Para Peneliti Rekomendasikan Pembuatan “Koridor” Untuk Tekan Konflik Gajah dan Manusia

 Para Peneliti Rekomendasikan Pembuatan “Koridor” Untuk Tekan Konflik Gajah dan Manusia

Kelompok gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) tampak di area PT LAJ (gambar:FZS)


Medialingkungan.com – Semakin berkurangnya Gajah Sumatra pada Lansekap Bukit Jambi ditengarai seiring dengan peningkatan konflik antar manusia dengan satwa ini. Seorang peneliti gajah dari Frankfurt Zoological Society (FZS), Alex Mossbrucker menyebutkan, sepanjang tahun 2011-2013 sudah terdapat sekitar 38 ekor gajah yang mati akibat dibunuh dan keracunan pestisida pada Lansekap tersebut.

Berdasarkan data Lembaga Konservasi Dunia (IUCN), populasi gajah telah merosot hingga 80 persen dalam tiga dekade terakhir di wilayah Sumatra secara keseluruhan.

Mayoritas gajah ditengarai cenderung lebih menyukai kondisi tanah yang kontrunya lebih datar. Mongabay Indonesia dalam lamannya juga menunjukkan bahwa kontur berbukit-bukit di Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) menyebabkan seluruh populasi gajah saat ini telah berada diluar kawasan TNBT. 

Selain itu, masyarakat juga mengeluhkan bahwa saat ini mereka sangat sering menemukan gajah di kawasan pemukinannya. Masalah lain juga timbul ketika area ini telah berubah menjadi konsesi perusahaan HTI, sawit, pertambangan dan perkebunan masyarakat.

Mencermati situasi yang ada, Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) menyerukan dibangunnya ‘koridor’ (wilayah penghubung) antar kelompok gajah yang berada di lansekap Bukit Tigapuluh, yaitu diantara kawasan HTI karet PT Lestari Asri Jaya (LAJ), kawasan eks HPH Dalek Hutani Esa (DHE) dan PT Tebo Multi Agro (TMA).

Para peneliti merekomendasikan untuk mengalokasikan wilayah selebar 100 meter sebagai wilayah koridor di daerah sempadan sungai yang melewati tiga kawasan itu. Kawasan sempadan sungai ini dipilih karena berdasarkan peraturan perundangan kawasan sempadan sungai tidak boleh diganggu kelestariannya oleh aktifitas perusahaan.

“Dengan adanya koridor ini kami berharap agar ruang jelajah gajah lebih luas dan ketersediaan pakan lebih banyak sehingga gajah tidak masuk lagi ke perkebunan masyarakat serta menjaga kelangsungan populasi gajah di kawasan ini,” jelas Krismanko Padang, Ketua FKGI pada mongabay.

Sebagai pembatas koridor, ia mengusulkan penanaman kemiri yang berfungsi sebagai pagar alami, agar gajah tidak kembali masuk ke konsesi perusahaan dan kebun masyarakat. 

“Gajah tidak suka kemiri, kemiri juga dapat dimanfaatkan sebagai penghasilan tambahan bagi warga desa dan dapat dikembangkan sebagai energi alternatif,” paparnya.

Ia mengakui bahwa konsep koridor satwa buatan ini merupakan sebuah konsep yang implementasinya belum membuahkan keberhasilan di Indonesia. Kendati demikian mereka tetap mengupayakan agar keberadaan gajah ini tidak menganggu aktivitas manusia di sekitarnya. (MFA)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *