lokal, regional, maupun negara, kedalam satu sistem ekonomi global yang tunggal, memaksa meniadakan bentuk-bentuk pertanian lokal yang unik, dan menggantinya dengan sistem industrial; yakni sistem yang dikelola secara terpusat, penggunaan pestisida yang berlebih, satu jenis tanaman pangan untuk ekspor, dan menyediakan hasil pangan yang terbatas jenisnya yang mudah diekspor ke berbagai tempat di dunia,” Helena Norberg Hodge, penulis “Bringing the Food Economy Home: Local Alternatives to Global Agribusiness”.

Ditambah, hutan yang ditebang habis hanya untuk membangun waduk penampungan air di Willamette National Forest, Oregon, AS, membuat Jim Robbins, penulis The Man who Planted Treesberkata, “Ironis sekali bagaimana pohon-pohon yang keteduhannya membuat kita nyaman, buahnya kita makan, batangnya kita panjat, yang akar-akarnya kita siram, sangat sedikit difahami oleh kebanyakan manusia. Kita harus memulai dari sekarang untuk memulai memahami arti pentingnya pohon dan hutan, menghargai setinggi-tingginya peran penting mereka dalam menjaga keberlangsungan kehidupan bumi. Pohon dan hutan adalah kawan utama manusia dalam menghadapi masa depan yang mungkin tidak kita fahami,”.

Tidak hanya di kanca Internasional yang terus membuat bumi menangis. Namun, di Indonesia pun turut andil dalam mengkoyah-koyah kulit bumi yang makin keriput. Contoh saja di Ibu Kota Jakarta sebagai penyumbang emisi terbesar. William Reyrson, editor Earth Island Journal pernah berkata, “Perdebatan mengenai populasi bumi bukan hanya tentang jumlah maksimum manusia yang bisa didukung oleh bumi. Pertanyaan pentingnya adalah: berapa banyak populasi yang dapat hidup di Bumi, dengan standar hidup yang layak, dan di saat yang sama memberi ruang untuk keanekaragaman hayati untuk lestari? Tidak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini, tetapi fakta-fakta yang ada mengarah pada satu kesimpulan; kita tak bisa terus berdiam diri. Jika bumi sudah kesulitan ‘menghidupi’ 7,2 miliar orang, bagaimana dengan miliaran manusia yang akan hadir di akhir abad nanti?”.

Bukan di darat saja, tapi di laut pun dirusak oleh sejumlah manusia yang tak bertanggung jawab yang hanya menikmati keindahan alam dan tak ingin menjaga dan melestarikannya. Lihat diberbagai lautan Indonesia masih banyak dijumpai sampah-sampah yang terapung dan berserakan. “Air dan udara, dua elemen paling utama di bumi yang memungkinkan berlangsungnya kehidupan, telah menjadi kaleng sampah global,” ujar Jacques Yves Cousteau, penulis dan sutradara “World Without Sun”. (Angga Pratama)

Enam Aktivis Greenpeace Mencegat Anjungan Shell

Published in Internasional
Selasa, 07 April 2015 21:57

Medialingkungan.com – Enam aktivis  Greenpeace mencegat Anjungan Shell yang sedang dibawa menuju Arktikdi tengah samudra pasifik, 750 mil arah barat laut Hawaii dan berhasil memanjat anjungan seberat 38 ribu ton tersebut.

Tim relawan di berbagai negara saat ini tengah menyiapkan tenda di bawah geladak utama Anjungan Polar Pioneer. Para relawan ini memiliki persediaan makanan untuk beberapa hari kedepan, dan dilengkapi juga teknologi untuk berkomunikasi langsung dengan para pendukung di seluruh belahan bumi.

Pagi tadi (07/04), enam aktivis dari Amerika Serikat, Jerman, Selandia Baru, Australia, Swedia dan Austria ini bergerak cepat dari kapal karet yang diluncurkan oleh Kapal Greenpeace Esperanza menuju Polar Pioneer yang akan digunakan Shell untuk mengebor minyak di Laut Chukchi.

Kemudian, enam aktivis itu membentangkan spanduk berisi 6,7 juta nama orang di seluruh dunia yang menentang pengeboran minyak di Arktik.

Aliyah Field, salah satu dari ke-enam aktivis itu berkicau langsung dari Polar Pioneer melalui akun twitternya: “Kami berhasil! Kami saat ini berada di anjungan Shell. Dan kami tidak sendiri. Setiap orang bisa membantu mengubah anjungan ini (menjadi alat) untuk menunjukkan kekuatan rakyat! #TheCrossing.”

“Kami di sini untuk menyoroti kurang dari 100 hari, Shell akan mengebor minyak di Arktik. Lingkungan yang masih asli ini butuh perlindungan demi generasi masa depan dan semua kehidupan yang akan menyebutnya ini sebagai rumah,” ujar Johno Smith, dari Selandia Baru, yang juga bagian dari enam aktivis itu, berdasarkan siaran pers Greenpeace yang diterima Medialingkungan.com melalui surel.

Dia menambahkan, tindakan Shell mengeksploitasi es yang sedang mencair justru akan meningkatkan bencana yang dibuat manusia. Perubahan iklim adalah nyata dan telah menimbulkan rasa sakit dan penderitaan pada saudara-saudara kita di Pasifik.

“Saya percaya bahwa menyoroti apa yang dilakukan Shell akan mendorong lebih banyak orang untuk mengambil langkah tegas terhadap mereka dan perusahaan lainnya yang berusaha menghancurkan planet ini demi keuntungan belaka. Saya hanyalah satu suara dari sini, tapi saya tau bahwa saya tidak sendiri, jutaan atau bahkan miliaran suara yang mendesak pemenuhan hak untuk hidup aman dan sehat akan memiliki kesempatan besar untuk mengubah sesuatu,” ungkapnya.

Polar Pioneer yang diangkut oleh kapal angkat berat sepanjang 712 kaki (217 meter) yang disebut Blue Marlin ini adalah satu di antara dua kapal pengeboran yang akan bertolak menuju Arktik untuk memenuhi kebutuhan Shell pada tahun ini.

Kapal lainnya, Noble Discover kapal pengeboran tertua di dunia dimiliki oleh Noble Drilling yang telah mengaku bersalah pada Desember 2014 terkait tindak pidana berat sehubungan dengan delapan kali usaha Shell yang gagal mengebor di Samudra Arktik pada tahun 2012.

Kedua kapal pengeboran yang akan melintasi Pasifik ini diharapkan tiba di Seattle (3) sekitar pertengahan April sebelum bertolak menuju Laut Chukchi. (Angga Pratama)

Menaker: Gerakan ‘Pekerjaan Ramah Lingkungan’ Jadi Prioritas

Published in Nasional
Rabu, 01 April 2015 13:41

Medialingkungan.com – Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), M Hanif Dhakiri, mengaku akan memprioritaskan gerakan green jobs (pekerjaan ramah lingkungan) pada lingkungan kerja dengan menggalang dukungan dari pekerja dan pengusaha.

Hal tersebut diungkapkan Hanif dalam Forum Economic And Social Council (ECOSOC), sebuah Dewan Ekonomi Sosial, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tahun 2015 di gedung Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB/UN) di New York, Amerika Serikat.

Forum yang mengangkat tema ‘Achieving Sustainable Development through Employment Creation and Decent Work for All’ ini, melibatkan pihak pemerintah, pengusaha dan pekerja dari 54 negara anggota ECOSOC, organisasi-organisasi lain di bawah PBB serta lembaga-lembaga swadaya masyarakat.

Hanif mengungkapkan pelaksanaan pekerjaan ramah lingkungan ini di Indonesia sudah dalam tahap mendesak. Hal ini menurutnya dikarenakan dampak pencemaran lingkungan telah meresahkan, olehnya itu harus segera dihentikan.

 “Dengan pelaksanaan green jobs diharapkan memastikan terjadinya pertumbuhan perenomian nasional yang berdampak positif namun berwawasan lingkungan serta  menyediakan pekerjaan yang layak bagi  semua,” ucap Hanif seperti dilansir Republika.

Dia juga menjelaskan prinsip dasar pekerjaan ramah lingkungan yang meliputi perhatian terhadap lingkungan, sadar terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta memberikan dampak perekonomian yang baik.

Langkah ini juga diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya penurunan emisi gas karbon. Green jobs dalam mengurangi emisi karbon antara lain dengan pekerjaan layak yang meliputi aspek pengurangan konsumsi energi dan penggunaan material mentah, pembatasan pengeluaran emisi gas rumah kaca, pengurangan sampah dan polusi, perlindungan dan perbaikan ekosistem. (Irlan)

 

Polutan Beracun, Ancam Keberadaan Burung Arktik

Published in Internasional
Selasa, 24 Maret 2015 11:33

Medialingkungan.com – Pencemaran merkuri telah meningkat hampir 50 kali lipat yang ditemukan dalam bulu burung yang berkembang biak di Arktik selama 130 tahun terakhir, kata para ilmuan yang dilansir oleh BBC news.

Analisis spesimen menunjukkan tingginya kadar konsentrasi merkuri dalam telur burung camar gading tampaknya telah meningkat selama tiga dekade terakhir, hal Ini bisa berimplikasi pada kemampuan burung untuk mereproduksi dan meningkatkan populasinya. Ditambah lagi International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan burung camar gading sebagai salah satu hewan hampir terancam punah di dunia, di mana angka populasi telah menurun 80% sejak 1980-an.

Merkuri di atmosfer berasal dari sumber-sumber alam seperti gunung berapi, serta aktivitas manusia seperti pembakaran batu bara, dan emisi gas lainnya. Arus udara dapat mengangkut merkuri ke Kutub Utara dari pertengahan garis lintang hanya dalam beberapa hari.

"Penurunan merkuri di atmosfer akan menjadi kunci, tentunya dengan mengurangi konsumsi pembakaran batu bara," ujar Ketua Peneliti, Alex Bond dari Universitas Saskatchewan, Canada.

Kekhawatiran tentang pencemaran merkuri bukan hanya pada burung camar gading, tetapi juga pada spesies lain, di mana kadar merkuri juga ditemukan meningkat pada ikan seperti burbot, dan paus beluga.

Sementara itu, Polar Manajer Program WWF, Rod Downie mengungkapkan, ini bukti yang jelas dari dampak global dan efek sirkumpolar aktivitas manusia terhadap satwa liar Arktik, yang telah tertekan oleh perubahan iklim.

"Aksi diperlukan untuk mengurangi kontaminan memasuki ekosistem Arktik, seperti yang dipersyaratkan dalam konvensi internasional yang sudah ada, dan untuk segera mengatasi perubahan iklim." Ucap Rod. (Mirawati)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini