Air Asia Hilang, Cuaca Relatif Kondusif untuk Pencarian

 Air Asia Hilang, Cuaca Relatif Kondusif untuk Pencarian

Airbus A320-200 yang dioperasikan oleh maskapai Indonesia AirAsia, yang hilang sejak Minggu (28/12/2014). (Gambar : Reska K. Nistanto/KOMPAS) 


Medialingkungan.com – Seperti dikabarkan sebelumnya, pesawat AirAsia QZ8501 tujuan Surabaya-Singapura diperkirakan jatuh di perairan laut Belitung Timur, Bangka Belitung, pada Minggu (28/12). Dikatakan bahwa pesawat itu kehilangan kontak sekitar pukul 06.17 WIB.

Sebelum dinyatakan hilang, pilot pesawat sempat meminta izin kepada menara kontrol (ATC) untuk berpindah jalur penerbangan ke kiri. Manuver tersebut dilakukan untuk menghindari Awan Cumulonimbus (Cb). Pada kesempatan yang sama, terdapat enam pesawat lain yang melintas disana, di antaranya Garuda, Lion, Emirates kendati dengan ketinggian yang berbeda-beda.

Dalam masa pencariannya, BMKG memprakirakan tinggi gelombang saat ini masih ideal untuk dilakukan penelusuran. Dikatakan bahwa tinggi geombang perairan di titik pencarian tidak lebih dari 1,5 meter. “Jadi ini sangat kondusif sekali untuk kapal-kapal, terutama kapal Basarnas, TNI AL, untuk melakukan proses pencarian,” ujar Kepala BKMG Dr.Andi Eka Sakya,M.Eng dalam pernyataannya saat konferensi pers di Kantor Pusat BMKG.

Pihak BMKG, katanya, akan selalu memperbaharui data-data cuaca di 179 tempat pengamatan di Indonesia, untuk mendukung pengamatan yang diduga menjadi tempat jatuhnya pesawat.

Di sela-sela sesi tanya-jawab dalam konpers itu, salah seorang keluarga penumpang Air Asia tujuan Singapura menuturkan sebuah argument dengan perhitungan matematis sederhana berdasarkan pengalaman penerbangannya.

Dikatakan bahwa penerbangan Air Asia QZ 8501 dari Surabaya menuju Singapura berangkat pukul 05.20 WIB, dan dinyatakan hilang pukul 06.17 WIB. “Jadi ada sekitar 50 menit waktu terbang yang digunakan QZ 8501, jadi seharusnya pesawat itu masih berada di atas Pulau Jawa, bukan di titik yang saat ini dilakukan pencarian,” ujarnya.

“kalau menuju Surabaya menuju Jakarta ditempuh sekitar 2 jam, berarti penerbangan selama 40-50 menit itu baru sampai di sekitar Semarang, sehingga, bisa jadi, pesawat QZ 8501, kalaupun jatuh, masih bearada di atas Pulau Jawa,” simpulnya.

Sementara itu, salah seorang wartawan melontarkan sebuah pertanyaan bahwa pengaruh ombak atau arus perairan akan memberikan efek tersapunya puing-puing atau badan pesawat, berpotensi bergeser dari lokasi jatuhnya pesawat. Namun pihak Basarnas mengatakan bahwa dengan kondisi arus yang relatif stabil, pergeseran itu mungkin ada tapi tidak akan terlalu jauh membawa puing atau badan pesawat. (MFA)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *