medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Indonesia Siap Gugat Google Karena Kesalahan Informasi Pemetaan

Published in Nasional
Jumat, 14 Maret 2014 08:00

Medialingkungan.com -  Perusahaan IT asal Amerika Google yang bergerak di bidang jasa dan produk internet berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pelanggaran itu disebabkan tampilan peta Indonesia oleh Google tidak tervalidasi dan tidak menunjukkan lokasi secara akurat sesuai Informasi Geospasial Dasar yang dilansir Badan Informasi Geospasial (BIG).

Lembaga pemerintah  non-kementerian yang sebelumnya bernama Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) siap untuk menggugat Google jika telah diberlakukan UU Informasi Geospasial 1 April 2014 nanti. Hal ini disampaikan Kepala BIG, Asep Karsidi.

Google dapat dipersalahkan karena peta hingga skala besar di Google Map menampilkan suatu lokasi hingga ke objek rumah dan jalan diperoleh dari komunitas awam. Tingkat akurasi peta yang dapat diakses siapa saja itu sangat rendah.

Masalah tersebut diperparah karena objek strategis geografi seperti markas besar TNI dan gudang peluru dicantumkan dalam Google Map dan disebarluaskan ke seluruh dunia. Hal ini tentu akan menguntungkan pihak asing jika terjadi peperangan.

Menurut Asep, BIG akan mengundang Google untuk bekerja sama dalam penyebaran informasi geospasial berbasis IGD. Lembar peta Indonesia bisa ditutup dengan lembar peta IGD. “Google harus bekerja sama menyebarkan peta yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Informasi geospasial yang terintegrasi seharusnya dipergunakan untuk membangun kualitas penelitian dalam rangka penyelenggaraan pembangunan yang berkelanjutan, sebab peta tematik dan beberapa diantaranya berisi peta lahan kritis, Geomorfologi, ekosistem, resiko bencana, potensi hutan lindung yang sangat berfungsi untuk menyampaikan informasi tentang perencanaan potensi pengelolaan sumber daya alam. (MFA)

 

Kemiri Sunan, win-win solution Perubahan Iklim

Published in Nasional
Kamis, 03 April 2014 08:00

Medialingkungan.com- Kemiri Sunan sebagai penghasil minyak nabati merupakan tanaman konservasi dengan daun lebat, perakaran dalam dan kuat (menahan erosi) dan daya adaptasi luas (100-800 m dpl,  curah hujan 1000 – 2500 mm/th). Tanaman ini sangat tepat untuk konservasi (termasuk konservasi lahan bekas tambang), lahan kritis, dan reforesting.

Terkait perubahan iklim jenis ini memiliki daun yang lebat dan akan mampu mengikat karbondioksida serta menghasilkan oksigen dalam jumlah banyak sehingga memberi solusi positif pada peningkatan suhu global.

Tanaman penghasil biodiesel ini jauh lebih unggul dibandingkan dengan jarak pagar. Riset yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa, rendemen jarak sangat kecil,dan kualitas biodieselnya juga kecil dibandingkan dengan Kemiri sunan. Rendemen jarak hanya 8 persen, beda dengan kemiri sunan yang 48-50 persen. Dalam kondisi normal, 1 pohon bisa hasilkan 250 kg per tahun.

Selain rendeman, produktivitas kemiri sunan lebih baik dari tanaman penghasil minyak nabati lainnya seperti sawit, jarak pagar atau nyamplung. Produktivitas biji: 50 – 300 kg/pohon/thn (sesuai umur), dan akan menghasilkan rendeman minyak kasar: 52 % dari kernel. Rendemen biodiesel yang dihasilkan adalah 88 % dari minyak kasar, dan sisanya berupa gliserol. (BUL)

 

IVANKA berhasil kembangkan Alat Recycle Air Hujan Menjadi Air Minum

Published in Informasi & Teknologi
Selasa, 13 Mei 2014 08:00

Medialingkungan.com – Ada yang unik pada festival Milan Design Weeks bulan lalu di Temporary Museum for New Design, Taman Super Studio Piu, Milan. Kegiatan tahunan ini selalu menyuguhkan karya terbaik dari seluruh penjuru dunia. Salah satu perusahaan beton asal Hungaria, IVANKA, memamerkan beton istimewa yang bisa berfungsi  menyaring air hujan menjadi air minum pada karyanya yang bejudul "The Water of Life Project".

Menurut Ivanka Katalin, Direktur Kreatif IVANKA, ide ini timbul karena melihat ketersediaan air bersih di bumi semakin berkurang, namun manusia sangat membutuhkannya. Ia juga menambahkan bahwa air tidak seperti minyak bumi sebab air tidak bisa digantikan oleh apapun. 

Pada karya tersebut, Bangunan temporer yang menggunakan beton ini akan mengumpulkan air hujan, kemudian mengubahnya menjadi air minum berkualitas terbaik melalui sistem bio-concrete. 

Penggunaan kembali air hujan sebenarnya bukan merupakan hal baru. Namun, penggunaannya baru sebatas untuk mengguyur toilet dan menyiram tanaman. IVANKA mencoba mengembangkan lebih jauh dengan meningkatkan kualitas air hujan hingga sesuai standar yang layak konsumsi. 

Prinsip kerja penjernihan ini berada pada ruang penadahan air hujan. Selanjutnya, penetapan pH pada kisaran yang ideal juga mempengaruhi air hujan yang memiliki sifat masam dan mengandung garam menjadi lebih lembut.

"Tadah bio-concrete punya peran kunci dalam prosesnya," terang Katalin Ivanka.

"Prinsip kerjanya seperti formasi gua batu kapur alami dan menetapkan pH pada kisaran ideal. Kemudian,secara alami membuat air hujan lebih lembut," tambahnya.

Menurut Ivanka, sistem tersebut tidak hanya bisa digunakan pada bangunan baru. Bangunan yang sudah dibangun pun bisa memanfaatkan sistem tersebut. Mulai dari rumah tinggal pribadi, hingga gedung pencakar langit, dapat memanfaatkan teknologinya. (AH)

 

Vaksin Terbaru Lumpuhkan Virus Campak

Published in Informasi & Teknologi
Kamis, 08 Mei 2014 08:00

Medialingkungan.com - Ilmuwan di Institut Paul Ehrlich, Jerman berhasil mengembangkan vaksin untuk meredam penyebaran virus campak. Mereka menggunakan molekul kecil buatan yang mencegah virus berkembangbiak.Sejauh ini percobaan tersebut membuahkan tren positif. Metode itu terbukti sanggup mematikan fungsi pengganda pada virus campak. Obat-obatan untuk menghadang penyebaran virus campak sangat dibutuhkan. Di seluruh dunia sekitar 120.000 orang meninggal dunia akibat penyakit mematikan tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)berambisi memusnahkan penyakit campak. Namun minimnya cakupan imunisasi pada penduduk sering berujung pada wabah campak di negara-negara miskin.

Pada percobaan yang dilakukan ilmuwan itu membuktikan bahwa virus ini berasal dari ordo dan genus yang sama dengan virus campak. Dari temuan tersebut, percobaan selanjutnya diujicoba kepada seekor cerpelai Eropa.Ilmuwan itu awalnya menyuntikkan virus Canine Distemper ke tubuh caperlai. Terbukti, Canine Distemper sanggup mematikan hewan sejenis tikus. Tiga hari pascaterinfeksi, hewan tersebut mulai mendapatkan pengobatan selama dua pekan. Hasilnya positif, semua hewan bisa bertahan hidup.

"melalui metode yang kami kembangkan, semua hewan bisa bertahan hidup," kata Kepala tim Peneliti, Veronika von Messling Sejauh ini ilmuwan belum menemukan adanya efek samping dari penggunaan vaksin tersebut. Uniknya, caperlai itu kemudian menjadi imun terhadap virus sejenis campak. Pasalnya, virus berkembangbiak di dalam sel mahluk hidup dan memiliki kemampuan mampu menggandakan informasi genom dan menyalurkannya kepada virus-virus baru. Virus ini bergantung pada enzim sejenis protein yang disebut sebagai Polymerase. Messling juga mengatakan Obat-obatan ia buat bekerja untuk memblokir fungsi penggandaan virus tersebut. Selain itu, Obat ini juga sanggup menghentikan penyebaran virus.

Selama ini peneliti baru mengujicoba keampuhan metode baru itu pada kultur sel dan hewan. Jika sudah layak produksi, obat campak yang dikembangkan di institut Paul Erlich itu akan dikonsumsi manusia dalam bentuk tablet atau jus. "Masih ada beberapa tahapan lagi sebelum kami benar-benar mempertimbangkan ujicoba pada manusia," kata Messling. Penyakit campak sangat menular dan mampu menyebar cepat di antara orang-orang yang tidak mendapat imunisasi. Sebab itu imunisasi adalah satu-satunya metode perlindungan paling ampuh terhadap campak.(AND)

Imhoff Tank, Teknologi Pengurai Limbah yang Terlupakan

Published in Informasi & Teknologi
Kamis, 08 Mei 2014 08:00

Medialingkungan.com – Pada masa penjajahan Hindia-Belanda, tepatnya 98 tahun, Belanda membuat sebuah pabrik pengolahan limbah rumah tangga yang disebut Imhoff tank atau oleh warga sekitar disebut pabrik mes. Kata ‘mes’ berasal dari bahasa Belanda yaitu Mest yang artinya pupuk. Pabrik ini dibangun di daerah Tegalega, bagian selatan kota Bandung. Pabrik ini mempunyai cara kerja seperti septic tank. Limbah domestik (limbah rumah tangga) akan masuk kedalam saluran penampungan Imhoff tank, kemudian hasil tampungan kotoran tersebut akan menghasilkan gas metan. Gas metan hasil pembusukan sampah tersebut kemudian dikompress kedalam sebuah tangki besi yang berdaya tampung 40 liter dengan tekanan 1 atmosfer.

Berdasarkan data yang dikutip dari kepala BPLDH JABAR, Anang Sudarma bahwa pencemaran sungai Citarum di Bandung salah satunya disebabkan oleh limbah rumah tangga yaitu sekitar 35 persen atau kedua terbanyak setelah limbah industri.  Angka ini menunjukkan kisaran limbah yang diproduksi masih sangat besar dan menjadikan kawasan tersebut sebagai yang 10 kawasan terjorok di dunia. Penggunaan Imhoff tank pada masa kini mampu turunkan produksi sampah di wilayah tersebut.

Bahkan lebih dari itu, limbah rumah tangga hasil endapan dari pabrik ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Masyarakat sekitar Lembang, Cisarua, Pengalengan dan Ciwidey tempat berdirinya pabrik ini dahulu memanfaatkan pupuk tersebut untuk tanah pertanian serta kebun-kebun bunga mereka. (UT)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini