medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Mengenal Pentingnya Koridor Hidupan Liar

Published in Informasi & Teknologi
Sabtu, 02 Juni 2018 13:41

Medialingkungan.com – Tahun 2016, Dirjen KSDAE telah menetapkan pedoman penentuan koridor hidupan liar sebagai kawasan ekosistem esensial. Penentuan dan pengelolaan Koridor Hidupan Liar sangat diperlukan dalam upaya perlindungan dan pengawetan satwa liar di luar kawasan konservasi.

Berdasarkan gap analisys keterwakilan ekologis kawasan konservasi di Indonesia tahun 2013, diperkirakan sekitar 80% keanekaragaman hayati yang bernilai penting berada di luar kawasan konservasi. Oleh karena berbagai upaya telah diusahakan oleh berbagai pihak untuk menjaga keutuhan keanekaragaman hayati di Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah, khususnya KLHK, yaitu pengelolaan koridor hidupan liar.

Peraturan Dirjen KSDAE nomor 8 Tahun 2016 menerangkan bahwa Koridor Hidupan Liar adalah areal atau jalur bervegetasi yang cukup lebar, baik alami maupun buatan yang menghubungkan dua atau lebih habitat atau kawasan konservasi atau ruang terbuka da sumberdaya lainnya, yang memungkinkan terjadinya pergerakan atau pertukaran individu antar populasi satwa atau pergerakan faktor-faktor biotik sehingga mencegah terjadinya dampak buruk pada habitat yang terfragmentasi pada populasi karena in-breeding dan mencegah penurunan keanekaragaman genetik akibat erosi genetik yang sering terjadi pada populasi yang terisolasi.

“Selain bertujuan untuk restorasi dan proteksi keanekaragaman hayati, pengelolaan Koridor Hidupan Liar memiliki keuntungan lain seperti mereduksi erosi, memperbaki kualitas air, menghasilkan habitat lokal, dan menjaga iklim setempat,” ujar Hadi S Alikodra seperti dilansir Republika.co.id.

Sampai saat ini, pengelolaan koridor hidupan liar telah banyak diupayakan diberbagai daerah karena dianggap penting bagi keutuhan keanekaragaman hayati, seperti pengelolaan KEE koridor Orang Utan di Bentang Alam Wehea-Kelay Kalimantan Timur, pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Koridor Gajah di Bentang alam Kerinci-Seblat Bengkulu, pengelolaan KEE koridor Satwa Grup Sawit BGA Kalimantan Barat.

Diharapkan pengelolaan Koridor Hidupan Liar dapat memberi manfaat lebih terhadap konservasi keanekaragaman hayati di negeri ini.  (Wardiman Mas’ud)

Laboratorium Geospasial & Perubahan Iklim di Makassar Ciptakan Drone Berteknologi VTOL

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 30 Mei 2018 20:56

Medialingkungan.com – Minggu (27/05/2018), di Kabupaten Keerom Provinsi Papua dilakukan rapat terbatas yang dihadiri oleh Bupati, Ketua DPRD dan anggota DPRD, untuk membahas agenda percepatan pembangunan, penanganan banjir, serta desain pembangunan kota Kabupaten Keroom. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Dr. Abd. Rahman Razak. MS, dosen Ekonomi Universitas Hasanuddin sebagai staf ahli bupati dan Ir. Naufal, S.Hut, M.Hut. IPP, Kepala Lab. Geospasial & Perubahan Iklim, Fakultas Pertanian, Prodi Kehutanan, Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dalam pembahasan tersebut diketahui bahwa, dalam membangun basis data dilakukan dengan menggunakan drone berteknologi VTOL (Vertical Landing and Take Off) buatan Lab. Geospasial & Perubahan Iklim Fak. Pertanian, Prodi Kehutanan Muhammadiyah Makassar.

Melalui kegiatan tersebut Bupati Keerom Muhammad Markum, SH, MH, MM, mengatakan bahwa penggunaan drone pada level ini sudah sangat tepat dan efektif kita dapat melihat ini secara makro, detail, dan up to date.

VTOL adalah teknologi pesawat tanpa awak (drone) dengan model Fixed Wing. Dimana pada teknologi konvensional drone model fixed wing membutuhkan areal yang cukup luas sebagai tempat mendarat dan terbang atau runway. VTOL mengadopsi sistem drone multicopter/helicopter yang dapat terbang vertikal, tetapi pada saat telah mendapatkan ketinggian pesawat ini berubah menjadi mode pesawat fixed wing.

Drone model fixed wing sangat dibutuhkan karena terkait daya jelajah ataupun flight time yang tinggi. Untuk yang digunakan saat ini dapat terbang sejauh 40km dan masih tersisa energi sebesar 40%,” ujar Naufal.

Drone ini juga dibekali sensor RGB 20-megapixel dan dapat meng-cover areal 500 ha dalam satu kali terbang, sehingga dalam sehari dapat meng-cover area sebesar 1.500-4.000 ha.

“Saat ini kami tidak hanya berhasil membuat drone berteknologi VTOL, tapi kami sudah menggunakannya untuk kepentingan khalayak umum,” tambahnya.

Dari hasil rapid survey menggunakan drone tersebut diketahui bahwa masih ada sepanjang 79 km jalan pada setiap kampung yang akan ditingkatkan menjadi jalan aspal. Serta lebih dari 2.000m3 sedimentasi yang terjadi di Sungai Skanto. Desain perkotaan juga akan dibangun berdasarkan basis data tersebut. (Muchlas Dharmawan)

Dampak Perubahan Iklim Terhadap Gizi Padi

Published in Informasi & Teknologi
Minggu, 27 Mei 2018 13:45

Medialingkungan.com - Perubahan iklim sangat berdampak terhadap hilangnya kandungan gizi pada padi. Menurut para ahli, jika terdapat suatu lahan padi dengan konsentrasi karbondioksida yang tinggi maka kandungan gizi dan vitamin dari padi tersebut akan berkurang.  Hal ini diungkapkan dalam laporan jurnal Science Advence, Rabu (23/05/2018).

“Jika tidak bergegas, ya pasti akan ada dampak negatif pada kesehatan manusia,” ujar Kristie Ebi, peneliti kesehatan masyarakat dari Universitas Washington di Seattle dan salah satu penulis studi, dilansir The Washington Post, Rabu (23/05/2018).

Saat ini, atmosfer bumi memiliki konsentrasi rata – rata kandungan karbondioksida yaitu 410 bagian per juta dan akan terus bertambah sekitar 2 juta bagian per tahunnya.

Beberapa ahli dari berbagai negara yaitu Jepang, China, Australia, dan Amerika Serikat melakukan pengujian terhadap 18 varietas padi yang ditanam di luar ruangan dengan konsentrasi karbondioksia dari 568 hingga 590 bagian per juta.

Dari hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa padi yang ditanam pada area dengan konsentrasi karbondiosida yang tinggi membuat kandungan beberapa vitamin dalam padi yaitu B1, B2, B5, dan B9 (folat), sejumlah protein, zat besi, dan zinc semakin menurun.  Menurut penelitian yang dipimpin Chunwu Zhu dari Akademik Ilmu Pengetahuan China, beras menyumbang kira – kira 25 persen dari seluruh kalori global.

 “CO2 adalah faktor yang dapat membuat tanaman tumbuh lebih banyak,” kata Lewis Ziska, peneliti lain yang terlibat dalam studi ini.

“Namun, bila tumbuhan tumbuh lebih banyak bukan berarti kualitas tanaman akan bagus,” tambahnya.

Kandungan konsentrasi karbondioksida saat ini merupakan yang tertinggi sejak 800 ribu tahun terakhir yang memungkinkan bahwa kandungan gizi yang ada pada padi juga telah kehilangan separuhnya. 

Fakta lain juga mengungkapkan bahwa selain padi juga terdapat gizi gandum yang akan menurun apabila terjadi peningkatan suhu bumi (bumi menghangat).

Professor Chuck Rice, seorang Professor Agronomi dari Universitas Kansas mengatakan bahwa penurunan kandungan gizi yang diakibatkan oleh konsentrasi CO2 yang tinggi juga dialami oleh tanaman lain seperti kandungan protein dari biji – bijian turun dari 2 hingga 10 persen. (Nurul Fadilah)

SOS, Teknologi Untuk Lihat Perubahan Iklim di Mexico

Published in Informasi & Teknologi
Senin, 27 November 2017 21:52

Medialingkungan – Science on a Sphere (SOS), sebuah teknologi dengan tampilan bola dunia raksasa berisi 600 data, yang berdiameter 6 kaki dan beratnya 60 kilogram pertama di New Mexico berfungsi untuk menunjukkan data tentang bumi dan planet lain yang bervariasi dari dampak perubahan iklim, SOS dipasang di SFCC pada musim semi ini setelah lebih dari dua tahun perencanaan.

Periset di NOAA mengembangkan Science On a Sphere sebagai alat edukasi untuk membantu menggambarkan sains sistem bumi kepada orang-orang dari segala umur. Dilansir dari sos.noaa.gov menjelaskan bahwa informasi gambar animasi badai atmosfer, perubahan iklim, dan suhu laut dapat ditunjukkan di bola, yang digunakan untuk menjelaskan proses lingkungan yang terkadang rumit, dengan cara yang sekaligus intuitif dan menawan.

SOS memperluas tujuan program pendidikan NOAA, yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang lingkungan. Dengan menggunakan pengalaman dan pengetahuan kolektif NOAA tentang daratan, samudra, dan atmosfer bumi, NOAA menggunakan SOS sebagai instrumen untuk meningkatkan program pendidikan informal di pusat sains, universitas, dan di seluruh negeri. SOS tersedia untuk institusi manapun dan saat ini beroperasi di sejumlah fasilitas di AS.

Komite Penasihat SOS, Maria Meyer menjelaskan, “saya melihatnya sebagai model pendidikan  yang berbasis siswa. Model ini dapat dikembangkan prediksi, hipotesis dan membawa lebih banyak siswa ke dalam sains," dilansir dari abqjournal.com (27/11/11).

Lenny Gannes, Ketua Departemen Sains SFCC, dari abqjournal.com mengatakan bahwa perguruan tinggi tersebut secara perlahan memperkenalkan penggunaan bola saat staf sekolah belajar bagaimana cara mengoperasikannya. Dia telah menggunakan SOS untuk mendidik siswa tentang ilmu lingkungan tentang perubahan iklim, yang menunjukkan bagaimana bumi telah memanas selama berabad-abad yang lalu. (Ilham)

Superkatalis: Cara Baru Mengubah Gas Rumah Kaca

Published in Internasional
Selasa, 21 November 2017 17:19

Medialingkungan.com - Para ilmuwan menerangkan bagaimana mereka membuat katalis berbasis nikel tinggi yang diperkuat dengan timah dan cara untuk mengubah CO2 dan CH4 menjadi gas sintesis yang digunakan untuk menghasilkan bahan bakar dan berbagai bahan kimia yang bernilai. Hal ini diterbitkan dalam sebuah studi oleh Applied Catalysis B: Environmental.

Proyek katalis baru dan hemat energi merupakan bagian dari proyek the Engineering and Physical Sciences Research Council’s Global Research. Proyek ini sedang mencari cara untuk menekan dampak pemanasan global di Amerika Latin. Penelitian ini telah membuat Universitas Surrey mengajukan paten untuk golongan ‘supercatalysts’ baru untuk daur ulang CO2.

Menurut Global Carbon Project yang dilansir dari sciencedaily.com menerangkan bahwa, emisi CO2 global mengalami peningkatan pada 2017 untuk pertama kalinya dalam empat tahun, dengan output karbon yang terus bertambah rata-rata tiga persen tiap tahunnya sejak 2006.

Selagi teknologi penangkapan karbon sudah lazim, hal ini bisa memakan biaya, dan dalam kebanyakan kasus, akan memerlukan kondisi ekstrim dan tepat agar prosesnya berhasil. Diharapkan katalis baru ini akan membantu membuat teknologi ini semakin banyak tersedia diseluruh industri, dan lebih mudah dan murah untuk diekstraksi dari atmosfer.

“Ini adalah proyek yang sangat menarik dan kami yakin telah mencapai sesuatau yang dapat memberi dampak nyata pada emisi CO2,” kata Dr. Tomas R. Reina dari Universitas serrey dilansir dari sciencedaily.com.

“Tujuan kita semua mengejar ilmuwan iklim adalah cara untuk membalikkan dampak gas berbahaya diatmosfer kita - teknologi ini, yang dapat melihat gas-gas berbahaya tersebut tidak hanya dikeluarkan, namun diubah menjadi bahan bakar terbarukan untuk digunakan di negara-negara miskin,” lanjutnya.

Profesor Harvey Arellano-Garcia, Kepala Riset Departemen Teknik Kimia di Universitas Surrey menyatakan bahwa, dengan menggunakan CO2 dengan cara ini merupakan alternatif untuk metode penangkapan karbon tradisional yang dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap kesehatan planet kita. “Kami sekarang mencari mitra yang tepat dari industri untuk menggunakan teknologi ini dan mengubahnya menjadi proses yang mengubah dunia,” tegasnya. (Khalid Muhammad)

Permandian Hutan: Tren Baru Penduduk Jepang Mencari Ketenangan

Published in Informasi & Teknologi
Jumat, 10 November 2017 16:16

Medialingkungan.com - Jepang memiliki cara baru  terapi untuk melepas kehidupan urban yang padat penduduk dan aktivitas. Forest Bathing (Permandian Hutan) atau oleh orang jepang dinamakan “Shinrin Yoku” adalah kegiatan berjalan-jalan ke hutan. Kegiatan ini dilakukan demi mendapatkan ketenangan dalam diri.

Forest Bathing atau Shinrin Yoku merupakan istilah yang secara resmi diciptakan pada tahun 1982 dan mengacu pada gagasan 'perendaman di atmosfer hutan' dan hubungannya dengan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan.

Permandian hutan bukan hanya tentang menghabiskan waktu di alam, atau tentang hiking atau mendaki gunung. Lebih dari itu, Shinrin Yoku akan mengajarkan Anda bahwa hasil akhir bukanlah yang terpenting, melainkan upaya fokus menuju suatu tujuan.

Tidak sembarang hutan dapat menjadi tempat Shinrin Yoku, hutan harus memenuhi kriteria seperti kemampuan hutan untuk memuaskan lima indra. Suara air yang bergerak atau bisikan angin menembus pepohonan, nuansa lumut atau rumput lunak dan aroma hutan yang kuat.

Selain itu, Shinrin yoku membutuhkan seorang dengan kemampuan tertentu sebagai pemandu. Australia memiliki tiga pemandu yang telah terakreditasi. Salah seorang pemandu ialah Alex Gaut dari Lembaga Konservasi Australia. Seperti dilansir dari ABC Australia, Gaut menerangkan, Shirin Yoku terinspirasi dari kata karoshi, yang berarti kematian karena kerja paksa.

Gaut lanjut menjelaskan bahwa mesti benar-benar fokus untuk menjalankan kegiatan ini agar dapat menciptakan ketenangan dalam diri. Saat melakukan perjalanan dihutan, tak ada dering telepon ataupun media sosial yang menganggu. Shirin yoku juga diakhiri dengan acara minum teh bersama. 

Palitja Moore, salah seorang yang dipandu oleh Gaut menyatakan, kegiatan ini sangat unik, meskipun dia sudah biasa melakukan kegiatan hicking.

"Kegiatan ini membuat Anda benar-benar berhenti dari segala kesibukan dan saya kira sesekali melupakan hal-hal duniawi itu ada baiknya," ungkap Moore dilansir dari sindonews.com.

Beberapa penelitian di Jepang pun menunjukkan Shinrin Yoku dapat menurunkan tekanan darah dan tingkat stres seseorang. Qing Li, Presiden Japanese Society of Forest Medicine, dalam penelitiannya menemukan perasaan stres, cemas, serta marah pada respondennya menurun drastis setelah mengikuti kegiatan ini.

Tidak hanya itu, data penelitian yang dilansir dari notesofnomads.com menunjukkan bahwa manfaat positif Shinrin Yoku dapat bertahan lama. Sebagai contoh, sebuah studi pada tahun 2006 di mana 12 orang dari Tokyo, berusia 37-55, melakukan perjalanan dua malam ke sebuah hutan di Prefektur Nagano, di mana mereka melakukan tiga jalan santai dan tinggal di sebuah hotel di hutan, sel NK mereka meningkat sekitar 40-50%. Tidak hanya itu, statistik ini tetap meningkat hingga 30 hari setelah perjalanan, bahkan setelah kembali ke lingkungan perkotaan dan pekerjaan dan gaya hidup mereka sehari-hari. Perjalanan lain yang melibatkan 13 perawat wanita di tahun 2007 menghasilkan hasil yang serupa.

Saat ini, tidak hanya orang Jepang yang lebih banyak berusaha untuk mengunjungi basis terapi hutan di waktu senggang mereka, namun beberapa perusahaan mulai mengirim pegawainya pada akhir pekan ke retret terapi hutan sebagai cara alternatif untuk mengurangi tekanan pada angkatan kerja. (Khalid Muhammad)

COP23: Bambu Dapat Tekan Laju Perubahan Iklim

Published in Informasi & Teknologi
Kamis, 09 November 2017 14:30

Medialingkungan.com - Indonesia dapat memanfaatkan bambu sebagai salah satu solusi alternatif untuk pengendalian perubahan iklim. Selain mampu merehabilitasi lahan, menyerap dan menyimpan karbon, tanaman bambu juga dapat diolah menjadi sebuah produk yang bermanafaat dan bernilai ekonomis.

Gagasan ini terungkap dalam diskusi yang dipimpin oleh Penasehat Senior Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wahjudi Wardojo di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim (COP UNFCCC) ke-23 di Bonn, Jerman.

Arief Rabik selaku pendiri Yayasan Bambu Lestari, menyatakan bambu bisa ditanam di berbagai kondisi lahan.

“Bambu adalah tanaman juara untuk memperbaiki kondisi lahan,” terang Arief seperti yang dilansir dari kabar24.com.

Arief menjelaskan, satu rumpun tanaman bambu dapat menyimpan hingga 5000 liter air. Data ini menjelaskan bahwa bambu sangat baik sebagai tanaman pengatur tata air. Selain itu, bambu bisa menyerap 50 ton gas rumah kaca serta karbondioksida setiap tahunnya.

Saat ini, pihaknya sedang mendorong pengembangan 1000 Desa Bambu di seluruh Indonesia. Sikap Arief didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Mendukung pengembangan budidaya bambu, perwakilan Organisasi Kayu Tropis Internasional (ITTO), Desi Ekawati, menerangkan saat ini pihaknya sedang mengembangkan teknik pembibitan bambu. Bibit bambu ditanam setelah terbentuk rumpun yang terdiri dari beberapa tunas bambu.

“Dengan Spartan Seedling, rumpun bambu sudah mulai bisa dipanen secara selektif setelah 2-3 tahun. Padahal kalau penanaman konvensional yang hanya satu bibit, butuh 8-9 tahun,” jelasnya.

Pada agenda acara hari-2 Paviliun Indonesia telah membahas empat tema diskusi pada panel diskusi Paviliun Indonesia pada COP 23 UNFCCC yang terdiri dari : Dialog Antar Agama tentang Inisiatif Kehidupan secara Berkelanjutan, Solusi Dengan Perspektif Gender untuk Pengendalian Perubahan Iklim dengan moderator Dr Agus Pambagyo Penasehat Senior Menteri LHK, dan tema Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Manfaatnya Bagi Masyarakat, dan Pengembangan Industri Sumberdaya Bambu Indonesia yang Menarik Pembeli, dengan moderator Wahjudi Wardojo, Penasehat Senior Menteri LHK. (Khalid Muhammad/Dedy)

Taponesia Tawarkan Bisnis Berbasis Lingkungan di YSE 2017

Published in Informasi & Teknologi
Selasa, 07 November 2017 21:46

Medialingkungan.com - Tanam Pohon Indonesia (Taponesia) turut andil dalam ajang Young Social Entrepreneurs (YSE) 2017 yang diselenggarakan oleh Singapore International Foundation (SIF) pada jumat (04/11/17) lalu di Suntec Singapore Convention and Exhibition Centre. Kegiatan ini diikuti 16 tim yang terdiri dari 37 pemuda dari 10 negara.

Taponesia merupakan aplikasi platform agroforestri digital yang membantu petani memanfaatkan lahan kritis dengan teknologi agrikultur yang terintegrasi sekaligus menarik investor untuk memperoleh pendapatan yang berkelanjutan.

Menurut salah satu penggagas Taponesia, Nur Maulidiah El Fajr, bisnis yang dikembangkan taponesia bertujuan untuk mengajak perusahaan besar untuk mengalokasikan dana Corporate Social Responsibility untuk membeli pohon yang telah disiapkan.

“Untuk saat ini kami masih melakukannya dengan bisnis to bisnis, namun ke depannya kami akan mengembangkan untuk perorangan,” Ujar Nur, seperti yang dikutip dari tempo.co.

Sejalan dengan visi Taponesia yaitu ‘Menjadi Perusahaan Agroforestri Berkelanjutan Dengan Wawasan Global’, dan dengan tujuan untuk menjalankan bisnis dengan efektif dan efisien, maka Taponesia menjalin kerjasama dengan United Nations For Regional Information Centre di Belgia melalui Deputi Direktur yang berfokus pada penerapan Sustainable Development Goals atau SDGs.

Jean Tan, Direktur Eksekutif dari Singapore International Foundation, mengatakan bahwa ajang YSE 2017 ini akan menjadi batu loncatan bagi para wirausaha muda untuk memulai atau meningkatkan bisnis sosial mereka, menciptakan koneksi secara internasional, dan menjembatani perbedaan budaya untuk dunia yang lebih baik.

Program yang diselenggarakan SIF ini didukung oleh sejumlah organisasi termasuk penyandang dana, antara lain Asia Philanthropic Ventures, Deutsche Bank dan Ngee Ann Development Pte. Ltd. dan mitra lokal serta lembaga internasional lainnya, seperti Ashoka, Intellecap, Ogilvy dan Mather, SAP, Singapore Management University, Tata Institute of Social Sciences, Unilever, Tsinghua University, dan YES Bank. (Gede Tragya)

Ilmuwan: Pemanasan Global Ancam Ketersediaan Kopi Dunia

Published in Internasional
Selasa, 25 Juli 2017 17:28

Medialingkungan.com – Kopi menjadi sesuatu yang popular saat ini, seperti yang dilansir oleh Envirotech.com sejak tahun 1980 konsumsi kopi meningkat dua kali lipat sampai tahun berikutnya. Sedangkan statistik International Coffee Organization (ICO) memprediksi bahwa pada tahun 2017 ini konsumsi biji kopi akan meningkat untuk tiga tahun kedepan.

Namun, pemanasan global mengancam ketersediaan biji kopi diseluruh dunia menurut ilmuwan dari Kew Gardens di London. Peningkatan suhu global berpotensi menyebabkan pengurangan jumlah lahan yang sesuai untuk produksi kopi pada tahun-tahun yang akan datang. Kurangnya persediaan kopi, rendahnya kualitas kopi, dan tingginya harga penjualan diakui sebagai akibat dari perubahan iklim.

Laporan hasil publikasi jurnal di Nature Plants menerangkan bahwa jika pemanasan global dibiarkan terjadi begitu saja maka hal tersebut dapat berdampak pada penyusutan lahan untuk biji kopi Arabica setengah di Amerika dan dua pertiga di Asia Tenggara.

Tahun ini, akibat kekeringan yang berkepanjangan untuk pertama kalinya pemerintah Brazil mempertimbangkan untuk mengimpor biji kopinya karena menurunnya hasil panen dan meningkatnya permintaan biji kopi dalam negeri.

Lain halnya dengan Ethiopia yang merupakan rumah bagi biji kopi Arabika menghadapi masalah yang lebih besar lagi. Sekitar 60 persen dari wilayah kopi di negara itu bisa hilang apabila emisi rumah kaca terus meningkat yang menyebabkan suhu global meningkat sebanyak 4o C. Hal tersebut menjadi ancaman bagi sekitar 16 persen atau 15 juta jiwa masyarakat yang menggantungkan penghidupannya pada kopi. (Suterayani)

Ternyata Aren Dapat Dimanfaatkan Sebagai Energi Ramah Lingkungan

Published in Informasi & Teknologi
Senin, 13 Maret 2017 15:17

Medialingkungan.com - Nira dari pohon aren (Anggera pinnata) ternyata bisa dijadikan alernatif energi ramah lingkungan. Adalah Boalemo, sebuah daerah di Gorontalo yang telah mencoba memanfaatkan nira aren menjadi bioethanol. Berdasarkan hasil inventarisasi KPHP Boalemo, di wilayah ini terdapat 15.000 pohon aren yang tumbuh alami dengan produktivitas yang cukup tinggi. Satu pohon bisa menghasilkan 15-20 liter aren perhari.

Sebelumnya, warga Boalemo hanya memanfaatkan nira aren untuk keperluan pangan saja. Namun berkat pendampingan KPHP Boalemo, kini nira aren dimanfaatkan menjadi bioethanol.

 “Kami ingin memanfaatkan jadi alternatif energi. Salah satunya desa binaan kami, Desa Bendungan Kecamatan Manangguh,” kata Dwi Sudharto, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan KLHK di Jakarta, Jumat (10/03) seperti dilansir Mongabay.

Dilihat dari segi ekonomi, mengelola nira aren menjadi bioethanol lebih menjanjikan. Untuk mengolah nira aren jadi gula, dalam setiap 50 liter akan menghasilkan tujuh kg. Dengan asumsi harga Rp80.000, keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 5.000 per kg. Begitupun pengolahan panganan lain, seperti gula semut untung sebesar Rp 4.688 per kg.

Jika mengolah nira menjadi bioethanol, setiap 25 liter nira aren yang diolah dengan katalisator bisa menghasilkan dua liter bioethanol dengan kadar 90-92%. Yang diolah tanpa katalisator kadar ethanolnya 72%. Hasil bioethanol 216.000 liter perbulan dengan biaya produksi Rp6.700. Dengan asumsi harga jual bioethanol-mix per liter Rp10.000, harga jual Rp440.000 atau keuntungan yang diperoleh berkisar Rp145.200.

“Harusnya ini yang kita kembangkan. Jangan tabung gas mahal itu. Kalau alat ini kita buat dan serahkan ke desa-desa, yang notabene bahan baku ada, akan sangat menguntungkan. Hak paten ada di kita. Kalau mau tinggal minta gambar, masyarakat bisa membuat alatnya. Atau kalau tak menegrti, bisa undang kami. Akan mudah masalah kompor ini. Jadi kita bisa menghemat banyak sekali,” katanya.

Meski begitu, tantangan dalam mengembangkan ini ada pada pendanaan. Untuk itu, perlu peran dan komitmen banyak pihak. Selain itu, perlu ada peningkatan pemberdayaan kelembagaan demi keberlangsungan usaha.

“Peningkatan kapasitas masyarakat perlu agar mampu melaksanakan usaha mandiri. Disini peran lembaga litbang dan perguruan tinggi.”

Selain itu, persoalan kesinambungan bahan baku juga perlu diperhatikan. Penanaman varietas unggul juga penting, karena saat ini aren hanya ditumbuhkan secara alami. Balai Besar Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta, katanya, telah memulai penelitian pemuliaan aren.

“Telah diperoleh varietas unggul aren genjah Kutim yang dapat disadap sampai dengan mayang ketujuh, mulai umur lima sampai enam tahun, menghasilkan nira 25 liter per mayang perhari. Aren tak terlalu tinggi memudahkan pemanenan. Ia dapat dikembangkan di daerah-daerah yang ciri ekologi sama dengan Kutai Timur.”

Varietas bibit aren unggul lain “Dalam Akel Toumuung.” Ia bisa memproduksi nira dengan hasil tinggi, rata-rata lebih dari 30 liter aren per mayang perhari dengan masa sadap lebih dari tiga bulan.

“Nira aren juga bisa dikembangkan jadi bioavtur. Pengolahan bioavtur melalui proses konversi biomassa berupa serat, gula, tepung dan minyak nabati. Kami sedang menjajaki kerjasama penelitian mengenai ini dengan ITB,” katanya.

Tahap awal ini Desa Bendungan sebagai wilayah percontohan. Dia berharap, keberhasilan desa ini bisa direplikasi wilayah lain. Terlebih, katanya, di Sulawesi dari utara sampai selatan yang kaya akan aren. (Muchlas Dharmawan)

Halaman 1 dari 17

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini