medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Kalkun Liar “Teror” Warga AS

Published in Internasional
Kamis, 23 November 2017 15:59

Medialingkungan.com - Masyarakat yang berada di wilayah pinggiran Amerika Serikat baru-baru ini mengaku telah ‘diteror’ oleh sekelompok burung kalkun liar. Kalkun dilaporkan mengganggu lalu lintas di New York  Barat, memecahkan genteng milik warga di Sacramento, serta mengejar seorang anak dan anjingnya di Cambridge. Jenis burung kalkun liar yang dilaporkan menyerang warga di pinggiran AS bukan jenis yang biasa diburu, sehingga tidak menganggap manusia sebagai acaman.

“Burung-burung tersebut mencari daerah terbuka seperti derah berumput dan lapangan golf. Semua tempat terbuka tersebut bagus untuk kalkun liar. Daerah pinggiran adalah habitat yang cukup bagus,” kata Mark Hatfield, Direktur Conservation Administration For The Turkey Federation seperti yang dilansir The Washington Post, Rabu malam (22/11/17).

Bersamaan dengan hal tersebut, National Wild Turkey Federation dan para peneliti mengungkapkan bahwa populasi burung kalkun liar di AS secara bertahap menurun. Pada tahun 2004, populasi kalkun liar mencapai 7  juta spesies dan menurun mencapai 6 juta spesies pada tahun 2014. Pembangunan yang mengambil alih habitat kalkun dan meningkatnya predator menjadi akibat penurunan spesies tersebut.

‘Konflik’ antara manusia dan kalkun ini dilihat oleh Michael Chamberlain, seorang Profesor Manajemen Ekologi dari Universitas Georgia, sebagai sebuah akibat dari pembangunan yang dilakukan oleh manusia. “Dalam 20, 30 dan 40 tahun terakhir, manusia telah mengekspansi hutan secara luas, merusak dan memotong menjadi potongan kecil,” kata Chamberlain. (Suterayani)

FORMA IPB Gelar Bedah Buku “DIBALIK KRISIS EKOSISTEM"

Published in Event & Komunitas
Minggu, 12 November 2017 15:08

Medialingkungan.com - FORMA pascasarjana Ilmu Pengelolaan Hutan Institut Pertanian Bogor (IPB) dibantu Forest Management Club IPB serta FORMA pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan IPB menyelenggarakan bedah buku yang berjudul  ‘Dibalik Krisis Ekosistem’, yang dihadiri langsung oleh penulis buku tersebut yaitu Prof. Dr. Ir. Hariadi Kartodihardjo, MS. Kegiatan ini diselenggarakan di Auditorium Sylva Pertamina Fahutan IPB, Sabtu (11/11/17).

Kegiatan ini ada karena melihat  berbagai permasalahan sektor kehutanan dan lingkungan saat ini hampir dikatakan sangatlah kompleks, satu diantaranya mengenai ketidakadilan pemanfaatan Sumberdaya Alam (SDA). Hal ini mengakibatkan adanya ketidak seimbangan pemamfaatan potensi alam yang berdampak pada timbulnya  krisis ekosistem.

Menurut Nursuhada selaku ketua panitia, kegiatan ini penting diadakan karena buku ini berisikan tentang bagaimana membangun cara pikir sehingga mereduksi nilai dari fakta sesungguhnya dilapangan.

“Buku ini merupakan hasil pemikiran penulis selama mendalami ilmu kebijakan SDA sehingga ini akan memperkaya ilmu pengetahuan kita dalam melihat masalah secara holistic melalui transdisiplin ilmu,” ujar Suhada.

Prof. Hariadi menjelaskan, bahwa judul buku ini muncul ketika membicarakan soal krisis ekosistem yang indikatornya pasti sudah jelas seperti banjir, longsor dan sebagainya. Namun, ada hal lain yang tak kalah penting dari itu yaitu pola pikir, gagasan, dan mandeknya ilmu pengetahuan. Menurutnya, hal tersebut lebih mengena dibanding membicarakan ekosistemnya secara rinci yang solusinya telah diketahui.

“Yang menjadi kegagalan dalam merumuskan solusi biasanya adalah kegagalan dalam mendefinisikan konteks. Konteksnya seperti apa? Bukan salah dalam mengambil analisis atau kesimpulan tetapi  kita tidak cukup baik  menghubungkan antara analisis simpulan dengan konteks yang  kita  hadapi,” tegas Prof. Hariadi.

Budi S.Hut., M.Sc. yang menjadi salah satu pemapar mengungkapkan bahwa, dalam buku ini disebutkan kerusakan-kerusakan SDA disebabkan karena kegiatan pembangunan hanya menitik beratkan pada produksi komuditas misalkan hutan hanya untuk menghasilkan kayu dan sebagianya.

“Selain itu, masalah lainnya adalah lemahnya kelembagaan dalam menyelesaikan konflik,” lanjut Budi. (Iswanto)

Puluhan Ribu Petani India Bunuh Diri Akibat Perubahan Iklim

Published in Internasional
Rabu, 09 Agustus 2017 02:37

Medialingkungan.com – Perubahan iklim kini telah benar-benar menunjukkan dampaknya terhadap nyawa manusia. Hasil studi oleh University of California (UC) Berkeley dengan judul “Crop-damaging temperatures increase suicide rates in India”, menyebutkan bahwa sekitar 60.000 petani di India telah bunuh diri akibat perubahan iklim.

Pada studi yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) (27/7) tersebut, Tamma A. Carleton dari UC Berkeley membandingkan data selama lima dekade terakhir terkait perubahan iklim dan kasus bunuh diri di India.

Carleton menemukan bahwa adanya hubungan yang kuat antara variasi temperatur di India dengan angka bunuh diri selama musim pertumbuhan. Bahkan menurutnya, kenaikan 1o C saja pada hari-hari pertumbuhan tanaman berkorelasi dengan peningkatan kasus bunuh diri sebanyak 67 kematian, dan kenaikan 5o C diasosiasikan dengan tambahan 335 kematian akibat bunuh diri.

Sebaliknya, ia menemukan bahwa peningkatan curah hujan 1 cm per tahun mengurangi angka bunuh diri sebanyak 7 persen.

Jika ditotal, Carleton memperkirakan bahwa terdapat 59.300 kasus bunuh diri di bidang pertanian selama 30 tahun terakhir di India bisa dihubungkan dengan pemanasan global.

Carleton menulis di dalam makalahnya bahwa peningkatan temperatur selama musim pertumbuhan mengurangi panen dan menambahkan tekanan ekonomi bagi para petani-petani India.

“Kekurangan ini juga masuk ke perekonomian, dan membuat populasi yang bertani dan tidak bertani tertekan karena naiknya harga pangan dan turunnya kebutuhan akan pekerja pertanian,” tulis Carleton, dikutip dari Kompas.

Hal ini juga dapat dibuktikan dalam aksi protes yang dilakukan oleh para petani dari Tamil Nadu. Mereka membawa tulang-tulang dan tengkorak petani yang bunuh diri dan menumpuknya di Jantar Mantar, Delhi, tidak jauh dari gedung parlemen India. Menurut mereka, kekeringan terhebat dalam 140 tahun terakhir telah membunuh ratusan petani Tamil Nadu.

Kemudian, Perdana Menteri India, Narendra Modi pun mengakui bahwa perubahan iklim telah menimbulkan dampak yang luar biasa bagi India. Dia berkata bahwa perubahan iklim telah menyebabkan banjir besar di berbagai daerah di India, seperti Assam, Gujarat, Rajashtan, dan Bengal.

“Hidup pun menjadi terbalik akibat banjir. Tanaman, ternak, infrastruktur, jalan, listrik, dan komunikasi – semuanya terganggu, khususnya petani-petani kita yang harus menghadapi banyak kerugian akibat kerusakan terhadap tanaman dan sawah mereka,” ujar Modi.

Pemerintah India pun harus mengucurkan dana asuransi perlindungan tanaman senilai Rp 17,3 triliun sebagai bagian dari usahanya untuk menangani hal tersebut. (Muchlas Dharmawan)

Perubahan Iklim Membunuh Terumbu Karang Terbesar Di Dunia

Published in Internasional
Rabu, 30 November 2016 16:51

Medialingkungan.com – Para ilmuwan menyampaikan hasil survey terumbu karang, pada Selasa (29/11). Dijelaskan bahwa lautan hangat di sekeliling Great Barrier Reef, Australia, telah membunuh dua pertiga dari bentangan karang sepanjang 700 kilometer tersebut dalam sembilan bulan terakhir. Kematian karang itu "hampir pasti" merupakan yang terbesar dan terburuk yang pernah dicatat dimanapun karena ukuran Barrier Reef, yang luasnya 348.000 kilometer persegi, merupakan terumbu karang terbesar di dunia.

Seperti dilansir Reuters, Profesor Andrew Baird, seorang peneliti di James Cook University yang menjadi bagian dari tim survey terumbu karang, mengatakan bahwa terumbu karang pada dasarnya seperti dimasak. Para ilmuwan iklim berpendapat peningkatan karbon dioksida di atmosfer menjebak panas yang memancar dari Bumi, menciptakan pemanasan global.

Pemutihan terjadi ketika air air terlalu hangat, memaksa karang mengusir alga hidup dan menyebabkan karang mengapur dan menjadi putih. Pemutihan ringan koral bisa pulih jika temperatur turun dan survei mendapati ini terjadi di bagian selatan terumbu karang, tempat tingkat kematian karang jauh lebih rendah. Meski ada pemutihan yang terjadi secara alami, para ilmuwan khawatir peningkatan suhu laut akibat pemanasan global memperbesar kerusakan, membuat ekosistem peka di bawah laut tidak bisa pulih.

Komite Warisan Dunia UNESCO, tak lagi menempatkan Great Barrier Reef dalam daftar "bahaya" pada akhir Mei 2016 kemarin, namun tetap meminta pemerintah Australia menyampaikan kemajuan upaya penyelamatan terumbu karang tersebut. Pemerintah Australia akan mengajukan perbaruan itu pada Jumat menurut juru bicara Kementerian Lingkungan Josh Frydenberg.

Australia adalah salah satu pembuang karbon per kapita terbesar karena ketergantungannya pada pembangkit listrik berbahan bakar batubara. Pada Juni 2016, selama masa kampanye pemilihan umum, Perdana Menteri Malcolm Turnbull menjanjikan dana satu miliar dolar Australia untuk melindungi terumbu karang.

"Perubahan iklim membunuh Great Barrier Reef," kata ahli lingkungan Charlie Wood.

Wood juga menyatakan bahwa penambangan dan pembakaran batu bara, minyak dan gas secara berlanjut merupakan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki lagi pada iklim. Jika kita ingin anak-anak kita menikmati Great Barrier Reef hingga generasi selanjutnya, kita harus bertindak sekarang untuk menjaga bahan bahan fosil tetap berada di dalam tanah. (Andi Wahyunira)

#EarthDay, Ketahui 7 Fakta Mengejutkan Tentang Bumi

Published in Informasi & Teknologi
Jumat, 22 April 2016 15:30

Medialingkungan.com – Setiap tahun, dimulai sejak tahun 1970, Hari Bumi sedunia selalu diperingati pada 22 April. Momen ini adalah yang paling tepat bagi kita untuk bergerak dalam meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet tempat tinggal kita. Selain itu, hal baik lain yang bisa kita lakukan di Hari Bumi adalah mempelajari lebih lanjut tentang bumi kita beserta dengan karakteristiknya.

Seperti yang dilansir Discovery News dalam news.discovery.com, berikut adalah 7 hal yang mungkin tidak Anda ketahui tentang bumi:

  1. Bumi Tidak Berbentuk Seperti Bola Sempurna

Planet Bumi mungkin terlihat berbentuk bulat sempurna jika dilihat dari gambar yang diambil dari ruang angkasa. Namun, para ilmuan berkata bahwa massa bumi tidak merata, sehingga agak gepeng di daerah kutub dan bengkak di garis khatulistiwa, dimana jarak tersebut dari pusat bumi adalah 13 mil jauhnya.

  1. Sebagian Besar Wilayah Belum Terjelajahi

71% permukaan bumi didominasi oleh lautan. Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration, kita hanya telah mengeksplorasi sekitar 5% wilayah perairan.

  1. Mineral Terbanyak di Bumi Yang Jarang Kita Dengar

Bridgmanite, mineral yang mungkin belum pernah kita dengar sebelumnya ini adalah mineral yang menyusun 38% volume bumi. Mineral ini terbentuk dari magnesium-besi silikat.

  1. Hampir Sepertiga Permukaan Bumi Ditutupi Oleh Pepohonan

Manusia telah memangkas habis setengah dari hutan dunia sejak tahun 1800-an, namun hutan kita yang masih tersisa seluas hampir 10 miliar are, dimana masih dapat berperan 31% untuk bumi. Hutan berfungsi untuk menyerap dan menyimpan karbondioksida yang kita keluarkan ke atmosfir, sehingga menjadi salah satu benteng perlawanan dalam menghadapi perubahan iklim.

  1. Atmosfir Bumi Terbanyak Berada di Lapisan Terbawah

Sekitar 75-80% gas di atmosfir bumi terkonsentrasi di troposfer, lapisan terendah atmosfir bumi yang membentang sekitar 6 mil panjangnya. Pada lapisan ini, hampir semua jenis cuaca, perubahan suhu yang mendadak, angin, tekanan dan kelembaban yang kita rasakan sehari-hari berlangsung.

  1. Bumi Memiliki Sekitar 1.500 Gunung Berapi Yang Dapat Meletus

Beruntung, kebanyakan dari gunung tersebut merupakan gunung berapi dorman atau tidak aktif dalam waktu yang panjang. Menurut U.S Geological Survey, hanya sekitar sepertiga dari gunung berapi yang berpotensi aktif yang benar-benar telah meledak sepanjang sejarah kehidupan manusia.

  1. Jika Anda Tinggal di Amerika Utara, Tanah di Bawah Kaki Anda Ternyata Bergerak

Lempengan tektonik Amerika Utara bergerak hanyut ke barat dengan laju sekitar 1 inci per tahun, menurut Pacific Northwest Seismic Network, sebuah lembaga penelitian yang dibentuk untuk meneliti gempa dan aktivitas merapi.

Itulah beberapa fakta tentang planet yang kita tinggali ini. Dengan banyak mencari tahu terkait bumi, maka kesadaran untuk menjaga keadaan bumi kita tetap baik akan terus meningkat, demi menjaga kelangsungan hidup manusia dan alam semesta. Selamat Memperingati Hari Bumi Sedunia 2016. {Muchlas Dharmawan}

Indonesia Tetapkan LIPI Sebagai Wali Data Ekosistem Karang dan Lamun

Published in Nasional
Rabu, 10 Februari 2016 19:39

Medialingkungan.com – Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Kepala Badan Informasi Geospasial No. 54 tahun 2015, menetapkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai Wali Data untuk bidang Ekosistem Terumbu Karang dan Padang Lamun.

Melalui siaran pers, Rabu (10/2), Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian (IPK) LIPI, Dr. Zainal Arifin, menjelaskan bahwa banyak manfaat yang dapat diperoleh dari terumbu karang dan padang lamun seperti pembersih air laut, perekam iklim masa lalu dan peredam pemanasan global.

“Terumbu karang juga memiliki manfaat langsung bagi kehidupan manusia yaitu sebagai gudang bahan makanan, bahan obat-obatan, penyedia bahan bangunan, pelindung pantai dari hempasan ombak, mempunyai nilai estetika tinggi sebagai daya tarik wisata, diperdagangkan sebagai hiasan akuarium dan pendidikan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala LIPI, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain mengungkapkan walaupun banyak institusi pemerintahan atau swasta yang bergerak pada sektor maritim namun data dan informasi terkait sektor tersebut masih sangat sedikit.

“Khusus untuk kelautan, LIPI memiliki Pusat Penelitian (Puslit) Oseanografi yang berdiri sejak tahun 1905. Selama 111 tahun telah melakukan riset dan menyimpan data kemaritiman, salah satunya terkait dengan terumbu karang (coral reefs) dan padang lamun (seagrass beds),” imbuhnya.

Kepala Pusat Penelitian (Puslit) Oseanografi LIPI, Dr. Dirhamsyah, MA menuturkan, Puslit Oseanografi LIPI telah memiliki pengalaman yang cukup panjang dan terlibat intesif dalam beberapa kegiatan pengelolaan ekosistem pesisir, seperti ekosistem terumbu karang sejak tahun 1993 yang lalu hingga saat ini.

“Informasi tentang status dan kondisi biota dan ekosistemnya tersebut harus disampaikan kepada masyarakat secara periodik,” tambahnya.

Dia juga menambahkan kondisi terumbu karang Indonesia secara umum telah mengalami perbaikan terutama dari kondisi terumbu karang yang jelek menjadi sedang dan dari kondisi sedang menjadi lebih baik.

Dia berharap dengan data dan informasi yang dimiliki, LIPI dapat berkontribusi dalam pembangunan di sektor maritim Indonesia.

Berdasarkan hasil temuan LIPI, status kondisi terumbu karang pada tahun 2015 yang diambil dari 93 daerah dan 1259 lokasi adalah 5 persen dalam kondisi sangat baik, 27,01 persen,dalam kondisi baik, 37,97 dalam kondisi sedang dan 30,02 dalam kondisi buruk.

Berbeda dengan terumbu karang, LIPI mengestimasi padang lamun Indonesia memiliki luasan 3 juta hektar. Dan hingga saat ini hanya seluas 25.742 hektar yang telah divalidasi oleh Puslit Oseanografi dari 29 lokasi.

Kondisi padang lamun di Indonesia didasarkan pada prosentase tutupan lamun dari 37 lokasi sampling, 5 lokasi berada pada kondisi tidak sehat/buruk, 27 pada kondisi kurang sehat dan 5 lokasi pada kondisi sehat. (Irlan)

CIFOR Tunjukkan Bukti-bukti Kaitan Hutan dan Penyakit Menular

Published in Informasi & Teknologi
Sabtu, 03 Oktober 2015 10:01

Medialingungan.com – Lembaga Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) baru-baru ini mencium adanya kaitan antara perubahan penggunaan lahan dan wabah infeksi Penyakit Menular (EIDs). Justifikasi ini diiringi peningkatan jumlah penelitian ini yang menuding adanya corong yang menghubungkan keduanya.

Menurut CIFOR, kaitan keduanya bak ‘pistol berasap’ – meskipun tak muncul ke permukaan namun identifikasi menyatakan bahwa EIDs berpotensi besar ditimbulkan dari perubahan penggunaan lahan.

“Ketika tegakkan hutan dibuka, meningkatnya kontak manusia dengan patogen tak dikenal di hutan bisa terjadi. Tetapi menemukan jalur penyebab, bahkan bukti korelasi yang cukup, masih sulit,” lansir CIFOR (25/09).

Tiga perempat EIDS yang dikenali, aslinya bersifat zoonotik, ditransmisikan dari binatang ke manusia. Memahami proses alami dan kejadian kontak binatang-manusia di bawah kondisi sosio-ekologi berbeda tampaknya menjadi prioritas segera.

Memahami faktor penyebab wabah dan munculnya kembali penyakit menular masih menjadi masalah ilmiah paling sulit. “Jurang besar pengetahuan masih ada,” katanya.

Bruce Wilcox dan Rita Colwell, Peneliti Biokompleksitas yang mendalami kemunculan penyakit menular secara holistik mengatakan, kelangkaan informasi disebabkan karena cara pandang terhadap patogen. “Ini hal yang mengkhawatirkan,” sambungnya.

Kedua peneliti ini menawarkan paradigma baru penelitian interdisipliner -- yang menempatkan patogen tidak terisolasi, karena penyakit, masalah lingkungan, selain juga pembangunan ekonomi, pemanfaatan dan tata kelola lahan yang semrawut dan memerlukan solusi lintas-sektor.

“Jadi, untuk mampu memperdiksi di mana EIDs bisa muncul, kita harus memahami bagaimana tingkat reservoar alami dan kecepatan transmisi dipengaruhi oleh faktor lingkungan, fisik, sosial dan ekonomi serta interaksi mereka,” jelasnya.

Penelitian ini juga membantu menemukan apakah proses munculnya penyakit ditengarai perubahan demografi, konsumsi dan produksi sampah populasi manusia dan dampaknya – urbanisasi, ekspansi dan intensifikasi pertanian, dan alterasi habitat hutan.

Penyatuan Puzzle Manusia dan Hutan

Dua sumber informasi terbaru dapat membantu mengawali penyatuan puzlle: pengetahuan mengenai fragmentasi hutan dunia, dan distribusi global EIDs.

Peta resolusi tinggi tutupan pohon global yang baru-baru ini dipublikasikan oleh Joseph Sexton dan kawan-kawan pada 2013 serta timnya Nick Haddad pada 2015 mengungkap bahwa hampir 20 persen sisa hutan dunia hanya berjarak 100 meter ke ujung hutan, dan lebih dari 70 persen hutan dunia berada dalam rentang 1 kilometer ke ujungnya.

Ini menempatkan hutan dalam jangkauan aktivitas manusia, perubahan mikro-iklim, dan spesies non-hutan yang bisa mempengaruhi ekosistem alami.

Kate Jones dan kawan-kawan dalam tulisan Nature (2013), menarik basis data dari ‘kejadian’ EIDs antara 1940 dan 2004, menunjukkan pola global nyata, mayoritas kejadian (71,8 persen) berasal dari alam liar.

“Tetapi, apakah kejadian EID dimungkinkan oleh fragmentasi hutan? Penelitian menunjukkan bahwa EID biasanya merupakan akibat perubahan antropogenik dan demografik, tetapi kekayaan spesies asli alam adalah penduga signifikan munculnya zoonotik EIDs, tanpa peran pertumbuhan populasi manusia, ketinggian atau curah hujan,” tulisnya.

Hutan, Binatang, Ebola

Masalah EIDs, manusia, kondisi hutan dan hewan (khususnya hewan buruan) belum pernah dalam sorotan sejak munculnya penyakit virus Ebola (EVD).

EVD ditularkan kepada manusia dari hewan liar dan penyebaran dalam populasi manusia melalui transmisi manusia-manusia. Penjelasan mengenai mewabahnya EVD beredar, tetapi tidak satu pun yang pasti.

Kaitan antara mewabahnya EVD dan deforestasi diterapkan, dengan entitas seperti Organisasi Kesehatan PBB (WHO) menyatakan (meskipun secara implisit) bahwa hilangnya hutan secara potensial menginfeksi hewan liar dan manusia dalam kontak lebih besar.

Walaupun kontak langsung dengan beragam spesies mamalia, seperti primata non-manusia -- gorila, simpanse dan rusa (transmisi hanya terkait dengan kelompok taksonomi ini) – telah ditunjukkan sebagai penyebab utama lompatan penyakit ke manusia, kelelawar secara khusus sering disebut sebagai reservoar paling memungkinkan untuk virus Ebola.

Baru-baru ini, beberapa peneliti menawarkan --walaupun belum terbukti dalam distrik Gueckedou -- di mana wabah Guinea berawal dari kontak dengan koloni kelelawar pemakan serangga tak-berekor mungkin menjadi penyebab wabah akibat hilangnya hutan.

Walaupun yang lain menentang hal itu karena hutan Guinea atas merupakan mosaik hutan dinamis, savana dan pertanian selama bertahun-tahun, orang di wilayah ini telah lama berkohabitasi dengan kelelawar, tampaknya bukan deforestasi/fragmentasi yang menjadi penyebab mewabahnya EVD.

Mengingat manusia dan kera besar telah lama tinggal bersama kelelawar beratus tahun, menuding gangguan habitat sebagai penyebab utama munculnya virus Ebola dalam spesies ini mungkin terlalu menyederhanakan dan bisa mengabaikan penyebab utama lain yang mungkin ada.

Di lain pihak, wacana yang mengklaim bahwa kecepatan dan ketakterdugaan deforestasi bisa mengarah pada wabah EVD bisa benar.

Tetapi, bagaimana ini bekerja?

Penelitian oleh Yayasan Environmental Resources Management (ERM) menyatakan bahwa fragmentasi hutan mengubah dinamika gerakan alam liar dalam hutan terfragmentasi; hutan terfragmentasi seringkali adalah wilayah dengan lebih banyak orang, jadi kontak antara manusia dan reservoar potensial atau spesies pembawa bisa meningkat.

Penelitian ini juga membandingkan pola fragmentasi hutan di enam lokasi wabah EVD dengan sampel luar wilayah yang dipilih secara acak, menemukan bahwa fragmentasi hutan lebih tinggi dalam lokasi EVD. Kesimpulan penulis laporan ERM dari hasil ini, adalah bahwa fragmentasi hutan, dalam mempengaruhi kebiasaan kelelawar mencari makan dan bersarang, bisa secara tidak langsung bertanggungjawab atas meningkatnya pertemuan kelelawar-manusia, dan akibatnya meningkatkan risiko EVD.

Laporan ERM merekomendasikan fragmentasi habitat mendorong kelimpahan pemangsa lebih kecil (terkait dengan hilangnya fauna berbadan besar), yang jika diburu akan meningkatkan kontak dengan hewan liar.

Penelitian ini merupakan yang pertama secara empirik memeriksa peluang hubungan antara kondisi hutan dan wabah EVD. Tetapi lebih banyak pekerjaan perlu dilakukan, kata penulis itu sendiri.

“Kita harus, tidak hanya meningkatkan sampel lokasi wabah EVD untuk diteliti, tetapi juga menguji rangkaian hipotesis alternatif untuk menginvestigasi apakah faktor tunggal atau beragam terkait wabah EVD,” jelasnya.

Jam berdetak dan ada urgensi saling mengetahui lebih dalam jika memang ada kaitan antara wabah Ebola virus dan deforestasi/fragmentasi hutan, konsumsi hewan buruan dan menangani daging hewan liar.

Para peneliti mengatakan, jika kaitan ini tervalidasi secara memuaskan, temuan itu bisa menjadi pintu masuk untuk lebih jauh memahami kondisi meningkatnya risiko wabah ebola dan menawarkan strategi mitigasi yang layak. {Fahrum Ahmad}

148 Peneliti Temukan Jumlah Pohon di Bumi

Published in Informasi & Teknologi
Selasa, 15 September 2015 11:37

Medialingkungan.com – Terjebak kemacetan sambil menghitung jumlah kendaraan yang ada di sekitar merupakan hal yang sulit. Begitu pula perumpaan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) yang menyatakan “berhenti mencari jarum pada tumpukan jerami!” -- melainkan menghitung semua jerami di pertanian.

Sebuah penelitian baru CIFOR mendokumentasikan pencarian itu -- dilakukan di seluruh dunia -- untuk menghitung berapa banyak spesies pohon di hutan tropis di bumi ini.

Asumsi dan perkiraan para peneliti yang seluruhnya berjumlah 148 orang bahwa hutan tropis bumi adalah rumah bagi 40.000 hingga 53.000 spesies pohon, sebagiannya sangat langka.

Laporan penelitian ini menurut CIFOR merupakan satu upaya pertama membangun basis data global spesies pohon tropis. Kendati, survei serupa hanya menghitung pohon di area tertentu, tanpa konsistensi meluas. Penelitian lain memperkirakan 37.000, 43.000, dan 50.000, yang “berdasar pendapat ahli,” tulis para peneliti pada lansiran Blog CIFOR (Agustus 2015).

“Ini terbagi dalam pecahan kecil-kecil,” kata ilmuwan utama CIFOR, Terry Sunderland, salah seorang penulis laporan.

“Ini soal menilai kembali posisi pengetahuan dan pemahaman di mana ada celah dan bagaimana kita benar-benar melakukan analisis global.”

CIFOR MEMBANGUN BASIS DATA lebih dari 650.000 pohon dari lebih dari 11.000 spesies yang ditemukan di wilayah tropis Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Kemudian, melakukan perbandingan melalui penyatuan basis data para peneliti dari seluruh dunia, dan menempatkan peneliti negara berkembang di panggung penerbitan internasional. Hasil ini mengakhiri beberapa asumsi sebelumnya mengenai spesiasi pohon tropis.

Amerika Latin, misalnya, sejak lama dipertimbangkan menjadi rumah hutan paling kaya, tetapi penelitian menunjukkan bahwa Asia Tenggara di banyak wilayah malah sangat kaya, di mana kedua wilayah tersebut menyokong 19.000 dan 25.000 spesies.

Afrika – sebaliknya -- hanya memiliki 4.500 hingga 6.000 spesies.

Walaupun begitu, jumlah ini masih jauh dari apa yang ditemukan di hutan manapun: hutan sedang Eropa hanya memiliki 124 spesies. Disparitas ini umumnya terjadi akibat perbedaan curah hujan antar wilayah, karena tingginya curah hutan umumnya berkorelasi dengan lebih beragamnya tumbuhan.

“Penelitian ini memberitahu kita bahwa jika kita tertarik mengkonvervasi keragaman hayati, di sinilah kita perlu focus. Saya pikir ini alat manajemen penting,” kata Terry Sunderland.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keragaman hayati tinggi berarti biomassa tinggi.

Mensurvey spesies pohon, bisa memberi masukan informasi lebih baik untuk program seperti REDD+, yang berupaya memitigasi perubahan iklim dan melindungi tanaman serta binatang dengan menawarkan kredit agar hutan tetap berdiri.

TETAPI BERAPA BANYAK PERSISNYA? adalahpertanyaan konkret untuk mengungkap jumlah keseluruhan bahwa hutan tropis adalah rumah bagi sejumlah besar spesies yang ukuran populasinya sangat kecil, walaupun belum jelas berapa banyak spesies atau seberapa kecil populasinya. Ini pertanyaan untuk peneliti di masa datang. Beberapa spesies ini dalam kondisi terancam punah dan perlu perlindungan, sementara yang lain langka.

“Ini salah satu masalah utama hutan. Banyak pola spesiasi yang tidak bisa kita katakan, kita akan lindungi area ini dan melindungi semua keragaman hayati.”

“Tidak bisa seperti itu!,” kata Terry Sunderland”

Ia mengatakan, untuk memperkaya informasi bagi pengambilan keputusan konservasi saat ini, survei pohon meletakkan dasar perbandingan bagi penelitian lanjutan -- khususnya peran penting ketika hutan berevolusi sejalan dengan iklim.

“Perubahan hutan yang sebelumnya didokumentasi selama beberapa milenium kini berlangsung lebih cepat,” ujar Terry Sunderland.

Terry menjelaskan, kondisi lebih panas di tropis bisa mengarah pada berkurangnya curah hujan, mengakibatkan kekeringan yang bisa mengancam hutan. Ditambah deforestasi, kekeringan bisa memusnahkan populasi pohon.

Mengumpulkan pengetahuan mengenai kondisi pohon hari ini akan menjadi penting menilai dan mungkin mengurangi kerusakan dalam dekade mendatang.

“Ini bukan sekadar praktik akademik, yang juga menarik dan penting, tetapi ini memberi basis data dasar untuk mulai memantau pola dan tren ketika perubahan terjadi bersama perubahan iklim, misalnya,” kata Terry Sunderland.

“Menyediakan basis data dasar memungkinkan kita memahami kecepatan dan sifat perubahan itu.” (Fahrum Ahmad)

Hiu Karpet Paling Siap Pada Kondisi Ekstrim Dampak Perubahan Iklim

Published in Informasi & Teknologi
Kamis, 10 September 2015 11:47

Medialingkungan.com – Pakar kelautan Queensland berhasil menemukan jenis ikan yang dinilai paling siap beradaptasi dengan dampak perubahan iklim di lautan. Ikan hiu karpet (hiu epaulette) kecil dianggap sebagai satwa laut yang mampu hidup dalam kondisi lautan akibat perubahan iklim di abad ini.

Para pakar perubahan iklim sebelumnya memperingatkan bahwa dampak perubahan iklim menyebabkan air laut menghangat dan menjadi asam. Selain itu, kadar oksigen dalam air berkurang laut juga menjadi berkurang. Perubahan semacam ini diprediksi akan memicu bencana pada ekosistem kelautan.

Namun, pakar kelautan yang berbasis di Townsville, Jodie Rummer, menemukan ikan hiu karpet epaulette kecil di Australia utara dan Papua Nugini yang berpeluang besar mampu bertahan dan berkembang biak dalam ancaman perubahan iklim ini. 

Berkat upayanya menyelidiki ikan hiu, Dr Rummer memperoleh beasiswa bergengsi dari PBB untuk memperluas penelitiannya di habitat hiu terbesar di dunia yang terdapat di Polinesia, Perancis.

"Ikan hiu karpet hidup di terumbu karang dangkal dan rata, sehingga dalam banyak kasus karang-karang itu dapat mengalami fluktuasi dramatis baik tingkat suhu maupun kadar oksigennya,” kata Rummer pada Radio Australia (09/09).

Rummer mengemukakanm karena ukurannya yang kecil dan tidak memiliki gigitan yang sangat besar seperti hiu lain, maka ia bisa menggunakan habitatnya ini untuk perlindungan. "Ikan ini mampu bertahan hidup dengan sangat baik pada kondisi kadar oksigen yang rendah dan itu melampaui kemampuan ikan-ikan hiu lain yang kita kenal.”

Selain itu, lanjut Rummer, ikan ini juga mampu beradaptasi terhadap tingginya kandungan karbon dalam lautan akibat perubahan iklim . "Ikan hiu karpet juga dapat mentolerir kondisi CO2 yang tinggi -- ke tingkat dimana kondisi laut diperkirakan akan mencapai level tersebut kandungan CO2nya pada akhir abad ini dan hiu karpet kecil ini secara fisiologis maupun perilakunya tidak terpengaruh sama sekali.”

Rummer mengaku dirinya telah menyelidiki bagaimana ikan ini mampu mengantarkan oksigen ke jaringan mereka dan sanggup melakukannya lebih 25-50 kali lebih baik daripada manusia.

Dia percaya hiu karpet kecil ini telah berhasil menyesuaikan diri dengan kondisi yang sulit dan perairan dangkal dari waktu ke waktu. "Kami menyimpulkan mereka adalah produk dari lingkungan mereka --  yang telah sering mengalami kondisi ini sehingga memiliki mekanisme-mekanisme khusus di dalam tubuh untuk [mengatasi oksigen rendah dan karbon dioksida yang tinggi," ujarnya.

Rummer berharao hasil penelitiannya ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor perikanan.

Menurutnya, ikan hiu bisa menjadi tolak ukur dari ekosistem yang sehat karena hiu merupakan salah satu predator utama dalam banyak ekosistem dalam lingkungan masyarakat. Karenanya, jika predator menghilang sebagaimana banyak contoh kasus yang ada, maka seluruh ekosistem juga ikut terganggu.

“Terutama sekali bagi masyarakat di kepulauan Pasifik yang sangat tergantung pada ikan dan kehidupan laut lainnya sebagai satu0-satunya sumber protein — mungkin ada konsekuensi yang mengerikan bagi masyarakat ini jika mereka mulai kehilangan kesehatan ekosistem dan ikan yang sehat," jelasnya. (Fahrum Ahmad)

Akibat Perubahan Iklim, Industri Pariwisata Spanyol Merugi

Published in Internasional
Minggu, 23 Agustus 2015 15:56

Medialingkungan.com – Di belahan selatan eropa khususnya Spanyol yang dijuluki negeri Matador itu mengalami timbul tenggelam dalam industry pariwisata. Dampak dari perubahan iklim yang terjadi saat ini membuat turis yang berkunjung ke Spanyol menurun.

Cuaca musim panas yang lebih kering di negara-negara seperti Spanyol dan Bulgaria berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan, dan kematian beberapa kehidupan satwa liar, seperti yang dilansir oleh The Independent, Minggu (23/08).

Tak hanya itu, kenaikan suhu ini secara praktis juga dapat membuat turis tak nyaman menikmati musim panas di Mediterania yang terlalu terik.

Peneliti Salvador Barrios yang berasal dari Spanyol mengungkapkan, saat ini Spanyol dan Bulgaria memikirkan cara untuk mengatasi masalah tersebut. Sedangkan di negara-negara lainnya seperti, Slovenia, Slovakia, Latvia, dan Estonia kini diincar oleh turis.

Kendati demikian, turis yang sudah merencanakan perjalanan ke Spanyol tak perlu khawatir. Peneliti sudah semestinya memulai perencanaan. Pasalnya, jika tidak ada upaya penanggulangan, negara-negara Mediterania diperkirakan kehilangan hingga 0,45 GDP setiap tahunnya dari pos pariwisata, kata, Salvador Barrios.

“Keadaan ini betul-betul mesti dicermati secara nasional bagi negara Spanyol,” ucapnya.

Jika diproyeksikan untuk Spanyol negara tersebut diperkirakan akan mengalami kerugian yang sangat besar. Namun, di sector pariwisata selain Spanyol diperkirakan keuntungan meningkat mencapai 0,32 persen dari GDP. (Angga Pratama)

Halaman 1 dari 3

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini