medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

RI Percaya Diri Bujuk Negara-Negara Maju Ikuti Jejaknya Mengurangi Emisi

Published in Internasional
Sabtu, 31 Mei 2014 11:11

Medialingkungan.com - Dari total 26 persen target pengurangan emisi karbon sampai tahun 2020, Indonesia hingga kini telah berhasil mengurangi separuh emisi karbon yakni sebesar 13 persen sampai dengan tahun 2014 ini. Hal tersebut menjadi suatu prestasi yang membanggakan bagi Indonesia. Untuk itu, Indonesia merasa percaya diri untuk membagi ilmunya kepada negara-negara maju lainnya untuk melakuka hal yang sama pada Konferensi Perubahan Iklim di Bonn, Jerman tanggal 4-15 Juni 2014 mendatang.

Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim, Rachmat Witoelar yang juga menjadi Ketua Delegasi RI pada Konferensi Perubahan Iklim di Bonn mengatakan bahwa jika semakin banyak negara maju yang mendorong kegiatan pengurangan emisi, maka kita semua bisa mengurangi peningkatan suhu bumi.

Di Jerman, delegasi RI akan memaparkan hasil-hasil kerja yang telah dilakukan dalam rangka mengurangi emisi karbon tersebut. Pihaknya berharap agar usaha tersebut nantinya bisa membujuk negara-negara yang berfokus terhadap pengembangan riset dan teknologi seperti AS dan negara-negara industri lainnya, mau berpartisipasi melakukan kegiatan pengurangan emisi ini secara serius.

Konferensi Perubahan Iklim yang dibawahi langsung oleh Badan Perubahan Iklim PBB (UNFCCC), akan dihadiri oleh 160-180 negara dalam rangka upaya menagih janji kesepakatan UNFCCC di Bali pada tahun 2007 lalu.

Kendati demikian, upaya Indonesia dalam rangka mengurangi emisi karbon masih jauh dari target. Selanjutnya, untuk menyelesaikan target tersebut, Indonesia berencana malakukan penggantian bahan bakar fosil melalui sumber daya lain seperti panas bumi atau sumber daya terbarukan lainnya.

Bahkan Rachmat berencana untuk mengusulkan kepada KPU agar debat capres mendatang membicarakan isu perubahan iklim. (UT)

Aktivis Lingkungan Lakukan Aksi Demonstrasi Tolak Tambang di Gunung Semeru

Published in Nasional
Rabu, 28 Mei 2014 20:40

Medialingkungan.com -  November 2013 lalu, Banyuwangi’s Forum for Environmental Learning (BaFFEL) mendaki Gunung Agung Bali untuk menolak rencana eksploitasi emas di Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu.

Tahun ini mereka kembali mendaki gunung untuk menyuarakan hal yang sama. Ranu Kumbolo, sebuah danau yang terletak di jalur pendakian Gunung Semeru dipilih oleh para aktivis lingkungan ini untuk menolak operasi pertambangan dengan membentangkan spanduk bertuliskan 'Manusia Bisa Hidup Tanpa Emas, Tapi Tidak Tanpa Air'.

Koordinator aksi, Deni Alamsyah, mengatakan dia memilih Danau Ranu Kumbolo yang terletak di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut karena ingin membangkitkan kesadaran tentang pentingnya air. Menurut dia, rencana eksploitasi tambang emas di Banyuwangi akan merusak kawasan hutan Tumpang Pitu sebagai kawasan resapan air.

"Manusia hidup butuh air, maka kami menolak tambang tersebut," kata Deni dalam rilisnya, (28/05/2014).

Menurut Deni, Gunung Tumpang Pitu merupakan kawasan hutan lindung seluas 1.900 hektare yang kini statusnya diturunkan menjadi hutan produksi. PT Bumi Suksesindo, operator pertambangan emas di gunung itu, akan melakukan pertambangan terbuka pada 2016 mendatang.

"Rencana tambang emas akan merusak hutan Tumpang Pitu sebagai kawasan air, maka kami dengan tegas tetap akan menolak tambang tersebut," ungkap Deni.

Selain mengancam ketersediaan air, sambung Deni, limbah pertambangan itu juga akan mencemari lingkungan.

Dia menambahkan, siapapun yang gemar atau pernah mendaki gunung terutama Gunung Semeru, akan merasakan betapa berharganya air, sehingga harus diperlakukan dengan baik.

Juru bicara Bumi Suksesido, Musmin, mengatakan penambangan emas tersebut tidak akan mencemari lingkungan walaupun menggunakan zat kimia sianida. Sebab, perusahaannya menggunakan sistem pengolahan heap leaching atau pelindian tumpukan.

Sistem ini dilakukan dengan cara menyiramkan larutan sianida dengan menggunakan sprinkler pada tumpukan batuan emas yang sudah dicampur dengan batu kapur. Air yang mengalir di dasar tumpukan yang kedap, kemudian dialirkan dan ditampung untuk proses berikutnya.

"Jadi, tidak ada limbah yang dibuang ke laut dan tanah," jelas Musmin.

Penambangan emas Bumi Suksesindo rencananya akan dilakukan secara terbuka setelah mengantongi persetujuan dari Menteri Kehutanan mengenai alih fungsi hutan lindung. Selain itu, Bumi Suksesindo juga menjamin reklamasi terhadap bekas pertambangan emas itu.

Kendati demikian, para aktivis ini mengatakan akan tetap melakukan kecaman terhadap operasi pertambangan di wilayah itu. Deni mengaku, walaupun aksi yang ia lakukan terbilang sederhana, namun ia yakin jika pesan di spanduk yang dibentangkannya akan menyebar ke banyak komunitas.

“Air itu universal. Karena itu siapa pun manusia jika diingatkan akan pentingnya air, tentu hatinya akan tersentuh. Apa pun agamamu, apa pun kebangsaanmu, apa pun pandangan politikmu, apa pun taraf pendidikanmu, semuanya pasti butuh air untuk melanjutkan hidup. Bukan emas," kata Deni. (MFA)

Sebuah Pulau Terbentuk Dari Tumpukan Sampah

Published in Internasional
Jumat, 23 Mei 2014 11:23

Medialingkungan.com – Setiap kali Amerika Utara, Asia Timur dan Australia membuang sampah ke laut, benda-benda tersebut berkumpul di tempat yang sama. Tempat ini bernama The Great Pacific Garbage Patch. Semakin lama sampah itu menumpuk hingga menjadi pulau sebesar negara bagian Texas kumpulan sampah tersebut diakibatkan karena area tersebut merupakan perputaran arus air dan angin.

Sampah tersebut terdiri dari berbagai macam konsentrat plastik, sampah kimia, dan barang rongsokan serta puing-puing atau sisa material lainnya. Keberagaman sampah ini dipengaruhi karena semua kapal yang berlayar membuang sampah mereka ke laut, kemudian arus laut membawa sampah tersebut dan terperangkap di pusaran arus laut Pasifik Utara yang terletak di antara Hawaii dan California, Amerika Serikat.

Keberadaan ‘Pulau sampah’ ini pertama kali diinformasikan oleh organisasi lingkungan Amerika Serikat National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pada tahun 1988. Kemudian ditemukan oleh pelaut asal Amerika Serikat Charles J Moore di tahun 1997 yang menemukan tumpukan sampah ini semakin membesar.  

Ukuran tumpukan sampah ini tidak bisa diketahui secara pasti karena tidak bisa dilihat dari permukaan laut. Sampah-sampah tersebut berada di bawah permukaan laut sehingga tidak bisa dilacak melalui satelit maupun pesawat. Menurut perkiraan, luasnya antara 700.000 - 15.000.000 km persegi.

Sampah-sampah plastik yang ada pada kawasan Garbage Patch ini telah mengakibatkan pencemaran lingkungan di laut. Hewan seperti ikan, burung albatros, kura-kura dan jenis makhluk laut lainnya telah terkontaminasi oleh sampah plastik tersebut.

Burung Albatros adalah salah satu contoh hewan yang terkena dampak kontaminasi sampah laut tersebut. Pada sistem pencernaan burung ini banyak ditemukan sampah plastik.

Dari 1,5 juta burung Albatros, menurut penelitian hampir semuanya terkontaminasi sampah plastik pada sistem pencernaannya dan ini berdampak negatif pada proses regenerasi burung ini. Sepertiga dari anak burung albatros ini mati karena kontaminasi sampah tersebut. (TAN)

 

HMI Cabang Mamuju : Hentikan Aktivitas Reklamasi Pantai Mamuju

Published in Nasional
Rabu, 26 Maret 2014 08:00

Medialingkungan.com - Upaya reklamasi pantai di Mamuju Sulbar menuai protes keras dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mamuju. Nanang Wahidin selaku ketua mengatakan reklamasi tersebut terkesan sangat dipaksakan oleh pihak pemerintah daerah. Menurutnya, pemerintah tidak memperhatikan kerusakan ekosistem yang diakibatkan oleh aktivitas itu.

“berdasarkan pendekatan ekologis, ancaman abrasi tentunya akan menimbulkan kekhawatiran masyarakat yang berktivitas di daerah tersebut. Disisi lain, coral serta vegetasi yang ada disekitar pantai akan ikut tertimbun. Bukankah harusnya biodiversity laut ini dilindungi,” kata nanang.

Selain itu, Analis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) pada aktivitas ini harus lebih meninjaudampak limbah yang dihasilkan jika rencana reklamasi pantai itu benar-benar akan terealisasi.

“kami HmI Cab. Mamuju telah duduk bersama untuk mengkaji masalah ini. Selain amdalnya yang belum jelas, UU no 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir pantai dan pulau pulau kecil ikut dicederai sehingga satu satunya solusi yang tepat adalah hentikan reklamasi pantai mamuju”, tegasnya. (AND)   

 

Forum 3R se-Asia Pacific Hasilkan Banyak Kesepakatan

Published in Event & Komunitas
Sabtu, 01 Maret 2014 08:00

Medialingkungan.com - Pertemuan pembahasan 3R (Reuse-Reduce-Recycle) pengelolaan limbah dan sampah se-Asia Pasific atau The Fifth Regional 3R Forum in Asia and The Pacific berlangsung sejak 25-27 Februari 2014 di Surabaya. Sekitar 400 peserta dari 38 negara hadir sebagai perwakilan pemerintah dari berbagai sektor.

Ir. Djoko Mursito, M.Eng, MM selaku Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, mengatakan, “forum 3R ini sangat penting. Terdapat banyak ide, informasi dan pengetahuan serta ‘best practiceas’ yang diperoleh dari berbagai negara yang berupaya melaksanakan ‘the Hanoi 3R Declaration’ untuk mengurangi minimal 20 % timbulan sampah sampai dengan 2020 melalui peningkatan kerjasama dan kolaborasi antar pemerintah berbagai level (pusat dan daerah), swasta, peneliti, universitas serta NGO/CSO.

Salah satu tindak lanjut yang  dilaksanakan seperti deklarasi yang ditandatangani oleh 30 kabupaten/kota pada tanggal 24 Pebruari 2014 yaitu  “Gerakan Indonesia Bersih” diharapkan akan mendorong suksesnya upaya pengurangan sampah lebih cepat.”

Dengan tema “Multilayer Partnership and Coalition as the Basis for 3Rs Promotion in Asia and the Pacific”, pertemuan yang diselenggarakan oleh KLH RI, Kementerian PU RI, KLH Jepang, dan United Nations Centre for Regional Development (UNCRD) ini, membahas kemajuan dari penerapan HaNoi 3R Declaration Sustainable 3R Goals for Asia and The Pacific (2013-2023).

Implementasi Hanoi 3R Declaration (2013-2023) memerlukan kerjasama dan koalisi multi pihak yang bersifat berlapis (Pemerintah, dunia usaha dan masyarakat) terkait pengembangan konsep 3R melingkupi manajemen sampah perkotaan dan kaitannya dengan efisiensi sumber daya dalam berbagai sektor pembangunan seperti pertanian, industri, dan energi.

Sesuai dengan tujuan awal, pertemuan ini menghasilkan beberapa hal pokok seperti: (1) Peningkatan wawasan dan kesepakatan kemitraan maupun koalisi antar peserta dalam implementasi  kebijakan dan program 3R serta implementasi Ha Noi 3R Declaration (2013-2023), pertukaran informasi antar Negara-negara Asia Pacific yang memungkinkan disepakatinya solusi atas berbagai hambatan melalui kemitraan yang berlapis dalam implementasi 3R; (2) Terbukanya peluang kemitraan dalam mengembangkan model bisnis yang layak untuk meningkatkan skala aplikasi 3R dan penggunaan teknologi yang relevan; (3) Terbentuknya rekomendasi kerangka kerjasama regional antara Negara Negara kepulauan Pacific (SIDS/PICs) mengenai 3R untuk mengatasi masalah umum yang menjadi perhatian; dan (4) Peningkatan wawasan mengenai potensi sinergi antara Forum Regional 3R Asia Pasifik dengan Climate and Clean Air Coalition (CCAC).

Pada akhir acara, peserta pertemuan dari berbagai negara ini menyempatkan untuk dari dekat pengelolaan sampah di perumahan daerah Kampung Jambangan, Kampung Gundih, kampung Kertajaya, Kampung Gandung dan Nirwana Executive Housing Cempaka yang dimana tempat-tersebut merupaka objek eco tourism menarik yang menjadi percontohan pemukiman berinisiatif dengan konsep “Hemat energi, Kelolah Sampah, Hijau Lingkungan. Pertemuan selanjutnya Regional 3R Forum Asia ke-6 akan di selenggarakan di Maldivies. (AND)

Diduga Akibat Pencemaran Limbah, Ribuan Ikan Mati di Pesisir Pantai Marunda

Published in Nasional
Minggu, 20 April 2014 08:00

Medialingkungan.com - Ribuan ikan mati di Pantai Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Belum diketahui pasti penyebab matinya ikan-ikan tersebut, dugaan sementara lantaran keracunan limbah industri.

Berdasarkan pantauan, ikan kecil hingga berukuran besar yang masih bisa bertahan menepi ke pinggir pantai. Meski begitu tidak ada seorangpun warga yang mengambil atau memakan ikan tersebut.

Menurut salah satu nelayan pesisir pantai Marunda, Bapak Aslik, mengakui kebenaran matinya ribuan ikan di Pantai Marunda. Meski begitu dia tidak kaget dan tidak merasa heran karena hal demikian sudah sering terjadi.

“Saya menduga penyebab matinya ikan-ikan ini karena pencemaran limbah rumah tangga dan limbah industri dari perusahaan-perusahaan besar yang berada di sekitar lokasi yang terbawa melalui kanal yang bermuara ke Laut Marunda,”Ujar Aslik.

Meski begitu dirinya tidak tahu persis limbah darimana, susah menebaknya. “saya berharap pemerintah bisa tanggap dan secepatnya mengatasi masalah ini,” tambahnya.

Kepala Unit Limbah Lingkungan dan Air Tanah (BPLHD) DKI Jakarta, Bawa Sarasa, mengakui, pihaknya memang belum sempat mengecek kondisi di perairan Pantai Marunda tersebut. Ia hanya mengklaim penyebab ikan mati tak hanya karena limbah, tetapi juga akibat adanya arus balik dari laut.

"Jadi arus balik laut bisa menyebabkan endapan-endapan yang ada di dasar laut naik ke permukaan dan menjadi racun. Kemungkinan ikan mati juga karena hal tersebut," terang Bawa.

Melihat kondisi ini maka, setiap kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup, ancaman terhadap ekosistem, kehidupan dan kesehatan perlu dilakukan pengkajian dan riset dalam meminimalisisr dampak lingkugan hidup yang ditimbulkan.

Untuk itu, pemerintah harus mendorong penanggung jawab usaha atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup dalam rangka meningkatkan kinerja lingkungan hidup sesuai UU nomor 32 tahun 2009. (AP)

 

Samsung Gunakan Bahan Recycle pada Produk "Galaxy S5"

Published in Informasi & Teknologi
Minggu, 20 April 2014 08:00

Medialingkungan.com - Salah satu produsen ponsel pintar (smart phone), Samsung, berencana untuk menggunakan jenis kemasan ramah lingkungan untuk seluruh produk-produk seri Galaxy.

Raksasa teknologi asal Korea Selatan ini menunjukkan komitmen mereka dalam mengupayakan sustainable development dengan penerapan komponen yang ramah lingkungan di dalam seluruh perangkat seri Galaxy.

“Pemakaian kemasan ramah lingkungan pada perangkat seri Galaxy ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan energi dan dukungan daur ulang,” demikian tulisan dalam website resmi Samsung.

Selain itu, Untuk ponsel seri Galaxy yang baru-baru ini dirilis “Galaxy S5” telah menggunakan seratus persen kertas daur ulang sebagai kemasan produk ini.

Galaxy S5 juga menggunakan cover case charger yang terbuat dari plastik dan tinta ramah lingkungan. (MFA)

 

 

Atasi Polusi, Warga Prancis Hanya Boleh Pakai Mobil Dua Kali Sehari

Published in Internasional
Rabu, 19 Maret 2014 08:00

Medialingkungan.com - Aturan baru yang membatasi penggunaan kendaraan pribadi mulai diterapkan di ibu kota Prancis, Paris, untuk mengatasi tingginya polusi udara. Mulai pekan ini, warga hanya boleh menggunakan mobil pribadi tiap dua hari sekali.

Pemerintah Prancis membuat keputusan itu setelah polusi udara melampaui batas aman lima hari berturut-turut di Paris dan sekitarnya. Penggunaan sepeda motor juga diatur. Pemerintah hanya membolehkan penggunaan sepeda motor dengan plat nomor ganjil di jalan.

Kondisi berkabut di kota Paris terjadi karena dinginnya udara malam dan hangatnya suhu siang hari, sehingga polusi kendaraan terperangkap dan sulit hilang.

Kualitas udara Paris mencatatkan rekor terburuk dengan tingkat dua kali dari ambang batas aman demikian menurut lembaga lingkungan hidup Prancis. Kondisinya bersaing dengan polusi ibukota China, Beijing yang menjadi kota paling terpolusi di dunia.

Pemerintah akan meninjau kembali tingkat polusi pada Senin, sebelum memutuskan apakah akan memperpanjang pembatasan mengemudi untuk jangka waktu yang lebih lama. (AP)

 

 

Polusi Terparah Dunia Berada di Kota kecil Karabash, Rusia

Published in Internasional
Kamis, 27 Maret 2014 08:00

Medialingkungan.com  - Karabash berada sekitar 90 km sebelah utara dari kota Chelyabinsk, Rusia dengan jumlah populasi sekitar 13.152 orang (2010 cencus). Kota ini didaulat sebagai kota dengan tingkat polusi terparah di Dunia. Tercatat pada tahun 2012 lalu, pabrik peleburan logam yang beroperasi di kota tersebut mengeluarkan 180 ton gas.

Akibat aktivitas peleburan logam tersebut kota ini ditetapkan menjadi kawasan darurat ekologi dengan produksi asam terbesar di dunia. Hujan asam tersebut mengakibatkan vegetasi mati dan membuat tanah menjadi tercemar.

Air sungai yang mengalir di kota itu dengan mengandung konsentrasi zat besi mencapai 500 kali lipat dari ambang normal kadar zat besi air. Hal ini membuat tumbuhan tidak mampu hidup dalam jarak 100 meter dari pinggir sungai.

Kondisi tersebut masyarakat Kerap mengalami penyakit seperti gangguan pernafasan. Tumor, eksim, batu ginjal, pikun, pertumbuhan tidak normal, dan kelumpuhan otak. sementara itu, di negara maju seperti Amerika dan Jepang menetapkan aturan standar kualitas air minum yang lebih ketat dengan total kandungan besi dan mangan maksimum yang diperbolehkan adalah 0,3 mg/lt. (IRL)

Atasi Pemanasan Global, Patrick Blanc Ciptakan Taman Vertikal

Published in Informasi & Teknologi
Kamis, 13 Maret 2014 08:00

Medialingkungan.com - Taman vertikal adalah sebuah cara untuk mengkompensasi keterbatasan lahan permukaan tanah dengan pembangunan vegetasi di atas permukaan vertikal. taman vertikal (vertical garden) pertama kali diperkenalkan oleh Patrick Blanc, seorang botanist prancis yang berkeinginan mengintegrasikan kembali alam ditempat yang tidak disangkakan  orang pada umumnya (kompasiana,2010).

Dengan media tanam secara vertikal pada dinding-dinding bangunan, taman vertikal dianggap bisa menjadi salah satu solusi pemanasan global dalam mengurangi emisi gas polutif pemicu efek rumah kaca  dan menjadi sistem  pemurni alami udara sekaligus memproduksi oksigen khususya pada urban city seperti makassar yang pertumbuhan pembangunannya begitu pesat.

Selain manfaat ekologis, taman vertikal juga memberi sentuhan estetis pada dinding bangunan. Rumah atau apartemen akan terlihat lebih alami dengan beberapa bunga-bunga pilihan yang ditanam pada media tanam di dinding bangunan.

Media tersebut tidak menyatu dengan dinding, melainkan sebuah konsep hydroponik yang menggunakan struktur metal anti karat, dinding terbuat dari polyamide sebagai tempat tumbuhnya akar,  penghantar air serta nutrisi dari pvc. Media ini memang tergolong mahal apalagi untuk dikonsumsi di makassar, namun jika berpikir kreatif, hal ini tentu bukan menjadi masalah untuk penghijauan. Ada beberapa alternatif sebagai media tanam taman vertikal. Misalnya bambu, bambu yang berbentuk silinder yang sanggup mengalirkan air ke setiap tanaman, kemudian dibuat bertumpuk hingga menutupi dinding, lalu bunga dengan jenis-jenis tertentu ditata dengan rapi sehingga dinding tersebut terlihat lebih indah dengan ragam warna bunga yang terbingkai rapi pada taman vertikal tersebut. (MFA)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini