MOS Berbasis Lingkungan


Oleh : Muhammad Alfatah AP – SMAN 2 Makassar

Masa Orientasi Siswa (MOS) yang diselenggarakan setiap awal tahun pelajaran jenjang SMP/MTs atau SMA/SMK pada dasarnya adalah media pembelajaran awal bagi pelajar untuk berinteraksi di sekolahnya masing-masing.

Tidak jarang MOS ini dilaksanakan secara terpadu di tingkat kota atau kabupaten dan dibuka secara resmi pula oleh walikota atau bupati yang diikuti oleh semua unsur terkait termasuk para guru dan kepala sekolah yang jumlahnya bisa mencapai ribuan orang pada hari pembukaannya.

Namun apa yang terjadi, setiap prosesi pembukaan MOS terpadu yang ada di tingkat kota atau kabupaten jarang sekali berisi tentang pesan-pesan bagaimana ada upaya pendekatan kepada para pelajar untuk mencintai lingkungannya.  

Setiap pembukaan MOS terpadu, kita hanya diperhadapkan pada kegiatan seremoni yang tidak jarang pula begitu selesai acara pembukaannya di lapangan terbuka, tampaklah sampa-sampah berserakan yang sangat tidak enak dipandang mata.

Kalaupun ada pemikiran di antara pelajar yang melihat sampah-sampah tersebut, mereka berpikir ada bagian keberhasilan dari pihak pemerintah yang akan menanganinya. Setelah selesai, pembukaan MOS terpadu tersebut, para pelajar pun kembali ke sekolahnya masing-masing dan siap mengikuti serangkaian acara MOS yang biasanya diikuti selama 3 hari.

Dalam pelaksanaan MOS di tingkat sekolah baik SMP/MTs atau SMA/SMK, jarang kita temukan atau bahkan tidak ada satu pun agenda rangkaian acara MOS tersebut yang bersentuhan dengan kecintaan terhadap lingkungan hidup, sehingga kondisi ini pula yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa sekolah telah menyelenggarakan kegiatan pendidikan yang kurang atau tidak berorientasi kepada kecintaan atau kepedulian akan lingkungan hidup kepada pelajar itu sendiri.

Jika pandangan pelaksanaan MOS ini tidak dirubah, maka akan semakin menjauhkan pelajar itu sendiri dari kepedulian akan lingkungan hidup. Oleh karena itu, perlu ada alternatif kegiatan di dalam penyelenggaraan MOS yang diikuti oleh para pelajar yang disesuaikan dengan gaya hidupnya masing-masing.

Untuk mendekatkan pelajar akan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan hidup di dalam kegiatan MOS, maka perayaan MOS terpadu di setiap kota atau kabupaten harus dikreasi tidak hanya bersifat seremoni belaka yang mungkin dibumbui dengan urusan politik utamanya terkait dengan pilkada atau pilwalkot.

Kegiatan MOS terpadu akan lebih bermakna apabila setiap pelajar dari berbagai sekolah yang ada yang jumlahnya bisa tembus ribuan orang masing-masing membawa bibit pohon sesuai kesukaannya dan dilakukan penanaman serentak ke berbagai titik yang ada dalam wilayah kabupaten atau kota tersebut.

Bisa dibayangkan dalam satu hari saja di saat selesainya pembukaan MOS terpadu, semua pelajar menanam pohon sebagai wujud kecintaan akan lingkungan hidup akan memberikan warna dan kesan tersendiri bagi masyarakat lain yang melihatnya.

Selain itu harus ditindaklanjuti pula dengan menanamkan rasa tanggungjawab bagi pelajar yang telah menanamkan pohon yang dibawanya tadi untuk senantiasa memelihara dan menjenguknya kala jam pelajaran telah selesai setiap minggunya dengan dibantu oleh pihak terkait dari pemerintah kabupaten atau kota.

Untuk MOS di tingkat sekolah masing-masing, setiap pelajar juga diajari hal yang sama dan diberi tanggungjawab untuk memelihara setiap pohon yang ditanamnya.

Apabila hal ini bisa terealisasi dengan tingkat keberhasilan rata-rata 25% setiap tahunnya, maka dipastikan kita akan mendapatkan lingkungan yang sejuk dan asri serta tertanamnya kepedulian akan lingkungan di kalangan pelajar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *