medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

The Ocean Cleanup, Pembersih Laut Terpanjang Di Dunia

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 10 Juni 2015 22:43

Medialingkungan.com – Melihat banyaknya sampah yang terapung di laut saat melakukan diving di Perairan Kepulauan Yunani, Boyan Slat, mahasiswa teknik penerbangan pada salah satu universitas di Belanda, mulai memikirkan ide pembersih laut dari kumpulan sampah plastik tersebut.

Berawal dari ide membersihkan laut tersebut, Boyan Slat berhasil menciptakan The Ocean Cleanup, alat pembersih laut dengan struktur terpanjang di dunia, mempunyai rentang panjang sekitar 2 kilometer, mengalahkan Tokyo Mega-Float yang berukuran hanya satu kilometer.

Boyan, sebagaimana dilansir mongabay.co.id mengungkapkan dirinya sebetulnya merasa tertantang mengumpulkan sampah di lautan karena ingin membuktikan anggapan orang yang menilai hal tersebut sesuatu yang tidak bisa dilakukan.

“Kalau kita mengangkat sampah-sampah plastik dari lautan menggunakan kapal, entah berapa ribu tahun sampah-sampah itu akan terangkat,” tutur anak muda berusia 20 tahun tersebut.

Alat yang berbentuk jaring raksasa ini, dalam praktiknya akan tersambung dengan pembatas hingga dasar laut, kemudian akan menangkap sampah mengambang lalu mengumpulkannya. Plastik-plastik tersebut akan bergerak merambat mengikuti pembatas menuju sebuah platform yang telah disediakan untuk selanjutnya diekstraksi.

Sejak dimulai tahun 2013 silam, konsep The Ocean Cleanup telah mendapat dukungan dari 100 ilmuan dan relawan serta telah memperoleh penghargaan Best Technical Design dari Delft University of Technology, Belanda.

Melalui Seoul Digital Forum, Boyan yang juga Kepala Eksekutif The ocean cleanup ini mengumumkan rencana perusahaannya untuk mengoperasikan alat pembersih plastik di lautan yang akan mulai bekerja pada triwulan kedua 2016.

Pemerintah Tsushima, Jepang, adalah yang pertama menandatangani perjanjian dengan The Ocean Cleanup. Olehnya itu, kawasan yang dipertimbangkan akan dibersihkan pertama kali adalah lepas pantai Tsushima, sebuah pulau yang terletak di antara kepulauan Jepang dan semenanjung Korea Selatan.

Seperti yang dikabarkan eco-bussines.com, arus yang melalui pulau Tsushima membawa sekitar 30.000 meter kubik sampah ke pantai setiap tahun, yang jika dikumpulkan secara manual akan menelan biaya sekitar 5 juta Dollar Amerika Serikat setiap tahun atau setara dengan 66,55 miliar Rupiah. (Irlan)

Hutankan Bekas Tambang Bukan Hal Mustahil

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 10 Juni 2015 19:57

Medialingkungan.com – Menghutankan kembali lahan bekas tambang bukanlah hal yang mustahil. Hal tersebut diungkapkan para peneliti yang hadir dalam Gelar Teknologi Hasil Penelitian, Pengembangan dan Inovasi di Hotel Novotel, Balikpapan (9/6).

Untuk lahan bekas tambang timah misalnya, Peneliti Badan Penelitian, Pengembangan (Litbang) dan Inovasi, Prof. Dr. Pratiwi mengungkapkan strategi rehabilitasi yang dapat dilakukan pada lokasi ini antara lain dengan memperbaiki kondisi tanah dengan menambahkan bahan ameliorant (penyubur tanah), memilih jenis tanaman, membuat bibit, menanam dan memelihara.

“Salah satu permasalahan lahan bekas tambang timah yaitu meninggalkan hamparan overburden dan tailing kuarsa sehingga  diperlukan input teknologi dalam upaya untuk meningkatkan kualitas lahan,” ucapnya dikutip dari forda-mof.org.

Melalui penelitiannya, Pratiwi menunjukkan fakta bahwa pada usia 3 tahun, tanaman yang mampu bertahan pada hamparan overburden yaitu Eucalyptus urrophila, Eugenia garcinaefolia dan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum). Sedangkan pada hamparan tailing kuarsa ketiganya dapat tumbuh namun perlu penanganan berupa input energi.

Selain itu, Retno Prayudaningsih, Peneliti Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Makassar menuturkan rehabilitasi lahan bekas tambang dapat dilakukan dengan teknologi isolat mikroba (isomik).

Teknologi temuan peneliti BPK Makassar tersebut berupa isolat mikroba  yang telah dicampur dengan pasir sebagai material untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman dan meningkatkan kualitas lahan bekas tambang.  Isomik generasi pertama yang dinamai MK 1 ini merupakan isolat fungi mikoriza arbuskula, hasil isolasi dari tanah lahan bekas tambang kapur.

Retno juga menjelaskan isomik memiliki kelebihan dengan hanya satu kali aplikasi yakni pada saat penyiapan bibit, dapat meningkatkan pertumbuhan dan keberhasilan tanaman, memperbaiki kualitas tanah (fisik, kimia, biologi) dan menurunkan tingkat polusi

Input dari teknologi isomik juga memberikan dampak pertumbuhan swalanjut, bahkan muncul jenis-jenis alami lain. Teknologi ini telah banyak dimanfaatkan oleh stake holder terkait, namun sayangnya isomik sampai sekarang belum dipatenkan. (Irlan)

Spesies Katak Baru Ditemukan Di Pegunungan Brasil Selatan

Published in Informasi & Teknologi
Sabtu, 06 Juni 2015 19:24

Medialingkungan.com – Melalui sebuah eksplorasi selama lima tahun di daerah pegunungan negara bagian Paraná dan Santa Catarina, Brasil selatan, ilmuan menemukan tujuh spesies katak baru.

Semua katak yang ditemukan berasal dari genus Brachycephalus, yang umumnya berukuran kecil. Berdasarkan keterangan dari Marcio Pie, Profesor Universidade Federal do Paraná yang juga pemimpin penelitian tersebut, mengungkapkan panjang katak dewasanya hanya 13 milimeter.

Kebanyakan spesies baru tersebut memiliki warna yang terang, yang awalnya dikhawatirkan bahwa kulit mereka mengandung racun yang disebut tetrodotoxin.

Ketujuh jenis tersebut adalah Brachycephalus mariaeterezae, Brachycephalus olivaceus, Brachycephalus auroguttatus, Brachycephalus verrucosus, Brachycephalus fuscolineatus, Brachycephalus leopardus, dan Brachycephalus boticario.

Berikut gambar keenam spesies lainnya:

 

Brachycephalus mariaeterezae (gambar: PeerJ)

 

Brachycephalus olivaceus (gambar: PeerJ)

 

Brachycephalus auroguttatus (gambar: PeerJ)

 

Brachycephalus boticario (gambar: PeerJ)

 

Brachycephalus colineatus (gambar: PeerJ)

 

Brachycephalus leopardus (gambar: PeerJ)

 

Hasil penelitian ini pun dipublikasikan di dalam jurnal makalah ilmiah PeerJ, Kamis (4/6). (Irlan)

Ecocapsule, Rumah Portable Hemat Energi

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 03 Juni 2015 21:10

Medialingkungan.com – Studio arsitektur yang berbasis di Bratislava, Slovakia, Nice Architects, membuat gebrakan baru dengan membuat rumah murah dan rendah energi yang ia sebut Ecocapsule. Sesuai dengan namanya, hunian unik ini berbentuk mini, menyerupai kapsul dengan ukuran panjang 4,45 meter, lebar 2,25 meter, dan tinggi bangunan 2,55 meter.

Ecocapsule dikemas dengan mungil dengan volume yang padat, sehingga penggunaan energinya bisa efektif dan efisien. Ecocapsule juga didesain dengan beberapa fasilitas rumah tangga di dalamnya, seperti tempat tidur yang hangat, Dapur, toilet, instalasi air (dan penghangat air), yang bisa dihuni oleh dua orang dewasa.

Untuk penggunaan energinya, rumah mini ini didukung oleh turbin angin yang juga dilengkapi dengan panel surya. Sehingga setiap unit Ecocapsule bisa ditinggali dalam waktu lama tanpa perlu mengisi ulang energinya. Karena sistem dual power yang dilengkapi dengan baterai berkapasitas tinggi mampu menyuplai energi yang cukup, dengan catatan bahwa alat tersebut memperoleh sinar matahari dan angin yang cukup.

Desain interior Ecocapsule yang dilengkapi dengan kamar tidur serta dapur dalam mini-set interiornya (Gambar : Techxplore)

Badan Ecocapsule ditutupi dengan sel surya berefisiensi tinggi seluas 2,6 meter persegi dan sebuah tiang turbin angin berkekuatan 750 watt. Hal ini menciptakan sistem energi yang dapat mendukung Anda hampir satu tahun di banyak lokasi. Bentuk bulatnya juga dioptimalkan untuk mengumpulkan air hujan dan embun serta filter air yang memungkinkan penghuni memanfaatkan air tersebut.

Diperkirakan Ecocapsule akan dirilis pada 2016 mendatang, dan hingga saat ini harga untuk satu unit Ecocapsule belum dirilis secara resmi. (Fahrum Ahmad)

RAPP Bangun Pabrik Kertas Dengan Teknologi Ramah Lingkungan

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 03 Juni 2015 09:58

Medialingkungan.com – Perusahan kertas PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) tengah membangun pabrik kertas dengan teknologi ramah lingkungan.

Pabrik yang dibangun di atas lahan seluas lima hektar tersebut akan menggunakan teknologi paper machine 3, sebuah mesin pencetak kertas yang dapat menghemat penggunaan energi dalam produksinya dibandingkan dengan paper machine sebelumnya.

Mhd Ali Shabri, Wakil Direktur Operasional RAPP mengungkapkan bangunan dengan nilai investasi Rp 4 triliun tersebut didesain lebih ramping dari pabrik kertas pada umumnya.

“Peralatan yang dipakai dapat menghemat energi sebesar 400 Kw per ton kertas atau setara dengan penghematan batubara sebesar 71.000 ton per tahun,” ujarnya seperti yang dilansir riaupos.co, Selasa (02/06).

Ali juga menjelaskan paper machine ini menghasilkan produk kertas yang sangat baik untuk keperluan digital dan juga merupakan teknologi pertama di Indonesia yang cetakannya menghasilkan warna yang lebih merata dan cemerlang.

“Hasil cetak lebih sempurna, derajat putih lebih tinggi dan kertasnya lebih tebal dan tidak merusak printer karena partikelnya merata. Dengan Teknologi ini juga, akan menghasilkan kertas yang dapat menghemat  penggunaan pemakaian tinta sebesar 15% dibandingkan mencetak menggunakan kertas biasa,” ucap Ali. 

Paper machine 3 mampu memproduksi kertas dengan kecepatan 1,4 kilometer per menit atau 1.400 meter per menit. Hasil Produk dari paper machine ini adalah Kertas High Grade Digital Paper yang dihasilkan dari Teknologi Hi-Digi.

Teknologi ini juga mampu memproduksi kertas dengan kecepatan 1,4 kilometer per menit atau 1.400 meter per menit.

Ali menambahkan pihaknya berkomitmen menjadi industri hijau sesuai dengan program yang dicanangkan oleh Pemerintah. (Irlan)

Tanaman Anti Kanker Yang Terancam Punah

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 27 Mei 2015 21:01

Medialingkungan.com – Keberadaan Taxus sumatrana, atau Cemara Sumatera yang terancam punah, mestinya Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kehutanan terdorong untuk melakukan langkah konservatif terhadap tanaman tersebut. Hal itu disampaikan oleh San Afri Awang selaku Kepala Balitbang Kehutanan, dia mengungkapkan agar Balitbang segera melakukan penelitian konservasi jenis ini.

“Saya berharap Badan Litbang dapat memberikan kontribusi yang besar dalam pengelolaaan spesies lokal ini melalui riset serta mengetahui kandungan-kandungan bahan aktif didalamnya yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk obat, parfum atau lainnya,” ujar San dalam situs resmi Balitbang Kehutanan.

Tanaman yang tumbuh pada ketinggian 1.400 – 2.800 meter diatas permukaan laut (dpl) ini merupakan jenis tanaman yang paling dicari karena mengandung Taxane atau paclitaxel yang dapat diekstraksi sebagai obat yang sangat mujarab untuk kemoterapi berbagai jenis kanker.

Sementara itu, Asep Hidayat, salah seorang peneliti Balitbang Kehutanan menuturkan paclitaxel yang dikandung Cemara Sumatera itu memiliki efek samping yang kecil, efektif dan efisien dalam membunuh sel kanker sehingga paling popular dan dicari di dunia.

“Paclitaxel ini kemudian dipasarkan dengan nama dagang Taxol® dan hak pemasaran dipegang oleh Bristol-Myers Squibb (BMS) mulai tahun 1991,” jelasnya.

Secara alamiah, penyebaran Taxus meliputi negara Philiphina, Vietnam, Taiwan, Cina, dan termasuk Indonesia. Sedangkan di Indonesia sendiri, jenis ini dapat ditemukan di daerah Sumatera, seperti Gunung Kerinci (Jambi), Kawasan Hutan Lindung Dolok Sibuaton (Sumatera Utara), dan Gunung Dempo (Sumatra Selatan).

Kulit, daun, cabang, ranting, dan akar dari genus Taxus, merupakan sumber Taxane. Namun dalam sebuah buku yang diterbitkan Forda Press yang berjudul ‘Mutiara Terpendam dari Zamrud Sumatra’ menjelaskan bahwa hingga saat ini, tidak banyak informasi yang dapat diperoleh mengenai T. sumatrana yang tumbuh di Indonesia, baik dari segi ekologi maupun silvikultur. (Irlan)

Doktor Oceanologi Bersepeda Keliling Dunia Sambil Kampanye Perubahan Iklim

Published in Informasi & Teknologi
Selasa, 26 Mei 2015 11:21

Daniel Price, Doktor Oceanologi berkebangsaan Inggris mengelilingi dunia menggunakan sepeda untuk mengampanyekan isu perubahan iklim. Ia telah tiba di Kota Jogjakarta.

Medialingkungan.com – Sejak 21 April 2015, Price (27) mulai berkampanye dari Pole Antartika (Kutub Selatan) menuju ke perancis. Ia juga membuat dokumentasi perjalanan berupa video dokumenter yang diunggahnya ke media sosial.

Setibanya di Jogja, ia langsung menuju ke Pantai Pandasimo Bantul dan memulai pembuatan video dokumenternya. Video tersebut merekam aktivitas nelayan yang tengah membuat kincir angin untuk memenuhi listrik dan menjalankan usahanya.

Menurut Price, upaya yang dilakukan para nelayan ini bisa menjadi inspirasi bayak orang dalam pemanfaatan angin sebagai sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan atau tanpa membuang emisi ke udara.

"Perjalanan ini untuk mengampanyekan perubahan iklim, menyadarkan orang-orang di dunia tentang perubahan iklim dan dampaknya terhadap bumi. Ini semacam misi menyelamatkan bumi, tapi ini tidak mudah untuk meyakinkan orang, karena isu perubahan iklim ini cenderung membosankan bagi orang umumnya," kata Price di Jogjakarta Senin (25/05), seperti dilansir Liputan6.

Sebelumnya, Price sempat singgah ke Bali dan kaget dengan kondisi di sana. Ia mengaku kaget saat mengendarai sepedanya di tengah kerumunan kendaraan yang melaju cepat di jalan raya. Ia merasa kesulitan mengayuh roda sepeda, uatamanya saat hendak menyeberang jalan. "Saya kaget, banyak motor dan mobil, jadi sedikit sulit, tapi masih relatif aman," kata dia.

Berbeda dengan kondisi di Bali, di Jogja, kata Price, aktivitas lalu lintas justru lebih padat dan membuatnya lebih berhati-hati ketika melintas. Kendati demikian, Price merasa nyaman berada di Kota Gudeg itu. "Saya senang di sini, orangnya ramah, tapi tidak di jalan raya. Lalu lintas begitu ramai dengan motor dan mobil. Saya shock," ungkapnya.

Price menambahkan, kampanye yang diberi nama “Pole to Paris” ini akan berujung di Paris, Perancis, pada 21 Desember 2015, tepat pada gelaran konferesi iklim ke 21 (COP21) United Nation Convention on Climate Change (UNFCCC).

Dalam melakukan kampanyenya, Price ditemani seorang temannya. Kata Price, temannya itu melakukan perjalanan dari kutub ke Paris dengan berlari. "Ada dua orang, saya dan teman saya. Kami akan bertemu di Paris sebelum 21 Desember," ujar Price.

Daniel Price dalam video This is Our Journey - Pole to Paris yang diunggah di You Tube 14 Mei 2015 (Gambar: Kaleo Official)

Dalam videonya, ia lebih dominan menceritakan tentang perubahan sosial yang diakibatkan perubahan iklim, mulai efek bencana alam, ketahanan pangan, hingga harapannya terhadap perilndungan rumah milyaran manusia, Bumi. Ia juga memilih start dari Kutub dengan alasan parameter dari dampak perubahan iklim terlihat jelas di sana.

"Kenapa dari kutub, karena di sana kita bisa melihat dengan jelas bagaimana perubahan iklim tersebut terjadi. Dan di Paris nanti akan ada pertemuan yang membahas perubahan iklim internasional, karena itu kampanye ini disebut Pole to Paris," terang dia.

Ia berharap, melalui video dan cerita tersebut, manusia dapat sadar dan bagaimana harus berbuat untuk menyelamatkan bumi dari perubahan iklim. Price mengungkapkan, video dan cerita perjalanannya dapat diakses di facebook dan Twitter dengan kata kunci Pole To Paris. (Fahrum Ahmad)

Inggris-Cina Gelar Konferensi Desain Rumah Sakit Hijau Pertama

Published in Event & Komunitas
Minggu, 24 Mei 2015 22:42

Medialingkungan.com – Inggris-Cina untuk pertama kalinya akan menggelar Konferensi Desain Rumah Sakit Hijau 2015 (green hospital design summit 2015) di gedung pusat, Inggris, pada 28 Mei 2015.

Di dalam pertemuan tersebut, 20 pemimpin rumah sakit di China akan turut hadir untuk bertukar pikiran mengenai desain rumah sakit yang berkelanjutan.

Seperti yang dilansir worldarchitecturenews.com, kerjasama kedua negara tersebut didasarkan atas paket penawaran kesehatan dan nota kesepahaman terkait pertukaran keahlian kesehatan yang ditandatangani antara Cina dan Inggris di kamerun 2013 lalu serta simposium internasional rumah sakit hijau tentang pembangunan berkelanjutan yang diadakan di shanghai, 2014 lalu.

Sebagaimana yang disebutkan dalam situs resmi Cina Design Centre, pertemuan ini merupakan bagian dari rencana Cina terkait kenaikan investasi Cina di bidang kesehatan dalam rencana lima tahun kedepan. Negeri Tirai Bambu tersebut akan membangun 3,000 rumah sakit dan akan memperbaharui 26 persen rumah sakit yang ada.

Para delegasi Cina yang hadir nantinya akan mencari teknologi hijau, bahan dan peralatan untuk pembangunan rumah sakit tersebut.

Pada kegiatan itu, pertemuan akan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama, terkait model desain rumah sakit hijau dengan pembicara yakni, Ged Causer, Direktur Kesehatan BDP.

Sedangkan pada sesi kedua, akan membahas mengenai manajemen dan implikasi desain rumah sakit hijau dengan pembicara antara lain, Richard O’Neil, Direktur Dewan Eksekutif HLM Arsitek. (Irlan)

 

David Puttnam Produseri Film Tentang Aktivis Greenpeace (Arctic30)

Published in Informasi & Teknologi
Selasa, 19 Mei 2015 18:08

Medialingkungan.com – Produser ternama kelahiran Southgate, London, Britania Raya, David Puttnam kembali memproduseri film terbarunya bertajuk Arctic30. Film ini bercerita mengenai sekelompok aktivis lingkungan Greenpeace yang pernah ditahan oleh tentara Rusia saat perjalanannya ke perusahaan minyak terbesar Rusia.

Produser yang menerima penghargaan Academy Award untuk kategori film terbaik, Chariots of Fire (1981) mengatakan, salah satu cara yang paling efektif untuk memengaruhi orang adalah melalui bioskop. Pengalaman yang banyak di dunia film, ditambah karir sebagai aktivis lingkungan yang memimpin suatu komite yang mengawasi perubahan iklim pada 2005 – menjadi bekal dan semakin meyakinkan dirinya dalam menggarap film itu.

"Dengan enggan, dan agak terlambat dalam hidup, saya harus datang untuk berdamai dengan kenyataan bahwa satu-satunya alat profesional yang saya miliki adalah dari produser," ujar Puttnam (74), berbicara di Cannes seperti dilansir Variety, Senin (18/05).

Untuk menyelesaikan proyek film itu, Puttnam dikabarkan bekerja sama dengan seorang pengusaha filantropik dan produser film asal Saudi Arabia, Hani Farsi.

"(Saya) Tidak benar-benar percaya pada kebetulan, saya menemukan diri saya menyerap aya yang diceritakan Ben Stewart tentang petualangan 'The Arctic Thirty' pada waktu yang sama saat didesak oleh teman dan rekan saya, Hani Farsi, menggunakan keterampilan lama saya untuk menggunakan kepedulian saya terhadap masalah lingkungan," jelas Puttnam.

Mereka akan menghasilkan film berdasarkan kisah "Don't Trust, Don't Fear, Don't Beg" oleh Ben Stewart, Kepala Media Greenpeace. Di dalam ceritanya, akan dijelaskan bagaimana para aktivis Greenpeace mencapai perusahaan minyak terbesar Rusia – yang melakukan pengeboran di Kutub Utara, dan perjalanan mereka pada bulan berikutnya di dalam penjara di Murmansk. Puttnam berharap dapat membantu membawa cerita tersebut ke layar lebar.

Farsi mengatakan ia telah berteman dengan Puttnam selama beberapa tahun dan telah bekerja sama di sejumlah proyek lain melalui yayasannya. "Ini merupakan ambisi lama saya untuk menemukan sebuah proyek film yang kita bisa bekerja bersama-sama dan membaca naskah buku Ben, saya langsung tahu bahwa ini lah yang tepat," kata Farsi.

"Rencana mereka adalah sederhana dan damai - untuk membawa kapal pemecah es Greenpeace ke sisi rig (alat pembor) yang terapung di lepas pantai untuk mencegah ekstraksi minyak dari perairan Arktik yang sangat dingin," tambah Farsi.

Pada September tahun 2013 lalu, 30 laki-laki dan perempuan melakukan perjalanan ke Kutub Utara membawa kapal pemecah es Greenpeace ke rig terapung untuk mencegah ekstraksi minyak. Sebelum mereka bisa melakukannya, kapal mereka ditarik dari udara oleh pasukan Rusia dan ditarik ke Murmansk. Kelompok itu dibebaskan setelah dua bulan penjara.

Dalam akun twitter resminya, Farsi mengumumkan bahwa dirinya akan membuat sebuah film yang didasarkan pada Arctic30. “Ini mimpi yang menjadi kenyataan bagi saya untuk bekerja dengan David,” tulisnya (18/05). (Fahrum Ahmad)

LIPI Temukan Tujuh Kandidat Spesies Baru Tambora

Published in Informasi & Teknologi
Jumat, 15 Mei 2015 17:49

Medialingkungan.com – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang tergabung dalam Tim Ekspedisi NKRI berhasil menemukan tujuh kandidat spesies baru saat melakukan ekspedisi Gunung Tambora, 16 April 2015.

Ketujuh spesies baru tersebut terdiri atas dua spesies cicak (reptil), dua spesies kupu-kupu malam, dua spesies laba-laba dan satu jenis tumbuhan.

Kegiatan eksplorasi ini melibatkan 48 orang, meliputi enam belas orang dari LIPI, tujuh orang tim Ekspedisi NKRI, enam orang dari Kantor Seksi Konservasi Wilayah III Bima Dompu, serta masyarakat setempat.

Selain itu, Peneliti Pusat Penelitian (Puslit) Biologi LIPI, Cahyo Rahmadi mengungkapkan dalam ekspedisi tersebut, juga berhasil mencatat beberapa spesies endemik Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Spesies endemik yang ditemukan yaitu satu spesies kelelawar, enam spesies burung endemik Nusa Tenggara Barat dan beberapa spesies baru diyakini merupakan spesies yang sebarannya sangat terbatas,” ucap Ketua Tim LIPI dalam ekspedisi tersebut.

Adapun yang berhasil dicatat dalam ekspedisi untuk memperingati 200 tahun letusan besar Tambora tersebut antara lain 46 spesies burung, 21 spesies reptile, empat spesies amfibi, sepuluh spesies mamalia, 230 spesies serangga. (Irlan)

 

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini