medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

SRAK: Upaya Selamatkan Rangkong Gading

Published in Nasional
Jumat, 24 November 2017 11:58

Medialingkungan.com - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mulai mengkhawatirkan keberlangsungan populasi burung rangkong gading (Rhinoplax vigil) yang semakin memprihatinkan. Data Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2012 - 2016 menjelaskan bahwa, sebanyak 1.398 paruh rangkong gading berhasil disita di Indonesia dan lebih dari 2.000 paruh yang diselundupkan ke Tiongkok, Amerika, dan Malaysia.

Burung ini telah masuk kedalam Appendices I Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) yang berarti satwa tersebut dilarang untuk diperdagangkan, ini sungguh harus diperhatikan apalagi  angka yang didapat mengenai hasil sitaan penyelundupan sungguh sangat memilukan seperti yang dilansir KLHK, membuat Pemerintah segera mengadakan Konsultasi Publik Nasional untuk menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Rangkong Gading, Kamis, (23/11/17) di Jakarta.

“SRAK Rangkong Gading ini sangat penting untuk mendapatkan komitmen dari berbagai pihak, terutama dari akademisi, para peneliti, kelompok masyarakat, lembaga swadaya masyarakat serta penegak hokum karena populasinya semakin terdesak,” tegas Bambang Dahono Adji, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati, KLHK. (Ira Anugerah A)

Kalkun Liar “Teror” Warga AS

Published in Internasional
Kamis, 23 November 2017 15:59

Medialingkungan.com - Masyarakat yang berada di wilayah pinggiran Amerika Serikat baru-baru ini mengaku telah ‘diteror’ oleh sekelompok burung kalkun liar. Kalkun dilaporkan mengganggu lalu lintas di New York  Barat, memecahkan genteng milik warga di Sacramento, serta mengejar seorang anak dan anjingnya di Cambridge. Jenis burung kalkun liar yang dilaporkan menyerang warga di pinggiran AS bukan jenis yang biasa diburu, sehingga tidak menganggap manusia sebagai acaman.

“Burung-burung tersebut mencari daerah terbuka seperti derah berumput dan lapangan golf. Semua tempat terbuka tersebut bagus untuk kalkun liar. Daerah pinggiran adalah habitat yang cukup bagus,” kata Mark Hatfield, Direktur Conservation Administration For The Turkey Federation seperti yang dilansir The Washington Post, Rabu malam (22/11/17).

Bersamaan dengan hal tersebut, National Wild Turkey Federation dan para peneliti mengungkapkan bahwa populasi burung kalkun liar di AS secara bertahap menurun. Pada tahun 2004, populasi kalkun liar mencapai 7  juta spesies dan menurun mencapai 6 juta spesies pada tahun 2014. Pembangunan yang mengambil alih habitat kalkun dan meningkatnya predator menjadi akibat penurunan spesies tersebut.

‘Konflik’ antara manusia dan kalkun ini dilihat oleh Michael Chamberlain, seorang Profesor Manajemen Ekologi dari Universitas Georgia, sebagai sebuah akibat dari pembangunan yang dilakukan oleh manusia. “Dalam 20, 30 dan 40 tahun terakhir, manusia telah mengekspansi hutan secara luas, merusak dan memotong menjadi potongan kecil,” kata Chamberlain. (Suterayani)

Dijadikan Satwa Peliharaan, Populasi Orangutan Terancam

Published in Nasional
Sabtu, 14 Mei 2016 01:37

Medialingkungan.com - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimatan Barat melakukan usaha dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap aturan Konservasi dan Sumber Daya Alam Hayati serta Ekosistemnya. Interaksi personal cara efektif dalam usaha penyadaran masyarakat.

“Tidak mudah memang, tapi kita tidak boleh berhenti. Polisi Kehutanan yang tadinya mereka takuti, kini jadi sahabat sehingga terjalin komunikasi yang baik,” ujar Sustyo Iriyono, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, seperti dilansir Mongabay.

Terbukti dengan upaya evakuasi satu individu orangutan jantan bernama, Ujang Lambai, usia enam bulan peliharaan warga dari Dusun Tanjung Lambai, Desa Menyumbung Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang (30/04).  “Selanjutnya, orangutan tersebut akan dititipkan-rawatkan di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Ketapang guna mendapatkan perawatan awal dan rehabilitasi,” ujar Sustyo.

Kekayaan alam Indonesia harus dijaga dan upaya pemanfaatan harus dibarengi dengan pelestarian yang sepadan. Upaya tersebut melalui perlindungan, penangkaran, dan perbaikan habitat. “Perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa liar dan kepemilikan satwa liar yang dilindungi undang-undang untuk kesenangan harus dihentikan,” tegas Sustyo.

Orangutan termasuk satwa yang dilindungi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pada Pasal 21 ayat 2 dijabarkan, dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan atau memperjual belikan hewan yang dilindungi atau bagian lainnya dalam kondisi hidup atau mati.

“Orangutan memiliki fungsi ekologi sebagai penyebar biji tanaman buah di hutan. Kelestarian orangutan harus dijaga demi keberlangsungan hutan itu sendiri,” ujarnya. Ia menambahkan, memelihara orangutan berarti mempercepat proses perubahan iklim. {Ilham Nasir}

50 Monyet Kelaparan Diselamatkan dari Pusat Taman Afrika Selatan

Published in Internasional
Senin, 25 April 2016 14:33

Medialingkungan.com - Sekitar 50 ekor monyet yang sedang dilanda kelaparan dan dehidrasi diselamatkan dari kebun pembibitan utara Johannesburg, Afrika Selatan pada Sabtu (23/04).

Spider, Capuchin, dan Tupai Monyet berada diantara 50 primata yang diselamatkan oleh organisasi penyelamatan primata. Primata-primata itu telah disimpan di dalam kandang sebagai hiburan untuk orang-orang yang datang membeli tanaman di pusat taman Little Falls. 

Direktur Internasional Primata Rescue (IPR) Sue Mousley, mengatakan setelah upaya dalam meningkatkan kualitas hidup para primata tersebut digagalkan oleh pemilik taman Little Falls, tim penyelamat akhirnya berhasil memperoleh perintah pengadilan yang memungkinkan mereka untuk memindahkan primata-primata tersebut ke fasilitas perawatan IPR.

Monyet-monyet itu diberi sedikit dan bahkan tidak diberi makanan dan air sekalipun, para primata ini juga tinggal di dalam kandang kotor, kata Mousley Seperti yang dilansir Reuters.com.

"Mereka terlihat sangat kekurangan berat badan karena kekurangan gizi, beberapa dari mereka terlihat sedikit dehidrasi. Kondisi sebagian besar dari primata ini tidak dapat diterima, tidak ada monyet yang harus hidup seperti ini”, kata Mousley.

Monyet-monyet itu akan dirawat hingga sembuh kembali di utara kudus Pretoria, ibukota Afrika Selatan, dalam beberapa minggu mendatang. {Mirawati}

Harimau Sumatera Hampir Mencapai Kepunahan

Published in Nasional
Jumat, 22 April 2016 11:09

Medialingkungan.com - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Forum HarimauKita menyelenggarakan Workshop Populasition Viability Analysis (PVA). Ahli dan Praktisi Konservasi Harimau Sumatera Berkolaborasi dalam melakukan analisis kelangsungan Populasi Harimau Sumatera dalam acara workshop di Bogor (19-21/04).

Hasil paparan analisis yang disampaikan dalam workshop PVA, bahwa Populasi Harimau Sumatera (Panther tigris sumatrae) diketahui hidup di 22 lansekap hutan di pulau Sumatera sedang mengalami kepunahan akibat deforestasi, perburuan liar juga konflik dengan manusia.

Yoan Dinata, Ketua Forum HarimauKita, mengatakan bahwa ke-22 lansekap tersebut adalah Leuser Ulumasen, Dolok Surungan, Batang Toru, Senepis-Buluhala, Barumun, Batang Gadis, Rimbopanti/Pasaman, Diam Siak Kecil, Kampar, Kerumutan, Tesso Nilo, Rimbang Baling, Kerinci Seblat-Batanghari, Bukit Tigapuluh, Bukit Duabelas, Berbak-Sembilang, Hutan Harapan, Dangku, Bukit Balai Rejang Selatan dan Way Kampas.

Seperti yang dilansir dari mongabay.co.id, “Dari hasil PVA, hanya 3 dari ke-22 lansekap yang menunjukkan Kecenderungan populasi dapat bertahan hingga 100 tahun kedepan, yaitu Leuser-Ulumasen, Kerinci Seblat dan Batang Gadis. Ketiga lansekap ini sedang mengalami tantangan deforestasi akibat usulan perubahan tata ruang dan pembangunan jalan,” ujarnya.

Diambil dari data perburuan yang dihimpun oleh tim investigasi Wildlife Crimes Unit (WCU), Forum HarimauKita mencatat sedikitnya 55 kasus konflik manusia dengan harimau yang terjadi sejak tahun 2009 hingga 2014. Pada saat yang sama, sekurangnya jumlah 124 ekor harimau yang diburu.

Banyak hal yang dibahas dalam workshop PVA, salah satunya menjadi catatan adalah data deforestasi yang sebaiknya menggunakan data resmi pemerintah, sehingga dapat sinergi dengan program-program pembangunan di Sumatera. Dan juga menghasilkan analisa yang terbaik dan memiliki kesesuaian yang tinggi dengan kondisi dan situasi di lapangan.

“Dalam beberapa bulan kedepan kami masih akan bekerja keras untuk menyempurnakan hasil PVA ini agar dapat menyajikan dasar informasi yang objektif untuk penyusunan strategi konservasi harimau sumatera di masa mendatang,” tutup Yoan. {Ilham Nasir}

“Lagi”, Gajah Sumatera Ditemukan Mati di Lahan Sawit

Published in Nasional
Rabu, 20 April 2016 18:35

Medialingkungan.com – Seekor gajah jantan sumatera ditemukan mati di areal perkebunan kelapa sawit di Desa Jambo Rehat, Kecamatan Banda Alam, Aceh Timur, pada minggu (17/04). Gajah tersebut diperkirakan baru berumur 4-5 tahun.

Kepala seksi Konservasi Wilayah I BKSDA, Dedi Irvansyah mengatakan, “Hampir semua wilayah perkebunan dan pemukiman di kawasan Aceh Timur merupakan jalur lintas gajah Sumatera, sehingga tidak bisa dipungkiri masih ada konflik antara penduduk dengan gajah-gajah liar tersebut,” seperti yang dikutip dari Metrotvnews.com.

Hingga saat ini pihaknya masih belum mengetahui penyebab pasti kematian gajah tersebut. Namun, Dedi mengatakan BKSDA masih terus melakukan autopsi bersama dari pihak kepolisian dengan mengambil sampel darah, kotoran dan pembedahan gajah untuk diteliti lebih lanjut.

Kasat Reskrim Polres Aceh Timur, AKP Budi Nasuha mengatakan, “Hasil pemeriksaan sementara, gajah jantan ini diperkirakan mati dua hari yang lalu.”

“Sekitar satu minggu kedepan baru bisa diketahui secara pasti apa penyebab kematian satwa yang dilindungi itu,” ungkapnya.

AKP Budi menambahkan, “Setelah proses pembedahan berakhir, kemudian diambil gading yang panjangnya sekitar 3 cm dan dibawa ke kantor BKSDA Aceh.” {Iswanto}

40 Ekor Gajah di Zimbabwe Tewas Akibat Diracuni

Published in Internasional
Rabu, 21 Oktober 2015 09:13

Medialingkungan.com – Sebanyak 26 ekor gajah ditemukan tergeletak di Zimbabwe pekan lalu, Kamis (15/10). Berdasarkan penylidikan, gajah itu tewas akibat keracunan zat sianida. Sebulan sebelumnya, 14 ekor gajah juga ditemukan tewas dengan penyebab yang sama. Dengan demikian, total sudah 40 ekor gajah yang tewas dalam dua bulan terakhir.

Lansiran dari Channel NewsAsia bahwa dalam insiden terakhir, 10 bangkai gajah ditemukan di Kamp Sinamatela, dekat Taman Nasional Hwange. Sementara 16 lainnya terkapar di perbatasan Zimbabwe dan Botswana.

Kepala Badan Manajemen Alam Liar dan Taman Nasional Zimbabwe, Alvin Ncube mengatakan, gajah-gajah itu dibunuh kemudian diambil gadingnya.

Ncube menambahkan bahwa pihaknya kesulitan melacak pemburu yang menggunakan racun karena mereka dapat memasuki taman nasional secara diam-diam.

"Kami memperketat penegakan hukum. Secepatnya kami akan memiliki pesawat nir-awak dan quad bike yang akan digunakan untuk patroli dan memantau orang yang masuk ke taman nasional secara ilegal," ujar Ncube.

Ncube menyadari, perlu kolaborasi antara petugas dan masyarakat lokal untuk memerangi perburuan liar. "Masyarakat harus memperoleh keuntungan (dari alam liar), sehinga mereka tidak menganggap hewan liar sebagai musuh," jelasnya.

Namun, LSM bernama Zimbabwe Conservation Task Force (ZCTF) menganggap para pejabat yang korup adalah penyebab tersedotnya uang dari taman konservasi.

Komunitas yang tinggal di dekat reservasi seharusnya mendapatkan keuntungan dari aktivitas di taman. Keuntungan tersebut seharusnya digunakan untuk berbagai proyek, seperti konstruksi ruang kelas, perbaikan jalan, dan menambal lubang.

"Komunitas dekat taman nasional seharusnya mendapatkan keuntungan dari binatang tersebut tidak mendapatkan apapun jadi mereka melakukan peracunan dengan sianida dan perdagangan ilegal," ungkap juru bicara ZCTF, Johnny Rodrigues.

Menurut Rodrigues, berburu gajah dan badak di taman-taman Zimbabwe memang diperbolehkan. Tak ada tindakan keras bagi semua pihak terlibat karena semua sudah diatur oleh pejabat tinggi.

Tahun lalu, lebih dari 300 gajah tewas setelah beberapa pemburu luar menaruh racun sianida di dekat lubang pengairan mereka. {Fahrum Ahmad}

Empat Petugas TN Garamba Kongo Tewas Dibunuh Pemburu, Populasi Gajah Mengkhawatirkan

Published in Internasional
Sabtu, 10 Oktober 2015 11:51

Medialingkungan.com – Empat penjaga patroli tewas di Taman Nasional Garamba di Republik Demokratik Kongo setelah berusaha melindungi gajah dari para pemburu liar yang telah melakukan perburuan di sebelah barat Azande, Kongo.

Sebelumnya, petugas telah melacak keberdaan para pemburu, bahkan hingga ke kamp persembunyiannya. Namun, tim patroli yang berjumlah sepuluh orang itu dikabarkan kalah jumlah dari para pemburu.

Aksi saling tembak terjadi. Empat petugas tewas dan enam petugas patroli yang selamat dilarikan menggunakan helikopter (yang datang saat mendengar aksi baku tembak itu) untuk dievakuasi dan diberikan pertolongan pertama.

Keempat jenazah petugas itu ditemukan pada Kamis (08/09), ketika unit patroli kembali ke lokasi kejadian.

Kematian petugas ini menambah rentetan tewasnya tim patroli di Taman Nasional Garamba menjadi delapan orang.

Insiden terbaru ini membuat Taman Nasional Garamba terkenal sebagai rumah bagi banyak pemburu dan kelompok bersenjata, termasuk Ketua The Lord’s Resistance Army (LRA), Joseph Kony, seperti yang dilaporkan ABC News.

Menurut manajer Taman Nasional Garamba, jumlah sengketa antara pemburu dan penjaga terus meningkat. "Kami telah bekerja lebih keras, kami telah melakukan perluasan zona perlindungan untuk menutupi seluruh taman nasional dalam enam bulan terakhir, dan ini telah membawa kita ke sejumlah konfrontasi dengan berbagai kelompok bersenjata," katanya.

Ia menambahkan, terdapat sekitar 30.000 Gajah Afrika dibunuh setiap tahun oleh perburuan - sebagian besar untuk memasok gading ke negara-negara Asia - dan kegiatan ini telah memberikan kontribusi terhadap penurunan sekitar 60 persen dari populasi gajah Afrika selama dekade terakhir.

Pihaknya memperkirakan bahwa dengan tingkat perburuan saat ini, populasi akan habis dalam lima tahun, dan populasi gajah akan habis dalam dua dekade.

Sementara itu, para ilmuwan juga terus melakukan yang terbaik untuk membantu perang melawan pemburu. Mereka menciptakan kamera mata-mata untuk mengawasi perburuan cula badak, memfasilitasi pengawasan wilayah menggunakan drone, dan menggunakan model matematika untuk memprediksi di mana keberadaan pemburu.

Sebelumnya, PBB juga menyerukan agar negara-negara anggota meningkatkan upaya perlawanan terhadap perdagangan dan perburuan. Utamanya untuk perburuan Badak Putih bernama Sudan di Taman Konservasi Ol Pejeta, Kenya.

Sudan merupakan satu-satunya satu-satunya badak putih utara (Ceratotherium simum cottoni) jantan yang tersisa di seluruh dunia. Untuk melindunginya dari perburuan, culanya dihilangkan dan dipasangi pemancar radio agar pergerakannya terlacak.Selain itu, Sudan juga dijaga siang malam sepanjang 24 jam oleh para petugas patroli bersenjata di Taman Konservasi Ol Pejeta. {Fahrum Ahmad}

Jual Kukang, Kedua Mahasiswa Dibekuk Polisi

Published in Nasional
Rabu, 08 Juli 2015 10:18

Medialingkungan.com – Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Kalimantan Barat (Kalbar), Sustyo Iriyono menetapkan ED dan IY sebagai tersangka pemelihara satwa berjenis kukang. Kedua tersangka tersebut berstatus mahasiswa, ED sebagai ketua komunitas sedangkan IY penjual hewan kukang, Selasa (07/07).

“Saat ini penahanan keduanya masih kita tangguhkan karena masih berstatus mahasiswa,” ujar Sustyo, seperti yang dikabarkan tempo.

Menurutnya, kedua tersangka sudah diambil keterangannya sesaat setelah mereka digadang oleh Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC), Brigade Bekantan BKSDA Kalbar ketika mengikuti pameran Mini Zoo di Taman Gita Nanda Pontianak.

Saat diamankan, ED sedang menyimpan seekor kukang jantan, dua ekor kukang betina dan satu ekor kukang masih kecil yang berada di ranselnya. Ketika diintrogasi oleh pihak kepolisian, ED mengaku kukang tersebut dibeli dari IY.

Menurut Pasal 21 ayat (2) huruf a Jo Pasal 40 ayat (2) UU Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman penjara maksimal lima tahun dan denda maksimal Rp 100 juta pada dua tersangka tersebut, katanya.

sementara itu, Tim medis dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) telah melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap hewan itu. “Gigi taring kukang telah dipotong. Ini sangat berbahaya bagi kesehatan hewan tersebut,” ucap Tim medis YIARI, Purbo.

Dia menambahkan, pasca penangkapan tersebut, sejumlah anggota komunitas secara sukarela serahkan empat ekor kukang ke BKSDA. Kukang yang disita akan direhabilitasi dan merawat yang masih sakit. (Angga Pratama)

Setahun, 30 Pemburu Badak Ditembak di Bagian Timur Laut India

Published in Internasional
Sabtu, 13 Juni 2015 10:37

Medialingkungan.com – Pemerintah India telah berurusan dengan pemburu hewan liar ‘bertangan besi’ dalam setahun terakhir. Terdapat 30 pemburu yang tewas di bagian Timur Laut India tahun lalu. Data total jumlah yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan India itu merupakan yang tertinggi yang pernah dirilis di negeri itu. Sebagian besar pembunuhan terjadi di Taman Nasional Kaziranga, Assam.

"Jumlah tersebut menunjukkan tekad kami untuk menghilangkan pedagang satwa liar dan pemburu. Ini merupakan prestasi besar pemerintah Modi, "kata Menteri Lingkungan India, Prakash Javadekar pada HindustanTimes (12/06).

Senjata canggih dan mutakhir juga ditemukan dari pemburu liar yang membunuh dan mengambil tanduk badak, kemudian diselundupkan ke Asia Tenggara melalui Myanmar.

Selain itu, pemerintah Assam juga terus berupaya mengejar para pemburu di Kharbi Anglong, Negara bagian Assam untuk menyelamatkan badak bercula satu di Kaziranga dan sekitarnya.

Satwa liar di Negara bagian lain menuai nasib tak sebaik badak. Negara-negara seperti Uttarakhand, Maharashtra dan Madhya Pradesh melaporkan sejumlah kasus besar dalam perburuan liar seperti 23 harimau dan 116 macan tutul yang berhasil ditangkap oleh pemburu liar pada tahun 2014 di India.

"Ini adalah kasus yang telah dilaporkan. Mungkin ada kasus di mana pemburu mengambil seluruh binatang, tanpa meninggalkan jejak, "kata Tito Joseph dari Asosiasi Perlindungan Satwa Liar di India.

Sementara itu, sebuah laporan oleh Otoritas Konservasi Harimau Nasional India juga menunjukkan lemahnya tindakan terhadap perburuan di negara itu.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa hampir 40% dari penjaga hutan tidak memiliki peralatan yang cukup untuk menangani kejahatan satwa liar yang sangat terorganisir. "Negara-negara itu tidak menyediakan dana untuk memodernisasi sistem dan perangkat dalam memanajemen kejahatan terhadap satwa liar," kata seorang pejabat senior. (Fahrum Ahmad)

Halaman 1 dari 3

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini