Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
Korporasi HTI Beranjak Pergi Dari Lahan Gambut
Lahan konsesi milik RAPP di Riau (Gambar: Istimewa)
Medialingkungan.com – Keberlangsungan korporasi Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk melakukan budidaya di lahan gambut secara berangsur akan dialihkan. Sebagai konsekuensi, korporasi mengganti tanaman akasia dengan tanaman lain yang tahan terhadap kondisi basah. Upaya tersebut diharapkan menjadi solusi menyelesaikan kebakaran hutan dan lahan yang berulang belasan tahun.
“Kami baru saja menyiapkan peta jalan pembangunan hutan tanaman industri,” kata Nyoman Suryadiputra, Direktur Wetlands International Indonesia, beberapa waktu lalu saat diskusi di Redaksi Kompas.
Peristiwa kebakaran hutan yang menimbulkan asap tebal dipicu karena keringnya gambut. Melalui pengalihan itu, kelembaban rawa gambut tetap terjaga dan HTI tetap dapat beroperasi.
Wetlands Indonesia pun telah memberikan peta jalan itu kepada Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. Peta jalan itu berisi tahapan bagi perusahaan hutan tanaman industri di Indonesia menarik diri dari gambut atau berganti jenis tanaman basah yang biasanya endemis.
Sementara itu, Balai Penelitian Kehutanan Palembang menyebutkan, tanaman akasia bisa disubtitusi dengan tanaman jelutung di rawa gambut.
Kayu jelutung berwarna putih kekuningan, bertekstur halus, dan arah serat lurus menjadikannya memenuhi syarat sebagai bahan baku industri mebel, kayu lapis, dan pulp (bubur kertas) untuk dijadikan kertas.
Namun, tanaman jelutung membutuhkan waktu yang lama untuk panen – sekitar 30 tahun atau sampai getah pohon tak terlalu banyak. Kendati usia panen lama, namun getah jelatung dapat juga dimanfaatkan untuk materi industri.
Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper Tony Wenas, Jumat (06/11) di Singapura, memperkirakan 50-60 persen lahan konsesinya/penyuplai ada di lahan gambut. Ia menyebut, kanal gambut RAPP tak memotong kontur.
“Kami atur ketinggian air disesuaikan kebutuhan. Kami butuh membasahi tanah juga karena tanaman butuh air,” ujar Tony.
Tony mengatakan bahwa kebakaran di RAPP bersumber dari luar konsesinya. Ia mengakui, pihaknya juga mengeluarkan biaya operasional senilai jutaan dollar AS per tahun untuk memadamkan api. {Fahrum Ahmad}