Hadapi Fenomena El-Nino, Kementan Siapkan Tiga Langkah

 Hadapi Fenomena El-Nino, Kementan Siapkan Tiga Langkah

Ilustrasi lahan pertanian dengan stabilitas air


Medialingkungan.com – Untuk menghadapi siklus fenomena alam El-Nino, Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan tiga langkah untuk memitigasi kekeringan akibat kenaikan suhu di permukaan Samudera Pasifik yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Desember 2014.

“BMKG mengabarkan El Nino mundur, mungkin baru Juli, tetapi kapan pun kita sudah punya ‘SOP’-nya (Standard Operational Procedure) untuk menjaga tingkat produksi jangan sampai turun,” kata Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan usai Pertemuan Nasional Hortikultura di Mataram, NTB, Sabtu (22/06).

Menurutnya, langkah pertama yang akan dilaksanakannya adalah menyusun dan membuat kalender yang disesuaikan dengan rotasi tanam di setiap kabupatennya. Langkah tersebut diambil sebagai patok prioritas, daerah yang terlebih dulu dibantu.

“Kita berikan kalender itu kepada para petani, kapan petani mulai menanam dan menurut kalender tanam kabupaten masing-masing,” ucapnya.

Ia mengharapkan agar sinerjitas antara pemerintah dan masyarakat dapat terbangun, utamanya saat proses sosialisasi kalender tersebut. Pasalnya, sosialisasi kalender tanam itu telah dilakukan sejak dua hingga tiga bulan yang lalu. Ia berpendapat, jika petani tidak paham dengan tindakan ini, artinya petugas lapangan (penyuluh pertanian) tidak menyampaikannya.

“Kalau petani enggak paham, berarti petugas penyuluh kita kurang mengampanyekan itu,” tukasnya.

Kedua, Pihak Kementan juga telah menganjurkan agar para petani menananam varietas bibit yang memiliki masa panen yang singkat, agar masa panen bisa ditanggulangi menyusul datangnya El-Nino.

“Pilih varietas yang umur jenjangnya pendek, kalau perlu yang 90 hari panen, supaya nanti kalau kehabisan air itu ketolong, jangan yang umurnya empat bulan,” tuturnya.

Ketiga, untuk memaksimalkan penggunaan air, dia menyarankan untuk menggunakan embung di pematang sawahnya secara optimal. Selain embung, lanjut dia, solusi kekurangan air juga bisa dilakukan dengan pompanisasi, yakni mengalirkan air dari sungai ke sawah. (MFA)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *