medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Ternyata Bangunan Hijau Dapat Tingkatkan Produktivitas Kerja

Published in Informasi & Teknologi
Sabtu, 17 Desember 2016 18:14

Medialingkungan.com – Sebuah studi baru menunjukkan bahwa orang yang bekerja di bangunan hijau dapat berpikir lebih baik di kantor, dan tidur lebih baik ketika mereka pulang kerumah. Seperti dilansir The Guardian, penelitian menunjukkan bahwa ventilasi, pencahayaan, dan kontrol panas yang baik dalam ruangan dapat meningkatkan performa para pekerja dan dapat meningkatkan produktivitas sampai 1000 USD per tahun. Hal ini juga menunjukkan bahwa aspek subjektif, seperti desain ruangan yang indah, dapat membuat para pekerja lebih bahagia, dan lebih produktif.

Dalam penelitian ini, dianalisis pekerja pada bangunan hijau bersertifikat di lima kota di Amerika Serikat, kemudian membandingkannya dengan pekerja lain di kota yang sama yang digunakan di kantor yang berbeda, yang dimiliki oleh perusahaan yang sama.

"Kami melihat skor fungsi kognitif yang lebih tinggi bagi pekerja di bangunan bersertifikat hijau, dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di gedung-gedung yang masih berkinerja tinggi, tetapi yang belum mencapai sertifikasi hijau," kata Dr. Joseph Allen, Director of the Healthy Buildings program at the Harvard Center for Health and the Global Environment, di Harvard TH Chan School of Public Health, Amerika Serikat.

Para pekerja di bangunan hijau mencetak lebih dari 25 persen lebih tinggi dalam tes standar yang menggunakan game computer seperti The Sims untuk menilai kemampuan berpikir dan merencananakan.

"Alat ini menilai kinerja pengambilan keputusan yang kompleks, yang meniru pengambilan keputusan dunia nyata yang kita semua hadapi setiap hari dalam rutinitas kerja normal kami," kata Allen.

Kualitas tidur para pekerja juga dinilai menggunakan jam tangan khusus dengan sensor yang mengukur lama waktu tidur, serta kegelisahan-kegelisahan dalam tidur (tossing, turning dan interupsi). Mereka yang bekerja di kantor hijau memiliki skor tidur 6 persen lebih tinggi.

"Saya rasa ini adalah salah satu temuan paling provokatif dalam penelitian ini - itu menunjukkan bahwa bangunan berdampak kami setelah delapan jam kami berada di sana untuk hari pekerjaan kami," kata Allen.

Selanjutnya, para pekerja bangunan hijau dilaporkan 30 persen lebih sedikit gejala “sick building syndrome”, seperti sakit kepala, iritasi mata, dan pernapasan. Bangunan hijau memiliki ventilasi yang lebih baik oleh karenanya dapat menurunkan tingkat karbon dioksida dan bahan kimia yang disebut Volatile Organic Compounds (VOC) yang dihasilkan oleh produk furnitur dan karpet.

Bangunan hijau juga memiiliki pencahayaan yang baik, dengan lebih banyak memanfaatkan cahaya matahari. Penelitian telah menunjukkan bahwa hal ini dapat membantu memperkuat ritme sehari-hari serta meningkatkan kualitas tidur masyarakat.

Triliunan dollar AS telah dihabiskan untuk bangunan baru dalam lima tahun terakhir, sekitar sepertiga dari yang dihabiskan untuk bangunan hijau. Allen mengatakan penerapan bangunan hijau tidak lebih diutamakan karena persoalan politis dalam pemerintahan. Ini berarti biaya yang dikeluarkan Departemen Fasilitas tidak sebanding dengan manfaat ekonomi dan kesehatan pada perusahaan.

"Saya benar-benar berharap. Saya melihat sebuah komunitas real estate yang terlibat pada topik ini dan mulai mengerti bahwa mereka dapat membuat keputusan sekitar kesehatan yang akan berdampak pada orang-orang kelas bawah," tegas Allen. (Muchlas Dharmawan)

Tiongkok Sulap Kereta Bawah Tanah Jadi Hutan Mini

Published in Internasional
Jumat, 02 Desember 2016 14:17

Medialingkungan.com - Sebuah kereta di Hangzhou, Tiongkok mendesain salah satu gerbong kereta bawah tanahnya yang dipenuhi dengan dedaunan hijau. Ini adalah salah satu upaya untuk mempromosikan tentang transportasi yang ramah lingkungan, sebab gaya hidup perkotaan di Tiongkok sangat identik dengan kereta beton.

Seperti dilansir Daily Mail UK, Kereta bawah tanah ini sengaja didesain layaknya berada di dalam hutan, lengkap dengan pot tanaman, lumut, dan daun. Hal ini bertujuan untuk mempromosikan emisi rendah karbon dan peduli go green di kota.

Dekorasi hutan mini di dalam gerbong dan beberapa pohon besar pada kedua sisi serta tanaman rambat pada tiang untuk pegangan tangan. Pada bagian lantainya terlihat ada rumput berwarna hijau, dan pada bangku kereta terdapat rumput sintetis yang juga bisa diduduki.

Kereta bawah tanah ini menjadi viral di Tiongkok, dan beberapa netizen telah merespon tentang keberadaan kereta tersebut.

Salah satu pengguna situs berita iFeng.com misalnya, ia mengakatakan, "Ini menyegarkan, melihat beberapa tanaman hijau ketika Anda lelah.”

Sementara itu, ada juga yang berkomentar sebaliknya, "Hutan ini memakai banyak ruang, tidak praktis sama sekali.”

Berbagai desain kereta bawah tanah yang menarik, dan bernilai seni memang sudah seringkali kita temui di seluruh dunia. Namun, hanya di Tiongkok-lah yang menggunakan desain mirip hutan untuk kereta bawah tanah nya. Gerbong kereta ini hanya dibuka selama 12 jam, dan telah ditutup sejak 28 November lalu. (Muchlas Dharmawan)

Ini Dia Tips-Tips Atasi Sampah Ala Bapak Nol Sampah

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 23 November 2016 15:52

Medialingkungan.com – 30 tahun bergelut dengan sampah, menjadikan Prof. Paul Connett, Ph.D menjadi salah satu pemerhati sampah dunia. Paul yang dijuluki sebagai Bapak Nol Sampah itu pun terlibat dalam gerakan advokasi menolak pembakaran sampah sebagai solusi pengelolaan sampah. Menurutnya membakar sampah membutuhkan lebih banyak energy, contohnya saat membawa sampah ke tempat pembakaran, konsumsi bahan bakar sampai kepada pembakaran sampah itu sendiri dan juga justru akan menimbulkan masalah lain seperti mengubah sampah menjadi racun dan asap.

Paul yang juga berprofesi sebagai Professor kimia lingkungan  di St. Lawrence Universiy, New York tersebut pekan lalu mengunjungi Indonesia tepatnya di Bali dan bertemu dengan Wali Kota Denpasar, tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Bali, aktivis lingkungan, dan masyarakat untuk mengenalkan kepada mereka metode penanganan sampah yang efektif di Indonesia.

Seperti yang dilansir oleh Mongabay Indonesia, Paul menawarkan sepuluh langkah untuk mengatasi masalah tersebut berdasarkan hasil kajiannya. Namun, dia mengatakan, langkah tersebut juga disesuaikan dengan konteks lokal. Apa yang sudah berhasil diterapkan di Amerika Serikat dan Kanada, misalnya, belum tentu bisa diterapkan di Indonesia.

Lima langkah pertama yakni pengelolaan sampah organik menjadi kompos; memilah sampah mulai dari setiap rumah tangga; mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah; mendaur ulang; serta memperbaiki dan menggunakan ulang (reuse).

Keberhasilan lima langkah pertama tersebut, lanjutnya, bisa mengurangi sampah sampai 80 persen. Hal ini berbeda dengan incinerator yang justru mengubah sampah menjadi racun dan asap.

Paul menjelaskan bahwa di Los Angeles, Amerika Serikat daur ulang sampah justru mendatangkan pendapatan baru bagi masyarakat. Dari 72.000 ton sampah yang bisa di daur ulang di kota tersebut memberikan pendapatan sekitar 39,6 juta USD per tahun kepada masyarakat. Menurutnya dengan mendaur ulang sampah, warga mendapatkan manfaat ekonomi, menciptakan lapangan kerja serta kesehatan yang lebih baik.

Lima langkah selanjutnya, lebih pada tahap pengurangan residu yaitu adanya insentif ekonomi dalam mendaur ulang sampah; inisiatif untuk mengurangi sampah; pemisahan fasilitas pengolahan sampah; adanya pusat riset nol sampah; serta desain produk yang lebih ramah lingkungan.

Langkah-langkah pengurangan sampah tersebut juga berhasil di beberapa negara, seperti Italia dan Amerika Serikat. Di Italia, dia memberikan contoh, sudah ada lebih dari 1.000 komunitas telah membuat alih rupa sampah (diversion) hingga 70 persen. Komunitas lain bahkan mencapai 90 persen.

Direktur Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, Catur Yudha Hariani menanggapi positif beberapa hal yang di sampaikan Paul pada pertemuan tersebut. Menurutnya, sampah yang sudah overload di Bali harus di tanggapi dengan benar yaitu dengan memilah sampah mulai dari sumbernya itu sendiri.

Catur yang saat ini bersama dengan PPLH aktif melakukan pendidikan pada warga untuk mengelola sampah mengaku perlu adanya edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat dalam hal pengelolaan sampah di Bali dan hal tersebut menjadi  tanggung jawab bersama. (Suterayani)

Tingkatkan Taraf Hidup Masyarakat, USDA Ciptakan 222 Penemuan Baru

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 23 November 2016 14:50

Medialingkungan.com - Departemen Pertanian Amerika Serikat (United States Department of Agriculture, USDA) telah membuat terobosan baru dalam sains dan teknologi. Sekitar 222 penemuan baru, 94 paten yang telah diberikan dan sementara menyusul 125 permohonan paten untuk beberapa temuan-temuan baru tersebut. Pihak USDA melalui berita press release yang dikirimkan kepada pihak kami mengatakan bahwa penemuan tersebut telah menciptakan peluang untuk meningkatkan kehidupan masyarakat di Amerika Serikat.

Penelitian-penelitian tersebut telah dilakukan oleh pihak USDA bekerja sama dengan Universitas di Amerika Serikat dan para pelaku usaha kecil yang memiliki potensi untuk pemasaran. Adapun beberapa hasil penelitian unggulan yang dirilis kemarin (22/11) adalah chip computer yang terbuat dari serat kayu, anti nyamuk untuk personel militer AS, pemetik apel robotic, panci anti bakteri, pompa irigasi bertenaga surya yang hemat biaya untuk masyarakat terpencil di AS dan berbagai produk unggulan lainnya.

“Dari pakaian katun press permanen, produksi massal penisilin, jus jeruk beku yang paling efektif dan banyak digunakan pengusir nyamuk, ilmuwan dan mitra penelitian telah mengubah dunia dan setiap tahun pekerjaan mereka mengarah menuju kemajuan baru. Studi menunjukkan bahwa setiap dolar yang diinvestasikan dalam penelitian pertanian, mendapatkan keuntungan sekitar 20 USD ke ekonomi kami. Mengingat bahwa kita sangat  agresif dalam bekerja untuk mempercepat pengembangan dan transfer teknologi baru ke pasar. " ujar Menteri Pertanian Tom Vilsack.

Sejak 2009, USDA telah menginvestasikan 19 Milyar USD kepada penelitian intramural dan luar sekolah. Selama waktu itu, penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan USDA telah menghasilkan 883 aplikasi paten yang diajukan, 405 paten yang dikeluarkan dan 1.151 penemuan  baru yang mencakup berbagai topik dan penemuan. (Suterayani)

Partikel Beracun Polusi Udara Ditemukan dalam Otak Manusia

Published in Informasi & Teknologi
Jumat, 09 September 2016 10:47

Medialingkungan.com - Partikel magnetik menit yang biasanya ditemukan pada polusi udara, kini terdeteksi dalam  jumlah melimpah pada jaringan otak manusia, ungkap sebuah studi yang dilansir oleh The Guardian.

Hasil deteksi partikel jaringan otak dari 37 orang yang tinggal di Meksiko dan di Manchester, UK ditemukan sangat magnetik , sehingga menimbulkan kekhawatiran karena penelitian terbaru menemukan adanya hubungan antara partikel magnetit dan penyakit Alzheimer. Namun, langkah masih jauh untuk membuktikan bahwa partikel polusi udara dapat menyebabkan atau memperburuk Alzheimer.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal Proceedings dari National Academy of Sciences, menambah bukti yang menunjukkan bahwa polusi udara tingkat rendahpun dapat membahayakan kesehatan manusia. Banyak penelitian yang menunjukkan bagaimana polusi berpengaruh buruk pada sistem kardiovaskular, dan dapat menyebabkan penyakit paru-paru dan penyakit jantung. Namun para ilmuwan semakin menyadari bahwa efek dari polusi dapat meluas ke daerah lain seperti otak dan kehamilan .

Para peneliti di belakang studi ini menemukan bahwa magnetit polutan memasuki otak melalui saraf penciuman, saraf yang sama yang menghubungkan hidung dengan otak untuk mencium bau. Partikel yang masuk memungkinkan mereka untuk menyebar dengan mudah ke daerah otak termasuk hipokampus dan korteks serebral- daerah yang terkena penyakit Alzheimer.

Profesor Barbara Maher dari Lancaster University, yang memimpin penelitian, menjelaskan bahwa partikel magnetit dapat merusak otak dan menyebabkan kerusakan sel dan akhirnya kematian sel,- ini merupakan keunggulan dari penyakit neurodegenerative termasuk Alzheimer.

"Kami menemukan untuk pertama kalinya bahwa ada jutaan kristal magnetik kecil di dalam otak manusia dimana seharusnya kristal ini tidak ada," kata Barbara.

"Ini adalah penemuan, dan sekarang yang harus dilakukan adalah pemeriksaan lebih intensif sebagai faktor resiko lingkungan yang potensial yang tidak dapat diabaikan dan waran penelitian lebih lanjut.", tambahnya.

Polusi udara merupakan krisis kesehatan global yang membunuh lebih banyak dibandingkan malaria dan HIV/Aids dan telah lama dikaitkan dengan penyakit jantung, paru-paru dan stroke.  Penelitian terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lebih dari 80% dari penduduk perkotaan dunia hidup di daerah di mana kualitas udara tidak memenuhi  standar kesehatan. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa polusi udara memberikan kontribusi pada jutaan kematian prematur setiap tahunnya (Mirawati)

Perubahan Iklim Ancam Populasi Capung

Published in Informasi & Teknologi
Selasa, 12 Juli 2016 20:49

Medialingkungan.com – Dampak dari perubahan iklim pada kehidupan sehari-hari kini ini makin terasa. Misalnya, curah hujan yang kian tinggi, musim kemarau yang lebih panjang, fenomena El Nino dan La Nina, dan sekarang juga telah berdampak pada penurunan populasi capung.

Capung merupakan serangga akuatik, dimana hidupnya berganutng pada kualitas air. Capung mengalami tiga fase utama dalam hidup yaitu telur, nimfa, dan capung dewasa (metamorfosis tidak sempurna). Dalam keseluruhan fase tersebut, dua fase di antaranya mengharuskan mereka hidup di dalam air yaitu ketika menjadi telur dan nimfa.

Sebagian besar capung hanya akan tinggal di lingkungan bersih sehingga bisa menjadi indikator kualitas air. Jika air sudah tercemar bahan beracun, capung tidak akan ada di sana. Ketika kondisi perairan tercemar, siklus hidup capung terganggu. Populasinya akan menurun. Begitu pula jika air di habitat mereka mengalami peningkatan suhu atau penurunan kualitasnya.

Beberapa sumber menyebut saat ini ada sekitar 6.000 jenis capung di seluruh dunia. Indonesia memiliki sekitar 750 – 900 jenis atau 12,5 sampai 15 persen dari total jenis capung di seluruh dunia. Banyaknya jenis capung Indonesia hanya kalah oleh Brazil.

Saat ini,belum ada riset khusus bagaimana dampak perubahan iklim terhadap populasi capung di Indonesia.Riset tentang dampak perubahan iklim terhadap capung di dunia pun masih sangat terbatas. Salah satunya Jurnal BioRisk 5 edisi khusus pada 2010 yang membahas topik tersebut. Jurnal ini menyampaikan laporan peneliti Eropa, Afrika, dan Amerika tentang bagaimana dampak perubahan iklim di beberapa negara.

Kesimpulan para peneliti tersebut yakni, capung memang bisa menjadi indikator dampak perubahan iklim. Jeffrey A. McNeely dalam pengantar jurnal menyatakan, capung bisa menjadi alat untuk memantau perubahan iklim dengan relatif mudah karena beberapa alasan.Capung mudah diidentifikasi, mereka sangat sensitif terhadap perubahan termasuk iklim, tiap spesies memiliki distribusi berbeda-beda, dan mereka berkembang biak relatif cepat.

“Penelitian terkini juga menunjukkan bahwa penyebaran capung juga sangat sensitif terhadap perubahan iklim,” tulis Jeffrey.

Josef Settele dalam jurnal yang sama menyatakan perubahan iklim termasuk salah satu dari empat penyebab utama berkurangnya keragaman capung. Tiga penyebab lain adalah penggunaan bahan kimia, invasi biologis, dan hilangnya penyerbuk.

Pernyataan para ahli capung dunia tersebut senada dengan jawaban Wahyu Sigit Rhd, pendiri Indonesian Dragonfly Society (IDS), komunitas pecinta capung. Perubahan iklim pasti berdampak terhadap populasi capung.“Logika saja, kita sekarang pun merasa lebih tidak nyaman. Gerah dengan perubahan suhu. Apalagi capung, serangga yang lebih sensitif terhadap perubahan,” kata Wahyu. Dia memberikan contoh satu spesies capung di Banyuwangi, Jawa Timur yang dulu ada tapi sekarang tidak ada lagi.

Suputa, ahli serangga dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, menyatakan perubahan iklim jelas menyebabkan kenaikan suhu air, yang mempengaruhi kadar oksigen di dalamnya. Makin panas air, maka makin sedikit kadar oksigennya. “Otomatis capung akan susah untuk hidup,” ujar Suputa.

Dilansir oleh MongabayIndonesia, telah dilakukan pengamatan di tiga wilayah di Bali yang menunjukkan adanya hubungan antara perbedaan suhu dengan penurunan populasi capung.Selain karena banyaknya penggunaan bahan kimia dalam pertanian, juga karena perubahan iklim.

Lokasi pertama di persawahan Banjar Junjungan, Kecamatan Ubud, Gianyar, Bali. Berdasarkan pengamatan secara amatir pada Juni 2015 dan Oktober 2015, di kawasan ini ditemukan jenis Capungsambar hijau (Orthetrum sabina), Capungtengger jala tunggal (Neurothemis ramburii), Capung sayap oranye (Brachythemis contaminata), dan Capungsambar garishitam (Crocothemis servilia).

Dari empat jenis capung itu, hanya ditemukan 12 ekor di lahan seluas kurang lebih 3 hektar.

“Padahal, zaman saya kecil dulu, kalau bulan-bulan ini capungnya sudah tak terhitung lagi. Sekarang paling banyak hanya separuhnya,”kata Ngakan Made Pinia, petani di Junjungan.

Menurut Ngakan, makin hilangnya capung di desanya terjadi bersamaan dengan makin meningkatnya suhu di Junjungan.

Lokasi kedua di Desa Peguyangan, Denpasar Utara. Dari pengamatan di sini, ditemukan spesies-spesies yang cenderung lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan yaitu Orthetrum sabinaBrachythemis contaminata, dan Crocothemis servillia.Jumlah capung dari tiga spesies itu tak lebih dari 10. Padahal, pengamatan dilakukan tiga kali pada waktu berbeda-beda.

Pengamatan ketiga di Jatiluwih, Tabanan. Jatiluwih merupakan kawasan persawahan di kaki Gunung Batukaru, salah satu gunung di Bali. Hasil satu kali pengamatan pada Oktober 2015 menunjukkan di sini terdapat lebih banyak spesies capung yang lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan. Empat spesies yang ditemukan di Denpasar dan Ubud juga ada di sini dengan jumlah lebih banyak.

Selain empat jenis yang ditemukan di Denpasar dan Ubud, ada lima jenis lain yang ditemukan di kawasan Jatiluwih yaitu Capungsambar cincinhitam (Onychothemis culminicola), Capungtengger biru (Diplacodes trivialis), Capungsambar merah (Orthetrum pruinosum), Capungjarum centil (Agriocnemis femina), dan Capungjarum gelap (Prodasineura autumnalis).

Umumnya mereka terbang atau hinggap di sekitar saluran irigasi. Dari sisi jumlah, capung di Jatiluwih juga lebih banyak. Jumlahnya lebih dari 30-an yang tersebar di beberapa titik.

Perbedaan beragam jenis maupun populasi capung di Denpasar, Ubud, dan Jatiluwih bisa jadi berhubungan pula dengan perbedaan suhu di tiga wilayah tersebut. Menurut data BMKG, suhu Denpasar berkisar 25,4 sampai 28,5 derajat Celcius, Ubud berkisar 24,1 sampai 25,7 derajat Celcius, sedangkan Jatiluwih antara 24 sampai 30 derajat Celcius.

Secara umum, Denpasar yang berada di dataran rendah memiliki kelembapan 58 sampai 85 persen. Ubud di tengah pulau memiliki kelembapan sekitar 65 sampai 90 persen. Adapun Jatiluwih, di kaki Gunung Batukaru, Tabanan, memiliki kelembapan 67 sampai 90 persen.

Dari data suhu dan kelembapan tiga wilayah itu terlihat bahwa daerah relatif lebih dingin dan lebih lembap memiliki jenis maupun jumlah capung lebih banyak. Selain faktor suhu, kelestarian lingkungan termasuk dari alih fungsi lahan dan bahan kimia pertanian juga amat berperan. Namun, nyatanya, daerah-daerah dingin seperti Jatiluwih pun kini kian mengalami peningkatan suhu serupa Denpasar dan Ubud.

Jika tidak ada mitigasi lebih serius dalam menangani perubahan iklim, bisa jadi capung di tiga wilayah itu akan menjadi yang terakhir.{Muchlas Dharmawan/Mongabay Indonesia}

Energi Matahari, Solusi Alternatif Energi Terbarukan di Indonesia

Published in Informasi & Teknologi
Selasa, 17 Mei 2016 11:15

Medialingkungan.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengharapkan agar ke depan Indonesia lebih mengembangkan teknologi energi matahari sebagai alternatif energi terbarukan. Berdasarkan data dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi pemanfaatan energi matahari di Indonesia diperkirakan mencapai 4,8 KWh/m2/hari atau setara dengan 112.000 GWp (Gigawatt-peak).

“Angka ini bisa jadi lebih besar lagi bila kita melihat potensi pengembangan di wilayah Indonesia timur,” kata Bambang Subiyanto, Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI, pada acara Focus Group Discussion (FGD) Renewable Energy And Applications of Energy Management System di Jakarta, Selasa (10/05), seperti yang dilansir pada laman resmi LIPI -- lipi.go.id.
 
Menurutnya, potensi ini akan tergarap optimal bila salah satu penelitian energi di Indonesia bisa diarahkan ke energi matahari. “Teknologi yang ada saat ini masih tergolong mahal untuk diterapkan. Untuk itu, dibutuhkan dukungan penelitian teknologi baru yang lebih efisien dan murah,” kata Bambang.
 
Bambang berharap penelitian teknologi baru energi matahari ini mendapat dukungan dari berbagai kalangan dengan saling menjalin komunikasi efektif, baik antara pemerintah, lembaga penelitian, industri, dan pihak lainnya.

“Kalau sinergi terjalin, maka siklus pengembangan teknologi matahari akan menunjukkan arah positif dan suatu saat energi ini akan semakin ekonomis untuk diterapkan di Indonesia,” ujarnya.

Ketersediaan energi di negeri ini sendiri masih didominasi oleh pemakaian energi fosil yang hingga saat ini memberikan peran lebih dari 70% dari ketersediaan energi nasional. Sementara, Indonesia menargetkan peningkatan pasokan energi terbarukan dari target 23% pada tahun 2025 menjadi 31% pada tahun 2050. {Muchlas Dharmawan}

Wow, Ternyata Ketumbar Dapat Jernihkan Air Keruh

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 27 April 2016 23:43

Medialingkungan.com - Ketumbar, rempah khas Meksiko dan Asia Tenggara, tentu tak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari kita. Ternyata rempah ini bermanfaat sebagai bahan “biosorbent” atau penyerap biomassa yang mampu menyaring masuknya logam berat ke dalam air tanah. Ini karena daun ketumbar mengandung senyawa kimia terutama jenis borneol dan cilantro yang mampu membunuh bakteri E. coli, yaitu patogen penyebab diare.

Douglas Schauer, Kepala Program Teknologi Kimia di Ivy Tech Community College, Lafayette, Indiana, bersama mahasiswa di Mexico City, meneliti sejumlah tanaman yang bisa digunakan untuk menyaring limbah pabrik dari air tanah.

Penelitian dimulai dengan cara mengeringkan daun ketumbar, setelah kering, daun ketumbar dihancurkan. Kemudian, serbuk daun ketumbar dimasukkan ke dalam air yang mengandung timbal. Lalu dikocok sedikit dan biarkan partikel-partikel mengendap. Dari situlah jumlah timbal bisa dilihat.

Setelah diteliti, daun ketumbar yang dikeringkan memiliki sifat bioabsorption, sama seperti arang aktif, sebagai penyaring air, dan mampu menyerap logam. Tim Schauer menggunakan daun ketumbar yang sudah dikeringkan, kemudian diletakan ke dalam aliran pipa air yang keruh. Hasilnya, setelah melewati daun ketumbar itu, air terlihat lebih jernih. 

"Harapan kami, masyarakat di negara berkembang bisa mengaplikasikan penelitian kami untuk menyaring air,” ujar Schauer seperti yang dilansir VOA Indonesia.

Selanjutnya, Schauer menjelaskan “Ambil satu genggam daun ketumbar yang telah dikeringkan selama satu hari dibawah sinar matahari. Dan gunakanlah serbuk daun ketumbar untuk menjernihkan air. Satu teko air hanya menggunakan sedikit serbuk daun."

Selama ini teknologi yang digunakan untuk membersihkan air dari berbagai kimia berbahaya menghabiskan biaya cukup mahal. Karena itu Schauer mencari alternatif produk tanaman atau hewan yang fungsinya hampir sama dengan peralatan teknologi yang harganya relatif mahal.

Penemuan ini bisa menggantikan alat-alat atau teknologi canggih yang relatif mahal. Daun ketumbar yang harganya murah bisa menjadi solusi untuk menyaring air dari logam-logam seperti: merkuri, tembaga, arsenik, dan kadmium.

Kebutuhan air bersih memang sangat utama dalam kehidupan sehari-hari. Dan di saat musim kemarau seperti sekarang, problem air bersih tentu dialami pula oleh masyarakat Indonesia. Temuan Schauer ini tentu jadi informasi penting bagi masyarakat yang tengah menghadapi masalah penyediaan air bersh ini dan tak ada salahnya dicoba. Untuk kegunaan rumah tangga, Schauer menyarankan menggunakan kantung teh yang diganti isinya dengan daun ketumbar kering. {Andi Wahyunira}

#EarthDay, Ketahui 7 Fakta Mengejutkan Tentang Bumi

Published in Informasi & Teknologi
Jumat, 22 April 2016 15:30

Medialingkungan.com – Setiap tahun, dimulai sejak tahun 1970, Hari Bumi sedunia selalu diperingati pada 22 April. Momen ini adalah yang paling tepat bagi kita untuk bergerak dalam meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet tempat tinggal kita. Selain itu, hal baik lain yang bisa kita lakukan di Hari Bumi adalah mempelajari lebih lanjut tentang bumi kita beserta dengan karakteristiknya.

Seperti yang dilansir Discovery News dalam news.discovery.com, berikut adalah 7 hal yang mungkin tidak Anda ketahui tentang bumi:

  1. Bumi Tidak Berbentuk Seperti Bola Sempurna

Planet Bumi mungkin terlihat berbentuk bulat sempurna jika dilihat dari gambar yang diambil dari ruang angkasa. Namun, para ilmuan berkata bahwa massa bumi tidak merata, sehingga agak gepeng di daerah kutub dan bengkak di garis khatulistiwa, dimana jarak tersebut dari pusat bumi adalah 13 mil jauhnya.

  1. Sebagian Besar Wilayah Belum Terjelajahi

71% permukaan bumi didominasi oleh lautan. Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration, kita hanya telah mengeksplorasi sekitar 5% wilayah perairan.

  1. Mineral Terbanyak di Bumi Yang Jarang Kita Dengar

Bridgmanite, mineral yang mungkin belum pernah kita dengar sebelumnya ini adalah mineral yang menyusun 38% volume bumi. Mineral ini terbentuk dari magnesium-besi silikat.

  1. Hampir Sepertiga Permukaan Bumi Ditutupi Oleh Pepohonan

Manusia telah memangkas habis setengah dari hutan dunia sejak tahun 1800-an, namun hutan kita yang masih tersisa seluas hampir 10 miliar are, dimana masih dapat berperan 31% untuk bumi. Hutan berfungsi untuk menyerap dan menyimpan karbondioksida yang kita keluarkan ke atmosfir, sehingga menjadi salah satu benteng perlawanan dalam menghadapi perubahan iklim.

  1. Atmosfir Bumi Terbanyak Berada di Lapisan Terbawah

Sekitar 75-80% gas di atmosfir bumi terkonsentrasi di troposfer, lapisan terendah atmosfir bumi yang membentang sekitar 6 mil panjangnya. Pada lapisan ini, hampir semua jenis cuaca, perubahan suhu yang mendadak, angin, tekanan dan kelembaban yang kita rasakan sehari-hari berlangsung.

  1. Bumi Memiliki Sekitar 1.500 Gunung Berapi Yang Dapat Meletus

Beruntung, kebanyakan dari gunung tersebut merupakan gunung berapi dorman atau tidak aktif dalam waktu yang panjang. Menurut U.S Geological Survey, hanya sekitar sepertiga dari gunung berapi yang berpotensi aktif yang benar-benar telah meledak sepanjang sejarah kehidupan manusia.

  1. Jika Anda Tinggal di Amerika Utara, Tanah di Bawah Kaki Anda Ternyata Bergerak

Lempengan tektonik Amerika Utara bergerak hanyut ke barat dengan laju sekitar 1 inci per tahun, menurut Pacific Northwest Seismic Network, sebuah lembaga penelitian yang dibentuk untuk meneliti gempa dan aktivitas merapi.

Itulah beberapa fakta tentang planet yang kita tinggali ini. Dengan banyak mencari tahu terkait bumi, maka kesadaran untuk menjaga keadaan bumi kita tetap baik akan terus meningkat, demi menjaga kelangsungan hidup manusia dan alam semesta. Selamat Memperingati Hari Bumi Sedunia 2016. {Muchlas Dharmawan}

Mata Burung, Metode Baru Hitung Populasi Penguin

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 20 April 2016 19:17

Medialingkungan.com – Para ilmuan selama ini masih mengalami kesulitan untuk menghitung jumlah populasi penguin di Antartika serta di pulau-pulai sekitar. Maka dari itu, mereka membutuhkan bantuan teknologi satelit agar dapat menghitung jumlah penguin secara benar melalui potret udara.

Peneliti dari Inggris, Australia, dan Amerika kini manfaatkan satelit untuk melacak dan menghitung jumlah penguin melalui sudut pandang mata burung.

Proses untuk mengetahui populasi penguin dengan mencari kotoran berwarna coklat di atas es dan menentukan lokasi koloni-koloni individual. Gambar dengan resolusi tinggi kemudian untuk mencari dan menghitung penguin yang terlihat.

Pendekatan dengan bantuan teknologi satelit ini dilakukan untuk memantau populasi emperor penguin, terutama kesehatan jangka panjang. Perkiraan cuaca menyebabkan prediksi turunnya jumlah populasi penguin di habitat aslinya. Terutama jika Antartika semakin menghangat, yang menyebabkan melelehnya es di lautan, yang merupakan sarang dan tempat para penguin mencari makan.

“Jika ingin mengetahui apakah emperor penguin terancam punah akibat perubahan iklim. Kita harus tahu berapa jumlah penguin itu yang ada saat ini. Dan kami punya metodologi untuk memonitor dari tahun ke tahun demi burung itu,” kata Peter Fretwell dari British Antartic Survey, seperti yang dilansir BBC, Rabu (18/04).

Penelitian ini memberikan informasi dasar terkait populasi penguin. Jumlah populasi burung ini terbilang sangat mengejutkan, dikarenakan meningkat dua kali lipat dan melebihi perkiraan sebelumnya, ujarnya.

Freetwel mengungkapkan, meskipun terbilang mudah menemukan kotoran penguin di permukaan es yang putih, tapi agak sulit menghitung jumlah penguin secara benar. Terutama dalam menghitung jumlah individu di kerumunan, walaupun menggunakan gambar satelit yang memiliki resolusi tinggi.

Sedangkan Tom Hart, dari University of Oxford mengatakan, dengan menggunakan metode itu adalah langkah maju dikarenakan dilakukan secara aman dan efisien.

“Dampak dari penelitian ini juga sedikit terhadap lingkungan,” ucap Tom. {Angga Pratama}

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini