medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Indonesia Didaulat Sebagai Tuan Rumah Konferensi Danau Dunia 2016

Published in Nasional
Minggu, 08 Maret 2015 20:31

Medialingkungan.com – Untuk Indonesia membuktikan komitmennya terhadap penyelamatan danau dari kerusakan lingkungan yang timbul atas perilaku masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan diputuskannya Indonesia sebagai tuan rumah pelaksanaan  The 16th World Lake Conference atau Konferensi Danau Dunia ke-16 pada November 2016 mendatang.

Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Arief Yuwono mengatakan, konferensi yang akan berlangsung di Bali ini merupakan forum internasional yang diadakan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam hal peningkatan pengelolaan danau.

Ini akan menjadi alat paksa Indonesia untuk segara merehabilitasi beberapa sungai yang memiliki kualitas yang buruk. "Sejumlah danau di Indonesia menurun kualitas lingkungannya,” kata Arief dalam acara media briefing Gerakan Penyelamatan Ekosistem Danau di kantornya, Rabu 4 Maret 2015.

World Lake Conference diinisiasi oleh International Lake Environment Committee Foundation (ILEC) yang bermarkas di Jepang. Pertama kali digelar di Shiga, Jepang pada 1984, WLC telah digelar 15 kali di berbagai negara, seperti Jepang, China, Argentina, Hungaria, Denmark, Kenya, India, Amerika Serikat dan Italia.

Arief mengungkapkan, kita (Indonesia) memiliki potensi yang sangat besar. Sekitar 800 danau yang berada di Indonesia akan memberi dampak ekonomi dan ekologi yang tinggi. Selain masyarakat sekitar danau sebagai menerima dampak langsungnya, Indonesia juga menjadi pusat pelancongan wisatawan asing.

Namun demikian, sambung Arief, sejumlah danau tengah mengalami permasalahan yang akut, diantaranya, pencemaran limbah domestik, lahan kritis di hulu, dan penurunan keanekaragaman hayati. “Banyak pula danau yang permukaannya tertutup enceng gondok,” kata Arief.

Dalam kehidupan sehari-hari, danau memiliki banyak fungsi, mulai dari mata pencarian, mencukupi kebutuhan dasar seperti air dan ikan, pembangkit listrik tenaga air, sampai menjadi tempat pariwisata. Tapi, menurut Arief, fungsi-fungsi itu kian terancam karena adanya penurunan kualitas lingkungan danau.

Menurut Arief, komitmen dan sinerjitas antar stakeholder, baik pada level pemerintah maupun masyarakat harus berada dalam koridor dan persepsi yang sama.

Pengelolaan secara berkelanjutan telah digagas pemerintah sejak 2009 lalu, dan 9 menteri telah menyepakati pengelolaan danau berkelanjutan dan penentuan danau prioritas nasional dan yang akan diselamatkan.

Dalam keputusan itu, ditetapkan sedikitnya 15 danau yang diprioritaskan untuk diselamatkan, seperti danau Toba, Minanjau, dan Rawapening. “Prinsip pengelolaannya adanya keseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungan hidup. Perlu sinergi para pemangku kepentingan,” kata dia. (MFA)

Cemari Sungai, Perusahaan Air di Inggris Didenda

Published in Internasional
Minggu, 22 Februari 2015 15:35

Medialingkungan.com – South West Water, perusahaan penyedia air bersih di Inggris diminta untuk membayar denda dan ganti rugi lebih dari £ 40.000 setelah mencemari sungai di Woodbury (Devon, Inggris) dalam kasus yang di ajukan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) setempat.

Pihak South West Water mengakui dua tuduhan, yakni membiarkan limbah buangan yang belum diolah sepenuhnya mencemari sungai, dan juga tidak memberitahukan kepada BLH mengenai masalah dengan proses perawatan pada usaha pengelolaan limbah di Woodbury.

Dikabarkan bahwa adanya gangguan pada pabrik, kesalahan sistem telemetri, dan manajemen yang buruk oleh pihak South West Water inilah yang menyebabkan Polly Brook, anak sungai di desa Woodbury ini terkontaminasi dengan limbah, yang kemudian menyebabkan kematian sejumlah ikan, ujar BLH, Peter Ball, dikutip dari press release oleh gov.uk.

“Sebuah survey ekologi dilakukan, yang menyimpulkan bahwa ada dampak yang merugikan pada fauna invertebrata di sungai sebagai akibat dari debit pengelolaan limbah Woodbury, dan perubahan yang signifikan terhadap ekologi sungai yang lebih luas,” katanya.

Lanjutnya South West Water didenda £40.000 karena melebihi batas numerik pembuangan limbah yang ditetapkan dalam izin, £7.500 karena tidak melaporkan hal ini ke BLH, dan £3.200 untuk biaya ganti rugi. (MD)

Pantai San Fransisco Tercemar, Ratusan Unggas Mati

Published in Internasional
Rabu, 21 Januari 2015 15:41

Medialingkungan.com – Ratusan burung yang habitatnya di sekitar tepi pantai sebelah timur San Fransisco di temukan mati. Hal tersebut terjadi karena adanya zat lengket misterius yang mencemari perairan sekitar pantai San Fransisco. Sampai pada saat berita ini keluar para peneliti dan ilmuan belum menemukan zat apa yang mencemari sungai tersebut.

Zat tersebut menempel pada burung yang kemudian menyebabkan kemampuan para unggas air tersebut menurun. Kebanyakan dari burung-burung tersebut mati karena mengalami kesulitan bergerak dan menderita hipotermia karena cairan tersebut menempel pada tubuh mereka.

Pada saat ini para ilmuan sedang meningkatkan upaya untuk menemukan zat apa sebenarnya yang mencemari perairan tersebut. Zat yang ditemukan menempel pada tubuh burung-burung tersebut tidak berwarna dan juga tidak berbau.

Para relawan yang tergabung dalam tim penyelamat burung telah menangkap sekitar 300 burung yang telah terkontaminasi zat lengket tersebut. Burung yang telah ditangkap kemudian akan dibersihkan dari lendir-lendir yang nantinya kemudian akan dikembalikan ke alam liar.

Menurut Rebecca Dmytryk, salah satu dari tim penyelamat tersebut mengatakan bahwa pada hari selasa beberapa jenis burung seperti ‘trinil’ dan jenis spesies lain telah ditemukan tercemar. Dan untuk proses pembersihannya akan memakan waktu yang sangat lama.

Para penyelamat burung berharap tidak adanya lagi kematian yang terjadi pada spesies unggas air tersebut dan semoga masih banyak spesies unggas air lainnya yang dapat diselamatkan dari paparan zat lengket tersebut. Masalah ini kemudian dijadikan sebagai prioritas utama bagi para pemerhati burung di San Fransisco. (UT)

Pemerintah Tiongkok Adili Perusahaan Pencemar Lingkungan

Published in Internasional
Jumat, 02 Januari 2015 17:45

Medialingkungan.com – Terbukti sering berurusan dengan kasus pencemaran, baik di air, udara maupun tanah di Tiongkok secara berulang-ulang, akhirnya pemerintah setempat mulai tegas mengantisipasi hal tersebut terjadi. Pemerintah Negeri Tirai Bambu ini akhirnya bersikap tegas terhadap perusahaan-perusahaan yang mencemari lingkungan.

Enam perusahaan telah didenda USD 26 juta (Rp 312 miliar). Perusahaan-perusahaan yang terletak di Kota Taizhou sebelah timur Provinsi Jiangsu itu terbukti membuang limbah kimia berbahaya ke sungai. Denda yang dikenakan tersebut merupakan yang terbesar sepanjang sejarah Tiongkok dalam kaitannya terhadap proses pencemaran lingkungan.

Awalnya, gugatan mejah hijau ini diusulkan oleh Asosiasi Perlindungan Lingkungan Kota Taizhou. Mereka menemukan bahwa enam perusahaan tersebut telah membuang 25 ton limbah asam klorida di dua sungai di wilayah itu. ''Limbah dibuang sejak Januari 2012 hingga Februari 2013,'' ujar pihak pengadilan.

Pengadilan di kota itu mendenda perusahaan-perusahaan tersebut 160 juta yuan atau USD 26 juta pada awal tahun 2015 ini. Kendati mereka meminta banding, namun gugatan banding tidak membuat mereka bisa bernapas lega. Sebab sebelumnya, pada Selasa (30/12/2014), pengadilan yang lebih tinggi menguatkan putusan dari pengadilan kota itu. Putusan tersebut dibacakan pada Rabu (31/12/2014) dan mengharuskan perusahaan itu membayar denda 160 juta yuan itu hingga batas waktu maksimal 30 hari pasca pembacaan tuntutan tersebut.

Sedangkan pada Agustus lalu, 14 orang yang terlibat dalam kasus tersebut dihukum 2-5 tahun penjara. Mereka dituding telah merusak lingkungan.

Dilansir pada New York Times  bahwa Jiangsu Changlong, satu di antara enam perusahaan tersebut, dikenai denda paling tinggi, yaitu USD 13,3 juta (156,6 miliar). Perusahaan itu mempekerjakan 1.300 orang dan bergerak di bidang pembuatan bahan-bahan kimia untuk pertanian. Misalnya, pestisida dan pupuk. Empat perusahaan lainnya, yaitu Jinhui, Fu'an, Shenlong, dan Zhenqing, juga memproduksi bahan-bahan kimia. Hanya Shimeikang-lah yang bergerak di bidang farmasi.

Terkait dengan kasus pencemaran lingkungan yang sengaja dilakuakan ini mengakibatkan permasalahan polusi lingkungan di Tiongkok menjadi sorotan sejak lama. Bahkan masuk dalam kategori paling berpolusi di dunia. Denda yang tinggi pada enam perusahaan tersebut serta pemberian hukuman pada para terdakwa menjadi indikasi bahwa pemerintah Tiongkok mulai serius untuk mengurangi polusi. Proses ini juga akan menstimulus pihak-pihak lainnya untuk tidak melakukan tindakan pencemaran. (MFA)

Rokok Turut Andil Mencemari Lingkungan

Published in Informasi & Teknologi
Jumat, 02 Januari 2015 16:50

Medialingkungan.com – Beberapa di antara kita mungkin saja menyadari bahwa kebiasaan merokok tidak hanya sanggup merusak organ dan jaringan tubuh, namun juga lingkungan hidup. Dalam skala global, rokok apapun, utamanya berjenis filter yang dikonsumsi terbanyak dunia – bisa mencemari lingkungan, dari kemasan, asap, puntung, hingga abunya.

Riset dalam artikel di jurnal Current Enviromental Health Reports menjelaskan langkah-langkah kebijakan mengurangi dampak dari sampah yang berhubungan dengan merokok. "Memperbaiki lingkungan akibat rokok filter bisa mulai kita lakukan dengan menggerakkan sistem deposit. Sistem ini bertujuan untuk memaksa produsen rokok bertanggung jawab terhadap kebersihan bagi sampah rokok filter. Selain itu, peringatan keras dan sosialisasi dari pemerintah sangat diperlukan untuk menghindari efek buruk dari rokok," ujar Thomas Novotnydan Elli Slaughter dari Universitas San Diego dalam rilis natureworldnews.

Angka yang mencengangkan ketika mengkalkulasi seluruh estimasi biaya yang dikeluarkan oleh semua konsumen rokok diseluruh dunia. Jika dikonversi dalam satuan mata uang rupiah, maka tercatat sekitar 4-6 triliun dana yang untuk memebeli rokok.

Suatu angka yang besar dan begitu juga efek yang ditimbulkan. Terbukti bahwa puntung rokok dan produk limbah tembakau lainnya merupakan sampah nomor satu yang ditemukan di bibir pantai di seluruh dunia. "Sampah jenis tembakau ditemukan di mana-mana,sehingga membahayakan lingkungan dan komunitas makhluk hidup secara signifikan.Saya menganjurkan untuk menjauhi konsumsi rokok. karena dua pertiga dari semua asap rokok merusak udara secara global. Dan ini penting untuk menjaga potensi toksisitas dan perbaikan produk-produk limbah ini," ujar Novotny.

Para peneliti ini mengatakan bahwa merokok di tempat umum atau bahkan di dalam ruangan bisa menimbulkan efek, tentu saja akan lingkungan hiduo akan terkontaminasi dari zat kimia rokok yang mengandung racun. Bahan kimia dalam rokok seperti arsenik, nikotin, danetil fenol akan meresap ke dalam air asin dan tawar – yang berbahaya untuk mikroorganisme dalam air serta berbagai jenis ikan.

Penelitian itu juga menyatakan bahwa kemasan rokok juga memicu risiko yang berbahaya. Plastik rokok filter dapat menebarkan zat bahan kimia berbahaya walaupun telah 10 tahun dibuang. Dalam satu contoh kasus diungkapkan bahwa diperkirakan sebanyak 49,8 juta kilogram filter, yang dibuang di Amerika Serikat setiap tahunnya. (MFA)

Forum G20 Bahas Pariwisata Berkelanjutan

Published in Internasional
Rabu, 19 November 2014 07:06

Medialingkungan.com – Bertempat di Brisbane, Australia, tempat seluruh pemimpin yang tergabung dalam G20 berkumpul untuk membahas peningkatan ekonomi negara dan ketenagakerjaan. Beberapa jam sebelum pidatonya, Presiden AS, Barack Obama di Universitas Queensland, Brisbane Sabtu lalu (15/11), para pemimpin industri pariwisata dari seluruh dunia sibuk pada forum yang membahas cara-cara untuk meningkatkan pertumbuhan sektor pariwisata yang berkelanjutan dan seimbang – dalam kondisi menanggapi tantangan yang mendesak dari pemanasan global.

Benar saja, agenda forum itu setara dengan pesan lingkungan yang disampaikan pada hari berikutnya oleh Presiden AS. “memerangi perubahan iklim tidak bisa menjadi pekerjaan pemerintah saja,” ungkap Obama dalam rilis G20 yang diterima medialingkungan.com.

Tuntutan sumberdaya alam yang meningkat, menyebabkan penipisan sumberdaya berkelanjutan dan peningkatan dramatis dalam emisi karbon dioksida dan polusi terutama dampak dari sistem transportasi (WWF. INTERNATIONAL, living planet report, 2000).

Dalam hal ini, sektor pariwisata menuntut dukungan alam sebagai aset utamanya. Diluar itu, ada banyak komponen yang berperan, sehingga dalam sambutannya, CEO EarthCheck dan Ketua forum, Stewart Moore, mengatakan bahwa industri pariwisata - yang merupakan industri dengan pertumbuhan tercepat di dunia – yang menyimpan (footprint environment) jejak lingkungan atau jejak ekologi ‘perlu dikelola secara lestari’.

"Industri pariwisata global bernilai total sebesar $1.400 Milliar. Untuk Australia saja menghasilkan sebesar $36 Miliar. Dan, ya, itu tidak membawa footprint, " kata Moore kepada para tamu undangan yang dari berbagai profesi, mulai dari pelaku bisnis perhotelan hingga perwakilan maskapai penerbangan, pejabat pemerintah, akademisi dan tokoh masyarakat pariwisata.

Dikatakan bahwa dunia saat ini sedang mengalami defisit ekologi, sehingga kemampuan lingkungan hidup menampung kebutuhan manusia perlu memikirkan keberlanjutannya. Ecological Footprint (EF) merupakan suatu ukuran kebutuhan manusia terhadap ekosistem bumi dan alam. Dengan kata lain, EF merupakan luas tanah produktif dan air yang diperlukan secara terus-menerus untuk dapat menghasilkan semua sumber daya yang bisa dikonsumsi oleh suatu populasi tertentu dan mengasimilasikan semua limbah yang dihasilkan (Rees dan Wackernagel,1996). Hal ini bertujuan untuk menentukan sampai sejauh mana beban manusia terhadap kapasitas regeneratif dari biosfer (Haberl et al, 2001).

"Nilai-nilai yang sangat berkaitan dengan lingkungan dan aset budaya merupakan penarik minat wisatawan ke tujuan pariwisata yang memerlukan perlindungan serta pengelolaan secara bertanggung jawab. Industri pariwisata dan pengelola adalah kunci utama untuk menciptakan perubahan ini. Kita tidak bisa menunggu pemerintah untuk bertindak," sambung Moore.

Hal yang demikian juga dikhawatiran Obama – tentang Great Barrier Reef dan keinginannya untuk memperlihatkannya pada anak cucu kelak, 50 tahun lagi dari sekarang – untuk “anugerah alam yang luar biasa".

Profesor Susanne Becken (Professor of Tourism) dari Universitas Griffith sekaligus anggota dari EarthCheck Research Institute mengatakan, “sustainability tidak bisa dipisahkan dari proses itu”.

"Tidak pernah ada waktu yang lebih baik dari sekarang bagi para pengelola, masyarakat, dan pemerintah bekerjasama untuk menerapkan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan dalam perancangan dan pengelolaan wilayah termasuk di sekitar area pariwisata," kata Becken.

"Kita perlu meniru studi kasus seperti Meksiko Huatulco yang telah berhasil menurunkan jejak dengan melibatkan masyarakat, industri dan pemerintahnya."

Ancaman terbesar bagi lingkungan akibat kebutuhan manusia yang selalu meningkat, yaitu pada emisi karbondioksida (CO2) yang menyebabkan pemanasan global dan polusi pencemaran serta banyaknya sampah akibat ketidakdisiplinan masyarakat dalam membuang sampah. (MFA)

Asap Pembakaran Unhas Tak Terkendali, Masyarakat Sekitar Naik Pitam

Published in Nasional
Sabtu, 08 November 2014 14:39

Medialingkungan.com - Pagi tadi (8/11), asap pembakaran sampah serasah yang dibakar oleh petugas kebersihan dari Universitas Hasanuddin (Unhas) menyebabkan kompleks perumahan dinas di kawasan Tamalanrea, Makassar yang berbatasan langsung dengan Universitas Hasanuddin dkeluhkan oleh masyarakat yang bermukim di kompleks perumahan tersebut.

Adi (19), salah satu warga mengaku mengalami iritasi pada matanya. “Asap dari sebelah membuat mata perih dan susah bernafas,” ungkap Adi saat ditemui di rumahnya.

Masyarakat yang lain juga mengaku terganggu. Indah (34), salah seorang ibu rumah tangga mengaku pakaian yang semetara ia jemur, menjadi bau karena terkena asap ini, dan kadang membuat mata anaknya perih.

“Anak saya sudah dua hari ini mengeluhkan matanya yang perih sejak asap dari seberang muncul,“ katanya.

Kejadian pembakaran serupa memang sudah sering terjadi, ketika petugas kebersihan membuang sampah di dekat danau Unhas kemudian membakarnya, tapi kali ini masyarakat dalam kompleks ini merasa sudah sangat terganggu karena sudah terjadi dalam beberapa hari secara berturut-turut terjadi.

Adi beranggapan bahwa sebaiknya pihakuniversitas memiliki manajemen pengelolaan sampah sendiri. Baik itu waktu pembuangan dan pembakaran ataupun penimbunan pada landfill yang telah disediakan.

“Pemanfaatan serasah untuk dijadikan pupuk bisa menjadi salah satu cara mengatasi permasalahan sampah, apalagi pemanfaatan sampah dengan metode ini sudah tak jarang ditemui,” sambung Adi. (AAI)

Warga Batang Terancam Kehilangan Sumber Daya Alamnya

Published in Nasional
Sabtu, 11 Oktober 2014 13:23

Medialingkungan.com – Greenpeace Indonesia mendukung perjuangan warga Batang yang telah 3 tahun mempertahankan sawah-sawah produktif serta laut mereka yang kaya ikan dari ancaman dampak rencana pembangunan PLTU Batubara belum juga menemui titik terang.

Menurut Kepala Greenpeace Indoneisa, Longgena Ginting dalam sebuah surat elektronik mengatakan, tenggat waktu financial closing (keputusan pendanaan) dari JBIC, bank asal Jepang yang memberikan pembiayaan proyek itu sudah lewat pada tanggal 6 Oktober 2014.

Longgena menengarai, pada 9 Oktober ia menerima informasi bahwa pemerintah, melalui Kementerian Perekonomian memperpanjang tenggat waktu rencana pembangunan PLTU Batubara Batang selama sepekan lagi.

Greenpeace Indonesia mempertanyakan dasar hukum perpanjangan tenggat waktu ini. Karena menurut Peraturan Presiden No. 66 tahun 2013 apabila perusahaan gagal menyelesaikan persolan proses akusisi lahan sesuai dengan waktu yang ditentukan dan tidak dapat memenuhi tenggat waktu (6 Oktober 2014), maka kesepakatan antara pemerintah dan konsorsium akan berakhir dan proyek harus dibatalkan.

Perpanjangan tenggat waktu ini menurut Longgena – membuat nasib warga Batang terus digantung dalam ketidakpastian. Kendati demikian, mereka tetap kuat bertahan serta berjuang untuk mempertahankan sumber pangan dan kehidupan mereka dari ancaman PLTU Batubara ini.

Pasalnya, tekad mereka adalah berjuang hingga mereka dapat hidup aman, tentram dan sejahtera seperti sedia kala -- tidak kuatir bahwa lahan sawah mereka akan diambil oleh proyek atau kesehatan mereka terganggu akibat menghirup udara yang tercemar dari cerobong PLTU atau laut mereka akan tercemar akibat berbagai partikel-partikel polutan hasil pembakaran batubara yang akan jatuh ke laut.

Selanjutnya, Greenpeace Indonesia akan melakukan riset di Batang, pendampingan warga, menyewa fotografer, ahli lingkungan, hingga pengambilan foto dari udara untuk dijadikan fakta dan bukti kepada pemerintah dan media, bahwa tanah dan laut Batang yang sehat dan subur sedang terancam dengan rencana pembangunan PLTU Batubara. (MFA)

Tiga Negara Penyuplai Polusi Udara Terbesar di Dunia

Published in Internasional
Selasa, 23 September 2014 11:08

Medialingkungan.com - Amerika Serikat, India, dan Vietnam/Tiongkok menjadi penyuplai terbesar polusi zat karbon di dunia. hal tersebut dikatakan ilmuwan yang tengah membahas bagaimana cara mengurangi polusi karbon di udara pada zaman sekarang.

Seluruh ilmuwan dunia kini mulai memperkirakan jika emisi terus meningkat dalam 30 tahun ke depan, bumi akan bertambah panas sekitat 1,1 derajat celcius. Proyek tim ilmuwan mengatakan, bahwa emisi terus meningkat 2,5 persen untuk tahun ini. "Waktu berjalan begitu singkat," kata Pierre Friedlingtein, salah satu tim ilmuan.

Sementara itu, Ahli Ekologis dari institusi Carnegie, Chris Fiel mengatakan, harus ada langkah pasti untuk mengatasi tantangan perubahan iklim. Diketahui emisi ini sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak dan gas serta pembakaran hutan. menyebabkan karbon tersimpan ke atmosfer sehingga menyebabkan terjadinya polusi udara yang semakin tak terkendali lagi.

Untuk mengurasi emisi udara, Eksekutif perusahaan seperti Aplle, Ikea, dan perusahaan minyak ikut ambil bagian dalam acara di Manhattan. Diharapkan mereka, bisa membuat komitmen iklim juga.

Kepala eksekutif Ikea, Peter Agnefjall mengatakan, mulai pada tanggal 22 September 2014 sangatlah penting buat seluruh umat di dunia untuk mendukung para pemimpin dalam melangkah dan mengambil bagian perubahan iklim yang lebih serius lagi.(AP)

Pemerintah Australia Terbitkan Perlindungan Great Barrier Reef

Published in Internasional
Rabu, 17 September 2014 09:05

Medialingkungan.com - Pemerintah Australia meluncurkan rencana jangka panjang untuk melindungi kawasan Great Barrier Reef.

Menteri Lingkungan Hidup Negara Bagian Queensland, Andrew Powell mengatakan, rencana 35 tahun yang bernama 2050 Long-Term Sustainability Plan tersebut memenuhi syarat dari UNESCO terkait status Great Barrier Reef sebagai situs warisan dunia.

Menurut Powell, pemerintah negara bagiannya berkomitmen untuk tidak membuang limbah pengurukan ke laut.

Untuk melindungi kawasan tersebut, pemerintah setempat baru-baru ini mendukung rencana pembunagan limbah hasil dari proses ekspansi pelabuhan Abbot Point ke daratan, bukan lagi ke kawasan taman laut Great Barrier Reef seperti yang sebelumnya dilakukan.

Menurut Menteri Lingkungan Australia, Greg Hunt mengatakan, rencana perlindungan dan manajemen kawasan tersebut mengandung target dan tindakan yang membantu melindungi kawasan karang dari ancaman-ancaman seperti kualitas air buruk, badai, dan juga rencana perlindungan spesies seperti penyu dan ikan duyung.

Dalam perjalanannya, termasuk pendanaan yang telah dikucurkan dari pemerintah pusat, Australian Institute of Marine Science dan dari lembaga ilmu pengetahuan CSIRO, jumlah yang dihabiskan untuk terumbu karang itu mencapai 180 juta tiap tahunnya.

Juru bicara organisasi pemerhati lingkungan WWF, Richard Leck, menyatakan bahwa rencana itu adalah kesempatan terakhir pemerintah untuk mencegah UNESCO mengkategorikan kawasan tersebut sebagai kawasan terancam kepunahan. (MFA)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini