medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Akibat Perubahan Iklim, Industri Pariwisata Spanyol Merugi

Published in Internasional
Minggu, 23 Agustus 2015 15:56

Medialingkungan.com – Di belahan selatan eropa khususnya Spanyol yang dijuluki negeri Matador itu mengalami timbul tenggelam dalam industry pariwisata. Dampak dari perubahan iklim yang terjadi saat ini membuat turis yang berkunjung ke Spanyol menurun.

Cuaca musim panas yang lebih kering di negara-negara seperti Spanyol dan Bulgaria berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan, dan kematian beberapa kehidupan satwa liar, seperti yang dilansir oleh The Independent, Minggu (23/08).

Tak hanya itu, kenaikan suhu ini secara praktis juga dapat membuat turis tak nyaman menikmati musim panas di Mediterania yang terlalu terik.

Peneliti Salvador Barrios yang berasal dari Spanyol mengungkapkan, saat ini Spanyol dan Bulgaria memikirkan cara untuk mengatasi masalah tersebut. Sedangkan di negara-negara lainnya seperti, Slovenia, Slovakia, Latvia, dan Estonia kini diincar oleh turis.

Kendati demikian, turis yang sudah merencanakan perjalanan ke Spanyol tak perlu khawatir. Peneliti sudah semestinya memulai perencanaan. Pasalnya, jika tidak ada upaya penanggulangan, negara-negara Mediterania diperkirakan kehilangan hingga 0,45 GDP setiap tahunnya dari pos pariwisata, kata, Salvador Barrios.

“Keadaan ini betul-betul mesti dicermati secara nasional bagi negara Spanyol,” ucapnya.

Jika diproyeksikan untuk Spanyol negara tersebut diperkirakan akan mengalami kerugian yang sangat besar. Namun, di sector pariwisata selain Spanyol diperkirakan keuntungan meningkat mencapai 0,32 persen dari GDP. (Angga Pratama)

Greenpeace dan Harvard Ungkap Masalah Kematian Akibat PLTU Batubara

Published in Nasional
Kamis, 13 Agustus 2015 13:26

Medialingkungan.com – Greenpeace bersama Harvard mengeluarkan sebuah laporan yang berjudul ‘Ancaman Maut PLTU Batubara’ terkait penyakit dan kematian yang diakibatkan pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) di Indonesia, Jakarta.

PLTU batubara di Indonesia menyebabkan sekitar 6,500 jiwa kematian prematur setiap tahun. Jumlah ini bisa naik hingga 15,700 jiwa per tahun jika pemerintah Indonesia meneruskan peluncuran rencana ambisius lebih dari seratus pembangkit listrik tenaga batubara yang baru.

Angka-angka mengkhawatirkan ini didasarkan pada model atmosfer baru yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Harvard, menggunakan model atmosfer transport-kimia canggih, GEOS-Chem.

“Indonesia berada di persimpangan jalan,” kata Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Hindun Mulaika, seperti press rilis yang diterima oleh Medialingkungan.

“Presiden Jokowi memiliki pilihan, tetap dengan pendekatan bisnis seperti biasa untuk menghasilkan listrik dan mengambil  kehidupan ribuan orang Indonesia, atau memimpin perubahan dan ekspansi yang cepat untuk energi yang aman, bersih, yaitu energi terbarukan,” lanjutnya.

Hindun menyatakan, laporan tersebut sudah jelas menunjukkan polusi batubara yang berdampak pada kehidupan rakyat Indonesia. “Masyarakat mengalami pendek usia akibat penyakit stroke, serangan jantung, kanker paru-paru, gangguan pernapasan dan yang memprihatinkan kematian pada anak-anak,” ucapnya.

Laporan ini diluncurkan menyusul pengumuman baru oleh Presiden Jokowi untuk membangun tambahan 35GW pembangkit listrik baru, dimana sebanyak 22GW diantaranya akan datang dari pembangkit listrik batubara.

Sementara itu, Profesor Shannon Koplitz dari Harvard mengungkapkan, emisi dari pembangkit listrik tenaga batubara membentuk partikel dan ozon yang merugikan kesehatan manusia. Indonesia adalah salah satu negara di dunia dengan rencana terbesar untuk memperluas industri batubara, namun sedikit yang telah dilakukan untuk mempelajari dampak kesehatan yang ditimbulkannya.

Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa ekspansi batubara yang direncanakan secara signifikan dapat meningkatkan tingkat polusi di seluruh Indonesia. Biaya kesehatan manusia dari meningkatnya polusi batubara ini harus dipertimbangkan ketika membuat pilihan tentang masa depan energi Indonesia.

Sementara itu ahli batubara dan polusi udara dari Greenpeace, Lauri Myllyvirta menyatakan, setiap pembangkit listrik berbahan bakar batubara baru berarti berisiko bagi kesehatan orang-orang Indonesia.

“Pembangkit listrik batubara yang diusulkan di Batang saja bisa menyebabkan 30.000 kematian dini melalui masa operasi 40 tahun. Ketika biaya energi terbarukan menurun dengan cepat dan dampak kesehatan yang serius batubara diperhitungkan, menjadi jelas bahwa ekonomi Indonesia akan mendapat manfaat lebih besar dari pengembangan energi terbarukan modern,” tuturnya. (Press Rilis)

Lipi Temukan Bahan Pengawet Makanan Alami

Published in Informasi & Teknologi
Minggu, 26 Juli 2015 11:07

Medialingkungan.com – Penemuan 3 isolat bakteri asam laktat unggul oleh Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berpeluang menghasilkan pengawet makanan alami. Tiga isolat bakteri tersebut diambil dari 85 isolat bakteri yang bersumber dari nira kelapa.

Isolat bakteri asam laktat unggul diperoleh dengan menguji kemampuannya melawan bakteri pembusuk dan patogen yaitu Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Salmonella enterica, Listeria monocytogenes, Bacillus cereus, dan Pseudomonas aeruginosa. Dimana Isolat dijadikan satu dengan masing-masing bakteri patogen dalam cairan di microplate uji.

“Yang bening menunjukkan bakteri asam laktat menghasilkan senyawa biopreservatif yang mampu menghambat perkembangan bakteri pembusuk dan patogen,” ungkap Sulistiani, salah seorang Peneliti LIPI dikutip dari Kompas.com.

Peneliti LIPI rencananya akan melakukan ujicoba dengan memfermentasi bahan pangan menggunakan bakteri pada pisang dan ikan, dua komoditas pangan melimpah di Enggano.

Sulistiani mengungkapkan uji laboratorium aplikasi fermentasi pada makanan ditargetkan selesai pada tahun ini. Sehingga tahun depan hasil eksperimen bisa diuji coba lebih luas, termasuk bahan pangan di sejumlah daerah Indonesia.

“Untuk hasil riset bakteri asam laktat, salah satu rencana kami adalah mendiseminasikan ke Banyumulek (Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat),” ucapnya.

Bakteri asam laktat masuk golongan yang aman untuk dikonsumsi dan mengandung senyawa bioaktif bakteriosin yang berfungsi mengawetkan makanan, terutama pada sayuran, susu, dan tanaman biji-bijian.

LIPI sendiri menargetkan penelitian mikrobiologi ini mampu membantu masyarakat kecil terutama nelayan dalam mengawetkan ikan hasil tangkapannya serta menjadi awal dari upaya memenuhi kebutuhan pengawet alami pangan. (Irlan)

CIFOR Telisik Politik Ekonomi Kebakaran Hutan Indonesia

Published in Nasional
Sabtu, 11 Juli 2015 23:04

Medialingkungan.com – Kebakaran hutan telah lama menjadi momok yang meraibkan jutaan hektar hutan dalam kurun tiga dekade terkahir. Tak hanya menggundulkan hutan dan menyebabkan keanekaragaman hayati musnah, kebakaran hutan juga menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca. Hal ini merupakan tantangan besar bagi pemerintah untuk membuat kebijakan dalam upaya pengendalian hingga meminimalisir dampak.

Menurut Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), tantangan tersebut juga mendesak kebijakan karbon hutan REDD+ dan ikrar keberlanjutan korporasi. Berulangnya kejadian kebakaran juga bertanggungjawab atas sebaran asap yang merugikan bagi kesehatan dan ekonomi di Asia Tenggara, khususnya negara tetangga -- seperti Malaysia dan Singapura -- yang menjadi langganan kiriman asap.

CIFOR telah lama meneliti penyebab kebakaran, termasuk kebakaran besar akhir 1990-an di Indonesia. “Saat ini, kami tengah melakukan penelusuran lebih jauh untuk menemukan bukti sains: riset-riset terkini menyatakan kebakaran dan penyebab utama yang mengalami perubahan cepat,” ungkapan pernyataan yang dipublikasikan CIFOR pada Jumat (10/07).

“Pergeseran pola investasi, hadirnya aktor-aktor baru, dan perubahan pola biofisik kebakaran terakhir, berarti bahwa kebakaran besar pada 2013 dan 2014 membutuhkan kebijakan terbarukan yang didukung oleh penelitian kritis.”

Merespon kritikan dari negara-negara terkena dampak, sekaligus sebagai upaya pemerintah Indonesia dalam meredam kebakaran hutan, kelembagaan bentang alam dalam memediasi kebakaran diubah: setelah 12 tahun berdebat, baru-baru ini Indonesia meratifikasi Kesepakatan Polusi Asap Lintas-batas ASEAN.

Singapura menetapkan Akta Perlindungan Asap Lintas-Batas -- untuk memburu aktor yang bertanggungjawab atas kebakaran -- pemicu asap. Dalam hal ini mereka anatara lain: setiap aktor korporasi di sektor sawit, bubur kertas dan kertas, membuat komitmen keberlanjutan lingkungan, kemudian pemetaan sumber daya meningkatkan kapabilitas pemantauan oleh pihak ketiga.

“Bagaimanapun, ada juga perdebatan dan ketidakpastian mengenai aktor dan penyebab pokok yang bertanggungjawab terhadap peristiwa kebakaran terkini,” ulas CIFOR.

“Terdapat risiko besar memformulasikan kebijakan berdasar data kebakaran yang tidak lengkap, salah atau misinterpretatif. Berkembangnya tekanan internasional atas kebakaran dan asap juga makin mempolitisasi tantangan di wilayah kebijakan, di tengah kesadaran dan kekhawatiran kebakaran akan terjadi lebih sering pada 2015 dan setelahnya,” jelasnya berdasarkan hasil penelitian yang didukung oleh Departemen Pembangunan Internasional Inggris (DFID).

Penelitian yang juga merupakan bagian dari Program Penelitian Organisasi Konsultasi Penelitian Pertanian Internasional (CGIAR) mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri ini memberikan rekomendasi kepada pemerintah Indonesia untuk segera memberikan tindakan preventif yang mengatasi akar masalah kebakaran lahan gambut. “Saat ini, tindakan yang diambil baru sekedar memadamkan kebakaran.”

Pada tahun ini, CIFOR terus berupaya memetakan potensi kebakaran 2015 secara real-time, membantu pengambil keputusan di semua level untuk mengakses dan menginterpretasi data kebakaran tersebut. Proyek yang diberi nama “Politik Ekonomi Kebakaran Hutan dan Asap di Indonesia” ini akan berlangsung sepanjang tahun 2015 ini.

Menurut hasil analisa CIFOR, kebakaran dan asap berpotensi menimbulkan konflik antara pemangku kepentingan lokal (masyarakat asli, migran, perusahaan besar), yang berebut lahan gambut akibat tumpang tindihnya konsesi yang dialokasikan beragam level pemerintah (nasional, kabupaten, desa). Dalam kasus tersebut, kebakaran seringkali digunakan untuk mengklaim lahan, mengekskalasi konflik yang ada, dan cara berbisnis, serta mungkin melibatkan korupsi di tingkat tertinggi.

Proyek ini menggunakan pendekatan unik lintas disiplin untuk memahami kemunculan kebakaran lahan gambut penghasil asap di Indonesia. Penelitian baru ini menargetkan Propinsi Riau Sumatera, titik panas deforestasi dan kebakaran global.

“Upaya pemetaan terkait dengan peristiwa kebakaran terbesar Indonesia pada 2013 dan 2014, akan memperkuat, mengintegrasikan peta tingkat nasional, propinsi dan distrik untuk mengungkap kerumitan tenurial dan masalah klaim lahan yang kami duga menjadi inti masalah banyaknya kejadian kebakaran terkini.”

Peneliti CIFOR juga mengungkapkan bahwa respon kebijakan tidak hanya berdasar pada pemetaan semata. “Penelitian kami akan mengkontekstualisasi upaya pemetaan dengan verifikasi lapangan dan eksplorasi lebih berwarna bagaimana persepsi, pengalaman dan penjelasan kebakaran dari aktor lokal.”

Hal ini akan melibatkan kajian kebijakan, pemetaan pemangku kepentingan berbasis lapangan, analisis politik-ekonomi penyebab kebakaran, dan analisis de-fakto lapangan praktik pembakaran.

Di samping itu, proyek ini juga akan melibatkan komponen penjangkauan luas dengan aktor pejabat terkait pada tingkat propinsi, nasional dan internasional serta disiapkan untuk mendorong reformasi bermakna di Riau dan titik panas kebakaran lain.

“Ini juga akan membantu wartawan, publik lebih luas, dan sektor korporasi, serta pihak terdampak di Indonesia, Singapura dan Malaysia untuk lebih memahami realitas lapangan kebakaran terkini.” (Fahrum Ahmad)

Puspijak: Sektor Kehutanan Penyumbang Emisi GRK Terbesar

Published in Nasional
Kamis, 02 Juli 2015 10:15

Medialingkungan.com – Sektor kehutanan di Indonesia menyumbangkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 48 persen, yang menjadikannya penyumbang terbesar dibanding dengan sektor lainnya.

Hal tersebut diungkapkan oleh Tim Peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan (Puspijak), dalam sebuah publikasinya yang berjudul ‘Sintesis Penelitian Integratif Pengembangan Perhitungan Emisi Gas Rumah Kaca Kehutanan (Inventory)’.

Kehutanan yang dalam konteks perubahan iklim dimasukan dalam kategori Land use, land use change and forestry (LULUCF), kemudian lebih dikenal dengan istilah Agriculture, Foretsry and Land Use (AFOLU).

Tim Peneliti Puspijak menyebutkan estimasi perhitungan dengan business as usual (BAU), tingkat emisi dari kehutanan pada tahun 2020 nanti sebesar 525 juta ton CO2, dengan upaya mitigasi penanaman dan penurunan laju deforestasi pada tahun 2020 sektor kehutanan menyumbang emisi sebesar 334.1 juta ton CO2. Angka tersebut belum termasuk emisi dari kebakaran gambut.

Berdasarkan hasil kajian yang diterapkan terhadap skenario emisi BAU tersebut, diketahui kontribusi emisi terbesar dari deforestasi dan degradasi.

Mereka menjelaskan kalau deforestasi masih akan terjadi karena perkembangan jumlah penduduk dan kepentingan pembangunan seperti pengembangan perkebunan dan pertanian, pemekaran wilayah, pertambangan dan pemukiman.

“Hasil kajian ini menunjukkan kisaran deforestasi tahunan BAU mencapai 700.000 sampai 1.500.000 ha per tahun. Sedangkan BAU penanaman berkisar antara 150.000 – 300.000 ha per tahun. Opsi penentuan BAU sangat tergantung dari ketersediaan data serta asumsi yang digunakan,” ucap Peneliti Puspijak.

Mereka juga menegaskan perlunya tindak lanjut kebijakan dan kegiatan serta dana yang mendukung upaya penanaman dan penurunan laju deforestasi. (Irlan)

LIPI Resmikan Laboratorium Pupuk Organik Hayati Di Malinau

Published in Nasional
Selasa, 23 Juni 2015 15:30

Medialingkungan.com – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, meluncurkan Laboratorium Pupuk Organik Hayati (POH), Selasa (23/6). Hal tersebut diharapkan mampu mendorong hasil produksi pertanian di Kabupaten Malinau.

Dr. Sarjiya Antonius, peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI dalam siaran persnya mengungkapkan penggunaan pupuk organik ini selama masa uji coba petani semangka di Kabupaten Malinau membuktikan adanya peningkatan produksi buah semangka antara 10 sampai 15 persen.

“Pemerintah Kabupaten Malinau berdasarkan rekomendasi LIPI pada tahun 2013 lalu membangun laboratorium yang fasilitasnya hampir mendekati dengan laboratorium di Pusat Penelitian Biologi. Tujuannya agar petani setempat dapat memanfaatkan laboratorium itu tanpa harus terkendala jarak dan waktu pengiriman biang mikroba,” jelas Anton.

Sekretaris Utama LIPI, Dr. Siti Nuramaliati Prijono mengatakan pihaknya selalu membantu untuk mendorong kemandirian pertanian tanpa harus tergantung dari pupuk kimia yang distribusinya seringkali sulit di daerah dengan penyediaan pupuk organik hayati.

Dia juga menuturkan, letak Kabupaten Malinau yang dekat dengan perbatasan Malaysia menjadi keuntungan untuk ekspor hasil-hasil pertanian lokal. “Jika hasilnya berkualitas, produk-produk pertanian Malinau bisa diekspor untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani,” ucapnya.

Laboratorium ini nantinya akan mengadopsi teknologi Beyonic LIPI yang mengembangkan potensi mikroba lokal untuk mengembalikan unsur hara tanah. Kapasitas laboratorium itu mampu memproduksi 3.000 liter POH.

Peluncuran laboratorium tersebut dilakukan oleh Kepala LIPI, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain dan Bupati Kabupaten Malinau, Dr. Yansen T.P di Balai Benih dan Alat Mesin Pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten Malinau.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Medialingkungan.com, pengembangan laboratorium ini menghabiskan anggaran APBD hingga Rp 2,8 miliar. (Irlan)

Konversi Tebu Jadi Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan

Published in Informasi & Teknologi
Minggu, 14 Juni 2015 22:56

Medialingkungan.com – Tim peneliti dari University of California, Amerika Serikat, telah mengembangkan teknik baru untuk mengkonversi biomassa dari tanaman tebu menjadi bahan bakar pesawat jet.

Dalam tulisannya yang diterbitkan pada Jurnal Prosiding National Academy of Sciences (PNAS), Mereka mengklaim bahan bakar tersebut dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 80 persen. Dari data yang dilaporkan Phys.org, 2 persen emisi gas rumah kaca disumbangkan ke atmosfer melalui bahan bakar pesawat jet.

Alexis Bell, salah seorang peneliti sebagaimana dilansir kompas.com mengungkapkan pembuatan bahan bakar ramah lingkungan itu sangat rumit mengingat bahan bakar pesawat punya beragam kriteria ketat.

"Tidak boleh ada kandungan oksigen, karena oksigen dalam jumlah berapapun akan mengurangi kepadatan energi. Lalu karena ruang yang tersedia pesawat terbang sangat minimal maka Anda pasti ingin mengemas energi sebanyak mungkin dalam bentuk bahan bakar," ucap Bell.

Bell juga menjelaskan bahan bakar tersebut harus stabil pada suhu yang sangat rendah agar tidak berubah menjadi gelatin yang membuatnya tidak dapat mengalir lagi serta memiliki titik didih yang tepat sehingga tidak menyebabkan kerusakan berlebihan pada komponen turbin.

Dari semua kriteria tersebut, Dia menyebutkan tanaman tebu telah memenuhi semua kriteria untuk dijadikan bahan bakar pesawat jet. Dalam prosesnya, tanaman tebu akan dipisahkan kandungan sukrosanya yang digunakan untuk menurunkan metil keton sehingga akan menghasilkan bahan utama dari bahan bakar tersebut.

Selain itu, tanaman tebu juga dapat digunakan untuk membuat pelumas mobil dan bahan bakar diesel.(Irlan)

Hutankan Bekas Tambang Bukan Hal Mustahil

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 10 Juni 2015 19:57

Medialingkungan.com – Menghutankan kembali lahan bekas tambang bukanlah hal yang mustahil. Hal tersebut diungkapkan para peneliti yang hadir dalam Gelar Teknologi Hasil Penelitian, Pengembangan dan Inovasi di Hotel Novotel, Balikpapan (9/6).

Untuk lahan bekas tambang timah misalnya, Peneliti Badan Penelitian, Pengembangan (Litbang) dan Inovasi, Prof. Dr. Pratiwi mengungkapkan strategi rehabilitasi yang dapat dilakukan pada lokasi ini antara lain dengan memperbaiki kondisi tanah dengan menambahkan bahan ameliorant (penyubur tanah), memilih jenis tanaman, membuat bibit, menanam dan memelihara.

“Salah satu permasalahan lahan bekas tambang timah yaitu meninggalkan hamparan overburden dan tailing kuarsa sehingga  diperlukan input teknologi dalam upaya untuk meningkatkan kualitas lahan,” ucapnya dikutip dari forda-mof.org.

Melalui penelitiannya, Pratiwi menunjukkan fakta bahwa pada usia 3 tahun, tanaman yang mampu bertahan pada hamparan overburden yaitu Eucalyptus urrophila, Eugenia garcinaefolia dan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum). Sedangkan pada hamparan tailing kuarsa ketiganya dapat tumbuh namun perlu penanganan berupa input energi.

Selain itu, Retno Prayudaningsih, Peneliti Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Makassar menuturkan rehabilitasi lahan bekas tambang dapat dilakukan dengan teknologi isolat mikroba (isomik).

Teknologi temuan peneliti BPK Makassar tersebut berupa isolat mikroba  yang telah dicampur dengan pasir sebagai material untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman dan meningkatkan kualitas lahan bekas tambang.  Isomik generasi pertama yang dinamai MK 1 ini merupakan isolat fungi mikoriza arbuskula, hasil isolasi dari tanah lahan bekas tambang kapur.

Retno juga menjelaskan isomik memiliki kelebihan dengan hanya satu kali aplikasi yakni pada saat penyiapan bibit, dapat meningkatkan pertumbuhan dan keberhasilan tanaman, memperbaiki kualitas tanah (fisik, kimia, biologi) dan menurunkan tingkat polusi

Input dari teknologi isomik juga memberikan dampak pertumbuhan swalanjut, bahkan muncul jenis-jenis alami lain. Teknologi ini telah banyak dimanfaatkan oleh stake holder terkait, namun sayangnya isomik sampai sekarang belum dipatenkan. (Irlan)

Spesies Katak Baru Ditemukan Di Pegunungan Brasil Selatan

Published in Informasi & Teknologi
Sabtu, 06 Juni 2015 19:24

Medialingkungan.com – Melalui sebuah eksplorasi selama lima tahun di daerah pegunungan negara bagian Paraná dan Santa Catarina, Brasil selatan, ilmuan menemukan tujuh spesies katak baru.

Semua katak yang ditemukan berasal dari genus Brachycephalus, yang umumnya berukuran kecil. Berdasarkan keterangan dari Marcio Pie, Profesor Universidade Federal do Paraná yang juga pemimpin penelitian tersebut, mengungkapkan panjang katak dewasanya hanya 13 milimeter.

Kebanyakan spesies baru tersebut memiliki warna yang terang, yang awalnya dikhawatirkan bahwa kulit mereka mengandung racun yang disebut tetrodotoxin.

Ketujuh jenis tersebut adalah Brachycephalus mariaeterezae, Brachycephalus olivaceus, Brachycephalus auroguttatus, Brachycephalus verrucosus, Brachycephalus fuscolineatus, Brachycephalus leopardus, dan Brachycephalus boticario.

Berikut gambar keenam spesies lainnya:

 

Brachycephalus mariaeterezae (gambar: PeerJ)

 

Brachycephalus olivaceus (gambar: PeerJ)

 

Brachycephalus auroguttatus (gambar: PeerJ)

 

Brachycephalus boticario (gambar: PeerJ)

 

Brachycephalus colineatus (gambar: PeerJ)

 

Brachycephalus leopardus (gambar: PeerJ)

 

Hasil penelitian ini pun dipublikasikan di dalam jurnal makalah ilmiah PeerJ, Kamis (4/6). (Irlan)

Tanaman Anti Kanker Yang Terancam Punah

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 27 Mei 2015 21:01

Medialingkungan.com – Keberadaan Taxus sumatrana, atau Cemara Sumatera yang terancam punah, mestinya Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kehutanan terdorong untuk melakukan langkah konservatif terhadap tanaman tersebut. Hal itu disampaikan oleh San Afri Awang selaku Kepala Balitbang Kehutanan, dia mengungkapkan agar Balitbang segera melakukan penelitian konservasi jenis ini.

“Saya berharap Badan Litbang dapat memberikan kontribusi yang besar dalam pengelolaaan spesies lokal ini melalui riset serta mengetahui kandungan-kandungan bahan aktif didalamnya yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk obat, parfum atau lainnya,” ujar San dalam situs resmi Balitbang Kehutanan.

Tanaman yang tumbuh pada ketinggian 1.400 – 2.800 meter diatas permukaan laut (dpl) ini merupakan jenis tanaman yang paling dicari karena mengandung Taxane atau paclitaxel yang dapat diekstraksi sebagai obat yang sangat mujarab untuk kemoterapi berbagai jenis kanker.

Sementara itu, Asep Hidayat, salah seorang peneliti Balitbang Kehutanan menuturkan paclitaxel yang dikandung Cemara Sumatera itu memiliki efek samping yang kecil, efektif dan efisien dalam membunuh sel kanker sehingga paling popular dan dicari di dunia.

“Paclitaxel ini kemudian dipasarkan dengan nama dagang Taxol® dan hak pemasaran dipegang oleh Bristol-Myers Squibb (BMS) mulai tahun 1991,” jelasnya.

Secara alamiah, penyebaran Taxus meliputi negara Philiphina, Vietnam, Taiwan, Cina, dan termasuk Indonesia. Sedangkan di Indonesia sendiri, jenis ini dapat ditemukan di daerah Sumatera, seperti Gunung Kerinci (Jambi), Kawasan Hutan Lindung Dolok Sibuaton (Sumatera Utara), dan Gunung Dempo (Sumatra Selatan).

Kulit, daun, cabang, ranting, dan akar dari genus Taxus, merupakan sumber Taxane. Namun dalam sebuah buku yang diterbitkan Forda Press yang berjudul ‘Mutiara Terpendam dari Zamrud Sumatra’ menjelaskan bahwa hingga saat ini, tidak banyak informasi yang dapat diperoleh mengenai T. sumatrana yang tumbuh di Indonesia, baik dari segi ekologi maupun silvikultur. (Irlan)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini