medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Positif Cemari Lingkungan, PT SBS Terancam Ditutup

Published in Nasional
Selasa, 25 Februari 2014 08:00

Medialingkungan.com - PT. Sinar Bengkulu Selatan (SBS) yang berada di Desa Nanjungan Kecamatan Pino Raya Baru. Perusahaan yang resmi beroperasi januari lalu sepertinya tidak akan betahan lama. Pasalnya pihak PT. SBS ini tidak profesional dalam pengolahan limbah cainya. Hal ini terbukti dengan ditemukannya pencemaran air sungai Selali oleh limbah perusahaan tersebut.

Kepala Kantor Lingkungan Hidup Bengkulu Selatan, Hidayat S.pd, MM, membenarkan adanya pencemaran di sungai selali. ”sampel air selali sudah kami cek di laboratorium dan terbukti air tersebut sudah tercemar,” tuturnya.

Menurutnya, pencemaran tersebut diketahui setelah menerima laporan dari warga bahwa air sungai Selili telah terkontaminasi oleh limbah cair. Pasalnya banyak ikan di sungai tersebut yang tiba-tiba mati. Setelah diteliti ternyata hasil laboratorium mencatat bahwa air tersebut positif telah tercemar zat kimia.

Hidayat mengatakan pihaknya akan memberikan surat pemberitahuan kepada manajemen PT. SBS untuk lebih teliti dalam pengelolaan limbah. Tambahnya lagi, surat pemberitahuan akan kami sampaikan besok (hari ini, red) ke pihak PT SBS.

Akan tetapi, “jika surat pemberitahuan ini tidak digubris oleh manajemen PT SBS maka pihaknya akan menyampaikan kepada Bupati Bengkulu Selatan dan Gubernur Bengkulu untuk menutup perusahaan tersebut. Sebab jika dibiarkan, maka keberadaan perusahaan ini akan merugikan warga sekitar karena mengancam kelestraian ekosistem di sekitar perusahaan”, sambungnya.

Surat pemberitahuan ini juga akan kami tembuskan ke Bupati Bengkulu Selatan, KLH privinsi jika tidak diindahkan, maka PT.SBS akan ditutup,” ancam Hidayat. (MFA)

Pipa Milik PT Indonesia Power Bocor, Potensi Langgar UU-LH

Published in Nasional
Selasa, 25 Februari 2014 08:00

Medialingkungan.com - Pencemaran lingkungan akibat pipa dari PT Indonesia Power yang bocor masih menyisakan banyak minyak dan oli. Yayasan Wisnu Bali meminta pertanggungjawaban dari perusahaan tersebut karena telah mencemari tanaman bakau di kawasan Pelabuhan Benoa, Denpasar.

"PT Indonesia Power harus bertanggungjawab terhadap pencemaran lingkungan tersebut. Karena pencemaran lingkungan itu bentuk dari pelanggaran undang-undang lingkungan hidup," kata Ketua Yayasan Wisnu Bali Made Suarnata.

Menurut pengakuannya, bocornya pipa PT Indonesia Power memang merupakan musibah, jika sampai mencemari lingkungan, mereka bersedia membersihkan sisa-sisa minyak dan oli sampai tuntas. Selain itu juga melakukan penanaman pohon bakau sebagai pengganti bakau yang mati.

"Kalau terus dibiarkan sisa-sisa minyak dan oli yang ada di sekitar tanaman bakau, tentu akan mengakibatkan mangrove mati. Sebagai bukti saat sekarang ini daunnya mulai gugur. Itu tanda-tanda bakau akan mati," ujarnya.

Suarnata mengatakan pihak perusahaan memang sudah sigap membersihan pasca kejadian itu. Namun sampai sekarang pembersihan sisa-sisa oli tersebut masih ada dan menempel pada tanaman bakau.

"Pihak Indonesia Power tampaknya hanya serimonial dan sekadar saja membersihkan sisa oli dari kejadian bocor pipanya. Buktinya minyak dan oli masih tampak mengambang di sekitar tanamam bakau," tuturnya.

Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Bali Ida Bagus Parta mengingatkan kepada perusahaan tersebut menuntaskan permasalahan pencemaran tersebut. (MFA)

 

 

 

KLH lakukan konsultasi publik membahas limbah B3

Published in Nasional
Kamis, 06 Februari 2014 08:00

Medialingkungan.com - Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) mengadakan pertemuan pada kamis (06/02/2014) guna menindaklanjuti saran Menteri Hukum dan HAM terhadap Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.

Sesuai pengumuman KLH , RPP ini terdiri dari 20 Bab, 258 pasal yang terdiri dari (1) penetapan limbah B3, (2) pengurangan limbah B3, (3) penyimpanan limbah B3, (4) pengumpulan limbah B3, (5) pengangkutan limbah B3, (6) pemanfaatan limbah B3, (7) pengelolaan limbah B3, (8) penimbunan limbah B3, (9)dumping limbah B3, (10) pengecualian limbah B3, (11) perpindahan lintas batas, (12) penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup dan pemulihan fungsi lingkungan hidup, (13) sistem tanggap darurat dalam pengelolaan limbah B3, (14) pembinaan, (15) pengawasan, (16) pembiayaan, dan (17) sanksi administratif.

Berdasarkan laporan pada website resmi tersebut, acara itu dipimpin oleh Deputi IV KLH Bidang Pengelolaan B3, Limbah B3, dan Sampah, Drs. Rasio Ridho Sani, M.Com, MPM, dihadiri oleh perwakilan KADIN, Asosiasi Pengusaha Limbah Indonesia, Asosiasi Cooper Slag Indonesia, Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, Asosiasi Semen Indonesia, Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Asosiasi Penyamakan Kulit, Asosiasi Besi dan Baja, Asosiasi Pertambangan Indonesia, Asosiasi Petroleum Indonesia, Asosiasi Panas Bumi Indonesia, Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPPB), dan ICEL.

Masukan dari tiap mitra diharapkan mampu menyempurnakan peraturan pemerintah yang berlaku sebelum ini  guna mengembalikan hierarki pengelolaan limbah B3 agar limbah B3 yang dihasilkan masing-masing unit produksi sesedikit mungkin dan bahkan diusahakan sampai nol, dengan mengupayakan reduksi pada sumber dengan pengolahan bahan, substitusi bahan, pengaturan operasi kegiatan, dan digunakannya teknologi bersih. Bilamana masih dihasilkan limbah B3 maka diupayakan pemanfaatan limbah B3. (MFA)

17 Perusahaan di Citarum Terjerat Kasus Pidana Lingkungan

Published in Nasional
Rabu, 26 Februari 2014 08:00

Medialingkungan.com – Sekiranya ada 17 perusahaan yang di laporkan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang dituding melakukan tindak pidana lingkungan dengan membuang limbah ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang merupakan DAS terbesar dan terpanjang di Provinsi Jawa Barat.

"Beberapa waktu lalu kami layangkan surat terkait 17 perusahaan yang melakukan pidana lingkungan di DAS Citarum. Kalau buang limbahnya sembarangan di Citarum, kami akan memeriksa Anda. Saya kirim ke Bareskrim untuk tindak pidana lingkungan,” kata Anggota BPK Ali Masykur Musa alias cak Ali.

Hal ini dia sampaikan saat menjadi pembicara pada workshop Lingkungan Hidup “Pengelolaan Limbah B3 dan Non B3 Antara Dampak dan Manfaat Terhadap Ketahanan Pangan (Pertanian)” yang di adakan oleh BPK RI.

"Karawang cenderung banyak yang alih fungsi dari lahan produktif menjadi untuk industri sehingga menganggu ketahanan pangan di Indonesia. Bupati Karawang harus pegang teguh mana yang tidak boleh jadi industri. Tingkat polusi di Karawang meningkat. Data yang ke saya, banyak perusahaan yang buang limbah ke Sungai Citarum. Pengelolaannya melebihi ambang mutu," ungkap pria yang ditetapkan sebagai ketua kelompok kerja audit lingkungan sedunia (WGEA).

Lanjut Cak Ali, ada 3 hal utama yang telah dilanggar oleh 17 perusahaan yang dilaporkannya itu yakni pertama menyangkut penyalahgunaan tata ruang, kemudian perijinan di sektor AMDAL termasuk ijin pengelolaan lingkungan. Ke-17 perusahaan yang ditindak BPK itu tidak memiliki ijin tersebut. Sedangkan yang ketiga adalah pengelolaan jaminan reklamasi atas penggunaan lahan untuk industri.

"Yang melanggar tentu saja ada pidananya dan ada yang bersifat materi denda sesuai di UU Lingkungan," ujarnya. Namun saat ditanya mengenai total kerugian negara yang disebakan oleh tindak pidana lingkungan ini, Ali Masykur belum bisa menyebutkannya.Beliau berjanji untuk segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan akan meninjau langsung DAS Citarum. (AND)

 

 

Clearwater Mills Ciptakan Teknologi Pembersih  Sampah Menggunakan Kincir Air

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 14 Mei 2014 08:00

Medialingkungan.com -  John Kellett dan Daniel Chase dari Clearwater Mills merancang sebuah inovasi ‘The Inner Harbor Water Wheel’, sebuah kincir air yang dapat  mengatasi masalah sampah aliran sungai (DAS) Jones Fall yang mengarah ke pelabuhan Baltimore. Inovasi ini diresmikan pada Kamis (14/5/2014) di Maryland, Amerika Serikat.

Setiap Tahun debit air hujan di Sungai Jones membawa berton-ton limbah padat dan puing-puing dari jalan ke Daerah Aliran Sungai. Limbah tersebut kemudian bermuara di Pelabuhan Baltimore. Limbahtersebut sangat menggangu aktifitas masyarakat di Baltimore. Karena itu, penduduk Baltimore berinisiatif menyelesaikan masalah limbah dan membuat daerah pelabuhan menjadi jauh lebih baik.

Menurut Kellet dan Chase, kincir tersebut bisa menyaring hingga 25 ton limbah setiap hari. Kincir yang mereka buat memanfaatkan 30 panel solar dan arus air sebagai tenaga pembangkitnya. 

Selain itu kincir tersebut bisa membangkitkan tenaga listrik sebesar 2.500 watt, atau kira-kira sama dengan kebutuhan satu rumah tangga per hari di Maryland.Kincir air tersebut bekerja dengan membawa puing-puing sampah yang telah terdorong oleh penggaruk berpegas. Sampah tersebut kemudian masuk ke ban berjalan dan mengarah pada tempat sampah di atas dermaga apung.

Setelah dermaga apung penuh, dermaga di lepas dengan  mengkaitkannya ke perahu. Sampah- sampah tersebut kemudian dibawa ke pengolahan limbah RESCO.

Limbah tersebut akan dibakar, kemudian diubah menjadi energi listrik. Sementara itu, pompa bertenaga surya menggerakkan 75.708,2 liter air per jam ke kincir air. Kincir inilah yang menggerakkan ban berjalan.

Selain membersihkan sampah dari pelabuhan, kincir pun berfungsi untuk memasukkan oksigen ke dalam air dan mendorong sejumlah ikan datang ke lokasi. Kondisi ini dapat memperbaiki habitat air di pelabuhan Baltimore. 

Kincir ini merupakan bagian dari Healthy Harbor Living Laboratory yang mendidik penduduk setempat mengenai manajemen air hujan serta menciptakan program untuk mendidik masyarakat tentang menciptakan ekosistem laut yang baik di pelabuhan. (AH)

Warga Kec. Jagakarsa, Jakarta Selatan Geram karena Kekurangan TPS

Published in Nasional
Minggu, 13 April 2014 00:21

Medialingkungan.com - Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, masih kekurangan tempat pembuangan sampah (TPS). Sampai saat ini hanya satu TPS sementara yang masih digunakan untuk penampungan sampah warga Jagakarsa. “Kita minta ke lurah, tapi belum disediakan. Bahkan untuk transit saja belum” kata Anwari, Selaku petugas kebersihan Kecamatan Jagakarsa, Sabtu 12/4/2014.

Sementara itu TPS yang berda di Gang Lontar, Jalan Raya Lenteng Agung, sudah digunakan selama lebih dari 10 tahun. Sementara menunggu lahan yang diberikan oleh kelurahan, petugas memaksimalkan penggunaan lahan tersebut, Ujarnya. Rizal Marpaung Staf Dinas Kebersihan Jakarta Selatan, Mengatakan lahan untuk TPS juga dapat diajukan oleh warga. "Sudin Kebersihan akan menyediakan anggaran untuk mendirikan TPS, tetapi lahan milik warga harus disediakan terlebih dahulu," (AP)

Warga Centex, Jakarta Timur, selama 10 Tahun Hidup di Kawasan Sampah

Published in Nasional
Kamis, 10 April 2014 05:52

Medialingkungan.com - Warga Centex di Gang Masjid pada RW 10 kawasan Centex, di Ciracas, Jakarta Timur, Sangat resah akan tumpukan sampah yang semakin hari kian bertambah jumlahnya. Di samping, peningkatan sampah juga diikuti aroma yang sangat menyengat dan membuat warga terusik olehnya.

Warga Centex juga khawatir cepat atau lambat, sampah yang menumpuk pada lingkungan sekitar nantinya bisa menimbulkan wabah penyakit. “Saya khawatir dengan kesehatan anak-anak karena sering bermain di dekat tumpukan sampah bahkan bisa dikatakan hampir tiap hari,” kata salah seorang warga. ”Kalau penyakit parah, belum ada. Tapi untuk saat ini, bau sampah itu bisa mengganggu pernapasan,” lanjutnya.

Sebelumnya diberitakan, sudah 10 tahun warga Centex hidup tidak jauh dari lokasi pembuangan sampah liar. Tempat itu menjadi kubangan sampah yang luas dan beraroma tidak sedap. Lahan itu sebelumnya merupakan tanah basah dengan luas sekitar 4.900 meter persegi. Namun, karena tidak pernah ditangani bertahun-tahun, lebih dari separuh dari luas lahan itu kini menjadi kubangan sampah seluas 3.000 meter persegi. (AP)

Mikroba sebagai Bakteri Pengunyah Minyak Perairan

Published in Informasi & Teknologi
Minggu, 11 Mei 2014 08:00

Medialingkungan.com – Minyak terbukti menjadi pencemar lautan nomor satu. Separuhnya dari total pencemaran tersebut dihasilkan dari aktivitas industri. Selebihnya akibat kegiatan pelayaran hingga kecelakaan kapal tanker. Banyaknya peristiwa kebocoran gas alam di dunia sangat berdampak buruk terhadap lingkungan. Salah satu contohnya, ledakan minyak yang terjadi di Deepwater Horizon Teluk Meksiko menewaskan 11 orang dan memuntahkan hampir lima juta barel minyak ke permukaan Teluk. Contoh tersebut dinilai sebagai bencana laut terbesar dalam catatan sejarah Amerika, namun ini bukan satu-satunya.

Menurut Badan Perlindungan Lingkungan AS kira-kira 14 ribu tumpahan minyak dilaporkan terjadi setiap tahunnya di Amerika Serikat saat minyak dan gas alam ditransfer melalui jaringan pipa, kapal tongkang, kereta api, dan truk. Komponen minyak mentah terdiri dari lebih 100 jenis senyawa yang terkelompok dalam alkana, aromatik, resin dan asphaltene. Komponen tersebut merupakan polutan utama di tanah dan lingkungan perairan yang bersifat toksik (racun). Informasi konsorsium mikroba pendegradasi mintak mentah sangat diperlukan. Ini sesuai dengan satu proses bioremediasi yaitu teknik biostimulasi yang aplikasinya lebih efektif karena langsung merangsang aktivitas mikroba yang ada di kawasan cemaran limbah.

Bioremediasi mengacu pada segala proses yang menggunakan mikroba atau enzim-enzim yang dihasilkan oleh mikroba tersebut untuk membersihkan atau menetralkan bahan-bahan kimia dan limbah secara aman. Para ilmuwan berhasil mengidentifikasi dan memperkirakan bahwa sekitar 100 jenis mikroba yang mengkomsumsi tumpahan minyak yang terjadi empat tahun lalu itu di anjungan pengeboran minyak lepas pantai di Deepwater Horizon di Teluk Meksiko. Menurut Colin Murrell, ahli mikrobiologi lingkungan di University of East Anglia di Inggris pada eksperimenya mengatakan bahwa temuan ini memberi informasi bagi pembuat keputusan tentang potensi mikroba untuk memperbaiki kerusakan alam.

“Dari segi pembersihan lingkungan atau dalam konteks organisme yang menghasilkan bahan kimia bermanfaat dan secara hayati lebih bersih dibandingkan penggunaan bahan kimia berbahaya, sehingga ini merupakan proses kimia yang ramah lingkungan,” papar Murrel.  Murrell juga menyarankan bahwa efek metana pada pemanasan global 20 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida. Jadi, penting untuk memahami bagaimana metana ini bisa dibersihkan dari lingkungan secara alamiah sebelum gas-gas ini terlepas ke atmosfir. (IRL)

Imhoff Tank, Teknologi Pengurai Limbah yang Terlupakan

Published in Informasi & Teknologi
Kamis, 08 Mei 2014 08:00

Medialingkungan.com – Pada masa penjajahan Hindia-Belanda, tepatnya 98 tahun, Belanda membuat sebuah pabrik pengolahan limbah rumah tangga yang disebut Imhoff tank atau oleh warga sekitar disebut pabrik mes. Kata ‘mes’ berasal dari bahasa Belanda yaitu Mest yang artinya pupuk. Pabrik ini dibangun di daerah Tegalega, bagian selatan kota Bandung. Pabrik ini mempunyai cara kerja seperti septic tank. Limbah domestik (limbah rumah tangga) akan masuk kedalam saluran penampungan Imhoff tank, kemudian hasil tampungan kotoran tersebut akan menghasilkan gas metan. Gas metan hasil pembusukan sampah tersebut kemudian dikompress kedalam sebuah tangki besi yang berdaya tampung 40 liter dengan tekanan 1 atmosfer.

Berdasarkan data yang dikutip dari kepala BPLDH JABAR, Anang Sudarma bahwa pencemaran sungai Citarum di Bandung salah satunya disebabkan oleh limbah rumah tangga yaitu sekitar 35 persen atau kedua terbanyak setelah limbah industri.  Angka ini menunjukkan kisaran limbah yang diproduksi masih sangat besar dan menjadikan kawasan tersebut sebagai yang 10 kawasan terjorok di dunia. Penggunaan Imhoff tank pada masa kini mampu turunkan produksi sampah di wilayah tersebut.

Bahkan lebih dari itu, limbah rumah tangga hasil endapan dari pabrik ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Masyarakat sekitar Lembang, Cisarua, Pengalengan dan Ciwidey tempat berdirinya pabrik ini dahulu memanfaatkan pupuk tersebut untuk tanah pertanian serta kebun-kebun bunga mereka. (UT)

Terbukti, Warga AS Pelaku Gangguan Iklim di Amerika

Published in Internasional
Jumat, 09 Mei 2014 08:00

Medialingkungan.com - Sebuah laporan baru-baru ini oleh National Climate Assessment atau prakiraan iklim Nasional 2014 di Amerika menyebutkan sebab-sebab memanasnya suhu udara, naiknya permukaan air laut dan meningkatnya kemarau, banjir dan cuaca ekstrim lain yaitu perubahan iklim. Laporan tersebut mengatakan semua ini adalah salah Amerika sendiri. Hasil studi Pemerintah Federal itu menunjukkan puluhan bukti yang mengukuhkan bahwa kegiatan manusia merupakan penyebab utama pemanasan bumi selama 50 tahun terakhir.

Tetapi, dikatakan, masih ada waktu untuk bertindak dan merubah kemungkinan-kemungkinan yang diprediksi akan terjadi. Perubahan iklim di masa depan pada umumnya masih tetap akan ditentukan oleh pilihan masyarakat terutama mengenai emisi. Selain itu, laporan tersebut juga menegeskan usaha pengurangan emisi oleh manusia, utamanya karena pembakaran batu-arang, minyak dan gas, ‘tidak cukup’ untuk menghindari akibat negatif yang semakin besar di bidang sosial, lingkungan dan ekonomi. (AND)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini