Aktivis Lingkungan Lakukan Aksi Demonstrasi Tolak Tambang di Gunung Semeru

 Aktivis Lingkungan Lakukan Aksi Demonstrasi Tolak Tambang di Gunung Semeru

Aktivis lingkungan membentangkan spanduk untuk menolak eksploitasi tambang emas di Ranu Kumbolo, Gunung Semeru (gambar:kompas)


Medialingkungan.com –  November 2013 lalu, Banyuwangi’s Forum for Environmental Learning (BaFFEL) mendaki Gunung Agung Bali untuk menolak rencana eksploitasi emas di Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu.

Tahun ini mereka kembali mendaki gunung untuk menyuarakan hal yang sama. Ranu Kumbolo, sebuah danau yang terletak di jalur pendakian Gunung Semeru dipilih oleh para aktivis lingkungan ini untuk menolak operasi pertambangan dengan membentangkan spanduk bertuliskan ‘Manusia Bisa Hidup Tanpa Emas, Tapi Tidak Tanpa Air’.

Koordinator aksi, Deni Alamsyah, mengatakan dia memilih Danau Ranu Kumbolo yang terletak di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut karena ingin membangkitkan kesadaran tentang pentingnya air. Menurut dia, rencana eksploitasi tambang emas di Banyuwangi akan merusak kawasan hutan Tumpang Pitu sebagai kawasan resapan air.

“Manusia hidup butuh air, maka kami menolak tambang tersebut,” kata Deni dalam rilisnya, (28/05/2014).

Menurut Deni, Gunung Tumpang Pitu merupakan kawasan hutan lindung seluas 1.900 hektare yang kini statusnya diturunkan menjadi hutan produksi. PT Bumi Suksesindo, operator pertambangan emas di gunung itu, akan melakukan pertambangan terbuka pada 2016 mendatang.

“Rencana tambang emas akan merusak hutan Tumpang Pitu sebagai kawasan air, maka kami dengan tegas tetap akan menolak tambang tersebut,” ungkap Deni.

Selain mengancam ketersediaan air, sambung Deni, limbah pertambangan itu juga akan mencemari lingkungan.

Dia menambahkan, siapapun yang gemar atau pernah mendaki gunung terutama Gunung Semeru, akan merasakan betapa berharganya air, sehingga harus diperlakukan dengan baik.

Juru bicara Bumi Suksesido, Musmin, mengatakan penambangan emas tersebut tidak akan mencemari lingkungan walaupun menggunakan zat kimia sianida. Sebab, perusahaannya menggunakan sistem pengolahan heap leaching atau pelindian tumpukan.

Sistem ini dilakukan dengan cara menyiramkan larutan sianida dengan menggunakan sprinkler pada tumpukan batuan emas yang sudah dicampur dengan batu kapur. Air yang mengalir di dasar tumpukan yang kedap, kemudian dialirkan dan ditampung untuk proses berikutnya.

“Jadi, tidak ada limbah yang dibuang ke laut dan tanah,” jelas Musmin.

Penambangan emas Bumi Suksesindo rencananya akan dilakukan secara terbuka setelah mengantongi persetujuan dari Menteri Kehutanan mengenai alih fungsi hutan lindung. Selain itu, Bumi Suksesindo juga menjamin reklamasi terhadap bekas pertambangan emas itu.

Kendati demikian, para aktivis ini mengatakan akan tetap melakukan kecaman terhadap operasi pertambangan di wilayah itu. Deni mengaku, walaupun aksi yang ia lakukan terbilang sederhana, namun ia yakin jika pesan di spanduk yang dibentangkannya akan menyebar ke banyak komunitas.

“Air itu universal. Karena itu siapa pun manusia jika diingatkan akan pentingnya air, tentu hatinya akan tersentuh. Apa pun agamamu, apa pun kebangsaanmu, apa pun pandangan politikmu, apa pun taraf pendidikanmu, semuanya pasti butuh air untuk melanjutkan hidup. Bukan emas,” kata Deni. (MFA)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *