Penumpukan Karbon di Atmosfer Kota Makassar


Oleh : Zahratun Nadirah – MAN 2 Model Makassar

Udara yang bersih merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Tubuh memerlukan oksigen yang cukup untuk proses pernafasan dan pembentukan energi. Namun, di tengah berkembangnya populasi manusia, udara bersih menjadi hal yang langka.

Kota Makassar sebagai salah satu kota metropolitan di Indonesia tak luput dari hal tersebut. Dari tahun ke tahun, atmosfir Kota Makassar makin didominasi dengan tumpukan karbon hasil pembakaran tak sempurna dari berbagai mesin kendaraan dan limbah industri. Hal ini tentunya menjadi masalah serius dalam kelestarian lingkungan hidup. Terlebih lagi di dalam kota ini terdapat kurang lebih 1,6 juta jiwa yang akan merasakan dampak dari penumpukan karbon tersebut. Ilustrasi pencemaran karbon

Karbon dioksida (CO2), dan karbon monoksida (CO) merupakan senyawa inhibitor bagi hemoglobin manusia. Jika terlalu banyak menghirup kedua senyawa tersebut akan menimbulkan gangguan kesehatan, mulai dari gangguan pernafasan, keracunan, hingga kematian. Oleh karena itu, kedua senyawa ini merupakan salah satu racun bebas yang melingkupi kehidupan manusia.

Penggunaan kendaraan bermotor yang semakin tahun semakin meningkat membuat makin tingginya angka pencemaran karbon di Kota Makassar. Sementara itu, sebagai kota besar dan padat, ketersediaan lahan hijau sebagai sumber oksigen semakin berkurang. Hal ini menimbulkan polusi CO2 dan CO makin sulit dinetralisir. Jika keadaan seperti ini terus berlangsung dan tidak adanya upaya untuk mengurangi tumpukan karbon, maka kehidupan manusia akan terganggu.

Tidak hanya gangguan pernafasan, kenaikan suhu besar-besaran akan terus terjadi dalam hitungan tahun, bulan, bahkan minggu. Hal inilah yang memicu terjadinya pemanasan global sebagai akibat dari efek rumah kaca dan ketidakstabilan ekosistem di bumi. Bukan tidak mungkin, dalam jangka 1000 tahun manusia dan berbagai spesies makhluk hidup bisa mengalami kepunahan akibat seleksi alam yang ganas ini.

Kita tentunya tidak menginginkan hal itu terjadi. Kita menghendaki lingkungan yang layak untuk dihuni bagi diri sendiri maupun generasi kita. Namun, tak jarang dari kita yang menyepelekan masalah lingkungan ini. Beberapa pihak bahkan sekedar beropini tanpa ada tindakan untuk menyelamatkan lingkungan. Sebagai contoh, penggunaan kendaraan untuk perjalanan yang masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Banyak diantara kita yang merasa gengsi untuk membudayakan berjalan kaki atau bersepeda padahal jarak yang dituju tidak seberapa jauh. Padahal dampak positifnya tidak seberapa dibandingkan dampak negatif emisi buangan dari kendaraan bermotor yang digunakan.

Oleh karena itu, sebagai masyarakat yang hidup di Kota Makassar, kita perlu turut serta memberi kontibusi untuk perbaikan lingkungan hidup. Kita bisa memulai dari hal kecil di sekitar

1. Memanfaatkan lahan yang kosong untuk menanam tanaman hijau sebagai upaya untuk  penyerapan karbon dioksida.

2. Membiasakan diri untuk berjalan kaki atau bersepeda jika menempuh perjalanan jarak

3. Mengurangi penggunaan alat elektronik jika tidak begitu dibutuhkan.

4. Menggunakan transportasi massal sebagai upaya pengurangan polusi Karbon Monoksida.

Oleh karena itu, sebagai warga kota yang baik, marilah membiasakan diri untuk melakukan salah satu hal di atas, agar kota ini bisa menjadi salah satu kota yang ramah lingkungan dan memiliki harapan hidup yang tinggi bagi para penghuninya.


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *