medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Aktivis Lingkungan Asal Australia Ditangkap di Malaysia Akibat Aksi Protes

Published in Internasional
Senin, 23 Juni 2014 12:31

Medialingkungan.com – PihakKepolisian Malaysia menangkap aktivis lingkungan anti tambang, Natalie Lowrey asal Australia, setelah ambil bagian dalam aksi protes untuk menyetop pemrosesan bahan tambang langka di Gebeng, Kuantan, Malaysia Timur.

Diperkirakan sekitar 1000 demonstran turut ambil bagian dalam aksi itu. Mereka berusaha memblokade akses masuk ke lokasi yang dikelola perusahaan bernama ‘Lynas’. Sampai saat ini, sekitar 16 demonstran yang kini dilepaskan oleh pihak berwajib.

Aksi demo yang dilakukan oleh kelompok lingkungan Himpunan Hijau Malaysia ini didukung oleh koalisi oposisi Pakatan Rakyat.

Aktivis Anti Tambang Australia, Tully Mclntyre mengatakan, dia tak tahu tuduhan yang akan dikenakan kepada Natalie Lowrey. Tampaknya kepala polisi di sini mengatakan bahwa Lowrey akan dituntut atas pelanggaran visa, namun juga ada yang menyebutkan kemungkinan dituntut dengan UU Anti Kerusuhan.

Perusahaan Lynas memulai operasinya sejak Januari 2013 setelah ditunda akibat protes dari warga setempat dan kelompok lingkungan yang khawatir adanya pencemaran radioaktif. Izin operasi perusahaan Lynas selama dua tahun akan jatuh tempo untuk diperbarui pada September yang akan datang. (AP)

Pencemaran Air Sungai Kesang Diduga Kiriman Limbah dari Indonesia

Published in Internasional
Minggu, 22 Juni 2014 16:24

Medialingkungan.com - Masalah ketersediaan air bersih yang terjadi di beberapa daerah di Parlemen Jasin termasuk Dun Merlimau diyakini akibat air Sungai Kesang yang telah tercemar.

Anggota Dewan Negeri (Adun) Merlimau, Roslan Ahmad mengatakan, ia telah menghubungi CEO Perusahaan Air Minum di Jakarta untuk mengkonfirmasikan kondisi pencemaran air tersebut berasal dari aliran air Sungai Kesang yang disalurkan ke Malaysia yang tercemar limbah dari pabrik kelapa sawit Indonesia.

Menurut Roslan, ia menerima informasi dari pihak petugas yang telah melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi pencemaran tersebut.

"Sejak menerima keluhan dari masyarakat, saya terus menghubungi otoritas berwajib dan hari ini (kemarin) mereka memberi tahu apa yang terjadi dan ia meyakini sumber limbah itu dari pabrik kelapa sawit di dekat Sungai Kesang," katanya.

Sinar Harian semalam melaporkan keluhan beberapa pengusaha kuliner di sekitar Jasin yang mengatakan bahwa air bermasalah, rasanya menjadi masam sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pelanggan.

Roslan mengatakan, ia juga tidak diberitahu apakah pabrik tersebut di dalam kawasan Melaka atau Johor.

"Jika dalam negeri ini, pihak terkait harus mengambil tindakan cepat dan menutup segera pabrik tersebut.

"Bila penyebab diidentifikasi saya yakin pekerjaan pembersihan di pabrik air akan dilakukan segera pihak berwajib dan akan memakan waktu satu atau dua hari hingga kondisi ini normal," katanya. (MFA)

Tumpukan Sampah Di Jalan Pasar Pulo Jahe

Published in Nasional
Selasa, 17 Juni 2014 18:24

Medialingkungan.com - Jalan KRT Radjiman depan Pasar Pulo Jahe, Kelurahan Rawa Teratai, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, tertutup akibat tumpukan sampah yang sudah tiga hari tidak diangkut-angkut oleh petugas kebersihan. Kondisi itu sangat mengganggu karena menimbulkan bau busuk, menggangu lalu lintas, dan pemandangan di sekitar badan jalan KRT Radjiman depan Pasar Pulo Jahe.

Menurut Andi salah satu pedagang toko elektronik disekitar lokasi mengatakan, tumpukan sampah ini sangat lambat untuk diangkat oleh petugas kebersihan. Akibat dibiarkan berlarut, sampah jadi menumpuk serta mengganggu lingkungan sekitar pasar.

Kasus ini sudah sering terjadi di lokasi itu. Kontainer atau bak sampah yang diletakan di pinggir jalan tidak mampu menampung sampah yang berasal dari pedagang Pasar Pulo Jahe. Belum lagi, bak kontainer yang begitu kecil dan pedagang pasar yang masih saja membuang sampah walaupun kontainer sudah sangat penuh, yah akibatnya sampah berserakan di mana-mana, katanya.

Suyatno selaku pedagang beras di pasar itu mengungkapkan hal senada. Biasanya, sehari sekali sampah tersebut sudah diangkut. Namun, dirinya tidak mengetahui mengapa sampai saat ini truk petugas kebersihan belum datang untuk membersihkan lokasi.

Tetesan air bekas limbah di lokasi pembuangan sampah sementara (LPS) ini juga mengotori jalan dan menimbulkan aroma tak sedap. Kendaraan dari arah Jalan Raya Bekasi menuju Buaran menjadi tersendat karena menghindari tumpukan sampah ini, katanya.

Kami berharap agar pemerintah atau petugas kebersihan bisa segera mengangkut sampah yang sudah tiga hari belum diangkut. Semoga petugas dinas kebersihan juga bisa rutin untuk mengangkut sampah dan jangan telat agar disekitar lokasi bisa menjadi nyaman, ujarnya. (AP)

Pokja ASEAN Ke-15, Indonesia Samakan Persepsi Pengelolaan Wilayah Perairan

Published in Nasional
Kamis, 12 Juni 2014 10:03

Medialingkungan.com - Kementerian Lingkungan Hidup ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan Rapat ke-15 Kelompok Kerja Lingkungan Pesisir dan Laut se-ASEAN (The 15th Meeting of The ASEAN Working Group Meeting on Coastal and Marine Environment) di Jakarta, 11-12 Juni 2014.

"Pertemuan ini merupakan penghargaan dan kepercayaan bagi Indonesia menjadi tuan rumah bagi negara-negara ASEAN untuk penyelenggaraan Rapat ke-15 ASEAN Working Group on Coastal and Marine Environment," kata Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim KLH, Arief Yuwono di Jakarta, Rabu (11/06).

Dalam forum tersebut dikatakan bahwa penduduk di negara-negara ASEAN berjumlah sekitar 633,1 juta pada 2015 atau hampir 10 persen dari penduduk dunia yang berjumlah tujuh triliun, bahkan secara matematis sederhana berarti, area daratan mencapai sepertiga dari luas daratan dunia, sehingga kehidupan penduduknya sangat bergantung pada lingkungan pesisir dan laut.

Di Indonesia sendiri, sekitar 70 persen masyarakatnya hidup di wilayah pesisir dan sangat bergantung pada sumber daya alam yang dimilikinya. “Karena itu, pengelolaan lingkungan pesisir dan laut menjadi penting bagi pembangunan berkelanjutan,” kata Arief.

Arif mengatakan, pencemaran laut lintas-batas dan kerentanan terhadap dampak perubahan iklim merupakan permasalahan dan tantangan yang sama dalam pengelolaan lingkungan pesisir dan laut di negara-negara ASEAN.

Pencemaran laut lintas-batas, sambung Arief, disebabkan oleh arus mobilitas kapal yang sangat tinggi di wilayah perairan ASEAN, khususnya di Selat Malaka dan Selat Singapura.

Tingginya populasi dan aktivitas ekonomi di pesisir, keragaman hayati yang tinggi, serta ketergantungan hidup pada sumber daya pesisir, menyebabkan tingginya kerentanan penduduk terhadap dampak perubahan iklim di kawasan ASEAN, terutama penduduk miskin yang tinggal di wilayah pesisir.

Pencemaran wilayah pesisir yang kerap dijumpai seperti tumpahan minyak di perairan laut ASEAN ditengarai telah merugikan penduduk, karena tumpahan minyak pada lingkungan pesisir dan laut menyebabkan produktivitas sumber daya pesisir dan laut berkurang.

Arief berasumsi bahwa kerusakan yang ditimbulkan oleh faktor-fakor ini membutuhkan biaya dan waktu yang lama untuk memulihkan kondisi perairan ini seperti semula.

"Pemulihan lingkungannya pun memakan waktu lama dan biaya yang sangat besar," katanya. (MFA)

Warga Gatal-gatal, Pemkab Uji Ulang Limbah Karet PT KJP

Published in Nasional
Rabu, 11 Juni 2014 10:42

Medialingkungan.com – Pihak Pemerintah Kabupaten Tulangbawang Barat dalam waktu dekat akan menurunkan gabungan tim ahli untuk menguji ulang baku mutu air limbah PT Komering Jaya Perdana (KJP) di Dusun Sukamaju, Panaragan, Kecamatan Tulangbawang Tengah, Tulangbawang Barat.

Pengujian ulang tersebut ditengarai karena klaim dari warga yang menyatakan bahwa sumur miliknya telah tercemar oleh limbah pabrik karet tersebut, dan menyebabkan sejumlah warga terkena penyakit kulit.

"Untuk memastikan tercemar atau tidaknya air sumur warga tersebut, tentunya harus menurunkan tim ahli untuk melakukan uji laboratorium. Untuk melakukan pengujian ini BLHD akan menunjuk salah satu lembaga yang dirahasiakan identitasnya," ujar kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Tulangbawang Barat, Samsul Komar, kepada Lampung Post, Selasa (10/06).

Samsul juga berseloroh bahwa untuk sementara pihaknya belum bisa memastikan penyakit kulit yang dikeluhkan warga kepada anggota komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) berasal dari sumur tersebut atau tidak. Sebab, indikasinya sangat kecil untuk terjangkitnya penyakit kulit itu kepada warga

Ia berpendapat, kondisi fisiologi air cukup baik dan letak sumur warga jauh dari area pabrik, sehingga sangat kecil potensi tercemar dari limbah.

"Anda lihat sendiri, air sumurnya jernih dan letak sumur warga ini juga diatas permukaan sungai. Artinya, bisa saja ada unsur lain yang menyebabkan munculnya penyakit kulit tersebut. Apalagi, hanya satu keluarga itu saja yang mengeluh," kata dia.

Kajian laboratorium nantinya akan mejawab dugaan dan kecemasan warga terhadap kodisi yang saat ini meresahkan warga setempat. (MFA)

World Oceans Day 2014: Peneliti Dunia Ungkap Wilayah Perairan Paling Tercemar di Dunia

Published in Internasional
Minggu, 08 Juni 2014 18:43

Medialingkungan.com – Dalam sebuah acara untuk meningkatkan kesadaran global mengenai ancaman terhadap lautan dan mempromosikan konservasi laut dalam memperingati Hari Laut Sedunia (World Oceans Day) yang jatuh pada hari ini, Minggu, 8 Juni.

Menurut World Wide Fund for Nature (WWF), lebih dari 80% pencemaran laut disebabkan oleh kegiatan berbasis lahan yang menyebabkan tumpahan minyak, pupuk dan limbah kimia beracun yang pembuangan limbahnya yang tidak teratasi.

Beberapa pencemaran air biasanya juga diawali polusi udara, yang mengendap ke saluran air dan lautan, menurut Layanan Kelautan Nasional Amerika Serikat.

Internasional Bisnis -Times UK merilis beberapa wilayah dengan kondisi perairan yang paling tercemar di dunia.

Samudera Atlantik - Zona Mati Teluk Meksiko 

Teluk Meksiko adalah cekungan di Samudera Atlantik, dikelilingi oleh pantai Teluk dari Amerika Serikat, Meksiko dan Kuba.

Zona kematian di sini adalah salah satu yang terbesar di dunia. Perairan ini dipenuh dengan nitrogen dan fosfor yang berasal dari negara-negara pertanian utama di Lembah Sungai Mississippi, termasuk Minnesota, Iowa, Illinois, Wisconsin, Missouri, Tennessee, Arkansas, Mississippi, dan Louisiana.

Kehadiran bahan kimia di perairan Teluk Meksiko ini mengakibatkan hipoksia  atau kadar oksigen yang rendah. Hipoksia ini penyebab ikan kerap mati dalam jumlah besar.

"Hipoksia di dasar perairan tertutup rata-rata 8.000-9.000 km2 di 1985-92, namun meningkat menjadi 16,000-20,000 km2 di 1993-1999," menurut National Oceanic and Atmospheric Administration.

 

Samudera Atlantik - Garbage Patch Atlantik Utara

Patch ini pertama kali didokumentasikan pada tahun 1972 dan seluruhnya terdiri dari sampah laut buatan manusia mengambang di Atlantik Utara pilin.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa Garbage Patch Atlantik Utara memiliki ukuran ratusan Km2 dengan 200.000 potongan-potongan sampah per kilometer persegi di beberapa tempat.

 

Samudera Pasifik - Great Pacific Garbage Patch

Terletak di Samudra Pasifik bagian utara, dekat Pasifik Utara pilin, koleksi ini dari sampah laut sebagian besar terdiri dari plastik dan kimia lumpur.

Patch ini diyakini telah terbentuk secara bertahap sebagai pencemaran laut yang terbawa bersama-sama oleh arus laut.

Ukuran yang tepat dari patch sampai saat ini belum diketahui, namun diperkirakan antara 700.000 km persegi (270.000 mil persegi) sampai lebih dari 15 juta km2 (5,8 juta mil persegi). Karena puing-puing mengambang sebagian besar terdiri dari potongan-potongan mikroskopis dari plastik, dan tidak terlihat dapat dipantau dari luar angkasa.

The Great Pacific Garbage Patch mengumpulkan sampah laut dari Amerika Utara dan Asia, serta kapal bepergian yang melalui area tersebut.

Sampah dari pantai Amerika Utara membutuhkan waktu sekitar enam tahun untuk mencapai Great Pacific Garbage Patch, sementara detritus dari Jepang dan negara-negara Asia lainnya membutuhkan waktu sekitar satu tahun.

 

Samudra India

Sebuah patch sampah di Samudera Hindia ditemukan pada tahun 2010. Patch ini, terutama dibentuk oleh sampah plastik dan lumpur kimia. Patch ini merupakan sepertiga dari total sampah plastik lautan dunia.

Menurut Samudera Hindia Experiment (INDOEX), Samudra Hindia secara preventif tercemar oleh sampah plastik dan limbah kimia, yang menyebabkan hipoksia.

INDOEX telah mendokumentasikan polusi luas mencakup sekitar 10 juta km persegi (3,86 juta mil persegi).

Menurut para ilmuwan, siklon tropis yang menyebabkan sejumlah besar kematian sekitar Laut Arab (wilayah di Samudra Hindia bagian utara) menjadi semakin umum sebagai akibat dari polusi.

 

Laut Tengah

The Mediterranean mungkin adalah laut yang paling tercemar di dunia.

The United Nations Environment Programme memperkirakan bahwa 650.000.000 ton limbah, 129.000 ton minyak mineral, 60.000 ton merkuri, 3.800 ton timah dan 36.000 ton fosfat dibuang ke Laut Tengah setiap tahun.

Menurut Greenpeace, karena kondisinya yang sangat tertutup, maka secara alami, kawasan Mediterania membutuhkan lebih dari 100 tahun untuk dapat bersih dan kembali ke keadaan normal.

Karena tingginya tingkat polusi, banyak spesies laut yang terancam punah, di antaranya Mediterania Monk Seal, salah satu mamalia laut yang paling terancam punah di dunia.

 

Laut Baltik

Over-fishing, tumpahan minyak dan polusi dari daratan adalah ancaman yang tertinggi Laut Baltik yang terletak di antara Eropa Tengah dan Timur.

Setengah dari spesies ikan di Baltik berada di bawah tingkat bawah biologis kritis.

Karena hanya memiliki ruang yang sempit ke laut, yakni antara Swedia dan Denmark, maka menurut IBT, kondisi air pada wilayah tersebut akan memakan waktu 25-30 tahun untuk memulihkan dirinya.

Pihak berwenang kesehatan Finlandia telah memperingatkan bahwa memakan beberapa spesies di wilayah itu, sama artinya dengan memakan ikan mati.

 

Laut Karibia

Terletak di bagian utara Samudera Atlantik, Laut Karibia adalah salah satu daerah yang mengalami kerusakan paling serius oleh aktivitas manusia.

Menurut sebuah studi oleh Pusat Nasional untuk Analisis Ekologis dan Sintesis (NCEAS) mengatakan bahwa akibat tumpahan minyak, over-fishing, polusi dan perubahan iklim sehingga kehidupan laut mati.

Lebih lanjut ia memprediksi bahwa oyster dan rumput laut, mangrove, ikan-ikan serta karang lambat laun akan menghilang dalam kurun waktu yang dekat. (MFA)

BLH Kab.Sintang akan Tindaki Pelaku Usaha Perusak Lingkungan  

Published in Nasional
Rabu, 04 Juni 2014 18:23

Medialingkungan.com – Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sintang akan menindak tegas para pelaku usaha yang merusak lingkungan hidup dalam menjalankan usahanya di Kabupaten Sintang, utamanya bagi perusahaan yang tidak mencantumkan sertifikat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL).

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kabupaten Sintang, Junaidi, mengakui, pihaknya telah memberi peringatan kepada pelaku-pelaku usaha agar menjaga kelestarian ekosistem, dan mengancam untuk tidak tertib pada aturan tersebut.

Junaidi berselosor bahwa kerusakan lingkungan saat ini telah terjadi di seluruh dunia. Ia mencontohkan, kerusakan lingkungan yang terjadi pada sejumlah sungai di Kabupaten Sintang baik di pinggiran maupun sungainya. Saat ini, tanah di sekitar sungai-sungai mengalami erosi dan membuat air sungai menjadi keruh.

Ditengarai, maraknya Pertambangan Tanpa Izin (Peti) dan pembukaan lahan untuk perkebunan sawit punya andil besar terhadap pencemaran air sungai di Sintang.

"Ini akibat dari aktivitas pertambangan emas tanpa izin, penggundulan hutan, pembukaan perkebunan dan pembangunan permukiman oleh masyarakat yang hingga ke bibir sungai, yang berdampak bagi pendangkalan sungai," ujarnya.

Badan Lingkungan Hidup, kata dia, hanya mengawasi aktivitas pelaku usaha yang telah memiliki izin agar tidak merusak lingkungan. Sementara untuk aktivitas yang belum memiliki izin seperti Peti menjadi kewenangan aparat keamanan untuk menindaknya.

Junaidi menegaskan, jika kondisi ini makin parah, maka Sintang terancam krisis air bersih. Erosi ini akan berdampak menurunkan kualitas air hingga menghilangnya mata air.

Hasil penelitian BLH Kabupaten Sintang menyatakan, air sungai di Sintang sudah terkena erosi. Akibatnya, warna air sungai tersebut keruh sekali sehingga tidak layak konsumsi.

"Kondisi ini menjadi persoalan kabupaten yang harus ditangani dengan serius karena bisa menyebabkan Sintang krisis air bersih dikemudian hari," ujarnya.  (MFA)

sumber:Antara

Kopor Listrik, Kendaraan Ramah Lingkungan, Solusi Pencemaran Udara

Published in Informasi & Teknologi
Minggu, 01 Juni 2014 21:14

Medialingkungan.com – Berkendara menggunakan kendaraan bermotor selalu dikaitkan dengan persoalan polusi udara. Namun, tidak demikian terhadap kendaraan ini. Selain menjadi kopor menyimpan pakaian, kopor ini juga memiliki fungsi lain, yakni sebagai kendaraan ketika hendak bepergian.

Seperti yang diliris Oddity Central, kendaraan kopor listrik itu ditemukan oleh seorang petani yang bernama He Liangcia, di Cina. He mengungkapkan, kopor beroda tersebut menggunakan baterai sebagai sumber energinya, sehingga sangat ramah terhadap lingkungan.

"Pada daya maksimal ketika telah dicas, koper itu bisa mengangkut dua orang dewasa dengan kecepatan hingga 12 mph, untuk jarak hingga 37 mil,” ungkapnya.

Dalam demonstrasi alatnya, He mengendarai koper temuannya itu dari rumahnya ke stasiun kereta api di Provinsi Hunan Changsha. Jaraknya sekitar 7 mil. He menambahkan bahwa kopor tersebut juga memiliki sistem navigasi GPS dan alarm pencuri.

Penemu amatiran yang berprofesi sebagai petani itu mengatakan, pada dasarnya, perangkat unik ini adalah sebuah skuter listrik berbalut koper. Layaknya sebuah motor, pengendaranya bisa duduk di atas koper dan mengendalikannya dengan setir yang melengkapinya. Alat transportasi unik dan ramah lingkungan itu juga dilengkapi dengan sistem pengereman.

Selain itu, kendaraan unik tersebut sangatlah ramah lingkungan karena dalam penggunaanya, tak ada pencemaran polusi oleh asap yang keluar dari knalpot dan dijamin bebas macet karena bentuknya yang ramping. 

Ini bukanlah penemuan pertama He, sebelumnya pada tahun 1999, ia pernah merancang sistem keamanan mobil yang memenangkan penghargaan dan membawanya ke Amerika Serikat. (AND)

Pertumbuhan Eceng Gondok Cemari Danau Toba

Published in Nasional
Minggu, 01 Juni 2014 08:57

Medialingkungan.com – Penyebaran eceng gondok yang sangat cepat di Danau Toba, kini telah menutupi sebagian besar danau yang berada di Sumatra Utara ini. Tumbuhan tersebut dinilai mencemari kebersihan lingkungan.

"Saat ini air danau Toba berada dalam kondisi cemar sedang, sehingga diharapkan adanya upaya-upaya penyelamatan agar tingkat pencemaran tidak semakin parah," kata Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), M. Dani kepada wartawan ANTARA.

Berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan oleh Dani menunjukkan bahwa telah terjadi pencemaran sedang terhadap air di sejumlah lokasi di kawasan Lumban Silintong Balige, meski tidak separah di kawasan Haranggaol dan Parapat.

Ia mengatakan, Kondisi cemar sedang itu hanya terjadi pada beberapa daerah yang terletak di pinggiran danau, sementara beberapa lokasi lainnya belum ditemukan indikasi pencemaran.

Selain itu, Dani juga menemukan penyebab terjadinya pencemaran pada danau yang terletak di bagian tengah Provinsi Sumatera Utara itu. Ia menduga pencemaran tersebut ditengarai akibat pembuangan limbah domestik, hotel, pertanian, serta berbagai limbah lainnya berada di atas ambang batas baku mutu yang diperbolehkan. 

"Perlu adanya tindakan penyelamatan, agar pencemaran air Danau Toba tidak menjadi semakin parah, mengingat kawasan danau ini sudah cukup terkenal dalam dunia pariwisata internasional," katanya.

Pemerhati lingkungan dari Tobasa, Marandus Sirait menyebutkan, keberadaan danau Toba sebagai ikon pariwisata Sumatera Utara kini menjadi sorotan akibat menumpuknya eceng gondok sekitar perairan hingga bibir pantai pada wilayah tertentu. 

Di samping itu, air Danau Toba digunakan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan I, II dan kelak III. Kerusakan hutan sebagai penyangga ketersediaan air di danau terbesar di Indonesia ini membuat debit air Danau Toba semakin hari semakin berkurang.

"Jika terus dibiarkan, degradasinya akan semakin parah. Apalagi, ditambah pembalakan liar di sekitar kawasan hutan di wilayah tersebut," katanya. (MFA)

Sumber : Antara

Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2014, Ajang Refleksi Bebas Polusi Udara Berbahaya

Published in Nasional
Sabtu, 31 Mei 2014 14:57

Medialingkungan.com – Hari Tanpa Tembakau Sedunia diperingati pada tanggal 31 Mei setiap tahunnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa merokok merupakan penyebab kematian kedua terbesar di dunia, dan membunuh hampir 6 juta orang setiap tahunnya, dimana hingga 600.000 diantaranya merupakan perokok pasif.

Perokok pasif merupakan mereka yang menghirup polusi udara yang ditumbulkan perokok, yang dinamai Asap Rokok Lingkungan atau Environment Tobacco Smoke.

International Non Govermental Coalition Against Tobacco (INGCAT) telah menyampaikan rekomendasi yang didukung lebih dari 60 negara di seluruh dunia yang dimuat IUALTD News Bulettin on Tobacco and Health 1997 yang menyatakan “paparan terhadap asap rokok lingkungan yang sering kali disebut perokok pasif dapat menyebabkan kanker paru dan kerusakan kardiovaskuler pada orang dewasa yang tidak merokok dan merusak paru dan saluran pernapasan pada anak”.

Sementara itu, berdasarkan laporan hasil penelitian Tobacco Control baru-baru ini mengatakan, polusi udara yang dipancarkan oleh rokok adalah 10 kali lebih besar dari diesel knalpot mobil.

“Asap tembakau menghasilkan partikulat yang merupakan unsur paling berbahaya dari polusi udara bagi kesehatan dan jumlahnya 10 kali lebih besar dari gas yang dihasilka mesin diesel knalpot mobil,” terangnya dalam rilis tersebut.

Masyarakat yang menjadi perokok pertama adalah suku Indian di Amerika untuk keperluan ritual seperti memuja roh atau para Dewa. Pada abad ke-16 para penjelajah berkebangsaan Eropa yang menemukan Benua Amerika meniru hal tersebut kemudian membawa tembakau itu ke Eropa dan sampai saat ini menyebar ke seluruh termasuk indonesia.

Saat ini, Indonesia telah menjadi negara dengan jumlah perokok ketiga terbesar di dunia setelah Cina dan India, yaitu 34% atau 1 dari 3 orang Indonesia merokok. Perokok pria di Indonesia juga merupakan yang tertinggi dari 16 negara peserta Global Adult Tobacco Survey 2011, yaitu sekitar 67% atau 2 dari 3 pria Indonesia merokok.

Tahun 2013 lalu, pada sebuah pengukuran partikel asap rokok yang dilakukan Smoke Free di 169 lokasi dan 88 gedung perkantoran di Jakarta menunjukkan, kadar asap rokok yang ditimbulkan sekitar 150-200 miligram per meter kubik atau delapan kali lebih besar dari batas yang ditentukan WHO yaitu 25 miligram per meter kubik.

Kalangan peneliti menyepakati, udara dikatakan ‘normal’ jika mengandung sekitar 78 % Nitrogen, 20 % Oksigen; 0,93 % Argon; 0,03 % Karbon Dioksida (CO2) dan sisanya terdiri dari Neon (Ne), Helium (He), Metan (CH4) dan Hidrogen (H2).

Asap rokok merupakan bahan penyebab pencemaran udara terutama di dalam ruangan. Bertambahnya bahan kimia atau substrat ke dalam lingkungan udara normal akibat asap rokok yang mencapai jumlah tertentu (ambang batas) mengakibatkan 50 persen penyakit pada manusia di peroleh dari dalam ruangan.

Dari penelitian United State Environmental Protection Agency (US EPA) menyatakan bahwa udara dalam ruangan lebih berbahaya 2-10 kali lebih besar daripada udara di luar ruangan. Dan lebih dari 90 persen orang menghabiskan waktunya di dalam ruangan, sehingga sangat riskan terkena penyakit akbiat pencemaran udara.

WHO pertama kali mencanangkan Hari Tanpa Tembakau Sedunia pada tahun 1987, untuk menyadarkan dunia atas epidemi merokok dan berbagai penyakit dan kematian yang dapat disebabkannya.

Tujuan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah bukan hanya untuk melindungi generasi sekarang dan masa depan dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh merokok, namun juga dari berbagai masalah sosial, lingkungan dan ekonomi yang dapat turut ditimbulkannya. (MFA)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini