medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Alat Canggih ‘Drone’ akan Selamatkan Hutan

Published in Informasi & Teknologi
Minggu, 22 Februari 2015 22:25

Medialingkungan.com – Sebuah perusahaan bernama BioCarbon Engineering telah merancang Drone (pesawat tak berawak) untuk menanam pohon yang cepat dan efisien. Tujuannya adalah untuk membantu membangun kembali hutan global yang telah hancur oleh penebangan, pertambangan, pertanian dan perluasan perkotaan.

Ilmuwan perusahaan ini telah mengembangkan Prototipe Drone yang menggunakan meriam kecil untuk menembak polong yang mengandung benih berkecambah begitu juga dengan unsur hara dan pupuk untuk mendukung pohon yang mulai tumbuh.

"Dua operator dengan teknologi kami bisa menanam setidaknya 36.000 pohon per hari. Itu sepuluh kali lebih baik dibanding penanaman dengan tangan. Saat ini penanam pohon dapat menanam 1.500 pohon per hari dengan biaya sekitar $ 3 per pohon. Dengan 100 tim dari dua operator kami akan mampu menanam 1 miliar pohon per tahun," kata CEO serta Co-Founder BioCarbon Engineering, Lauren Fletcher, seperti dilansir oleh NBC News.

Tetapi, Fletcher tidak memandang bahwa perangkatnya akan membuat para pekebun pohon tradisional akan kehilangan pekerjaan. “Dengan kedua jenis penanaman ini dilakukan, tetap saja belum cukup untuk mengejar ketinggalan dengan deforestasi yang terjadi saat ini,” ujarnya. (MD)

Rumah Modern dari Bahan Bangunan Bekas

Published in Informasi & Teknologi
Jumat, 20 Februari 2015 23:52

Medialingkungan.com Desainer ternama Anthony Maschmedtdi Seattle, Amerika Serikat (AS) kini menciptakan bangunan rumah dengan konsep ‘Reclaimed Modern(Reklamasi yang modern) yang menggunakan bahan bangunan yang di daur ulang.

"Kami menggunakan pendekatan holistik. Kami memasukkan bahan-bahan lokal, kemudian mendaur ulang semuanya. R umah ini juga diklaim ramah lingkungan karena mengombinasikan antara desain modern dan kebutuhan pragmatis pembangunan di masa yang akan datang,” kata Desainer Dwell Development, Anthony Maschmedt, seperti dilansir oleh contemporist.

Anthony menjelaskan bahwa rumah Reclaimed Modern ini mewujudkan pola pikir baru, yaitu rumah yang menggunakan bahan bangunan bekas dan teknologi hemat energy, dengan material yang berasal dari lingkungan sekitarnya, rumah ini dipercaya merupakan bangunan konservasi hijau.

Pria yang memiliki dua anak ini mengungkapkan bahan-bahan yang kami gunakan antara lain sisa-sisa beton dari pembangunan trotoar, kayu bekas, logam yang bergelombang dari bekas pembongkaran gudang di Willamette Valley. Ia menambahkan kayu yang ditemukan dijadikan panel di bawah atap, sedangkan logam digunakan sebagai pagar, seluruh bahan-bahan bekas digunakan sebaik mungkin dan tak ada yang terbuang sama sekali.

"Kami selalu menggunakan banyak bahan dengan konten daur ulang yang tinggi. Langkah selanjutnya, kami ingin mengambil dan menggunakan kembali bahan-bahan dari bangunan tua yang akan dibongkar," ujar Koordinator Proyek Desain Dwell Development, Abbey.

Kordinator Proyek Desain Dwell Development itu mengatakan rona berkarat alami dan struktur modern rumah tersebut menciptakan patina atau korosi yang menambah daya tarik tersendiri di tengah-tengah lingkungan perkotaan.Menurut dia, eksterior rumah dilapisi dengan Enviro-Dri, yaitu penghalang cuaca resistif, Enviro-Dri ini melindungi bagian luar bangunan dari gangguan kelembaban, serta melindungi rumah dari kerasnya iklim Pasifik barat laut dan betonnya mampu menyimpan air hujan dan membantu pengisian air tanah.

“Karena matahari adalah sumber energi yang berharga, Tim kami memasang panel surya untuk memfasilitasi penggunaan energi matahari. Panel surya mengonversi energi matahari menjadi energi listrik, sehingga mengimbangi penggunaan energi pemilik rumah dan mengurangi emisi karbon,” katanya. (AH)

Rumah Bambu, Inovasi Baru Berwawasan Lingkungan

Published in Informasi & Teknologi
Sabtu, 14 Februari 2015 20:09

Medialingkungan.com – Trend bangunan ramah lingkungan dewasa ini mendorong kreatifitas dan inovasi Banten Creative Community (BCC) untuk membuat konsep rumah ramah lingkungan dengan harga yang murah (priceless), salah satunya bangunan melalui konsep rumah bambu.

Di tengah makin meroketnya harga-harga bahan bangunan, bambu bisa menjadi alternatif pengganti beton, besi, baja, atau bahan bangunan lainnya. Selain murah, bangunan juga dijamin ramah lingkungan karena tidak mengandung unsur polutan seperti banyak dijumpai pada jenis bahan bangunan modern kebanyakan.

Pihak BCC mengundang semua elemen masyarakat melihat sendiri proses pembuatan Rumah Bambu Nusantara yang rencananya akan dijadikan Akademi Bambu Nusantara (ABN) sebagai akademi bambu pertama di Indonesia.

“Ini akan menjadi contoh konsep rumah bambu nusantara yang akan kami buat menjadi Akademi Bambu Nusantara (ABN). Ke depan ini akan dijadikan model rumah murah, ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ujar Usep Mujani, Presiden BCC pada diskusi proses pembuatan akademi bambu yang dilakukan di Sekretariat BCC, di Kota Serang, Jumat (13/02).

Turut hadir dalam acara tersebut, Zainal Muttaqien dari Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Provinsi Banten, Firdaus Ghazali dari Komisi IV Kota Serang, Yahya dari Bapeda Kabupaten Lebak, Usep dari Dinas Perhutanan dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Dedi dari Commmunity Development Karakatau Steel, Komunitas Bahasa Jawa Serang dan Ikatan Mahasiswa Bangka Belitung (ISBA).

Selain itu, Dewan Pembina BCC, Muqodas Syuhada dalam pemaparannya menjelaskan, kegunaan pohon bambu lebih banyak, dibandingkan dengan kelapa, misalnya, yang selama ini menjadi lambang Pramuka.

Q"Selain itu Bambu bisa untuk menjaga kedaulatan sandang, pangan dan papan, serta kedaulatan lingkungan," ungkap Muqodas.

Das mengatakan, di ABN, pendidikan yang diberikan bersifat non formal yang langsung pada pembelajaran aplikatif, dari mulai pembibitan sampai dengan penggunaan bambu.

"Untuk mempersiapkan teknisi-teknisi bambu yang handal, lantaran yang selama ini bisa ditemukan, pengelolaannya masih banyak yang belum mengetahui, sehingga ini menjadi tugas kita," katanya.

Sementara itu, perwakilan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Banten, Zaenal Muttaqien, mengatakan, karena di wilayah Banten banyak pohon bambu dan tentunya langkah seperti itu harus mendapat perhatian dari pemerintah daerah.

"Mainstream-kan bambu sebagai produk asli wilayah Banten, dan hal ini sudah dilakukan oleh masyarakat jepang. Tentu kami mendukung program yang dilakukan BCC ini," kata Zaenal.

Kegiatan tersebut diakhiri dengan meninjau lokasi yang akan dibuat Akademi Bambu Nusantara (ABN) dan fasilitas-fasilitas pelengkap yang sedang dibangun oleh BCC, seperti laboratorium kultur jaringan, aula bambu, tempat pengawetan dan pembibitan bambu.

"Kami ingin mengenalkan proses pembuatan kontruksi bambu ke seluruh elemen yang penggunaannya telah kami sentuh dengan teknologi dan desain terkini, kami berharap program bambu nasional hingga tahun 2025 dapat benar-benar terwujud dengan keterlibatan semua elemen,” pungkas usep. (AH)

Manfaatkan Tenaga Surya, Kota Vauban Menjadi Ramah Lingkungan

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 11 Februari 2015 14:51

Medialingkungan.com – Kota Vauban di Jerman merupakan salah satu kota yang sangat ramah lingkungan. Pasalnya, Kota berpenduduk sekitar 1.500 jiwa tersebut tidak meggunakan energi listrik untuk kebutuhan elekronik. Selama 30 tahun terakhir, seluruh masyarakat yang bermukim di kota ini menggunakan pembangkit listrik dari sinar matahari atau yang sering disebut dengan istilah tenaga surya.

Bukan hanya rumah, seluruh perkantoran dan toko juga menggunakan tenaga surya sebagai sumber listriknya. Hal tersebut sudah berlangsung selama lebih dari empat dekade dan membawa daerah ini menjadi Desa paling ramah lingkungan di Jerman.

Letak kota yang berada di tengah lembah dalam kawasan hutan blackforest menjadikan hawa pada daerah ini menjadi hangat. Hal tersebut jugalah merupakan salah satu pendukung dari pemanfaatan tenaga surya. Dalam konsep tata ruang, pemerintah telah menetapkan kebijakan yang mengatur tentang konsep bangunan yang ramah lingkungan dimana setiap bangunan harus dilengkapi dengan semua fasilitas yang mendukung penggunaan tenaga surya.

Setiap rumah setidaknya harus memiliki rancangan instalasi serta model atap dan dinding yang menyesuaikan kondisi matahari agar ketika musim kemarau tiba, sinar matahari yang sangat terik tidak masuk kedalam rumah.

“Kemandirian akan energi listrik di kota Vauban berawal dari keinginan pemerintah untuk membangun pembangkit listrik bertenaga nuklir pada tahun 1972. Namun, masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai petani anggur mengkhatirkan hal tersebut. Mereka takut limbah nuklir akan memunculkan awan-awan hujan yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman anggur para petani,” ujar salah satu warga Vauban.

Ia menambahkan bahwa proses yang panjang kemudian membuat pemerintah membatalkan rencana pembangungan pembangkit nuklir tersebut. Namun kami selaku warga, sadar akan kebutuhan listrik yang sangat besar di masa mendatang.

Faktor lain yang membuat kota ini minim polusi adalah penataan sistem transportasi, Kereta, trem, dan bus sangat memadai sehingga warga tak perlu lagi menggunakan kendaraan pribadi. Selain itu, ongkos parkir yang terbilang mahal merupakan salah satu cara pemerintah kota agar masyarakat menggunakan transportasi umum.

Ketersediaan Jalur sepeda dan jalur untuk pejalan kaki yang tersedia di sepanjang jalan membuat kota ini jarang dijumpai adanya pengendara motor. Sungguh, sebuah kota yang ramah lingkungan dengan kepadatan penduduk yang tinggi. (AND)

Rayakan Hari Valentine yang Ramah Lingkungan

Published in Informasi & Teknologi
Jumat, 06 Februari 2015 23:02

Medialingkungan.com – Sebentar lagi, perayaan hari kasih sayang atau hari yang sakral bagi pemuda-pemudi yaitu Valentine’s day yang jatuh pada tanggal 14 Februari nanti. Pada hari itu, biasanya pemuda memanfaatkan moment tersebut untuk mengutarakan isi hati mereka masing-masing kepada pasangan dan orang-orang terdekat. Bukan hanya manusia saja yang menikmatinya, lingkungan juga berhak mendapatkan hal yang sama.

Keadaan lingkungan yang makin parah akibat aktifitas manusia. Kini lingkungan menuntut kita untuk memberikan kasih sayang kepadanya. Ada beberapa cara untuk menyalurkan kecintaan terhadap lingkungan secara tidak langsung di hari valentine nanti.

Green Living Tips telah melansir jurnal tentang beberapa cara merayakan hari kasih sayang yang ramah lingkungan. Menurut isi jurnal tersebut, ada baiknya jika memberikan kartu ucapan kepada pasangan anda menggunakan kertas daur ulang karena kartu ucapan dari kertas memerlukan jumlah kertas yang sama dan mengorbankan banyak pohon yang merugikan negara lima kali lipat. Pilihan lain adalan dengan menggunakan media elektronik seperti email dan meme (Gambar-gambar lucu) juga merupakan cara yang dinilai peduli lingkungan.

Untuk anda yang gemar memberikan makanan, seperti coklat dan semacamnya, disarankan untuk memilih coklat yang diproduksi dalam negeri. Selain itu, jika anda mendambakan makan malam yang romantis, pergilah ke restoran yang menyediakan menu berbahan dasar organik ataupun makanan lokal. Karena selain menyehatkan, anda juga membantu melestarikan produk dalam negeri.

Hal lain bisa juga dilakukan untuk menunjukkan kasih sayang anda terhadap lingkungan dan dua insan yang saling cinta. Medialingkungan.com akan berikan tips bagi pemuda yang ingin memberikan kado ke pasangannya yaitu jadi tiap barang yang ingin diberikan ke pasangan masing-masing, diharapkan agar diberikan lebel Eco Green.

Selain itu, gantikan kembang yang akan anda berikan kepada kekasih dengan bunga organik atau bunga pelastik. Bunga jenis ini tidak akan merusak alam.

Cara lain yang paling unik untuk anda jadikan kado ialah memberikan media tumbuh yang ramah lingkungan kepada pasangan untuk ditanami bunga agar pasangan yang anda sayangi dapat menyalurkan kasih sayangnya terhadap alam dan lingkungan di hari valentine, semoga berhasil. (AND)

Melanie Subono Say "NO" to Plastic

Published in Informasi & Teknologi
Jumat, 06 Februari 2015 14:13

Medialingkungan.com – Melanie Subono, salah satu artis yang saat ini tengah antusias dalam penerapan gaya hidup yang ramah lingkungan. Ia memiliki perhatian yang tinggi terhadap masalah kerusakan lingkungan, termasuk konservasi satwa langka dan diambang kepunahan.

Melanie menghindari penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-harinya. Menurutnya, sampah plastik merupakan salah satu limbah yang berbahaya karena sampah jenis ini membutuhkan wakut lama untuk terurai.

"Tidak ada plastik masuk rumah gue dan gue enggak buang sampah sembarangan. Seandainya gue harus pakai kantong plastik, akan gue pakai berkali-kali," tutur Duta Antiaksi Kuman Wipol itu pada Media Indonesia di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sampah, lanjutnya, telah mengakibatkan kerusakan lingkungan, seperti baik banjir maupun longsor. "Banjir yang terjadi di berbagai daerah di Tanah Air belakangan ini disebabkan ulah manusia, antara lain karena masyarakat belum memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya."

Penyanyi yang pernah meraih penghargaan best solo female rock singer di ajang AMI Award 2008 itu mengungkapkan, saat ini jumlah sampah rumah tangga lebih mendominasi jika dibandingkan dengan sampah industri.

Perempuan kelahiran Hamburg, Jerman, 38 tahun yang itu mengungkapkan perilaku membuang sampah sembarangan merupakan faktor mental kita saja, tidak ada sangkut pautnya dengan faktor ekonomi dll.

"Gue banyak punya teman yang kuliah di luar negeri dan orang kaya, tapi tetap saja buang sampah sembarangan. Mereka sering membuang sampah lewat jendela mobil. Mereka pikir satu tisu mereka tidak bisa menyebabkan banjir," ungkap Melanie.

MASYARAKAT PERLU EDUKASI untuk lebih sadar akan lingkungan. Dengan demikian, ia berharap, suatu hari tidak ada lagi orang-orang terendam oleh banjir. "Tidak seperti sekarang, banjir merupakan hal yang lumrah di musim penghujan."

Ia juga menagatakan bahwa awareness terhadap bumi perlu ditumbuhkan. "Diperlukan kesadaran bahwa bumi merupakan rumah kita. Satu hal yang perlu diingat bumi tidak butuh kita. Tanpa kita, bumi bisa hidup. Tapi kita tak bisa hidup tanpa bumi dan lingkungan," selorohnya.

Berkaitan dengan plastik tadi, Anak Adrie Subono yang gemar membawakan lagu bergenre Rock dan Rock n’ Roll inipun berkisah tentang penyu-penyunya di penangkaran miliknya di Bali yang kerap kali mati.

"Gue punya penangkaran penyu di Bali yang sering mati. Saat diautopsi, ternyata banyak plastik dalam tubuh mereka. Itu karena mereka enggak bisa bedain mana yang plastik mana yang plankton atau ubur-ubur," ungkap Melanie.

Hal tersebut memicu Melanie untuk aktif melakukan aksi sosialisasi terkait dengan sampah. Ia giat untuk mengajarkan teknik-teknik mendaur ulang barang-barang bekas.

Bekerja sama dengan UNICEF, ia mengajar tentang pemanfaatan limbah plastik menjadi benda yang bernilai. Namun, lanjutnya, belum banyak orang yang mau memanfaatkan barang-barang hasil daur ulang tersebut. Karena itu, ia terus berusaha untuk melakukan sosialisasi hal itu untuk mengurangi jumlah sampah plastik. (MFA)

Daniel Mananta Terapkan Konsep Vertical Garden Pada Hunian Barunya

Published in Informasi & Teknologi
Selasa, 03 Februari 2015 21:41

Medialingkungan.com - Keterbatasan lahan, terutama di perkotaan, bukan alasan untuk tidak menyediakan taman atau ruang terbuka hijau. Solusi kreatifnya bisa menggunakan konsep vertical garden atau taman berdiri.

Vertical garden merupakan konsep lanskap dengan tanaman yang disusun secara tegak lurus tanpa harus menggunakan tanah sebagai media tanam. Konsep tersebut merupakan salah satu implikasi green design yang ramah lingkungan dan semakin populer digunakan di gedung perkantoran maupun hunian.

Bagi presenter Daniel Mananta, view sangat penting untuk menciptakan perasaan (ambience) yang nyaman. Termasuk di hunian pribadinya. Rumah Daniel sebelumnya menghadap langsung ke laut hanya untuk memperoleh pemandangan yang indah.

Namun, sejak pindah ke rumah barunya, dinding di bagian belakang huniannya -- ia poles menggunakan konsep vertical garden yang menjadi point of view-nya. Dengan luas areal sekitar 15 meter persegi, Daniel memercayakannya kepada desainer taman untuk mengutak-atiknya hingga menghasilkan pemandangan yang segar.

Mengapa pilihannya vertical garden? ’’Sebagai penyeimbang untuk menghilangkan kesan kaku dari hunian yang bergaya industrial loft,’’ ungkapnya.

Ditambah lagi, vertical garden tampak artistik dan tak lazim. ’’Lagi duduk minum kopi sambil ngelihatin taman di dinding, rasanya adem,’’ kata pemilik bisnis clothing Damn! I Love Indonesia itu.

Kesohoran model ini booming sejak era 2000-an sejak dirintis oleh Patrick Blanc, ahli botani asal Prancis pada era 1980-an. Dengan bentuk vertikal, luas area yang diperlukan sebagai taman menjadi lebih kecil. Memiliki vertical garden berdampak bagus untuk sebuah bangunan. Suhu bangunan jadi lebih sejuk serta mengurangi polusi. Selain itu, vertical garden yang dibuat dengan artistik menambah sisi keindahan pada bangunan.

Semntara itu, menurut desainer interior bangunan asal Jakarta, Layaliya Bachir, model vertical garden saat ini cocok diterapkan pada hunian pribadi. ’’Dengan makin berkembangnya teknologi yang mempermudah pemasangan vertical garden, konsep itu diaplikasikan pada hunian privat,’’ ujarnya

Tidak ada ketentuan minimal luas dinding yang diperlukan untuk membuat taman tegak. Penerapannya pun bisa dilakukan di dinding luar maupun bagian dalam rumah. Namun, yang menjadi perhatian, tanaman umumnya dapat tumbuh dengan baik jika mendapatkan sinar matahari yang cukup. Peletakannya bisa di bagian tengah atau spot yang menjadi point of view hunian untuk memancarkan keindahan alami. Dengan begitu, aliran udara di dalam rumah kian baik. Kualitas oksigen pun jadi meningkat.  (AH)

NASA Kembali Luncurkan Satelit Terbaru Untuk Amati Siklus Air Bumi

Published in Informasi & Teknologi
Kamis, 29 Januari 2015 22:15

Medialingkungan.com – Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) meluncurkan satelit pertamanya yang akan bertugas mengamati siklus air bumi pada hari ini, Kamis (29/1). Satelit yang diberi nama Soil Moisture Active Passive (SMAP) ini nantinya akan membantu para ilmuan dalam melakukan prediksi lebih baik atas cuaca, perubahan iklim, banjir dan kekeringan.

Tom Wagner, salah seorang ilmuan NASA seperti yang dikutip vaoindonesia.com  mengungkapkan peristiwa ini sangat luar biasa karena beberapa satelit akan siap diterbangkan dalam kurung waktu yang bersamaan.

"Perlu waktu yang lama untuk membangun satelit. Sekali meluncur ke antariksa, sulit untuk memperbaikinya. Jadi sebuah satelit memerlukan waktu tiga sampai enam tahun untuk dibuat," ucapnya.

Lebih lanjut, Wagner menjelaskan sebelum peluncuran ini, NASA pada Februari 2014 lalu juga telah meluncurkan satelit yang bertugas mengukur curah hujan global (Global Precipitation Measurement - GMP), kemudian disusul oleh Orbiting Carbon Observatory (OCO-2) yang mengukur bagaimana karbon bergerak melewati astmosfer.

"Kita perlu tahu dari mana itu berasal, tapi kita juga perlu tahu ke mana karbon itu pergi. Apakah diserap oleh laut? Dilepaskan di lelehan di Artik? Dan kita juga ingin mengetahui ke mana arah planet ini dalam 50 atau 100 tahun, hal itu merupakan jenis-jenis proses yang kita perlu pahami," ujar ahli bumi NASA tersebut.

Dia menambahkan, untuk mendapatkan gambaran keseluruhan mengenai apa yang terjadi di bumi, perlu membuat pengukuran di seluruh tempat setiap waktu. Dan menurutnya satelit adalah salah satu cara terbaik untuk melakukannya. (Ir)

Peneliti: Seluruh Daratan di Bumi Akan Menyatu "Lagi"

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 28 Januari 2015 12:39

Medialingkungan.com – Pada tahun 2012 silam Live Science melansir hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal Nature yang dilakukan oleh Ross Mitchell, ahli geologi di Yale University bersama beberapa rekannya. Dikatakan bahwa di masa lalu, Bumi tertutup oleh gabungan dari berbagai benua raksasa yang disebut sebagai supercontinent. Para ahli geologi ini berkesimpulan bahwa penggabungan tersebut pernah terjadi berkali-kali, dan akan terjadi lagi di masa yang akan datang.

Supercontinent yang akan terbentuk di masa depan itu disebut Amasia. Menurut para peneliti ini, Amasia tersebut terbentuk dari benua Asia dan Amerika yang bergerak ke arah utara, kemudian menyatu dan menutupi samudera Arctic.

Model konvensional tentang pembentukan supercontinent dibagi menjadi tiga. Pertama adalah introversi, yaitu supercontinent terbentuk di atas superkontinen yang ada sebelumnya. Kedua, jika yang terjadi adalah proses sebaliknya, maka disebut ekstroversi. Ketiga adalah orthoversi, yang berarti Amasia akan terbentuk menyamping dari lokasi supercontinent yang pernah ada dahulu.

Mereka fokus pada model ketiga dalam merumuskan penyatuan seluruh daratan di Bumi. Model orthoversi yang digunakan Mitchell dan rekannya mendasarkan pergerakan benua ke lokasi tempat tepian superkontinen terdahulu berada. Misalnya, ketika Pangaea pecah, bagian tepinya masuk ke dalam Bumi (terjadi subduksi atau penekukan).

Zona-zona penekukan tersebut kini mengelilingi Samudera Pasifik dan dikenal sebagai Rings of Fire (Cincin Api), yaitu lokasi terjadinya banyak gempa bumi dan letusan gunung berapi di masa kini. Melalui tersebut, benua masa kini akan bergeser entah ke utara atau selatan, di sekitar wilayah Cincin Api.

Untuk melihat model mana yang bakal membentuk Amasia, para peneliti mencoba melihat model paling sesuai dengan data pembentukan supercontinent di masa lalu. Termasuk data mengenai pembentukan Pangaea dan Rodinia, antara 750 juta sampai 1,1 miliar tahun lalu, serta Nuna, yang terbentuk antara 1,5 juta sampai 1,8 juta tahun lalu.

Jadi, kapan kira-kira supercontinent Amasia akan terbentuk?

Menurut Mitchell, sulit untuk menjawab tahun tepatnya pembentukan itu akan terjadi. Pasalnya, siklus benua tidak bisa disamakan dengan siklus musim. Namun, berpatokan dari sejarah pembentukan Pangaea 300 juta tahun lalu, kemunculan Amasia bisa diperkirakan. "Kita bisa memprediksi kisaran pembentukan Amasia dimulai dari 50 sampai 200 juta tahun dari sekarang," kata Mitchell. (MFA)

Pemprov DKI Jakarta Akan Manfaatkan Sampah

Published in Informasi & Teknologi
Senin, 26 Januari 2015 19:29

Medialingkungan.com – Banyaknya sampah yang dihasilkan Kota Jakarta setiap harinya, akan dimanfaatkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebgai bahan bakar pembangkit listrik. Alternatif dari bahan dasar sampah tersebut dijanjikan berjalan pada tahun ini.

Mengenai hal tersebut, Wakil Gubernur DKI Jakarata, Djarot Saiful Hidayat mengaku telah bekerja sama dengan investor dan dan sementara dalam pengkajian. “Untuk usulan ini sudah ada yang memasok, sedang kita kaji,” jelasnya, Senin ( 26/01).

Selain menjadi alternatif bahan bakar pembangkit listrik, abu dari hasil pembakaran sampah yang ada juga akan difungsikan sebagai bahan dasar semen. Hal ini dinilai mampu mengurangi beban sampah yang akan diangkut ketempat pembuangan akhir di Daerah Bekasi.

Sebelumnya, Djarot telah merencanakan untuk mengolah pupuk kompos dari sampah – sampah organik. Menuru dia, jika pemerintah total dalam pemanfaatan sampah yang ada maka banyak pihak yang bisa terbantu seperti Dinas Pertanian, Pertanaman serta masyarakat yang membutuhkan.

Wakil Gubernur pengganti Ahok tersebut menunjuk Jakarta utara sebagai tempat percontohan atau pilot project dari pemanfaatan sampah ini. (AND)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini