medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Kapal Inggris Rusak Terumbu Karang Raja Ampat

Published in Nasional
Kamis, 16 Maret 2017 15:30

Medialingkungan.com - Kapal pesiar Inggris, Caledonian Sky, Kandas di salah satu lokasi terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat berdampak pada kerusakan terumbu karang. Hancurnya ekosistem dan delapan genus dan hilangnya keragaman 8 jenis karang diantaranya acropora, porites, montipora, dan stylophora.

Raja Ampat memiliki 600 spesies terumbu karang ini artinya 75% jenis terumbu karang di dunia dapat ditemukan di Raja Ampat. Perlu waktu minimal 200 tahun untuk memulihkan kembali kondisi terumbu karang seperti semula.

Kepala Pusat Penelitian Sumber Daya Laut Universitas Papua, Ricardo Tapilato memastikan dari hasil pelacakan GPS yang dilakukan di sekitar lokasi terumbu karang yang rusak diperkirakan mencapai 1533 m3 atau 1,3 Ha.

"Boat dari Sorong dikerahkan untuk menarik kapal, sesuatu yang seharusnya terjadi karena bisa mengakibatkan kerusakan terumbu karang lebih besar. Harusnya mereka menunggu pasang naik," katanya.

Menurut perhitungan Tapilatu, Noble Caledonia, perusahaan yang mengoperasikan kapal itu, setidaknya harus membayar 1,28 - 1,92 juta dollar AS. Perhitungannya, untuk satu meter persegi, nilai ganti ruginya ditaksir 800 - 1200 dollar AS dan kemungkinan pemulihan terumbu karang sekitar 10 tahun.

Peristiwa kapal pesiar MV Caledonian Sky berpenumpang 102 orang menerabas terumbu karang di Raja Ampat itu terjadi pada 4 Maret 2017 lalu. Kapal hendak mengantarkan wisatawan melakukan pengamatan burung di Waigeo.

Entah apa penyebabnya, kapal itu terjebak di perairan dangkal. Tapi, boat menarik kapal itu pada saat air belum pasang sehingga merusak terumbu karang di bawahnya.

Menteri lingkungan hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya meminta Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengkaji status kapal yang melakukan perusakan terumbu karang, terutama apakah kapal tersebut bisa bebas berlayar atau tidak usai melakukan perusakan terumbu karang.

"Saya sudah diskusi ke Menhub, tolong cek apakah betul di UU Pelayaran mengatakan bahwa kapal bisa dilepas dalam situasi seperti ini atau tidak," ujar Siti di Kompleks Istana Presiden, melalui Kompas.com

Berdasarkan pantauan kementeriannya, saat ini kapal asal Inggris itu telah berada di perairan Filipina. Siti juga meminta Menhub mengkaji apakah kapal dengan tonase seperti Caledonian tersebut diperbolehkan memasuki perairan dangkal atau tidak. Jika ada, aturan ini akan digalakkan di destinasi alam laut lainnya di Indonesia. {TANTI}

Australia Naikkan Pengeluaran Untuk Selamatkan Great Barrier Reef

Published in Internasional
Senin, 05 Desember 2016 16:32

Medialingkungan.com - Sebuah laporan untuk UNESCO menunjukkan sekitar 1.3 Triliun Dollar Australia (atau sekitar Rp 13.000 Trilliun) akan dihabiskan Australia lima tahun ke depan dalam upaya meningkatkan kualitas air dan kelestarian terumbu karang Great Barrier Reef yang merupakan Situs Warisan Dunia oleh PBB.

Menteri Lingkungan dan Energi Australia, Josh Frydenberg seperti yang dikutip dari Reuters mengatakan bahwa berdasarkan laporan ini, Australia diharapkan dapat keluar dari daftar "bahaya" dalam pengawasan UNESCO.

Aktivis lingkungan percaya bahwa terumbu karang itu membutuhkan investasi lebih dari sekedar uang dari pemerintah berupa tindakan yang lebih konkret dalam melindungi salah satu terumbu karang terbesar didunia itu.

"Tidak dapat diterima bahwa pemerintah sekarang ini hanya memberi selamat sendiri atas penanganan kesehatan terumbu karang selama periode yang sama tanpa menjanjikan perbaikan yang berarti," kata Shani Tager, Reef Campaigner dari Greenpeace Australia.

Ilmuwan iklim berpendapat bahwa peningkatan karbon dioksida di atmosfer menyebabkan panas yang memancar dari bumi terperangkap, menciptakan pemanasan global dan merusak karang.

Australia adalah salah satu penghasil emisi karbon terbesar per kapita karena ketergantungannya pada pembangkit listrik berbahan bakar batubara.

Awal pekan ini, ilmuwan Australia mengatakan dua-pertiga dari 700 kilometer (atau 435 mil) Great Barrier Reef telah mati dalam sembilan bulan terakhir, yang merupakan kematian terburuk yang pernah tercatat di situs Warisan Dunia.

Kerusakan Great Barrier Reef yang terletak di lepas pantai timur utara Negara itu akan memalukan bagi pemerintah Australia dan dapat merusak industri pariwisata yang menguntungkan negara itu. (Mirawati)

Perubahan Iklim Membunuh Terumbu Karang Terbesar Di Dunia

Published in Internasional
Rabu, 30 November 2016 16:51

Medialingkungan.com – Para ilmuwan menyampaikan hasil survey terumbu karang, pada Selasa (29/11). Dijelaskan bahwa lautan hangat di sekeliling Great Barrier Reef, Australia, telah membunuh dua pertiga dari bentangan karang sepanjang 700 kilometer tersebut dalam sembilan bulan terakhir. Kematian karang itu "hampir pasti" merupakan yang terbesar dan terburuk yang pernah dicatat dimanapun karena ukuran Barrier Reef, yang luasnya 348.000 kilometer persegi, merupakan terumbu karang terbesar di dunia.

Seperti dilansir Reuters, Profesor Andrew Baird, seorang peneliti di James Cook University yang menjadi bagian dari tim survey terumbu karang, mengatakan bahwa terumbu karang pada dasarnya seperti dimasak. Para ilmuwan iklim berpendapat peningkatan karbon dioksida di atmosfer menjebak panas yang memancar dari Bumi, menciptakan pemanasan global.

Pemutihan terjadi ketika air air terlalu hangat, memaksa karang mengusir alga hidup dan menyebabkan karang mengapur dan menjadi putih. Pemutihan ringan koral bisa pulih jika temperatur turun dan survei mendapati ini terjadi di bagian selatan terumbu karang, tempat tingkat kematian karang jauh lebih rendah. Meski ada pemutihan yang terjadi secara alami, para ilmuwan khawatir peningkatan suhu laut akibat pemanasan global memperbesar kerusakan, membuat ekosistem peka di bawah laut tidak bisa pulih.

Komite Warisan Dunia UNESCO, tak lagi menempatkan Great Barrier Reef dalam daftar "bahaya" pada akhir Mei 2016 kemarin, namun tetap meminta pemerintah Australia menyampaikan kemajuan upaya penyelamatan terumbu karang tersebut. Pemerintah Australia akan mengajukan perbaruan itu pada Jumat menurut juru bicara Kementerian Lingkungan Josh Frydenberg.

Australia adalah salah satu pembuang karbon per kapita terbesar karena ketergantungannya pada pembangkit listrik berbahan bakar batubara. Pada Juni 2016, selama masa kampanye pemilihan umum, Perdana Menteri Malcolm Turnbull menjanjikan dana satu miliar dolar Australia untuk melindungi terumbu karang.

"Perubahan iklim membunuh Great Barrier Reef," kata ahli lingkungan Charlie Wood.

Wood juga menyatakan bahwa penambangan dan pembakaran batu bara, minyak dan gas secara berlanjut merupakan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki lagi pada iklim. Jika kita ingin anak-anak kita menikmati Great Barrier Reef hingga generasi selanjutnya, kita harus bertindak sekarang untuk menjaga bahan bahan fosil tetap berada di dalam tanah. (Andi Wahyunira)

Pulau Perawan dengan Berjuta Keindahan yang Tersembunyi

Published in Ekowista & Traveling
Selasa, 03 Mei 2016 20:52

Medialingkungan.com -  Pulau Kadidiri terletak di Taman Nasional Kepulauan Togean, Pulau Kadidiri yang memiliki pantai pasir putih bersih dan air laut yang jernih dengan biota laut yang kaya, sehingga menjadi destinasi yang cocok bagi Anda pecinta aktivitas air. Pulau yang disebut sebagai pulau perawan tersembunyi dengan keindahan yang akan menyegarkan jiwa dan pikiran Anda selepas menyambanginya. 

Pantainya menyuguhkan pemandangan yang tak kalah indah karena hamparan batu berbagai bentuk dan ukuran serta ditumbuhi pepohonan kelapa, cemara dan mangrove.

Secara administratif Pulau Kadidiri termasuk dalam kawasan Kota Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una, di Sulawesi Tengah. Pulau terpencil ini berjarak tempuh sekira 3-6 jam perjalanan dengan kapal laut dari Kota Ampana menuju Wakai kemudian dilanjutkan sekira 30 menit untuk tiba di Pulau Kadidiri. Saat Anda menginjakkan kaki di pulau ini maka kemungkinan besar saat itu pulalah Anda untuk sementara seakan tidak terhubung dengan peradaban. Hal ini dikarenakan selain sumber air tawar, sinyal ponsel pun terbilang hal yang susah didapatkan.

Pulau ini masih alami, sehingga bisa menikmati terumbu karang di sini dengan mata telanjang, tanpa harus snorkeling atau diving. Hanya dengan berjalan sejauh lima meter dari tepi pantai untuk menikmati keindahan bawah laut dengan mata telanjang. Air laut di sini sebening kristal dengan pasir putih nan lembut. Selain terumbu karang, Anda juga bisa melihat ikan berbagai warna saling berkejaran, penyu, hiu, dan biota laut lainnya.

Beberapa aktivitas yang dapat Anda lakukan di sini antara lain berlayar, menyelam, snorkeling, memancing, trekking hutan tropis, dan berjemur di tepi pantai. Keindahan yang bebas polusi dan pesona eksotis yang masih alami dari pulau ini menjadikannya sebagai tujuan wisata utama di kawasan tersebut.

Selain keindahan pantai dan bawah lautnya, hutan di pulau kadidiri kaya beragam flora dan fauna. Di atas pepohonan sekali-kali akan muncul jenis burung eksotis. {Andi Wahyunira}

1. Pemandangan di Dermaga Pulau Kadidiri {Sumber: JurnaLand}

2. Kamar yang Langsung Menghadap Ke Laut di Pantai Kadidiri {Sumber: Teguh Gigo Aryanto}

Indonesia Tetapkan LIPI Sebagai Wali Data Ekosistem Karang dan Lamun

Published in Nasional
Rabu, 10 Februari 2016 19:39

Medialingkungan.com – Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Kepala Badan Informasi Geospasial No. 54 tahun 2015, menetapkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai Wali Data untuk bidang Ekosistem Terumbu Karang dan Padang Lamun.

Melalui siaran pers, Rabu (10/2), Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian (IPK) LIPI, Dr. Zainal Arifin, menjelaskan bahwa banyak manfaat yang dapat diperoleh dari terumbu karang dan padang lamun seperti pembersih air laut, perekam iklim masa lalu dan peredam pemanasan global.

“Terumbu karang juga memiliki manfaat langsung bagi kehidupan manusia yaitu sebagai gudang bahan makanan, bahan obat-obatan, penyedia bahan bangunan, pelindung pantai dari hempasan ombak, mempunyai nilai estetika tinggi sebagai daya tarik wisata, diperdagangkan sebagai hiasan akuarium dan pendidikan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala LIPI, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain mengungkapkan walaupun banyak institusi pemerintahan atau swasta yang bergerak pada sektor maritim namun data dan informasi terkait sektor tersebut masih sangat sedikit.

“Khusus untuk kelautan, LIPI memiliki Pusat Penelitian (Puslit) Oseanografi yang berdiri sejak tahun 1905. Selama 111 tahun telah melakukan riset dan menyimpan data kemaritiman, salah satunya terkait dengan terumbu karang (coral reefs) dan padang lamun (seagrass beds),” imbuhnya.

Kepala Pusat Penelitian (Puslit) Oseanografi LIPI, Dr. Dirhamsyah, MA menuturkan, Puslit Oseanografi LIPI telah memiliki pengalaman yang cukup panjang dan terlibat intesif dalam beberapa kegiatan pengelolaan ekosistem pesisir, seperti ekosistem terumbu karang sejak tahun 1993 yang lalu hingga saat ini.

“Informasi tentang status dan kondisi biota dan ekosistemnya tersebut harus disampaikan kepada masyarakat secara periodik,” tambahnya.

Dia juga menambahkan kondisi terumbu karang Indonesia secara umum telah mengalami perbaikan terutama dari kondisi terumbu karang yang jelek menjadi sedang dan dari kondisi sedang menjadi lebih baik.

Dia berharap dengan data dan informasi yang dimiliki, LIPI dapat berkontribusi dalam pembangunan di sektor maritim Indonesia.

Berdasarkan hasil temuan LIPI, status kondisi terumbu karang pada tahun 2015 yang diambil dari 93 daerah dan 1259 lokasi adalah 5 persen dalam kondisi sangat baik, 27,01 persen,dalam kondisi baik, 37,97 dalam kondisi sedang dan 30,02 dalam kondisi buruk.

Berbeda dengan terumbu karang, LIPI mengestimasi padang lamun Indonesia memiliki luasan 3 juta hektar. Dan hingga saat ini hanya seluas 25.742 hektar yang telah divalidasi oleh Puslit Oseanografi dari 29 lokasi.

Kondisi padang lamun di Indonesia didasarkan pada prosentase tutupan lamun dari 37 lokasi sampling, 5 lokasi berada pada kondisi tidak sehat/buruk, 27 pada kondisi kurang sehat dan 5 lokasi pada kondisi sehat. (Irlan)

LPBI NU Sampang Desak Pemkab Sampang Merestorasi Terumbu Karang

Published in Nasional
Sabtu, 19 Desember 2015 11:04

Medialingkungan.com – Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) menyoroti kerusakan lingkungan laut di Kabupaten Sampang. LPBI NU menilai, kondisi ini sangat ironis, sebab selama ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang memandang sebelah mata dalam menyikapi rusaknya lingkungan terumbu karang di laut.

Menurut Ketua LPBI-NU Sampang, Hasan Jailani, lembaganya juga sering menyoroti kerusakan alam di dasar laut. Salah satunya, rusaknya terumbu karang di perairan Pulau Mandangin, Sampang. Akibat kerusakan itu, tiap tahunnya sebaran terumbu karang di perairan Pulau Mandangin menjadi berkurang.

“Untuk itu, kami mengajak Pemerintah Daerah ikut terlibat. Karena salama ini pemerintah tidak pernah menyentuh ke arah pelestaraian terumbu karang. Masyarakat juga harus bersama-sama menjaga alam. Karena kerusakan alam terjadi akibat ulah manusia,” tegas pria yang akrab dipanggil Mamak, Rabu (16/12).

Mamak menambahkan, untuk menanggulangi kerusakan terumbu karang. Pihaknya, pada Selasa (15/12) terlibat dalam kegiatan rehabilitasi Pulau Mandangin bersama dengan Pusat Penelitian Lingkungan Pesisir dan Kelautan (PPLPK) dan Lembaga Pusat Pengabdian Masyarakat (LPPM).

Kegiatan yang diisi dengan aksi penenggelaman terumbu karang dan penataan terumbu karang buatan di peraian Pulau Mandangin tersebut, melibatkan penyelam dari LPBI-NU Sampang, mahasiswa ilmu kelautan Universitas Trunojoyo Madura (UTM), serta warga pulau mandangin yang tergabung dalam kelompok konservasi Tase’ Biru.

Penyelam dari LPBI-NU Sampang, Parmadi, mengatakan, kondisi terumbu karang di Pulau Mandangin saat ini banyak yang rusak dan berkurang. Salah satu faktornya batu karang diambil oleh nelayan dan juga karena penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dengan menggunakan potas.

”Kegiatan ini juga melibatkan masyarakat setempat untuk memberikan pemahaman akan pentingnya menjaga terumbu karang dan lingkungan perairan. Karena terumbu karang menjadi tempat berlindung dan bertelurnya ikan, jadi kalau termbu karang rusak maka ikan tidak ada. Yang rugi juga nelayan karena hasil tangkapan berkurang,” tukas penyelam yang akrab dipanggil Aar. {Fahrum Ahmad}

Mengisi Liburan Dengan Menikmati Pesona Gugusan Pulau Togean

Published in Ekowista & Traveling
Jumat, 11 September 2015 20:18

Medialingkungan.com – Jika anda mencari tempat wisata yang indah namun jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, Taman Nasional Kepulauan Togean menjadi pilihan yang tepat dalam mengisi agenda liburan anda. Terletak di Teluk Tomini, Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah.

Kepulauan ini merupakan gugusan pulau kecil yang terbentang di tengah Teluk Tomini. Beberapa pulau yang tersohor antara lain Pulau Malenge, Pulau Una-Una, Pulau Batudaka, Pulau Talatakoh, Pulau Waleakodi, dan Pulau Waleabahi.

Selain hamparan pasir putih dan lautnya yang biru jernih, anda juga dapat menikmati hutan mangrove dengan 33 spesies mangrove-nya. Gua-gua, sungai dan air terjun di sekitar pulau, menambah keindahan pulau ini.

Penyu hijau (Chelonia mygas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbriocata), yang tergolong spesies penyu langka, juga terdapat di tempat ini dengan menjadikan pantainya sebagai tempat mencari makan dan berkembang biak.

Kepulauan Togean termasuk bagian penting dari segitiga terumbu karang dunia, yaitu Sulawesi, Filipina dan Papua Nugini. Spesies yang berada di bawah laut yaitu paus pilot, kima raksasa (Tridacna gigas), dan lola (Trochus niloticus), ikan pari manta, hiu karang abu-abu, dan ikan trevally mata besar, dan tentunya warna-warni karang.

Di daratan, terdapat hewan endemik Sulawesi yang dilindungi seperti tangkasi (Tarsius sp), kuskus (Ailurops ursinus), rusa (Cervus timorensis), dan ketam kenari (Birgus latro). Ada pula monyet togean (Macaca togeanus), biawak togean (Varanus salvator togeanus) dan babi rusa togean (Babyrousa babirussa togeanensis) yang hanya ada di Kepulauan Togean.

Untuk menuju ke pulau ini dari Kota Palu ditempuh dengan lama perjalanan sekitar 10 jam. Di perjalanan anda akan menikmati keindahan gunung kebun kopi dan keindahan pantai di Garis Khatulistiwa. Kemudian dilanjutkan dengan perjalanan melalui perahu dari Ampana ke Wakai dan Malenge. (Andi Tanti)

1. Wisata hutan mangrove yang terletak di Pulau Togean (Gambar: www.indonesia.travel)

2. Keindahan pasir putih di pulau Togean (Gambar: www.indonesia.travel)

 

Akibat Kabut Asap, Terumbu Karang Terancam Mati

Published in Nasional
Jumat, 17 Oktober 2014 09:52

Medialingkungan.com – Sekilas, memang tak tampak pengaruh kabut asap yang menyelimuti Kota Padang, Sumatera Barat, terhadap ekosistem bawah laut yang berada di wilayah itu.

Pengamat terumbu karang dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta (UBH), Suparno, pada Rabu (15/10) mengatakan bahwa kabut asap tersebut menyebabkan masuknya cahaya matahari untuk aktivitas fotosintesis terumbu karang menjadi relatif rendah. Di samping itu, mangrove dan padang lamun maupun ekosistim pesisir lainnya akan terkena imbasnya.

"Kami masih ingat, akhir 2000 pernah terjadi kematian masal terumbu karang di perairan laut Sumbar, penyebabnya kabut asap yang menutupi sinar matahari masuk ke laut, sehingga memicu berkembangnya fitoplanton alga merah. Blooming fitoplankton tersebut menyebabkan kematian massal bagi terumbu karang," ujarnya.

Terumbu karang memiliki sensitifitas yang tinggi jika terjadi ketidakseimbangan dalan sebuah ekosistem. Untuk melakukan fotosintesis, zooxanthela pada struktur tubuh terumbu karang membutuhkan cahaya yang cukup untuk memproduksi makanan terumbu karang. Pasalnya, jika terumbu karang tidak disuplai makanan, maka tempat bergantung hidup ikan-ikan ini akan mengalami pemutihan (coral bleaching) hingga akhirnya mati.

Tak hanya itu, kematian terumbu karang juga dipengaruhi suhu dalam air. Untuk batas toleransi suhu terumbu karang berkisar sekitar 30-31 derajat Celcius.

Suparno menyebutkan, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pertumbuhan terumbu karang itu kembali, sampai saat ini pertumbuhan kembalinya (recovery) baru diperkirakan sekitar 30 hingga 40 persen, jika blooming terjadi lagi, kondisinya akan kembali nol.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa proses pertumbuhannya kembali bisa secara alamiah dan bantuan manusia, salah satu usaha untuk mempercepatnya adalah dengan metode transplantasi, tetapi itu hanya bisa dilakukan pada jenis dan spesies tertentu.

Menurutnya, jika kabut asap sampai hari ini masih berlangsung hingga tiga bulan kedepan, blooming fitoplanton dikhawatirkan dapat terjadi lagi.

Ia mengkhawatirkan pertumbuhan sekitar 10 ribuan transplantasi karang yang dilakukan di UKM Diving Proklamator UBH sejak 2013 yang tersebar di Pulau Sironjong Gadang Kawsan Mandeh, Taman Nirwana dan Pulau Pasumpahan Padang akan terganggu dan mati.

Terhadap bencana asap ini, Suparno sendiri sangat menyayangkan, semua orang hanya mempertimbangkan korelasi asap dengan kesehatan dan ekosistem daratan saja. Sedangkan upaya transplantasi 5000 karang yang berada di Pulau Sironjong Gadang, Kawasan Mandeh, yang dilaksanakan pemuda-pemuda dan masyarakat setempat yang sejauh ini mengalami pertumbuhan yang baik, tak mendapat respon yang baik. (MFA)

Menjaga Terumbu Karang Dengan Konser Musik Selama Empat Jam

Published in Internasional
Selasa, 15 Juli 2014 15:40

Medialingkungan.com – Kegiatan tahunan konser musik di bawah laut kembali di selenggarakan di Looe Key Reef di Amerika Serikat, Senin (14/7/2014).

Sekitar 500 penyelam dan perenang melakukan aksi yang sangat mengagumkan dalam konser ini.

Konser bawah laut ini dilakukan untuk memeriahkan acara tahunan Lower Keys Underwater Music Festival yang ke-30. Konser yang unik ini berlangsung selama empat jam dengan memainkan musik-musik terkenal dari seluruh dunia.

"Kami memulai ini sebagai seni dan acara budaya 30 tahun yang lalu," kata pendiri acara dan koordinator, Bill Becker.

“Ini adalah satu-satunya tempat yang bisa kita kunjungi jika ingin mendengarkan musik ketika sedang di bawah air bagi para penyelam, perenang, dan biota laut lainnya,” tambahnya.

Becker menjelaskan, selain menawarkan pengalaman yang tidak biasa untuk menyelam dan snorkeling, acara ini bertujuan untuk mempromosikan perlindungan terumbu karang.

"Kami mencoba untuk memberikan informasi kepada para penyelam untuk menyadari dampaknya terhadap terumbu karang, sehingga mereka bisa menjaganya dan karang ini bisa berada di sini untuk generasi mendatang," Ujar Becker.

Sejumlah musik yang dimainkan dalam konser ini adalah lagu-lagu seperti Octopus' s Garden dari The Beatles, soundtrack film Disney ‘The Little Mermaid’, dan soundtrack sebuah acara televisi Flipper.

Becker menambahkan, konser bawah laut ini dapat didengarkan sampai jarak 50 meter.

Salah seorang penyelam dari Munich, Jerman, Uli Clef, mengatakan bahwa dia sangat terkesan dengan warna dan ikan tropis yang hidup di bawah air.

"Saya telah melihat warna dari merah ke biru, dan bahkan nuansa matahari yang datang dari garis air. Semua ikan berwarna-warni dan terlihat sangat sempurna," kata Clef.

Yang unik dari konser ini yaitu ketika beberapa penyelam memakai berbagai macam jenis kostum dan berpura-pura memainkan alat musik yang diukir oleh seorang seniman asal Florida Keys,  August Powers. Mereka melakukan aksi yang unik seakan-akan sedang melakukan konser.

Konser ini diharapakan dapat memberi peyadaran kepada masyarakat betapa pentingnya menjaga dan melestarikan terumbu karang. Selain keindahannya dapat dinikmati, manfaatnya pun besar bagi lingkungan. (AH)

Terbukti Merusak Karang, AS Didenda Filipina Sebesar 1 Juta Dolar

Published in Internasional
Selasa, 01 Juli 2014 12:40

Medialingkungan.com — Sebuah kapal melintas di kawasan Tubbataha Reef, Pantai Timur Provinsi Palawan pada awal 2013 lalu. Kapal milik Angkatan Laut Amerika, USS Guardian itu berfungsi untuk menyapu ranjau yang berada di perairan dan terbukti turut menyapu terumbu karang dengan luas 2.300 m2.

PBB dalam hal ini UNESCO, telah mencatat Karang Tubbataha seluas 97 ribu hektar sebagai Situs Warisan Dunia. Para pejabat Taman Laut Tubbataha mengatakan lebih dari 70% spesies karang tumbuh di sana. Situs itu merupakan tempat rekreasi menyelam yang terkenal dan kediaman bagi hewan-hewan laut yang terancam dan hampir punah.

Terumbu karang itu terletak di Laut Sulu – yang letaknya berhadapan dengan Laut China Selatan, di mana Filipina sedang terlibat sengketa dengan China dan empat negara lainnya. 

Melihat kondisi tersebut, pihak otoritas setempat melakukan observasi dan perhitungan, terkait kerusakan yang ditimbulkan.

Angelique Songco, pejabat Kawasan Terlindung Tubbataha Reef's mengatakan, sebuah tim evaluasi yang terdiri dari pejabat-pejabat lokal, personil Angkatan Laut Amerika dan ahli biologi kelautan Amerika menyimpulkan bahwa kerugian akibat kerusakan itu mencapai sekitar 1,5 juta dolar.

“Kami semua sependapat. Ada ilmuwan dalam tim evaluasi kami. Kami semua sepakat tentang besarnya kerusakan tersebut setelah mengukurnya. Kami gembira dengan kesimpulan itu, dan kami rasa itu adil,” kata Songco.

Kelompok pencinta lingkungan hidup Kalikasan melalui Koordinatornya, Clarence Bautista mengatakan, pemerintah Filipina seharusnya menempuh jalur hukum perdata dan pidana.

“Ini tidak menangani isu bagaimana para perwira Angkatan Laut Amerika Serikat atau USS Guardian akan diadili menurut undang-undang Filipina,” tegas Bautista pada rilis VOA.

Kalikasan mengajukan petisi ke pengadilan tinggi Filipina, menuntut ditetapkannya beberapa persyaratan termasuk “kompensasi segera” hingga 27 juta dolar. Pengajuan tuntutan kriminal itu berdasarkan hukum Filipina dan pemberlakuan moratorium latihan militer bersama Amerika-Filipina, khususnya di wilayah laut yang dilindungi.

Bautista menambahkan Mahkamah Agung bulan lalu menyatakan bahwa pihak Amerika yang terlibat kasus ini belum menerima petisi tersebut.

Semenara itu, Pihak Angkatan Laut Amerika memberhentikan empat perwira, termasuk kapten kapal USS Guardian – pasca insiden tersebut. (MFA)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini