medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Es Antartika Mencair, Bumi Dalam Bahaya

Published in Internasional
Senin, 18 Mei 2015 16:49

Medialingkungan.com – Es terbesar di Antartika kian mencair tiap tahunnya. Para ilmwuan pun memperkirakan es yang berada di Antartika tidak akan bertahan lama lagi diakibatkan pemanasan global yang akn menyebabkan banjir, kekeringan, gelombang panas dan permukaan laut yang semakin tinggi.

Studi National Aeronautics and Space Administration (NASA) mengungkapkan, mencairnya bongkahan besar es di Antartika bisa berpotensi membuat permukaan air laut meningkat. Kini, NASA memfokuskan penelitian terhadap bongkahan es yang disebut Larsen B Ice Shelf yang telah terbentuk sejak 10 ribu tahun yang lalu.

Posisi Larsen B terletak di Semenanjung Antartika dan membentang ke arah ujung selatan Amerika Selatan. Ini merupakan satu dari dua bidang utama benua dimana para ilmuwan telah mendokumentasikan penipisan dari formasi es tersebut.

"Studi gletser di Semenanjung Antartika memberikan wawasan jika es akan meluncur jauh ke arah selatan," ujar Co-penulis studi dan ahli gletser di Laboratorium Jet Propulsion Nasa, Eic Rignot, seperti yang dikabarkan wowkeren, Senin (18/05).

"Es pada gletser tersebut bereaksi terhadap pemanasan iklim yang terjadi," tambahnya.

Sebanyak 200 negara telah sepakat menegosiasikan pakta PBB pada akhir 2015 untuk memerangi perubahan iklim global.

Para ilmuwan NASA mengatakan, jika retakan es Larsen B melebar maka akan berpotensi tergelincir ke laut dan berkontribusi menyebabkan kenaikan permukaan air laut di tahun 2020 mendatang. (Angga Pratama)

Persoalan Kemiskinan Mempercepat Perubahan Iklim

Published in Internasional
Selasa, 05 Mei 2015 23:04

Medialingkungan.com – Pemecahan persoalan perubahan iklim tidak dapat teratasi hanya memfokus perhatian pada persoalan lingkungan semata. Namun ada penyebab lain yang juga punya peran dalam percepatan laju perubahan iklim yakni persoalan kemiskinan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Francois Bourguignon, saat berbicara dalam General Lecture on Climate Change and Poverty, yang diselenggarakan oleh International Center for Interdisciplinary and Advanced Research - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (ICIAR-LIPI) bersama dengan Kedutaan Perancis, pekan lalu, di Jakarta (29/04).

Francois asal Prancis tersebut menjelaskan hasil kajiannya yang menunjukkan hubungan tingkat perubahan iklim dan kesejahteraan sosial ekonomi pada negara tertentu cenderung bersifat asimetris (berbanding terbalik). Hal ini memperlihatkan bahwa semakin sejahtera masyarakat secara ekonomi maka dampak perubahan iklim semakin dapat dikurangi.

“Harus ada distribusi kekayaan dari negara kaya atau maju ke negara miskin dan berkembang. Selain itu, perlu juga adaptasi kebijakan sehingga fokus pendanaan untuk mengatasi perubahan iklim tidak hanya di lingkungan, tetapi menyasar pada kemiskinan,” ujarnya seperti yang dilansir dalam situs resmi LIPI.

Dia juga menuturkan banyaknya permasalahan yang muncul akibat kemiskinan pada akhirnya akan berdampak pada perubahan iklim. “Ini terjadi terutama pada negara miskin dan berkembang di mana aktivitas warganya menyumbang emisi CO2 sekitar 70 - 80 persen bagi dunia,” jelasnya.

Oleh karena itu, Bourguignon juga menyarankan pemecahan persoalan perubahan iklim juga difokuskan pada persoalan pengentasan kemiskinan dengan menghadirkan solusi untuk persoalan kemiskinan yang masih melanda sejumlah negara di dunia. (Irlan)

Ikan Mas Serbu dan Ganggu Ekosistem Danau Boulder, Amerika Serikat

Published in Internasional
Sabtu, 18 April 2015 10:49

Medialingkungan.com – Danau Boulder, Colorado, Amerika Serikat diserbu ribuan populasi ikan mas. Serbuan ikan mas itu disebabkan oleh seorang warga setempat yang mengaku telah melepaskan tiga atau empat ekor ikan mas peliharaannya ke dalam danau beberapa tahun yang lalu.

Ikan piaraan yang bukan merupakan spesies asli dari Amerika Utara itu kemudian berkembang biak cepat dan diluar kendali. Danau Boulder menjadi rumah bagi empat ribu ikan mas, yang kini mengancam ketidakseimbangan ekosistem dan spesies akuatik asli yang berada di danau tersebut.

Manager CPW Boulder, Jennifer Churchill mengungkapkan, Ikan mas bukanlah spesies asli danau dan sangat berbahaya bagi ekosistem perairan setempat. “Ikan mas atau Tamu ini bisa membawa penyakit atau justru membuang penghuni serta mengganggu ekosistem danau,” ucapnya.

Para pejabat satwa liar Colorado mengatakan bahwa manusialah yang harus disalahkan. “Kebanyakan orang tidak menyadari efek buruk memperkenalkan spesies eksotik terhadap lingkungan,” tambah CPW biologi perairan senior, Ken Kehmeier, seperti yang dilansir Odditycentral.com, Sabtu (18/04).

Kini para pejabat satwa liar Colorado tengah mencoba untuk menyingkirkan ribuan ikan mas tersebut, dan mereka dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit. “Kita bisa menggunakan electrofishing atau berakhir dengan mengeringkan danau,” ungkap Jennifer.

Electrofishing dilakukan dengan menjuntaikan kabel listrik dari kapal ke air. Gelombang listrik yang keluar dari perangkat itu akan membuat ikan-ikan berenang ke permukaan sehingga kemudian bisa dijaring hidup-hidup. (Angga Pratama)

Siswa SMP Temukan Baterai Berbahan Dasar Buah Pare

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 01 April 2015 16:23

Medialingkungan.com - Tiga pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Takalar, Sulawesi Selatan berhasil membuat baterai dengan bahan dasar buah pare.

Berdasarkan penelitian yang dlakukan, ternyata buah pare mengandung senyawa basa yang bisa menggantikan serbuk karbon dalam baterai. senyawa basa pada buah tersebut mngandung ion OH- yang bisa menghasilkan sumber energi listrik.

Selain itu, dari hasil uji besaran kndungan tegangannya, baterai ramah lingkungan ini memiliki tegangan listrik yang tidak jauh berbeda dengan baterai paten. Baterai paten memiliki voltase 1,5 volt dan baterai buah pare ini memiliki voltase antara 1,3 sampai 1,4 volt.

Energi listrik ramah lingkungan tersebut kemudian didemonstrasikan pada pameran pendidikan USAID PRIORITAS di Gedung Islamic Center, Takalar. Dalam pameran tersebut, mereka membuktikan hasil temuan mereka pada jam dinding dan bohlam lampu.

“Kami menemukannya dalam rangka mencari energi terbarukan yang ramah lingkungan. Penemuan ini juga atas bimbingan pengajar kami dalam bidang IPA khususnya tentang energi,” kata Nurul Izza Fajriani, salah satu dari tiga anak yang mendemonstrasikan penemuan tersebut.

Sementara itu, Bupati Takalar, Dr. Burhanuddin Baharuddin yang juga hadir pada pameran ini sangat mengapresiasi hasil karya tersebut. Dia berharap hasil temuan tersebut bisa dikembangkan lebih jauh lagi. (Dedy)

Trenggiling Diambang Kepunahan Akibat Perburuan Secara Ilegal

Published in Internasional
Selasa, 17 Maret 2015 17:04

Medialingkungan.com – Trenggiling (Manis javanica syn. Paramanis javanica) adalah wakil dari ordo Pholidota yang masih ditemukan di Asia Tenggara, hewan pemakan serangga, terutama semut dan rayap, sehingga mereka bertindak sebagai pengendali hama alami.

Anatomi mereka juga disesuaikan dengan pola makan yang khas. Cakar panjang untuk menggali sarang semut dan sarang rayap telinga yang menutup untuk mencegah semut merayap ke dalam dan lidah sepertiga lebih panjang dari panjang tubuh mereka untuk meraup mangsa.

Daging trenggiling, yang dianggap lezat, dan sisik yang digunakan dalam pengobatan tradisional, khususnya di Cina dan Vietnam, mendorong trenggiling menuju kepunahan.

Para peneliti di International Union for the Conservation of Nature (IUCN) yang bergerak di bidang konservasi alam dan pemanfaatan belkelanjutan mengatakan lebih dari satu juta trenggiling ditangkap dalam satu dekade terakhir, membuat hewan tersebut masuk dalam kategori mamalia yang paling sering diperdagangkan secara ilegal di dunia, dikutip dari Worldaid.

Di Indonesia, hewan ini menyebar di beberapa daerah saja yakni Sumatera, Kalimantan, dan Jawa, dengan status dilindungi yang dituangkan dalam UU No. 5 Tahun 1990 dan PP No. 7 Tahun 1999. Trenggiling terancam keberadaannya akibat habitatnya terganggu serta menjadi obyek perdagangan hewan liar.

Keseluruhan spesies trenggiling masuk dalam CITES Appendix II, daftar flora dan fauna yang belum menghadapi kepunahan, namun membutuhkan kontrol ketat pada aturan perdagangan untuk menghindari ancaman kepunahan.

Sejak tahun 2000, tiga dari spesies trenggiling Asia telah dilindungi oleh CITES dengan melarang semua perdagangan komersial di Indonesia, Cina, dan India. Pada tahun 2007, perlindungan yang sama diadopsi untuk trenggiling di Filipina. (Mirawati)

Dampak tak Terduga Perubahan Iklim Pada Es Antartika

Published in Internasional
Rabu, 11 Maret 2015 18:27

Medialingkungan.com – Sejumlah Ilmuan di Australia dan Tiongkok memiliki pandangan baru terkait perubahan iklim dan pemanasan laut menenggelamkan lapisan es Antartika. Lapisan es yang ada di Antartika mencair lebih cepat dari perkiraan, dan kini semakin sering meruntuhkan gunung es.

Rupert Gladstone dari Institute for Marine and Antarctic Srudies (IMAS) atau Lembaga Kelautan dan Antartika Studi mengatakan, tim peneliti dari China dan Tasmania telah memantau proses pelepasan es, ketika lapisan es terbelah dan meruntuhkan es.

"Tingkat pelepasan gunung es jauh lebih cepat pada lapisan es yang terpengaruh oleh laut yang mencair, daripada yang kami perkirakan sebelumnya," katanya. Dia menambahkan, apa yang kami lakukan itu berbeda dengan apa yang terjadi sebelumnya dan sudah benar-benar dipantau dengan susah payah.

Menurut Rupert, gunung es yang pecah dari lapisan es yang mengambang tak memiliki dampak langsung pada permukaan laut karena mereka sudah mengambang, tetapi implikasinya terdapat pada es yang masih utuh.

Sementara itu, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)atau Panel Antarpemerintah Tentang Perubahan Iklim menyatakan, mencairnya lapisan es Antartika bisa menaikkan ketinggian permukaan laut sebanyak 18,5 cm pada abad berikutnya.

Namun Rupert mengutarakan, kenyataannya bisa jauh lebih buruk dari hasil IPCC yang dikeluarkan, dalam jangka panjang di Antartikaakan berpotensi lebih tinggi beberapa meter daripada potensi yang diprediksikan oleh IPCC. “Kami tidak tahu berapa lama itu akan berjalan dan kami juga tidak tahu perubahan iklim yang diperlukan untuk menginduksi itu,” ujarnya, dikutip dari kompas.com.

Para peneliti menggunakan model komputer untuk mencoba memprediksi bagaimana perubahan iklim akan berdampak pada kenaikan permukaan laut. (Iswanto)

Peneliti: Cemara Laut Mampu Perbaiki Kondisi Lingkungan Pantai

Published in Nasional
Kamis, 12 Februari 2015 16:18

Medialingkungan.com – Kondisi lahan pantai berpasir pada umumnya diketahui tidak dapat dimanfaatkan sebagai areal budidaya. Sebab perbedaan suhu yang ekstrim pada siang dan malam hari, udara yang sangat kering, kencangnya hembusan angin, kandungan unsur hara yang rendah dan uap air yang mengandung garam-garaman pada lahan ini mengganggu pertumbuhan tanaman.

Peneliti Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), Beny Haryadi mengungkapkan kondisi ini dapat diperbaiki dengan teknik rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) menggunakan cemara laut atau cemara udang (Casuarina equisetifolia).

“Adanya cemara laut meningkatkan agregasi perkembangan struktur tanah karena memperbesar granulasi dan porositas tanah, memperbaiki unsur hara  dan meningkatkan kadar air tanah di bawah tegakan,” ujar Beny dalam forda-mof.org.

Beny menjelaskan jenis tanaman khas pantai ini mampu menciptakan iklim mikro yang memungkinkan budidaya tanaman semusim dan holtikultura pada areal setelah tegakannya, yang berdasarkan hasil kajiannya bisa menghasilkan tiga kali lipat lebih besar dibandingkan dengan budidaya tanah mineral.

Lebih lanjut Beny mengatakan selain hasil produksi di atas, suasana pantai yang hijau rimbun dan sejuk juga dapat dimanfaatkan sebagai obyek wisata alam.

Beny menyebutkan salah satu daerah yang berhasil menggunakan teknik konservasi tanah secara vegetative ini adalah Kebumen, Jawa Tengah yang terbukti dalam 3 tahun ini telah terjadi peningkatan kunjungan wisata sebesar 39.02%.

Beny juga menuturkan bibit tanaman cemara laut yang dikembangkan di lahan pantai berpasir ini  berasal dari perbanyakan generative yang dapat menghasilkan penampilan cemara laut dewasa yang lebih kokoh dan tajuk yang indah dibandingkan bibit dari cangkok.

“Bibit cemara laut yang dipakai adalah bibit yang berasal dari induk yang sehat, dengan kriteria memiliki batang coklat, daun hijau gelap dan ukuran diameter batang setengah cm atau keliling batang sekitar 2 cm dengan umur bibit sekitar 6 bulan sampai 1 tahun,“ lanjutnya.

Dia juga mengatakan pengembangan metode ini dapat dilakukan sebagai teknik perbaikan lingkungan pantai lain di Indonesia yang memiliki masalah serupa dengan di Kebumen, Jawa Tengah.

“Pelibatan pastisipasi masyarakat merupakan faktor penting untuk mendukung keberhasilan RLKT sehingga perlu terus dikelola dengan baik,” harap Beny. (Ir)

Peneliti: Suku Inca Korban Pertama Efek GRK

Published in Internasional
Selasa, 10 Februari 2015 17:44

Medialingkungan.com – Efek Gas Rumah Kaca (GRK) ternyata sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan  penelitian yang dilakukan oleh Peneliti Ohio yang mengungkapkan bahwa Suku kuno Inca yang terdapat di peru, diklaim sebagi korban pertama dari bahaya GRK buatan manusia. Mereka harus bertahan di tengah polusi udara yang muncul akibat penambangan perak.

Penelitian ini kemudian diperkuat dari contoh es yang terbentuk selama 1.200 tahun lalu di pegunungan Andes. Setiap lapisan es yang ada memiliki senyawa kimia yang berasal dari udara, baik saat musim hujan maupun kering.

"Bukti ini mendukung bahaya revolusi industri terhadap lingkungan yang luas. Manusia bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan yang membahayakan dan ini terjadi sejak ratusan tahun lalu," ujar Dr. Paolo Gabrielli, seperti dikutip melalui Daily Mail, Selasa (10/2).

Pada abad ke-16, Spanyol menguasai sebagian wilayah di Amerika Selatan, termasuk didalamnya suku Inca. Spanyol memaksa suku inca untuk bekerja menambang perak di puncak gunung Potosi, yang sekarang menjadi Bolivia, katanya.

Gabrielli menambahkan bahwa masyarakat suku Inca sejatinya sudah mengetahui bagaimana menambang perak tersebut. Namun pada 1572, Spanyol memperkenalkan teknologi baru yang mampu mempercepat produksi. Teknologi baru itu yang menghasilkan debu dan asap ke awan dan membuat Andes memiliki kandungan GRK yang cukup tebal.

Angin membawa beberapa sisa polusi 500 mil ke arah barat laut Peru dan menetap di permukaan es Quelccaya. Di situlah polusi menetap, terkubur di dalam salju dan es selama ratusan tahun, sampai peneliti Ohio menemukannya di 2003.

Menurut Gabrielli, proses pemurnian logam yang diperkenalkan Spanyol melibatkan penghancuran bijih perak, yang mengandung timah dan perak, lalu menjadi bubuk. Hasil penghancuran itu memunculkan debu logam yang terbang ke atmosfir bersama angin. Bubuk tersebut bercampur dengan merkuri. Perak dipisahkan dengan memanaskan campuran tersebut sehingga memungkinkan merkuri menguap. (AH)

Halaman 3 dari 3

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini