Hari Terkahir Pendidikan Lingkungan, Lebih Dari Tahu

 Hari Terkahir Pendidikan Lingkungan, Lebih Dari Tahu

Jennifer (baju hijau), sedang menerangkan tanda-tanda serangga yang hidup pada daun (Gambar: Fahrum Ahmad)


Medialingkungan.com – Hari ke-2 pendidikan lingkungan yang diadakan Badan Eksekutif (BE) Keluarga Mahasiswa Fakultas Kehutanan (KEMAHUT) Sylva Indonesia (PC) Universitas Hasanuddin pada 17 Maret sesuai dengan harapan dari faslitator, Jennifer Hacking dan Nasri, para peserta terlihat sangat bergairah menghadapi tahap-tahap selanjutnya dari pendidikan lingkungan ini.

Seperti hari sebelumnya, para peserta dibagi secara berkelompok. Terdapat dua kelompok yang beranggotakan masing-masing 7 orang. Pada hari terakhir ini, fasilitator akan membimbing para peserta untuk bisa memahami pentingnya peran pemangku kebijakan dalam menangani persoalan lingkungan hidup.

Dalam sesi awal, fasilitator memberikan gambar yang berisikan masalah yang sering dijumpai di perkotaan, yakni pengelolaan limbah. Dalam ilustrasi gambar tersebut, terdapat 2 kota yang terpisah tidak begitu jauh, dan keduanya dilalui oleh sungai. Kota yang berada di bagian hulu sungai sering kali menyalurkan limbah ke kota di bagian hilir sungai. Fasilitator kemudian meminta problem solving kepada kedua kelompok ini jika para peserta ini bertindak sebagai aktor dalam pemerintahan.

“Solusinya beragam, dan sangat baik untuk level siswa sekolah menengah atas,” ujar panitia pelaksana.

Mayoritas para peserta memiliki argumen dan solusi yang hampir sama. Mereka beranggapan bahwa kedua kota ini seharusnya membuat nota kesepakatan yang mengatur tentang pemeliharaan daerah hulu sungai agar sungai ini tidak tercemar oleh aktvitas perkotaan. Kemudian kota di bagian hulu sungai memberikan insentif yang setimpal dengan upaya yang dilakukan pada kota di hulu sungai.

Nasri menilai, para peserta mulai terstimulun dan lebih memahami peran penting pembuat kebijakan dalam mengatur tata kelola limbah, khususnya di wilayah perkotaan. “Dengan begitu, saat suatu saat jika kalian menjadi pejabat, kalian sudah tahu apa yang semestinya dilakukan sebagai langkah tepat dalam mengelola limbah dan meminimalisir dampaknya,” seloroh Nasri dengan nada sedikit bercanda.

Pada sesi berikutnya, peserta diberikan kasus yang berbeda. Kali ini kedua kelompok ini dihadapkan pada kasus pengalihan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Kedua kelompok tersebut masih memainkan perannya sebagai penentu kebijakan, hanya saja pada level yang lebih kecil, yakni aparatur desa.

Pada kasus kali ini, terdapat sebuah desa dimana 100 orang bermukim di sekitar hutan dan menggantungkan hidupnya pada hutan tersebut. Kemudian, di sebelah hutan itu juga terdapat sebuah perusahaan kelapa sawit yang bermaksud berekspansi di areal hutan. “Silahkan kalian (peserta) tentukan, Apakah hutan tersebut bisa dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit ?,” Tanya Nasri.

Clue selanjutnya, perusahaan sawit tersebut bersedia mempekerjakan 10 orang warga desa di perusahaan dan diberikan insentif dengan jumlah yang besar. Jadi menurut kalian apa yang semestinya dilakukan oleh kalian sebagai aparatur desa.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kedua kelompok ini mengemukakan bentuk kebijakan untuk yang dikeluarkan sebagai aparatur desa. “Kami menolak pengalihfungsian itu karena bisa berdampak pada kondisi ekonomi 90 orang warga desa lainnya, kemudian dampak ekologi dari beralihnya hutan menjadi perkebunan kelapa sawit juga akan mempengaruhi hidup warga yang bermukim dan bergantung hidup pada hutan tersebut,” jelas M. Nur, dari kelompok 1, asal SMA Negeri 2 Makassar.

Jawaban yang sama juga terucap dari kelompok 2. “Meskipun ada 10 orang yang bergaji tinggi, tapi yang lainnya justru kehilangan mata pencahariannya karena hutan, tempat mereka engais rejeki, sudah berlaih menjadi kebun sawit, jadi kami tidak setuju dengan inisiatif tersebut,” ungkap Moammar, dari kelompok 2, asal SMA Negeri 18 Makassar.

“Jadi, seluruh peserta bukan hanya sekedar tahu saja tentang eran sentral lingkungan hidup dalam kehidupan manusia, tapi memahami cara memperlakukan lingkungan sebagaimana mestinya, jelas Jennifer dalam salah satu sesi break.

KEGIATAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN USIA REMAJA resmi ditutup pada hari pada pukul 16.00 wita oleh ketua BE KEMAHUT Sylva Unhas. Sebelum menutup kegiatan tersebut, beliau menyampaikan apresiasinya kepada panitia dan khusunya kepada peserta kegiatan yang masih semangat sampai pada akhir acara. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa selepas dari kegiatan ini, para peserta bisa mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh di sekolah masing-masing.

Sesi foto bersama seluruh peserta dan 2 fasilitator, Jennifer Hacking (perempuan, tengah) dan Nasri (sebelah Kanan Jennifer) (Gambar: Dedy)

Sebelumnya, Moammar diberi kesempatan untuk menyampaikan kesannya selama mengikuti kegiatan tersebut. Iamengatakan kegiatan yang diikutinya selama 2 hari tersebut benar-benar sangat bermanfaat. “Ada banyak hal yang berhasil saya terima selama kegiatan ini dan salah satunya, bagaimana saya dituntut untuk lebih sensitif terhadap lingkungan, dan bagaimana memelihara alam dan lingkungan sekitar.

Rangkaian penutupan kegiatan pendidikan lingkungan ditutup dengan pemberian penghargaan berupa plakat dan serifikat kepada setiap peserta dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama.(Dedy/Fahrum Ahmad)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *