Peneliti: Bintaro Penyerap CO2 Terbesar di Perkotaan

 Peneliti: Bintaro Penyerap CO2  Terbesar di Perkotaan

Pohon bintaro cocok sebagai peneduh dan penghias taman kota (Gambar : Bintarojaya)


Medialingkungan.com – Pusat Perubahan Iklim dan Kebijakan (Puspijak) Badan Peneltiian, Pengembangan dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) merilis hasil penelitian yang dipublikasikan Jurnal Sosial Ekonomi Vol 12, Nomor 1 Tahun 2015 yang mengungkap bahwa daya serap karbondioksida tanaman bintaro (Cerbera Manghas) merupakan yang paling besar dibandingkan tanaman perkotaan lainnya.

Peneliti dari Puspijak Balitbang KLHK, M Iqbal mengatakan, tanaman bintaro (Cerbera manghas) yang kerap dijumpai di jalur hijau perkotaan ini mampu menyerap karbondioksida hingga mencapai 11,86 ton/daun tanaman/tahun.

“Besarnya potensi serapan karbondioksida per luas daun pada tanaman bintaro disebabkan karena massa karbondioksia yang dihasilkan paling tinggi dibandingkan jenis lainnya. Selain itu, ketebalan daun tanaman bintaro yang paling besar juga dapat berpengaruh pada potensi serapan CO2,” jelas Iqbal di Bogor, Senin (29/06).

Iqbal menyontohkan bahwa tanaman bintaro yang berada di jalur hijau Jalan Pajajara, Kota Bogor, adalah yang terbanyak menyerap karbondioksida dibandingkan delapan jenis tanaman perkotaan lainnya.

Ia menyarankan agar tanaman yang dipilih untuk penyerap karbon adalah tanaman dengan kemampuan daya serap yang baik. “Untuk mengendalikan peningkatan gas karbondioksida secara efektif dalam pembangunan hutan kota dapat dilakukan dengan pemilihan jenis tanaman yang mempunyai potensi serapan karbondioksida tinggi seperti tanaman bintaro,” ungkap Iqbal.

Tanaman bintaro ini, sambung Iqbal, mampu tumbuh dan berkembang dengan cepat –di pinggir jalan raya maupun di pekarangan rumah warga. Dari sisi estetika, bintaro memiliki daun yang rimbun dan bunga berwarna putih, sehingga bisa digunakan sebagai penghias taman kota dan peneduh. “Selain itu, bijinya mengandung minyak yang cukup tinggi dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber energi alternatif pengganti bahan bakar minyak dari fosil,” katanya.

Selain bintaro, tanaman lain yang juga diteliti serapan karbonnya adalah (1) karet kebo –Ficus Elastic- (3,83 ton/daun/tahun), (2) mahoni daun besar –Swietenia Macrophylla– (2,51), (3) bunga kupu-kupu –Baubinia Purpurea- (1,47), (4) akasia –Acacia Mangium- (0,90), (5) angsana –Pterocarpus Indicus- (0,84), (6) mahoni daun kecil –Swietenia mahagoni- (0,82), (7) beringin –Ficus Benjaina– (0,37), dan (8) Kersen –Muntingia Calabura- (0,13).

Pengukuran potensi serapan karbondioksida oleh daun dari kesembilan jenis tanaman tersebut dilakukan dengan uji karbohidrat menggunakan alat spektrofometer dengan panjang gelombang 500µm. Nilai massa karbohidrat yang dihasilkan menunjukkan adanya penyerapan karbondioksida pada tanaman tersebut.

Menurut Iqbal, besarnya potensi serapan karbondioksida juga dipengaruhi oleh luas dan lebar daun, warna kehijauan daun, jumlah daun serta kadar air pada tiap jenis daun. Sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh adalah lokasi/tempat hidup tanaman, ketersediaan air, pengaruh cahaya dan suhu serta ketersediaan air mineral.

“Dalam penelitian ini, mahoni daun kecil mempunyai massa karbondioksida paling rendah dibandingkan jenis tanaman lain. Hal ini mungkin disebabkan tanaman sampel yang digunakan dalam penelitian ini kurang mendapatkan intensitas cahaya matahari sehingga proses fotosintesis menjadi kurang optimal,” jelas Iqbal.

Iqbal berasumsi bahwa pohon mahoni memang tanaman yang banyak ditanam di pinggir jalan dan lingkungan rumah atau halaman perkantoran sebagai tanaman peneduh, karena tanaman ini mampu tumbuh dengan baik di tempat terbuka dan terkena cahaya matahari secara langsung, baik di dataran tinggi maupun rendah.

Kendati demikian, menurut Iqbal, jenis tanaman yang mempunyai potensi serapan karbondioksia tinggi, jenis tanaman lokal atau endemik harus tetap menjadi prioritas dalam pemilihan jenis tanaman hutan kota. (Fahrum Ahmad)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *