medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

KLHK Umumkan Pendaftaran Bakti Rimbawan 2015

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 28 Oktober 2015 08:54

Medialingkungan.com – Pusat Perencanaan Dan Pengembangan SDM Badan Penyuluhan Dan Pengembangan SDM (BP2SDM) Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (KLHK) membuka kesempatan kepada warga Negara Indonesia yang memiliki integritas dan komitmen tinggi untuk menjadi tenaga Bakti Rimbawan guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja tingkat terampil dan ahli dalam melaksanakan pengabdian pada Negara khususnya pembangunan kehutanan.

Pendaftaran bakti rimbawan dapat dilakukan sejak 27 Oktober – 16 Nopember 2015 menggunakan sistem online pada website http://bp2sdmk.dephut.go.id/loker/baktirimbawan.

Setiap pendaftar dapat memilih tiga lokasi penempatan yang berbeda sesuai dengan kualifiksi pendidikan.

Beberapa persyaratan pendaftaran bakti rimbawan, antara lain; (1) Warga Negara Indonesia (2) Memenuhi syarat umur sebagai Lulusan SMK Kompetensi Kehutanan maksimal 24 Tahun Per 1 Oktober 2015, Lulusan Diploma 3 maksimal 26 Tahun Per 1 Oktober 2015, Lulusan Sarjana maksimal 30 Tahun Per 1 Oktober 2015, (3) Siap ditempatkan di seluruh Wilayah Indonesia/NKRI pada tingkat tapak (kecamatan dan desa).

Ketentuan pendaftaran, yakni berkas lamaran disusun sesuai urutan tata cara pendaftaran yang tercantum pada portal BP2SDM, kemudian dimasukkan dalam Stop Map, dengan ketentuan Warna merah untuk pelamar S-1, Warna hijau untuk pelamar SMK, Warna kuning untuk mantan peserta Basarhut/Bakti Rimbawan, dan Warna biru untuk pelamar PLG dan PLKBR di luar stop map.

Berkas lamaran dimasukan kedalam amplop coklat tertutup dan dikirim melalui POS atau jasa pengiriman lainnya kepada Panitia Seleksi Bakti Rimbawan Tahun 2015, Gedung Manggala Wanabakti Blok VII Lantai 12, Jl. Gatot Subroto Jakarta Pusat 10270.

Berkas diterima mulai tanggal 27 Oktober 2015 sampai dengan selambat-lambatnya diterima tanggal 23 Nopember 2015.

Sesuai ketentuan penerimaan bahwa berkas lamaran yang sudah dikirim sebelum dibukanya pendaftaran secara resmi, maka dianggap tidak berlaku atau harus dikirim ulang.

Selain itu, panitia penerimaan menyatakan bahwa panitia tidak menerima berkas secara langsung. Pengumuman hasil seleksi pada tiap tahapan akan diumumkan melalui portal. Untuk format pendafataran dan ketentuan lengkap dapat dilihat pada link portal http://goo.gl/N8vy6Z. {Fahrum Ahmad}

‘INA-Donet’ Hasil Riset Teknologi Pendeteksi Gempa dan Tsunami Indonesia-Jepang

Published in Informasi & Teknologi
Kamis, 22 Oktober 2015 09:40

Medialingkungan.com – Pemerintah Indonesia melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerjasama dengan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology untuk melakukan riset mengenai aplikasi aplikatif yang bisa memantau pergerakan gempa dan tsunami melalui kabel bawah laut.

Alat yang disebut Indonesia Dense Ocean Floor Network Systen for Earthquake and Tsunamis (INA-Donet) ini dapat melengkapi atau bahkan menggantikan teknologi ‘tsunami bouys’ yang sering hilang dan rusak.

Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam, Wimpie Agoeng Noegroho Aspar mengatakan, sejauh ini pihaknya baru melakukan penjajakan riset. "Nantinya akan dilihat apakah teknologi ini dipakai untuk tanggap darurat dini, ataupun mendeteksi potensi tsunami," katanya di sela-sela seminar Indonesia-Japan Collaboration on Assessment and Application Technology of INA-Donet di Jakarta, Rabu (21/10).

Menurut Wimpie, Indonesia sangat membutuhkan sistem peringatan dini kebencanaan. Alat pendeteksi itu juga harus lebih akurat lagi, sehingga deteksi dini dan pengendalian bisa terencana dengan baik.

Uji coba alat itu akan dilakukan di daearah yang rawan gempa. "Titik pemasangan akan dipelajari. Mungkin di Selat Sunda yang potensinya di laut terkait kegempaan," jelasnya.

Sejauh ini terdapat dua porposal untuk pemasangan INA-Donet. Fokusnya di selatan Jawa Barat atau ke arah barat Sumatera bagian selatan.

Menurut para ahli yang mempelajari kegempaan, seismik gap daerah ini memiliki potensi gempa besar dan tsunami. Apalagi daerah-daerah tersebut sudah padat penduduk.

Sementara itu, Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Masturyono mengungkapkan sensor INA-Donet akan diletakkan di dasar laut yang dekat dengan sumber gempa, sehingga pengiriman data kejadian gempa bumi bisa berlangsung cepat.

"Teknologi ini akan sangat mendukung peringatan dini tsunami. Bisa memajukan informasi gempa dan tsunami dari lima menit jadi dua menit seperti di Jepang akan sangat bermanfaat," ungkap Masturyono.

Ia menambahkan, alat ini punya sensor yang bisa mengestimasi tinggi gelombang tsunami di sumber gempa maupun di pantai denga tingkat akurasi prediksi yang baik.

"Saat ini kalau ada gempa kita hanya prediksi potensi, berapa tinggi tsunami berdasarkan model hitungan matematis," ujarnya. Sementara INA-Donet ketika memperoleh signal dekat sumber gempa, perhitungan yang cepat dan tepat langusung bisa terkirim, sehingga mempercepat proses evakuasi. {Fahrum Ahmad}

Perangi Karhutla, BPPT Ciptakan ‘Sesame’ untuk Lahan Gambut

Published in Nasional
Rabu, 21 Oktober 2015 09:47

Medialingkungan.com – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menciptakan teknologi pemantau kebasahan gambut. Alat ini diberi nama ‘Sesame’ atau Sensory Data Transmission Service Assisted by Midori Engineering. Demikian dikatakan peneliti utama pengembangan teknologi Sesame, Bambang Setiadi saat koferensi pers di Kantor BPPT, Jakarta, Selasa (20/10).

Bambang mengungkapkan, pihaknya kini tengah memproduksi 49 Sesame. Alat ini akan diuji coba di lahan gambut yang tersebar di beberapa daerah.

Alat pemantau berbasis sensor ini dapat memberikan data secara real time setiap 10 menit. Produksi Sesame akan memekan waktu. "Februari tahun depan akan siap. Selain untuk memantau kebasahan gambut, alat ini juga bisa digunakan untuk mengetahui gerakan air," jelas Bambang.

Bambang menambahkan, alat itu bisa digunakan berasamaan saat sekat kanal yang dirancang pemerintah rampung. Dengan begitu, akan terukur seberapa basah gambut di suatu daerah sehingga bisa dilakukan pencegahan kebakaran gambut secara efektif.

"Kami sangat mendukung pembuatan sekat kanal di daerah bergambut karena gambut harus basah agar tidak terbakar. Namun, saya dengar pembuatan sekat kanal itu ternyata tidak begitu sukses di lapangan," selorohnya.

Tim Kepresidenan mengatakan solusi untuk mengatasi kebakaran di lahan gambut itu dilakukan dengan membuat kanal bersekat dan di sisi kanan dan kirinya diberi stok air dengan embung. Dengan cara itu dilakukan pembasahan (rewetting) lahan gambut.

Bambang menjelaskan bahwa gambut terdiri dari 90 persen air. Untuk itu, gambut berperan penting sebagai sumber air tawar. Oleh sebab itu, kerusakan dan kebakaran gambut akan berpengaruh pada iklim.

Namun, pembukaan lahan berupa pengeringan areal gambut menyebabkan air pada gambut hilang. Gambut yang kering akan mudah terbakar pada musim kemarau, dan banjir saat musim penghujan.

"Pencegahan karhutla berarti pula pencegahan pengeringan gambut. Buat sekat kanal sebanyak-banyaknya di wilayah gambut. Undang pula ahli tata air," katanya.

Selain itu, Bambang juga menyarakan pemerintah mengembangkan pugas (penyubur khusus tanah gambut). {Fahrum Ahmad}

‘Sirtfood Diet’ Jadi Tren Baru di Inggris

Published in Informasi & Teknologi
Kamis, 15 Oktober 2015 08:58

Medialingkungan.com – Salah satu media digital di Inggris, Standard.co.uk, belum lama ini mengutip beberapa nukilan dari buku berjudul ‘The Sirtfood Diet’. Dari buku itu, Standard mengungkap cara diet yang baik. Meski buku itu dirilis pada Januari 2016 mendatang, namun buku itu telah menjadi buah bibir di Inggris.

Buku itu menguraikan bahwa cokelat dan anggur merah disinyalir bisa merangsang pembakaran lemak dan mengencangkan otot tubuh.

Sirtfood adalah makanan sehari-hari yang merupakan aktivator sirtuin, perangsang 'gen kurus' dalam tubuh. Sirtuin merupakan jenis protein pada tubuh manusia.

Terdapat tujuh jenis sirtuin dalam tubuh manusia yang menurut para ahli diet bisa melindungi sel yang hampir mati. Biasanya, sel yang yang mendekati mati itu dipicu kala seseorang tengah mengalami stres.

Karena itu coklat atau anggur merah bisa menjaga metabolisme serta menurunkan risiko inflamasi sel, yang apabila dibiarkan bisa menimbulkan penyakit.

Buku yang ditulis Aidan Goggins dan Glen Matten itu merupakan yang buku pertama dari buku sejenisnya. Kedua penulis buku itu, (dalam bukunya) menyarankan untuk mengonsumsi makanan kaya sirtuin, seperti cokelat, anggur merah, kangkung, buah jeruk, teh hijau, kunyit, blueberry, peterseli, caper serta apel.

Media Inggris menyebut kalau Goggins dan Matten adalah 'ahli saran nutrisi untuk atlet profesional', tak sama dengan ahli gizi apalagi dokter.

Keduanya menguji diet tersebut pada 40 orang yang hobi ke pusat kebugaran, dan rata-rata telah mengalami penurunan berat badan sekitar tujuh pon dalam tujuh hari, dan mengalami peningkatan energi dan massa otot.

Pasangan ini beralasan diet akan lebih efektif pada kelompok sampel yang kurang aktif. Selebriti yang telah mencoba metode ini adalah; atlet rugby, James Haskell; model dan presenter TV, Jodie Kidd; termasuk Sir Ben Ainslie peraih emas pada American’s Cup (raga balap perahu). {Fahrum Ahmad}

CIFOR Tunjukkan Bukti-bukti Kaitan Hutan dan Penyakit Menular

Published in Informasi & Teknologi
Sabtu, 03 Oktober 2015 10:01

Medialingungan.com – Lembaga Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) baru-baru ini mencium adanya kaitan antara perubahan penggunaan lahan dan wabah infeksi Penyakit Menular (EIDs). Justifikasi ini diiringi peningkatan jumlah penelitian ini yang menuding adanya corong yang menghubungkan keduanya.

Menurut CIFOR, kaitan keduanya bak ‘pistol berasap’ – meskipun tak muncul ke permukaan namun identifikasi menyatakan bahwa EIDs berpotensi besar ditimbulkan dari perubahan penggunaan lahan.

“Ketika tegakkan hutan dibuka, meningkatnya kontak manusia dengan patogen tak dikenal di hutan bisa terjadi. Tetapi menemukan jalur penyebab, bahkan bukti korelasi yang cukup, masih sulit,” lansir CIFOR (25/09).

Tiga perempat EIDS yang dikenali, aslinya bersifat zoonotik, ditransmisikan dari binatang ke manusia. Memahami proses alami dan kejadian kontak binatang-manusia di bawah kondisi sosio-ekologi berbeda tampaknya menjadi prioritas segera.

Memahami faktor penyebab wabah dan munculnya kembali penyakit menular masih menjadi masalah ilmiah paling sulit. “Jurang besar pengetahuan masih ada,” katanya.

Bruce Wilcox dan Rita Colwell, Peneliti Biokompleksitas yang mendalami kemunculan penyakit menular secara holistik mengatakan, kelangkaan informasi disebabkan karena cara pandang terhadap patogen. “Ini hal yang mengkhawatirkan,” sambungnya.

Kedua peneliti ini menawarkan paradigma baru penelitian interdisipliner -- yang menempatkan patogen tidak terisolasi, karena penyakit, masalah lingkungan, selain juga pembangunan ekonomi, pemanfaatan dan tata kelola lahan yang semrawut dan memerlukan solusi lintas-sektor.

“Jadi, untuk mampu memperdiksi di mana EIDs bisa muncul, kita harus memahami bagaimana tingkat reservoar alami dan kecepatan transmisi dipengaruhi oleh faktor lingkungan, fisik, sosial dan ekonomi serta interaksi mereka,” jelasnya.

Penelitian ini juga membantu menemukan apakah proses munculnya penyakit ditengarai perubahan demografi, konsumsi dan produksi sampah populasi manusia dan dampaknya – urbanisasi, ekspansi dan intensifikasi pertanian, dan alterasi habitat hutan.

Penyatuan Puzzle Manusia dan Hutan

Dua sumber informasi terbaru dapat membantu mengawali penyatuan puzlle: pengetahuan mengenai fragmentasi hutan dunia, dan distribusi global EIDs.

Peta resolusi tinggi tutupan pohon global yang baru-baru ini dipublikasikan oleh Joseph Sexton dan kawan-kawan pada 2013 serta timnya Nick Haddad pada 2015 mengungkap bahwa hampir 20 persen sisa hutan dunia hanya berjarak 100 meter ke ujung hutan, dan lebih dari 70 persen hutan dunia berada dalam rentang 1 kilometer ke ujungnya.

Ini menempatkan hutan dalam jangkauan aktivitas manusia, perubahan mikro-iklim, dan spesies non-hutan yang bisa mempengaruhi ekosistem alami.

Kate Jones dan kawan-kawan dalam tulisan Nature (2013), menarik basis data dari ‘kejadian’ EIDs antara 1940 dan 2004, menunjukkan pola global nyata, mayoritas kejadian (71,8 persen) berasal dari alam liar.

“Tetapi, apakah kejadian EID dimungkinkan oleh fragmentasi hutan? Penelitian menunjukkan bahwa EID biasanya merupakan akibat perubahan antropogenik dan demografik, tetapi kekayaan spesies asli alam adalah penduga signifikan munculnya zoonotik EIDs, tanpa peran pertumbuhan populasi manusia, ketinggian atau curah hujan,” tulisnya.

Hutan, Binatang, Ebola

Masalah EIDs, manusia, kondisi hutan dan hewan (khususnya hewan buruan) belum pernah dalam sorotan sejak munculnya penyakit virus Ebola (EVD).

EVD ditularkan kepada manusia dari hewan liar dan penyebaran dalam populasi manusia melalui transmisi manusia-manusia. Penjelasan mengenai mewabahnya EVD beredar, tetapi tidak satu pun yang pasti.

Kaitan antara mewabahnya EVD dan deforestasi diterapkan, dengan entitas seperti Organisasi Kesehatan PBB (WHO) menyatakan (meskipun secara implisit) bahwa hilangnya hutan secara potensial menginfeksi hewan liar dan manusia dalam kontak lebih besar.

Walaupun kontak langsung dengan beragam spesies mamalia, seperti primata non-manusia -- gorila, simpanse dan rusa (transmisi hanya terkait dengan kelompok taksonomi ini) – telah ditunjukkan sebagai penyebab utama lompatan penyakit ke manusia, kelelawar secara khusus sering disebut sebagai reservoar paling memungkinkan untuk virus Ebola.

Baru-baru ini, beberapa peneliti menawarkan --walaupun belum terbukti dalam distrik Gueckedou -- di mana wabah Guinea berawal dari kontak dengan koloni kelelawar pemakan serangga tak-berekor mungkin menjadi penyebab wabah akibat hilangnya hutan.

Walaupun yang lain menentang hal itu karena hutan Guinea atas merupakan mosaik hutan dinamis, savana dan pertanian selama bertahun-tahun, orang di wilayah ini telah lama berkohabitasi dengan kelelawar, tampaknya bukan deforestasi/fragmentasi yang menjadi penyebab mewabahnya EVD.

Mengingat manusia dan kera besar telah lama tinggal bersama kelelawar beratus tahun, menuding gangguan habitat sebagai penyebab utama munculnya virus Ebola dalam spesies ini mungkin terlalu menyederhanakan dan bisa mengabaikan penyebab utama lain yang mungkin ada.

Di lain pihak, wacana yang mengklaim bahwa kecepatan dan ketakterdugaan deforestasi bisa mengarah pada wabah EVD bisa benar.

Tetapi, bagaimana ini bekerja?

Penelitian oleh Yayasan Environmental Resources Management (ERM) menyatakan bahwa fragmentasi hutan mengubah dinamika gerakan alam liar dalam hutan terfragmentasi; hutan terfragmentasi seringkali adalah wilayah dengan lebih banyak orang, jadi kontak antara manusia dan reservoar potensial atau spesies pembawa bisa meningkat.

Penelitian ini juga membandingkan pola fragmentasi hutan di enam lokasi wabah EVD dengan sampel luar wilayah yang dipilih secara acak, menemukan bahwa fragmentasi hutan lebih tinggi dalam lokasi EVD. Kesimpulan penulis laporan ERM dari hasil ini, adalah bahwa fragmentasi hutan, dalam mempengaruhi kebiasaan kelelawar mencari makan dan bersarang, bisa secara tidak langsung bertanggungjawab atas meningkatnya pertemuan kelelawar-manusia, dan akibatnya meningkatkan risiko EVD.

Laporan ERM merekomendasikan fragmentasi habitat mendorong kelimpahan pemangsa lebih kecil (terkait dengan hilangnya fauna berbadan besar), yang jika diburu akan meningkatkan kontak dengan hewan liar.

Penelitian ini merupakan yang pertama secara empirik memeriksa peluang hubungan antara kondisi hutan dan wabah EVD. Tetapi lebih banyak pekerjaan perlu dilakukan, kata penulis itu sendiri.

“Kita harus, tidak hanya meningkatkan sampel lokasi wabah EVD untuk diteliti, tetapi juga menguji rangkaian hipotesis alternatif untuk menginvestigasi apakah faktor tunggal atau beragam terkait wabah EVD,” jelasnya.

Jam berdetak dan ada urgensi saling mengetahui lebih dalam jika memang ada kaitan antara wabah Ebola virus dan deforestasi/fragmentasi hutan, konsumsi hewan buruan dan menangani daging hewan liar.

Para peneliti mengatakan, jika kaitan ini tervalidasi secara memuaskan, temuan itu bisa menjadi pintu masuk untuk lebih jauh memahami kondisi meningkatnya risiko wabah ebola dan menawarkan strategi mitigasi yang layak. {Fahrum Ahmad}

Volkswagen Dituduh Mencurangi Alat Uji Emisi

Published in Informasi & Teknologi
Minggu, 20 September 2015 08:02

Medialingkungan.com – Perusahaan mobil raksasa Volkswagen AG terancam akan menghadapi hukuman denda sebanyak USD 18 Milyar (sekitar Rp 252 Trilyun)setelah dituding membuat sebuah software untuk mobil diesel yang mampu mencurangi regulator pengukur emisi beracun oleh Badan Lingkungan Hidup AS (U.S Environment Protection Agency, EPA), pada Jumat (18/09).

EPA menuduh Volkswagen menggunakan software tersebut pada mobil VW empat-silinder dan Audi mesin diesel, yang digunakan untuk menghindari pengujian emisi polutan udara tertentu.

“Fitur tersebut, merupakan perangkat mematikan, berkedok seolah-olah menunjukkan jumlah emisi yang sebenarnya hanya pada saat pengujian emisi, sedangkan ketika mobil tersebut telah turun ke jalan, mobil tersebut mengeluarkan emisi hingga 40 kali tingkat pencemaran udara sesuai dengan yang diperbolehkan oleh aturan mengenai udara bersih,” kata Cynthia Giles, seorang petugas EPA dikutip dari Reuters.

Volkswagen akan mendapatkan hukuman sebanyak $37.500 (sekitar Rp 525 Juta) untuk tiap mobil yang tidak menuruti aturan udara bersih federal. Ada 482.000 unit mobil VW empat-silinder dan Audi mesin diesel terjual sejak 2008 yang diduga terlibat dalam kasus ini. Jika terbukti setiap mobil tersebut tidak menuruti aturan, maka dendanya bisa mencapai $18 Milyar.

EPA mengonfirmasi bahwa saat ini belum dilakukan penarikan terhadap mobil-mobil tersebut. EPA memang mempunyai hak otoritas yang besar untuk melakukan hal itu, hanya saja prosesnya bisa memakan waktu sampai satu tahun, tergantung dari kompleksitas masalahnya. (Muchlas Dharmawan)

148 Peneliti Temukan Jumlah Pohon di Bumi

Published in Informasi & Teknologi
Selasa, 15 September 2015 11:37

Medialingkungan.com – Terjebak kemacetan sambil menghitung jumlah kendaraan yang ada di sekitar merupakan hal yang sulit. Begitu pula perumpaan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) yang menyatakan “berhenti mencari jarum pada tumpukan jerami!” -- melainkan menghitung semua jerami di pertanian.

Sebuah penelitian baru CIFOR mendokumentasikan pencarian itu -- dilakukan di seluruh dunia -- untuk menghitung berapa banyak spesies pohon di hutan tropis di bumi ini.

Asumsi dan perkiraan para peneliti yang seluruhnya berjumlah 148 orang bahwa hutan tropis bumi adalah rumah bagi 40.000 hingga 53.000 spesies pohon, sebagiannya sangat langka.

Laporan penelitian ini menurut CIFOR merupakan satu upaya pertama membangun basis data global spesies pohon tropis. Kendati, survei serupa hanya menghitung pohon di area tertentu, tanpa konsistensi meluas. Penelitian lain memperkirakan 37.000, 43.000, dan 50.000, yang “berdasar pendapat ahli,” tulis para peneliti pada lansiran Blog CIFOR (Agustus 2015).

“Ini terbagi dalam pecahan kecil-kecil,” kata ilmuwan utama CIFOR, Terry Sunderland, salah seorang penulis laporan.

“Ini soal menilai kembali posisi pengetahuan dan pemahaman di mana ada celah dan bagaimana kita benar-benar melakukan analisis global.”

CIFOR MEMBANGUN BASIS DATA lebih dari 650.000 pohon dari lebih dari 11.000 spesies yang ditemukan di wilayah tropis Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Kemudian, melakukan perbandingan melalui penyatuan basis data para peneliti dari seluruh dunia, dan menempatkan peneliti negara berkembang di panggung penerbitan internasional. Hasil ini mengakhiri beberapa asumsi sebelumnya mengenai spesiasi pohon tropis.

Amerika Latin, misalnya, sejak lama dipertimbangkan menjadi rumah hutan paling kaya, tetapi penelitian menunjukkan bahwa Asia Tenggara di banyak wilayah malah sangat kaya, di mana kedua wilayah tersebut menyokong 19.000 dan 25.000 spesies.

Afrika – sebaliknya -- hanya memiliki 4.500 hingga 6.000 spesies.

Walaupun begitu, jumlah ini masih jauh dari apa yang ditemukan di hutan manapun: hutan sedang Eropa hanya memiliki 124 spesies. Disparitas ini umumnya terjadi akibat perbedaan curah hujan antar wilayah, karena tingginya curah hutan umumnya berkorelasi dengan lebih beragamnya tumbuhan.

“Penelitian ini memberitahu kita bahwa jika kita tertarik mengkonvervasi keragaman hayati, di sinilah kita perlu focus. Saya pikir ini alat manajemen penting,” kata Terry Sunderland.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keragaman hayati tinggi berarti biomassa tinggi.

Mensurvey spesies pohon, bisa memberi masukan informasi lebih baik untuk program seperti REDD+, yang berupaya memitigasi perubahan iklim dan melindungi tanaman serta binatang dengan menawarkan kredit agar hutan tetap berdiri.

TETAPI BERAPA BANYAK PERSISNYA? adalahpertanyaan konkret untuk mengungkap jumlah keseluruhan bahwa hutan tropis adalah rumah bagi sejumlah besar spesies yang ukuran populasinya sangat kecil, walaupun belum jelas berapa banyak spesies atau seberapa kecil populasinya. Ini pertanyaan untuk peneliti di masa datang. Beberapa spesies ini dalam kondisi terancam punah dan perlu perlindungan, sementara yang lain langka.

“Ini salah satu masalah utama hutan. Banyak pola spesiasi yang tidak bisa kita katakan, kita akan lindungi area ini dan melindungi semua keragaman hayati.”

“Tidak bisa seperti itu!,” kata Terry Sunderland”

Ia mengatakan, untuk memperkaya informasi bagi pengambilan keputusan konservasi saat ini, survei pohon meletakkan dasar perbandingan bagi penelitian lanjutan -- khususnya peran penting ketika hutan berevolusi sejalan dengan iklim.

“Perubahan hutan yang sebelumnya didokumentasi selama beberapa milenium kini berlangsung lebih cepat,” ujar Terry Sunderland.

Terry menjelaskan, kondisi lebih panas di tropis bisa mengarah pada berkurangnya curah hujan, mengakibatkan kekeringan yang bisa mengancam hutan. Ditambah deforestasi, kekeringan bisa memusnahkan populasi pohon.

Mengumpulkan pengetahuan mengenai kondisi pohon hari ini akan menjadi penting menilai dan mungkin mengurangi kerusakan dalam dekade mendatang.

“Ini bukan sekadar praktik akademik, yang juga menarik dan penting, tetapi ini memberi basis data dasar untuk mulai memantau pola dan tren ketika perubahan terjadi bersama perubahan iklim, misalnya,” kata Terry Sunderland.

“Menyediakan basis data dasar memungkinkan kita memahami kecepatan dan sifat perubahan itu.” (Fahrum Ahmad)

Hiu Karpet Paling Siap Pada Kondisi Ekstrim Dampak Perubahan Iklim

Published in Informasi & Teknologi
Kamis, 10 September 2015 11:47

Medialingkungan.com – Pakar kelautan Queensland berhasil menemukan jenis ikan yang dinilai paling siap beradaptasi dengan dampak perubahan iklim di lautan. Ikan hiu karpet (hiu epaulette) kecil dianggap sebagai satwa laut yang mampu hidup dalam kondisi lautan akibat perubahan iklim di abad ini.

Para pakar perubahan iklim sebelumnya memperingatkan bahwa dampak perubahan iklim menyebabkan air laut menghangat dan menjadi asam. Selain itu, kadar oksigen dalam air berkurang laut juga menjadi berkurang. Perubahan semacam ini diprediksi akan memicu bencana pada ekosistem kelautan.

Namun, pakar kelautan yang berbasis di Townsville, Jodie Rummer, menemukan ikan hiu karpet epaulette kecil di Australia utara dan Papua Nugini yang berpeluang besar mampu bertahan dan berkembang biak dalam ancaman perubahan iklim ini. 

Berkat upayanya menyelidiki ikan hiu, Dr Rummer memperoleh beasiswa bergengsi dari PBB untuk memperluas penelitiannya di habitat hiu terbesar di dunia yang terdapat di Polinesia, Perancis.

"Ikan hiu karpet hidup di terumbu karang dangkal dan rata, sehingga dalam banyak kasus karang-karang itu dapat mengalami fluktuasi dramatis baik tingkat suhu maupun kadar oksigennya,” kata Rummer pada Radio Australia (09/09).

Rummer mengemukakanm karena ukurannya yang kecil dan tidak memiliki gigitan yang sangat besar seperti hiu lain, maka ia bisa menggunakan habitatnya ini untuk perlindungan. "Ikan ini mampu bertahan hidup dengan sangat baik pada kondisi kadar oksigen yang rendah dan itu melampaui kemampuan ikan-ikan hiu lain yang kita kenal.”

Selain itu, lanjut Rummer, ikan ini juga mampu beradaptasi terhadap tingginya kandungan karbon dalam lautan akibat perubahan iklim . "Ikan hiu karpet juga dapat mentolerir kondisi CO2 yang tinggi -- ke tingkat dimana kondisi laut diperkirakan akan mencapai level tersebut kandungan CO2nya pada akhir abad ini dan hiu karpet kecil ini secara fisiologis maupun perilakunya tidak terpengaruh sama sekali.”

Rummer mengaku dirinya telah menyelidiki bagaimana ikan ini mampu mengantarkan oksigen ke jaringan mereka dan sanggup melakukannya lebih 25-50 kali lebih baik daripada manusia.

Dia percaya hiu karpet kecil ini telah berhasil menyesuaikan diri dengan kondisi yang sulit dan perairan dangkal dari waktu ke waktu. "Kami menyimpulkan mereka adalah produk dari lingkungan mereka --  yang telah sering mengalami kondisi ini sehingga memiliki mekanisme-mekanisme khusus di dalam tubuh untuk [mengatasi oksigen rendah dan karbon dioksida yang tinggi," ujarnya.

Rummer berharao hasil penelitiannya ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor perikanan.

Menurutnya, ikan hiu bisa menjadi tolak ukur dari ekosistem yang sehat karena hiu merupakan salah satu predator utama dalam banyak ekosistem dalam lingkungan masyarakat. Karenanya, jika predator menghilang sebagaimana banyak contoh kasus yang ada, maka seluruh ekosistem juga ikut terganggu.

“Terutama sekali bagi masyarakat di kepulauan Pasifik yang sangat tergantung pada ikan dan kehidupan laut lainnya sebagai satu0-satunya sumber protein — mungkin ada konsekuensi yang mengerikan bagi masyarakat ini jika mereka mulai kehilangan kesehatan ekosistem dan ikan yang sehat," jelasnya. (Fahrum Ahmad)

Dua Siswa SMK 1 Pekalongan Ciptakan Robot Pembersih Udara

Published in Informasi & Teknologi
Sabtu, 05 September 2015 14:49

Medialingkungan.com – Dua siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Kedungwuni, Pekalongan berhasil menciptakan AS-SHUR, Teknologi Robot Pembersih Udara yang ramah lingkungan dan ekonomis dengan menggunakan tanaman Lidah Mertua ‘Sansevieria’.

Tanaman Sansevieria ini umumnya digunakan sebagai tanaman hias di pekarangan rumah. Namun, Bayu Aji Setyawan dan Galih Yuli Dwiatmaja ini menjadikannya bahan aktif untuk robot mereka.

Proses penelitian yang dilakukan kedua siswa ini terbilang cukupa lama. Mereka melakukan penelitian ini pada saat duduk di bangku kelas 1 selesai di kelas 3. “Kami menghabiskan waktu selama 2,5 tahun untuk menyelesaikannya,” kata Bayu, seperti yang dikabarkan detik.

Lidah Mertua diubah menjadi bahan dasar karbon aktif yang digunakan robot untuk membersihkan udara. Robot itu memiliki sensor yang bisa mendeteksi kadar polusi di dalam ruangan seperti asap rokok, asap kendaraan dan pembakaran udara yang mengandung polusi logam berat.

“Ketika robot mendeteksi udara yang berpolusi, otomatis kipas dan blower yang dipasang di robot akan menyala untuk menyerap polusi. Sebelum udara yang diserap itu di keluarkan kembali akan disaring oleh karbon aktif yang terbuat dari Lidah Mertua yang kami ektrak sampai jadi arang untuk mengikat logam-logam berat dari polutan. Jadi output dari robot itu udara yang bebas logam berat,” ucap Bayu.

Robot dengan panjang 50 cm tinggi 30 cm itu memiliki 3 kontrol, pertama otomatis mendeteksi dan menyisir seluruh ruangan, kedua menggunakan remote kontrol yang bisa dimonitoring dan ketiga portable bisa diletakan di mana saja.

Bayu mengungkapkan, prinsip kerja robot hampir sama dengan AC, namun ada perberdaannya. Kalau AC mengeluarkan gas CFC yang berbahaya buat ozon, robot ini menggunakan bahan alami dari tanaman Lidah Mertua yang lebih ramah lingkungan dan murah.

Dia berharap, semoga saja pemerintah atau sponsor mau bekerjasama untuk mengembangkan alat ini agar lebih canggih lagi. (Arif Hidayat )

Cabai, Makanan Pedas untuk Perangi Obesitas

Published in Informasi & Teknologi
Kamis, 20 Agustus 2015 09:22

Medialingkungan.com – Cabai, makanan pedas memegang peranan penting untuk memerangi kenaikan berat badan (obesitas). Hasil penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa cabai memberikan manfaat bagi kesehatan, khususnya seseorang yang memiiki berat badan berlebih.

Para peneliti dari University of Adelaide di Australia menemukan bahwa terdapat reseptor penting yang berada dalam perut manusia yang memberikan isyarat ketika sedang penuh. Reseptor ini disebut reseptor TRPV1, atau dikenal sebagai reseptor cabai pedas yang merespon capsaicin (kapsaisin, red).

Kapsaisin termasuk di dalam Kapsaisinoid, yaitu zat kimia yang menimbulkan rasa pedas yang ada dalam tumbuh-tumbuhan, seperti cabai. Rasa pedas ini muncul karena kapsaisin menciptakan isyarat yang sama bagi otak seperti saat kulit terkena panas.

"Perut membentang ketika penuh, yang mengaktifkan saraf di perut untuk memberitahu tubuh bahwa telah memiliki cukup makanan. Kami menemukan bahwa aktivasi ini diatur melalui cabai atau TRPV1 reseptor panas, "kata Amanda Page, penulis utama studi tersebut, dalam siaran persnya.

"Hal ini diketahui dari penelitian sebelumnya bahwa kapsaisin yang terdapat pada cabai pedas dapat mengurangi asupan makanan pada manusia. Dan apa yang kami temukan bahwa penghapusan reseptor TRPV1 meredam respon saraf lambung untuk meregang sehingga menghasilkan perasaan kenyang dan menunda konsumsi makanan lebih banyak.”

Dengan kata lain, sambung Amanda, cabai mengandung kimia yang secara efektif memberitahu kita untuk berhenti makan -- ini adalah suatu evolusi dari kebiasaan manusia yang sangat bermanfaat, karena menurut beberapa laporan, mengonsumsi cabai secara berlebihan, seseorang akan diberikan pertolongan pertama di ruang rawat inap, bahkan mengakibatkan kematian.

Tantangan bagi peneliti sekarang adalah untuk mengambil apa yang kita ketahui tentang kapsaisin dan interaksinya dengan reseptor TRPV1 di perut manusia, dan melihat potensi aplikasi yang bisa membantu orang menghindari kenaikan berat badan yang tidak perlu.

"Tahap selanjutnya dari penelitian akan melibatkan investigasi mekanisme di balik aktivasi reseptor TRPV1 dengan tujuan mengembangkan terapi yang lebih nyaman," kata Stephen Kentish, penulis kedua paper tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal PLoS ONE.

"Tujuannya adalah untuk melihat bagaimana hal ini layak sebagai pengobatan yang potensial, tidak hanya untuk obesitas, tapi mungkin juga dalam pencegahan kenaikan berat badan.”

Ia juga mengatakan, jika seseorang bisa mengambil sesuatu yang membuat mereka merasa kenyang lebih cepat, tentunya hal demikian dapat mencegahnya dari obesitas. (Fahrum Ahmad)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini