Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
Harimau Sumatera Hampir Mencapai Kepunahan
Harimau Sumatra yang dilepasliarkan di Pusat Rehabilitasi Harimau Tambling Wildlife Nature Conservation. {Gambar : National Geographic Indonesia}
Medialingkungan.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Forum HarimauKita menyelenggarakan Workshop Populasition Viability Analysis (PVA). Ahli dan Praktisi Konservasi Harimau Sumatera Berkolaborasi dalam melakukan analisis kelangsungan Populasi Harimau Sumatera dalam acara workshop di Bogor (19-21/04).
Hasil paparan analisis yang disampaikan dalam workshop PVA, bahwa Populasi Harimau Sumatera (Panther tigris sumatrae) diketahui hidup di 22 lansekap hutan di pulau Sumatera sedang mengalami kepunahan akibat deforestasi, perburuan liar juga konflik dengan manusia.
Yoan Dinata, Ketua Forum HarimauKita, mengatakan bahwa ke-22 lansekap tersebut adalah Leuser Ulumasen, Dolok Surungan, Batang Toru, Senepis-Buluhala, Barumun, Batang Gadis, Rimbopanti/Pasaman, Diam Siak Kecil, Kampar, Kerumutan, Tesso Nilo, Rimbang Baling, Kerinci Seblat-Batanghari, Bukit Tigapuluh, Bukit Duabelas, Berbak-Sembilang, Hutan Harapan, Dangku, Bukit Balai Rejang Selatan dan Way Kampas.
Seperti yang dilansir dari mongabay.co.id, “Dari hasil PVA, hanya 3 dari ke-22 lansekap yang menunjukkan Kecenderungan populasi dapat bertahan hingga 100 tahun kedepan, yaitu Leuser-Ulumasen, Kerinci Seblat dan Batang Gadis. Ketiga lansekap ini sedang mengalami tantangan deforestasi akibat usulan perubahan tata ruang dan pembangunan jalan,” ujarnya.
Diambil dari data perburuan yang dihimpun oleh tim investigasi Wildlife Crimes Unit (WCU), Forum HarimauKita mencatat sedikitnya 55 kasus konflik manusia dengan harimau yang terjadi sejak tahun 2009 hingga 2014. Pada saat yang sama, sekurangnya jumlah 124 ekor harimau yang diburu.
Banyak hal yang dibahas dalam workshop PVA, salah satunya menjadi catatan adalah data deforestasi yang sebaiknya menggunakan data resmi pemerintah, sehingga dapat sinergi dengan program-program pembangunan di Sumatera. Dan juga menghasilkan analisa yang terbaik dan memiliki kesesuaian yang tinggi dengan kondisi dan situasi di lapangan.
“Dalam beberapa bulan kedepan kami masih akan bekerja keras untuk menyempurnakan hasil PVA ini agar dapat menyajikan dasar informasi yang objektif untuk penyusunan strategi konservasi harimau sumatera di masa mendatang,” tutup Yoan. {Ilham Nasir}