medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Kebun Binatang dan Akuarium Jepang Dibekukan Pasca Voting

Published in Internasional
Kamis, 21 Mei 2015 20:31

Medialingkungan.com – Kebun binatang dan akuarium di Jepang tidak akan lagi membeli lumba-lumba yang ditangkap melalui cara berburu – pasca Asosiasi Kebun Binatang dan Akuarium Dunia (WAZA) menginisiasi untuk mengadakan voting pada Rabu (20/05), untuk menghentian penggunaan lumba-lumba yang ditangkap melalui drive-hunt (metode menangkap lumba-lumba dengan menyudutkan mereka ke daratan) di perairan Taiji, lokasi para pemburu mengumpulkan lumba-lumba dengan menggunakan perahu, bahkan membunuh sebagian besar dari mereka. WAZA membekukan cabang mereka di Jepang (JAZA) sejak bulan lalu.

Jepang mendapatkan hujatan dunia ketika film dokumenter yang meraih piala Oscar (2009) “The Cove” merekaman banyak periwtiwa yang menunjukkan satwa ini diarak ke teluk dan dibantai dengan pisau bak pembantaian hewan secara massal, dan menyebabkan air laut menjadi merah karena darah.

Menyambut baik kebijakan ini, Aktivis anti-perburuan mengangggapi bahwa hal ini adalah babak baru untuk mengakhiri praktik-praktik perburuan lumba-lumba dengan drive-hunt. Menurut Para aktivis, beberapa lumba-lumba yang hidup dijual seharga US$ 100.000.

Hasil pemungutan suara menunjukkan 99 dari 152 anggota memilih untuk tetap menjadi bagian dari WAZA atau setuju dengan larangan mengambil ikan dari metode penangkapan tersebut.

"JAZA akan melarang anggotanya untuk memperoleh lumba-lumba liar yang tertangkap oleh drive-fishing di Taiji dan akan ikut mengambil bagian dalam ekspor dan penjualan mereka", seperti yang ditulis ketua JAZA, Kazutoshi Arai, dalam sebuah surat kepada WAZA, menyusul hasil pemungutan suara tersebut, seperti dilansir WahingtonPost.

"Berbagai fasilitas (kebun binatang dan akuarium) harus bekerja sama untuk memajukan program pembiakan”, tambah Arai.

Sebelumnya, Executive Director dari JAZA, Kensho Nagai mengatakan, “kami mengambil sekitar 20 lumba-lumba dari Taiji setiap tahunnya, namun kita telah memperbaiki cara berburu kita, dengan memisahkan buruan dari hal apapun yang ada di Taiji untuk mendapatkan daging lumba-lumba.”

Menurut Sea Shepherd, kelompok konservasi yang mengamati jumlah lumba-lumba yang tewas dalam perburuan mengatakan tingginya biaya hidup lumba-lumba menjadi pemicu utama dari perburuan tersebut. Dikabarkan bahwa lebih dari 15.000 lumba-lumba telah tewas di Kepulauan Solomon mendorong dari hasil perburuan itu.

"Pengumuman ini membawa berita besar atas lumba-lumba di Taiji, bahwa terdapat uang dibalik pembantaian yang mengubah perairan teluk merah dengan darah," kata kelompok aktivis di sebuah pernyataan.

Sementara itu, Sarah Lucas, CEO of Australia for Dolphins mengatakan dalam pernyataan resminya, "Keputusan penting ini menandai awal dari akhir untuk perburuan lumba-lumba di Jepang."

Sekretaris Jenderal JAZA, Naonori Okada memprediksi bahwa sekitar 30 anggota JAZA memiliki total sekitar 250 lumba-lumba di akuariumnya, meskipun tidak diketahui berapa banyak yang diperoleh dari Taiji, namun dikabarkan akuarium Jepang telah membeli rata-rata 20 lumba-lumba dari kota itu setiap tahun.

Selama musim berburu dalam rentang tahun 2014-2015, pemburu lumba-lumba diperkirakan menangkap 1.084 satwa – 751 yang tewas, 80 dijual ke akuarium, dan sisanya dibebaskan. (Fahrum Ahmad)

Save Burung Kakaktua Jambul Kuning

Published in Nasional
Sabtu, 09 Mei 2015 22:16

Medialingkungan.com – Terungkapnya kasus penyelundupan kakaktua jambul kuning di Surabaya, Jawa Timur membuat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya menjadi prihatin dan akan menyerukan penyelamatan terhadap hewan langka yang ada di Indonesia.

Menurut Siti Nurbaya, Save Jacob Jambul Kuning nama panggilan burung kakaktua jambul kuning yang sebagian orang memanggilnya dengan sebutan itu di Maluku Tenggara. Tiga posko yang mesti disiapkan dalam pencegahan penyelundupan hewan langka diantarannya Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Kantor Mandala Wanabakti, dan Kantor Rehabilitasi Tegal Alur, katanya.

"Saya baru dilaporkan beberapa warga akan menyerahkan. Dengan respons masyarakat yang seperti itu saya kira memang pemerintah harus merespon niat baik dari masyarakat. Makanya kita aktifkan tiga posko itu untuk menerima kakak tua jambul kuning," ucap Siti seperti yang dilansir Kompas.com, Sabtu (09/05).

Burung-burung yang sementara diperiksa oleh dokter hewan selanjutnya akan direhabilitasi, setelah rehabilitasi selesai maka burung-burung itu kemudian dikembalikan ke habitatnya, tuturnya.

Sebelumnya, polisi menggagalkan penyelundupan 24 ekor kakaktua jambul kuning yang melewati bea cukai di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, kakaktua yang dijual dengan harga kurang lebih Rp 13 juta itu ditemukan dalam botol minuman mineral plastik, ujarnya.

Wanita Ketua DPP Partai Nasdem ini mengatakan, kakaktua jambul kuning terdaftar sebagai spesies terancam punah oleh Persatuan Internasional untuk KSDA pada tahun 2007. Populasinya sudah terbilang rendah, mungkin sekitar kurang dari 7.000 individu burung kakaktua tua jambul Kuning yang saat ini masih tersisa. (Angga Pratama)

Trenggiling Diambang Kepunahan Akibat Perburuan Secara Ilegal

Published in Internasional
Selasa, 17 Maret 2015 17:04

Medialingkungan.com – Trenggiling (Manis javanica syn. Paramanis javanica) adalah wakil dari ordo Pholidota yang masih ditemukan di Asia Tenggara, hewan pemakan serangga, terutama semut dan rayap, sehingga mereka bertindak sebagai pengendali hama alami.

Anatomi mereka juga disesuaikan dengan pola makan yang khas. Cakar panjang untuk menggali sarang semut dan sarang rayap telinga yang menutup untuk mencegah semut merayap ke dalam dan lidah sepertiga lebih panjang dari panjang tubuh mereka untuk meraup mangsa.

Daging trenggiling, yang dianggap lezat, dan sisik yang digunakan dalam pengobatan tradisional, khususnya di Cina dan Vietnam, mendorong trenggiling menuju kepunahan.

Para peneliti di International Union for the Conservation of Nature (IUCN) yang bergerak di bidang konservasi alam dan pemanfaatan belkelanjutan mengatakan lebih dari satu juta trenggiling ditangkap dalam satu dekade terakhir, membuat hewan tersebut masuk dalam kategori mamalia yang paling sering diperdagangkan secara ilegal di dunia, dikutip dari Worldaid.

Di Indonesia, hewan ini menyebar di beberapa daerah saja yakni Sumatera, Kalimantan, dan Jawa, dengan status dilindungi yang dituangkan dalam UU No. 5 Tahun 1990 dan PP No. 7 Tahun 1999. Trenggiling terancam keberadaannya akibat habitatnya terganggu serta menjadi obyek perdagangan hewan liar.

Keseluruhan spesies trenggiling masuk dalam CITES Appendix II, daftar flora dan fauna yang belum menghadapi kepunahan, namun membutuhkan kontrol ketat pada aturan perdagangan untuk menghindari ancaman kepunahan.

Sejak tahun 2000, tiga dari spesies trenggiling Asia telah dilindungi oleh CITES dengan melarang semua perdagangan komersial di Indonesia, Cina, dan India. Pada tahun 2007, perlindungan yang sama diadopsi untuk trenggiling di Filipina. (Mirawati)

WWF: Pemerintah Tak Sigap Atasi Turunnya Populasi Harimau Sumatera

Published in Nasional
Minggu, 08 Maret 2015 21:30

Medialingkungan.com – Penurunan satwa langka di Asia telah masuk dalam kategori kritis. Berdasarkan penilitan berkala yang dilakukan WWF, ditemukan bahwa salah satu satwa langka yang memasuki ambang punah adalah Harimau Sumatera. Saat ini, jumlah satwa endemik ini hanya tersisa sekitar 400 ekor.

Pemerintah berupaya meningkatkan jumlah populasi satwa ini sejak 2010 lalu. Namun, WWF menengarai bahwa tanda-tanda penurunan harimau tampak di beberapa daerah di Sumatera, terutama di wilayah Riau.

Menurut WWF, keseriusan pemerintah tak nampak dalam menjaga ekosistem hutan di Riau. Tolak ukur yang dapat dijadikan gambaran peliknya upaya tersebut adalah jumlah petugas yang menangani kasus ini masih sangat minim dibandingkan luasnya hutan di Riau yang mencapai ratusan ribu hektar.

Koordinator Konservasi Gajah dan Harimau WWF Indonesia, Sunarto, mengatakan pada lansiran BBC bahwa populasi harimau di wilayah Riau utara dulu cukup padat. Namun, saat ini boleh dibilang tidak ada, kecuali di satu blok hutan yang relatif kecil di Senepis. Lalu di Riau selatan, juga mengalami deforestasi sangat hebat, termasuk di daerah Tesso Nilo. Hal ini ditandai dengan sedikitnya populasi harimau yang ditemukan di sana.

“Ini indikasi kuat bahwa harimau mengalami penurunan atau justru menghilang di tempat-tempat yang habitatnya rusak atau terfragmentasi,” kata Sunarto.

Menurunnya populasi harimau, diakui Sunarto, memang disebabkan beberapa faktor. Namun, yang paling berisiko tinggi menurunkan populasi ini adalah perambahan hutan dan konversi lahan ke perkebunan sawit.

Senada dengan Sutarno, Rusmadya Maharuddin, juru kampanye hutan Greenpeace Indonesia menengarai bahwa laju deforestasi secara langsung menghancurkan habitat alami harimau dan satwa lainnya. Khusus untuk wilayah Riau, perambahan hutan dan konversi lahan terparah terjadi di Senepis, Rimbang Baling, dan Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

Soal deforestasi hutan pernah ditelaah mantan peneliti di Kementerian Kehutanan dan kini bekerja di Universitas Maryland, Amerika Serikat, Belinda Margono. Dia menyebutkan Indonesia mengalahkan angka deforestasi Brasil seluas 460.000 hektare, setahun setelah moratorium penebangan hutan diberlakukan. Namun, Kementerian Kehutanan mengatakan laju deforestasi jauh lebih kecil dibandingkan hasil penelitian tersebut.

“Kalau kita lihat di Sumatera, hutannya hanya tersisa 25% hingga maksimum 27%. Kemudian populasi harimau di bawah 400 ekor. Ini dua angka yang saling terhubung,” kata Nyoman Iswarayoga, direktur WWF Indonesia. (MFA)

Pangeran William Bekunjung ke Cina untuk Bahas Perdaganagan Satwa

Published in Internasional
Minggu, 08 Maret 2015 20:07

Medialingkungan.comDuke of Cambridge atau lebih dikenal khalayak, Pangeran William, tiba di Cina, pada Minggu 1 Maret lalu. Kunjungan kerajaan Inggris itu adalah yang pertama dalam kurun waktu hampir 30 tahun terakhir. Kedatangannya disambut Duta Besar Inggris untuk Cina, Barbara Woodward, dan Dubes Cina untuk Inggris, Liu Xiaoming.

Dalam kunjungannya di Cina, Pangeran William mengangkat isu perdagangan satwa gelap sekaligus bertemu dengan gajah-gajah yang berhasil diselamatkan dari sindikat perdagangan satwa. Pangeran William berada berada di China selama tiga hari dengan sejumlah agenda penting.

Sepeninggalan dari negeri Panda, ia dan rombongan kerajaan terbang ke Provinsi Yunnan pada Rabu (04/03) dalam agenda untuk menyaksikan cagar alam.

Selain menyaksikan cagar alam, penerus tahta Kerajaan Inggris ini juga sengaja berkunjung untuk melihat tempat perlindungan gajah di di Xishuangbanna, Yunnan. (MFA)

Anggota Perbakin Riau Diringkus Polisi Karena Perburuan Gajah

Published in Nasional
Senin, 16 Februari 2015 09:01

Medialingkungan.com – Salah satu anggota Persatuan Menembak Indoensia (Perbakin) Riau ditangkap polisi usai diketahui sebagai sindikat pemburu Gajah Sumatera. Pihak kepolisian juga menyita sedikitnya 28 pucuk senjata api milik Perbakin.

"Saat ini puluhan pucuk senjata api milik Perbakin telah diamankan di Polda Riau," kata AKBP Guntur Aryo Tejo, Kabid Humas Polda Riau kepada wartawan, Minggu (15/02).

Guntur mengatakan bahwa pihaknya akan memperketat penggunaan senjata api yang biasa digunakan oleh anggota Perbakin. Menurutnya pengawasan ini dimakasudkan untuk mencegah penyalahgunakan senjata, khususnya perburuan gajah.

"Pengunaan senjata oleh Perbakin harus diawasi dengan ketat. Apabila ingin menggunakan harus melalui tahapan. Boleh memakai, tapi harus jelas akan berburu kemana dan apa sasarannya. Usai berburu, senjata api harus dikembalikan ke Polda Riau,"bebernya.

Berdasarkan informasi yang diterima, salah satu anggota Perbakin Riau yang dibekuk oleh pihak kepolisian karena berburu Gajah Sumatera bernama Fadil. Selain melakukan penahanan, polisi juga menyita kartu anggota Perbakin miliknya.

Dari pengakuan pelaku, Polda Riau berhasil mengungkap sindikat pemburu gajah dan meringkus delapan orang pelaku. Kemudian dari tangan pelaku, polisi juga berhasil menyita sejumlah gading gajah yang bernilai ratusan juta rupiah.

Pelaku juga mengakui bahwa sebagian besar gajah yang dibantai dan diambil gadingnya adalah satwa yang hidup dalam Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Provinsi Riau. (MFA)

Badak Putih Utara, Satu Langkah Lebih Dekat Dengan Kepunahan

Published in Internasional
Selasa, 16 Desember 2014 09:10

Medialingkungan.com – Kebun binatang San Diego Zoo Safari Park, California, Amerika Serikat berduka. Salah satu badak putih utara yang diberi nama Angalifu mati pada hari Minggu, 14/12/2014.

Salah seorang petugas yang bekerja di Kebun Binatang San Diego, Randy Rieshes dalam berita yang dilansir oleh planetark.org mengatakan Angalifu mati karena faktor usia. Dia menuturkan badak putih ini sudah berusia 44 tahun dan pada saat itu sedang dirawat berhubungan dengan umurnya yang sudah cukup tua.

“Kematian Angalifu merupakan pukulan terberat bagi kami. Bukan hanya karena ia sangat dicintai di kebun binatang ini, namun kematiannya membuat spesies badak putih utara satu langkah lebih dekat dengan kepunahan,” ucap Randy yang bertugas sebagai penjaga mamalia Kebun Binatang San Diego.

Badak tersebut merupakan salah satu dari 6 badak putih utara yang masih ada di dunia. Kematian Angalifu membuat spesies ini semakin dekat dengan kepunahan. Saat ini spesies tersebut hanya berjumlah 5 jenis yang tersebar di seluruh dunia.

Badak putih ini mengalami kepunahan akibat perburuan liar. Sebagian dari mereka memburu badak ini untuk diambil culahnya yang dipercaya bagi masyarakat dapat berkhasiat bagi kesehatan dan juga dapat dimanfaatkan sebagai obat.

Pihak Kebun Binatang California yang masih memiliki satu koleksi jenis spesies badak putih utara ini mengatakan bahwa jenis badak putih ini masih terdapat pada beberapa kebun binatang di seluruh dunia. Satu jenis terdapat di kebun binatang Eropa dan tiga lainnya terdapat di kebun binatang di Afrika

Beberapa ilmuan di kebun binatang telah menyimpan sperma dan jaringan testis badak jantan dengan harapan bahwa ilmu pengetahuan modern dapat mengembangkan teknologi baru agar memungkinkan pemulihan spesies bagi badak putih utara yang sudah terancam punah. (UT)

Sindikat Penyelundupan Kera Berhasil Dibekuk

Published in Nasional
Jumat, 19 September 2014 09:18

Medialingkungan.com – Sindikat penyelundup 79 ekor kera asal Sumatera berhasil digagalkan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) wilayah 1 Serang, Banten. Truk yang ditumpangi ini diduga kuat berasal menuju ke Jakarta.

Petugas BBKSDA mengakui, pengintaian terhadap pergerakan sindikat ini telah bermula saat truk  tersebut memasuki Pelabuhan Merak. Truk dengan nomor kendaraan BE 9842 VF tersebut kemudian ditelisik lebih lanjut, dan terbukti melakukan penyelundupan hewan.

"Kami sudah memata-matai mereka dan pengintaian itu terus sampai ke Pelabuhan Merak," ujar Kepala Seksi Konservasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I Serang Andri Ginson kepada wartawan, Kamis (18/09).

Pertugas lantas menyergap sindikat tersebut setelah aksi kejar-kejaran di jalan. Oknum penyelundup berhasil diberhentikan pasca supir yang membawa kera tersebut menabrak di Tol Belaraja Tigaraksa, Kabupaten Tanggerang.

"Karena dalam pengejaran keliatannya sopir tidak konsentrasi membawa mobil, akhirnya terjadi tabrakan. Kecelakaan itu, mengakibatkan sopir dan keneknya mengalami luka cukup parah," terangnya.

Saat diperiksa, kera-kera ini ditutupi oleh pisang yang diletakkan dalam satu boks. Hal ini dilakukan untuk mengelabui petugas pemeriksaan. Cara ini terbilang baru dalam penyelundupan satwa langka, dan jika dibiarkan satwa-satwa ini akan semakin mengalami degradasi..

Menurut keterangan pihak BBKSDA, kera-kera ini nantinya akan dijual ke rumah makan yang menyediakan santapan berbahan dasar kera. Pasalnya, otak kera dinilai mengandung asupan gizi yang tinggi.

“Kita menduga kuat puluhan kera ini di jual untuk kebutuhan rumah makan, karena otaknya mengandung gizi,” sebutnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, para pelaku didenda Rp250 juta, lantaran melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999, tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Tingkat perdagangan satwa di Indonesia sudah mencapai frekuensi yang tinggi, dan di khawatirkan mengancam kepunahan bagi satwa-satwa, khususnya yang dilindungi  dan masuk dalam daftar ambang kepunahan. (MFA)

Meningkatnya Angka Perdagangan Satwa Dilindungi

Published in Nasional
Sabtu, 09 Agustus 2014 13:03

Medialingkungn.com – Perburuan dan perdagangan satwa liar yang dilindungi di wilayah Indonesia masih tinggi, yakni mencapai 22 kasus sepanjang Januari hingga Juni 2014.

Lembaga "Protection of Forest and Fauna" (PROFAUNA) menyatakan sebanyak 22 kasus tersebut yang berhasil diungkap aparat penegak hukum, namun sejatinya yang belum terungkap justru lebih tinggi.

“Dari 22 kasus perdagangan dan perburuan satwa liar ini, ribuan ekor satwa yang dilindungi berhasil disita," kata Direktur PROFAUNA Indonesia Rosek Nursahid.

Jenis satwa liar yang diperdagangkan secara ilegal tersebut, di antaranya adalah orangutan, kukang, lutung jawa, siamang, trenggeling, penyu hijau, cendrawasih, kakatua raja, opsetan kulit harimau sumatera dan gading gajah.

Menurut Rosek Nursahid, satwa-satwa langka yang sudah dilindungi itu, disita dari tangan pedagang, pemburu dan penyelundup satwa dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Tanggerang, Denpasar, Aceh, Jember, Lampung dan Palangkaraya.

Ia juga menambahkan, perdagangan satwa dilindungi itu bukan hanya untuk konsumsi domestik, namun juga diselundupkan ke luar negeri, antara lain ke Kuwait, Prancis dan Tiongkok. Terungkapnya kasus perdagangan satwa langka itu menunjukan bahwa perdagangan ilegal satwa liar di Indonesia masih tinggi.

"Sebenarnya masih banyak kasus perdagangan satwa liar dilindungi yang belum terungkap, angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kasus sebelumnya," katanya. (DN)

UNEA Puji Peran Indonesia Terhadap Pelestarian Lingkungan Hidup

Published in Nasional
Jumat, 04 Juli 2014 13:27

Medialingkungan.com- Pertemuan pertama Majelis Lingkungan Hidup PBB pekan lalu mengapresiasi kemajuan dan peran Indonesia dalam penanganan isu-isu lingkungan hidup, baik di dalam negeri maupun dalam mendorong pemajuan isu lingkungan pada tataran multilateral yang diselenggarakan di Nairobi, Kenya, pada tanggal 23-27 Juni 2014.

Henry Bastaman, PLT Staf Ahli Menteri Bidang Lingkunan Global menungkapkan, Menteri Lingkungan Hidup RI, Balthasar Kambuaya berperan sebagai ketua delegasi Indonesia, menyampaikan dua pernyataan terpisah yang mendapat sambutan positif dari sekitar 112 menteri yang hadir pada acara yang bertema “High-Level Segment”.

Balthasar menyampaikan pernyataan mengenai pentingnya pencapaian Agenda Pembangunan Pasca 2015 melalui pendekatan yang lebih terintegrasi. Sedangkan untuk mengubah pola konsumsi dan produksi menjadi berkelanjutan, diutarakan bahwa Indonesia antara lain telah mencanangkan program 10-Year National Policy Framework for SCP Implementation in Indonesia (10Y SCP Indonesia).

Implementasi SCP Indonesia telah masuk dalam Rencana Pembangunan Nasional 2015-2019 dengan berbagai keberhasilan antara lain mini and micro hydropower, dan Bank Sampah. Balthasar menghimbau negara-negara lain untuk menerapkan pembangunan berkelanjutan antara lain secara bertahap beralih ke SCP dan menyatakan kesediaan untuk berbagi pengalaman terkait hal ini.

Diungkapkan, Erik Solheim, Ketua Komite Asistensi Pembangunan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memuji komitmen Indonesia dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam melindungi dan menjaga lingkungan hidup Indonesia.

Tema kedua dari pertemuan tersebut menyangkut perdagangan ilegal flora dan fauna liar ("Illegal Trade in Wildlife"), Balthasar menyampaikan posisi Indonesia yang mendukung mekanisme multilateral yang telah terlibat aktif dalam upaya penanggulangan perdagangan liar satwa dan tumbuhan langka melalui Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

Ia menambahkan bahwa dukungan tersebut termanifestasi dalam upaya perkuatan kerjasama multilateral pemberantasan perdagangan satwa dan tumbuhan liar dengan tetap disinergikan dengan program kerja CITES dan UNEP, serta adanya upaya yang seimbang dalam melakukan penanggulangan perdagangan ilegal satwa dan fauna liar yang antara negara asal, negara transit dan negara tujuan atau negara konsumen.

Dalam dialog ini delegasi Indonesia mengusulkan untuk membangun mekanisme kerjasama dalam penegakan hukum terhadap negara-negara konsumen produk Illegal Wildlife dalam rangka memutus rantai illegal wildlife trade. UNEP dipandang perlu mengkonsolidasikan resolusi the United Nations Convention against Transnational Organized Crime (UNCTOC) dan the United Nations Convention against Corruption (UNCAC) dalam keputusan yang akan diambil dalam Sidang Pertama UNEA tersebut. (TAN)

SUMBER: menlh.co.id

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini