medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Hutan yang Hilang di Indonesia Seluas Irlandia

Published in Nasional
Kamis, 03 Juli 2014 22:29

Medialingkungan.com –Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia melimpah ruah, baik darat (hutan) maupun laut. Bahkan salah satu tesis dari seorang peneliti menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan negara Atlantis yang hilang. Dalam mitosnya, Atlantis merupakan sebuah negara sangat kaya akan sumber daya alam, dan tertata rapi memebentang dalam bentuk kepulauan layaknya Nusantara.

Namun, kebenarannya masih belum tersimak. Indonesia justru memiliki reputasi buruk terkait pelestarian hutan. Para ilmuwan melansirdalam CBC news, Senin 30 Juni 2014, mengungkapkan bahwa kini negara kita sudah melampaui negara penyelenggara Piala Dunia 2014, Brasil, terkait penebangan liar hutan tropis.

Meski pencanangan program moratorium sebagai bentuk perlindungan satwa liar dan memerangi perubahan iklim telah diperdengungkan sejak 2011 silam, namun laju kerugian negara semakin mebumbung tinggi.

Nature Climate Change mempublis jurnal berisi penyebab kerugian yang diderita Indonesia. Isi jurnal tersebut menyatakan, kerugian tersebut disebabkan perubahan fungsi kawasan hutan menjadi kelapa sawit dan peternakan dalam kurun waktu 2000 hingga 2012 dengan total luasan 60.000 km. Atau dengan kata lain luas hutan yang berubah sama dengan luas negara Irlandia.

Dalam jurnal tersebut tertulis, 2012 lalu potensi kehilangan hutan di Indonesia kehilangan hutannya lebih tinggi dari di Brasil. Pada tahun tersebut, Indonesia saja sudah kehilangan 8.400 km persegi, dibandingkan 4.600 km persegi yang ada di Brasil. Jurnal Nature Climate Change mencatat bahwa saat ini Brasil tengah berupaya untuk mengurangi kerugiannya dari sektor hutandan usaha tersebut telah membuahkan hasil.

"Kita perlu meningkatkan penegakan hukum dan kontrol di daerah itu sendiri," kata Belinda Margono, penulis utama dari studi di Universitas Maryland, sekaligus orang yang bekerjar di kementerian kehutanan Indonesia.

Diketahui, hutan mempunyai dampak yang signifikan bagi kehidupan manusia, karena pohon merupakan penyumbang oksigen terbesar.

"Hutan hujan adalah paru-paru bumi. Anda memiliki paru-paru untuk bernapas dan jika anda menyingkirkan paru-paru itu, maka bumi akan menderita," ujar Matthew Hansen, salah satu penulis di jurnal tersebut di Universitas Maryland.

Kehilangan 'paru-paru bumi' berdampak pada perubahan iklim yang semakin cepat dirasakan. Sebagai salah satu hutan hujan terbesar di dunia yang ada di Indonesia, negara lain bahkan lebih peduli dan prihatin akan kehilangan hutan di negara ini.

Sebuah negara di Skandinavia yaitu Norwegia berjanji akan memberi dana US$1 miliar untuk memperlambat hilangnya hutan tersebut. Hal ini merupakan bagian dari perjanjian pencegahan perubahan iklim di dunia.

"Kemitraan in merupakan insentif keuangan yang kuat," ucap Gunhild Oland Santos-Nedrelid, juru bicara kementerian lingkungan Norwegia.

Ia mengatakan hilangnya hutan Indonesia yang meningkat beberapa bulan ke depan, akan berdampak pada meningginya kekeringan dan kebakaran hutan.

Sejauh ini, Norwegia telah membayar hampir US$50 juta untuk Indonesia dari US$1 miliar yang dijanjikan. Dana tersebut ungkap Gunhild, untuk dijadikan pembentukan lembaga baru yang konsen terhadap pembalakan hutan.

"Indonesia akan mulai mendapatkan uang dalam jumlah besar, jika hanya monitoring itu dapat membuktikan perlambatan penebangan hutan secara ilegal," kata dia.

Norwegia memang dikenal dermawan akan pelestarian hutan tropis di dunia. Proyek serupa berupa US$1 miliiar diberikan kepada Brasil serta program serupa namun lebih kecil dananya untuk negara Guyana dan Tanzania.

Pohon dapat menyerap karbondioksida dari gas rumah kaca yang merupakan faktor utama dari pemanasan global. Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan penebangan hutan turut menyumbang 17 persen dari semua gas rumah kaca buatan manusia.

Pemberlakuan moratorium 2011 lalu, sampai saat belum memiliki efek yang bisa dirasakankan langsung. Kendati demikian ritme pemerintah dalam melindungi hutan dari deforestrasi masih cenderung melow.

"Tampaknya bahwa moratorium tidak memiliki efek yang diinginkan," tulis para ilmuwan di jurnal tersebut.

Melalui moratorium tersebut pemerintah bermaksud untuk memperlambat kerugian serta melindungi habitat orang utan, harimau sumatera, dan satwa liar lainnya. Namun, tulisan di jurnal Nature Climate Change mengungakapkan kekecewaan para peneliti terhadap ketidaksesuaian dengan dari tujuan pembentukannya. (MFA)

BKSDA dan Polda Aceh Sita Hewan Dilindungi dari Rumah Warga

Published in Nasional
Selasa, 03 Juni 2014 14:01

Medialingkungan.com - Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, bersama aparat Polda Aceh, mengamankan sejumlah satwa dilindungi dari rumah warga di beberapa wilayah Aceh.

Kepala BKSDA Aceh, Genman Hasibuan mengatakan, di Kabupaten Aceh Selatan, petugas menyita beberapa satwa dilindungi, seperti Siamang, Landak, Elang Ular Bido, Elang Laut dan Tupai Jelarang, masing-masing satu ekor. Kemudian, petugas gabungan BKSDA dan Polda Aceh, juga ikut menyita dua Bangau Tong-tong serta empat ekor satwa Kukang.

Dalam penyitaan itu, Pihak BKSDA juga menyita dua ekor buaya. “Penyitaan Buaya yang di lakukan, dikarenakan binatang malata tersebut tidak ada izin dalam melakukan penangkaran, kata Genman.

Selain satwa yang masih hidup, petugas BKSDA menyita seekor harimau yang telah diawetkan di Meulaboh, Aceh Barat.

Menurutnya, tidak ada yang diamankan serta diproses, pasalnya dalam proses penyitaan itu umumnya warga yang memelihara satwa dilindungi tersebut bersikap kooperatif dan bersedia mengembalikan satwa dilindungi itu kepada petugas. Warga-warga itu pun tetap diingatkan untuk tidak mengulangi tindakan melawan hukum tersebut.

Tambahnya lagi, operasi penertiban pemeliharaan satwa dilindungi tersebut, mengedepankan langkah persuasif terhadap para warga yang kedapatan memelihara satwa dilindungi tersebut. Semua satwa tersebut telah diamankan di BKSDA Aceh dan selanjutnya akan ditempatkan pada lokasi atau taman hewan hutan lindung di Aceh. (AP)

 

Peringatan untuk Turis “Jangan Beli Satwa Liar Saat Tonton Piala Dunia”

Published in Internasional
Kamis, 29 Mei 2014 17:16

Medialingkungan.com – Menjelang piala dunia di Brasil, Otoritas Brazil merilis Pedoman soal lingkungan hidup bagi para wisatawan pada Rabu (28/05/2014). Hal ini ditengarai karena para pemburu satwa liar mulai beraksi. Mereka menyulap hewan-hewan tersebut menjadi souvenir kerajinan tangan.

Otoritas Brazil menyatakan, penonton Piala Dunia gemar berburu suvenir dari setiap tuan rumah ajang ini. Oleh sebab itu, turis itu harus tahu bahwa membeli burung beo, iguana, dan satwa liar lain dari Brazil adalah perbuatan ilegal.

Monyet, burung, ular, kupu-kupu, laba-laba, dan kalajengking adalah deretan hewan lain yang masuk daftar larangan pembelian, yang disusun para pejabat di Negara Bagian Rio Grande do Norte di kawasan timur laut Brasil. Salah satu kota di negara bagian ini, Natal, menjadi salah satu tuan rumah pertandingan Piala Dunia 2014.

"Piala Dunia akan menarik ribuan wisatawan, baik Brasil maupun asing, ke Rio Grande do Norte," kata Airton De Grande, juru bicara cabang Insitut Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Brasil (IBAMA), Rabu. "Untuk menghindari insiden memalukan apalagi hukuman pidana, kami telah menyiapkan 10 aturan yang harus diikuti oleh setiap orang."

Dala rilis aturan tersebut menunjukkan peringatan bagi para wisatawan untuk tak membeli perhiasan ataupun kerajinan yang mengandung unsur satwa liar, termasuk bulu, gigi, kulit, dan sayap kupu-kupu. Membeli satwa liar di Brasil, hidup maupun mati, tekan De Grande, akan mendapat hukuman denda 5.000 real (setara 2.300 dollar AS atau sekitar Rp 27 juta). (DN)

Seludupkan Cula Badak dan Gading Gajah, Pedagang Asal Cina Didenda 6 Tahun Penjara

Published in Internasional
Kamis, 29 Mei 2014 09:48

Medialingkungan.com - Zhifei Li, seorang pedagang barang antik yang berasal dari Cina, dihukum 70 bulan penjara atas penyelundupan barang bernilai lebih dari US$4,5 juta. Hukuman itu adalah salah satu hukuman paling lama dalam sejarah yang dikenakan di Amerika Serikat atas pelanggaran penyelundupan satwa liar.

Amerika telah melindungi segala jenis badak sejak 1976, mendakwa Zhifei Li karena terbukti melakukan penyeludupan Internasional yang beroperasi melalui perusahaannya Overseas Treasure Finding. Hal ini diatur dalam Undang-undang perdagangan cula badak dan gading gajah Ameriak Serikat dan Internasional.

Li juga mengakui bahwa dalam menjalankan operasi penyeludupan Internasionalnya, ia membayar tiga pedagang barang antik di Amerika Serikat untuk membantunya.

Para pejabat mengatakan, pekerja suruhan Li terbukti menyelundupkan 30 cula badak dan benda lain yang terbuat dari cula badak dan gading gajah ke China. (AND)

Indonesia Terancam Kehilangan Badak Jawa dan Sumatra

Published in Nasional
Selasa, 27 Mei 2014 19:27

Medialingkungan.com - Dua spesies Badak di Indonesia yaitu Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) diambang punah. Saat ini, struktur populasi badak yang ada sekarang lokasinya  terpencar dan terisolir.

Kantong habitat Badak Jawa,  hanya terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Populasi Badak Jawa di kawasan itu diketahui sebagai  populasi  yang  jumlahnya  tidak  lebih  dari  50  individu. Rata-rata perkembangan populasinya tidak  lebih dari 1 persen tiap tahunnya.

Sedangkan, di Pulau Sumatera, menurut Adhi Hariyadi, Project Leader kantor program WWF di Ujung Kulon, jumlah kantong habitat Badak Sumatera hanya tersisa empat kantong utama yakni di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Way Kambas dan Taman Nasional Gunung Leuser serta Kawasan Ekosistem Leuser, jumlah Badak Sumatera diperkirakan populasi kurang dari 200 ekor.

Terjadinya perubahan fungsi hutan di areal kawasan konservasi di Indonesia yang melalui berbagai macam bentuk, misalnya pembangunan jalan, peminjaman atau pelepasan kawasan, menyebabkan satwa ini beralih ke areal yang nyaman untuk berkembangbiak.

Pembangunan jalan yang membelah Taman Nasional juga berpotensi membuat struktur vegetasi dan komposisi tumbuhan menjadi berubah dan terfragmentasi. Hal ini menyebabkan para satwa berkeliaran untuk mencari habitat baru dan karena itu badak-badak ini sangat mudah ditemukan saat dilakukan perburuan. (AP)

Nadya Hutagalung Kampanye Pengurangan Perburuan Gading Gajah Asia

Published in Nasional
Sabtu, 10 Mei 2014 08:00

Medialingkungan.com – Dalam rangka upaya mengurangi perburuan gading gajah di Asia, Nadya Hutagalung, aktivis lingkungan Elephant Warrior WWF-Indonesia bergabung dalam melahirkan kampanye Let Elephants Be Elephants (LEBE).  Selain nadya, bergabung pula Dr. Tammie Matson, ahli gajah dan penulis dalam kegiatan tersebut. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesadartahuan pertumbuhan permintaan gading gajah di Asia semakin banyak dengan berkurangnya populasi gajah di Afrika.

Dengan harapan dan tujuan yang sama yaitu meninggalkan dunia yang lebih baik kepada anak-anaknya, Nadya dan Tammie terjun langsung ke alam liar Afrika serta lorong-lorong tersembunyi di Asia. Kedua ibu ini juga mewawancarai beberapa ahli konservasi gajah dunia, seperti Richard Bonham (Big Life Foundation), Dr, Cynthia Mozz (Amboseli Trust for Elephants), Dr. Iaim Douglas-Hamilton (Save The Elephants), dan Dame Daphne Sheldrick (David Sheldrick Wildlife Trust).

Gerakan ini diluncurkan bertepatan dengan Hari Bumi (22/04) di Ballroom Hotel Shangrila, Jakarta. Keesokan harinya, diadakan acara ‘nonton bareng’ film dokumenter yang diproduseri dan diceritakan langsung oleh Nadya Hutagalung ini. LEBE diproduksi oleh produser terkemuka, Ernest Hariyanto, menyajikan fakta-fakta dan membukakan mata banyak orang yang belum mengetahui bahwa untuk mendapatkan gadingnya, gajah terlebih dulu diburu lalu dibunuh.

“Sangat memilukan melihat anak-anak gajah Afrika korban perburuan dan mengetahui bahwa induknya mati untuk diambil gadingnya,” ujar Nadya.Konon kondisi ini didorong oleh permintaan akan gading gajah yang datang dari Asia. Padahal setelah melalui pooling yang dibuat oleh IFAW (International Fund for Animal Welfare), sebanyak 70% orang yang disurvei di Cina, menyatakan tidak akan membeli gading gajah setelah mengetahui kenyataan cara mendapatkan gading gajah.

Kampanye ini juga mendesak masyarakat agar sadar akan tindakan ilegal perburuan gajah dan mengajak berpartisipasi dalam gerakan menghentikan permintaan gading gajah melalui komitmen untuk mengatakan tidak kepada gading gajah melalui www.letelephantsbeelephants.com dan berbagi video dan fakta dari situs ini melalui jejaring sosial. “Jika kita semua bersama-sama menghentikannya, maka kita dapat memperbaiki keadaan ini,” ujar Tammie.(DN)

 

Halaman 3 dari 3

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini