‘Pendidikan Lingkungan’ Ajar Generasi Muda Lebih Peka Lingkungan

 ‘Pendidikan Lingkungan’ Ajar Generasi Muda Lebih Peka Lingkungan

Para peserta sedang melakukan praktik lapang pasca menerima materi dalam ruangan (Gambar : Fahrum)


Medialingkungan.com – Fenomena atau gejala-gejala alam sering kali tak disadari oleh masyarakat. Perilaku ini menjadikan kurangnya kewaspadaan dan ketanggapan terhadap bencana alam yang bisa saja terjadi tanpa disadari. Untuk itu, menurut tenaga pendidik pendidikan lingkungan, Jennifer Hacking asal Kanada, sangat perlu untuk dilakukan edukasi lingkungan hidup di kalangan masyarakat khususnya untuk usia remaja.

Hal tersebut dikatannya saat memfasilitasi pendidikan lingkungan yang diadakan Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas), Badan Eksekutif Keluarga Mahasiswa Sylva (PC) Unhas.

Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari, yakni pada Senin hingga Selasa, 16-17 Maret 2015 di gedung Fakultas Kehutanan Unhas dan sekitarnya. Pada hari pertama ini, kegiatan dibuka pada pukul 10.00 WITA yang diawali dengan pembagian kelompok. Pembagian kelompoknya juga sangat unik. Peserta diminta untuk menyebutkan ciri-ciri yang dimiliki satwa tertentu kemudian dituliskan dalam potongan-potongan kertas kecil lalu dibagikan kepada seluruh peserta. Peserta yang mendapatkan ciri dari satwa yang sama dikumpul dalam satu kelompok.

Sasaran kegiatan adalah siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) se-Kota Makassar. Masing-masing sekolah mengirimkan 2 orang sebagai perseta dalam pendidikan lingkungan ini. Kegiatan ini kata panitia pelaksana, bertujuan untuk melatih para siswa agar menjadi leader di sekolahnya dan mengajak siswa lainnya untuk memberikan kontribusi terhadap lingkungan hidup di sekolah masing-masing.

Jennifer yang juga bekerja di Voluntary Service Overseas (VSO) mengatakan, pengenalan lebih lanjut (terapan) dari teori-teori konservasi yang selama ini diperoleh para siswa melalui proses belajar-mengajar di sekolahnya sangat penting untuk membentuk pemikiran mereka terhadap pentingnya menjaga suatu kesinambungan eksosistem dan makhluk hidup yang hidup pada habitat tersebut.

“Saya juga pernah menulis buku pedoman pendidikan lingkungan,” kata Jenifer. Pedoman itu, lanjut Jen, sapaan akrabnya, memuat panduan dasar secara sederhana untuk mebimbing pembaca mengaktualisasikan peran alam dalam memenuhi kebutuhan manusia, dan begitu juga peran manusia terhadap alam. 

Kegiatan ini didesain secara menarik dengan games yang disesuaikan dengan usia peserta. “Jadi setelah menerima materi di dalam ruangan, para peserta langsung diajak di luar ruangan untuk mengimplementasikan hasil kajian sebelumnya (di ruangan),” ungkap Nasri, salah satu fasilitator dalam kegiatan ini.

Games ini, lanjut Nasri, akan menstimulun sensor motorik peserta agar peka terhadap gejala-gejala alam. “Para peserta juga mampu mengetahui lebih jauh sifat-sifat istimewa yang dimiliki satwa,” sambungnya.

Games habitat, mengilustrasikan kalelawar saat mencari mangsanya (ngengat) menggunakan indera pendengaran (Gambar: Fahrum)

Dalam salah satu kegiatan outdoor, peserta diinstruksikan untuk membentuk lingkaran besar, kemudian salah satu peserta diminta menggunakan kain untuk menutup matanya. Hal tersebut merupakan bentuk ilusrrasi dari sifat kalelawar yang tidak menggunakan penglihatannya saat memangsa. Kemudian, peserta lainnya mengilusrasikan sifat satwa lainnya, sala satunya ‘ngengat’.

Si ngengat ini kemudian menirukan suara khas satwa ini, lalu si kalelawar, mengunakan sensor pendengarnya untuk mendiagnosis lokasi mangsanya. Kalelawar adalah hewan yang mampu menangkap gelombang ultrasonik (suara) sebagai alat navigasi dan menemukan lokasi mangsanya. “Jadi siswa ini mampu mengetahui lebih jauh keistimewaan yang dimiliki satwa, sehingga hal tersebut menjadi salah satu alasan untuk menjaga suatu ekosistem,” lanjut Nasri.  

Sementara itu, salah satu peserta dari SMA 2 Makassar, Muhammad Nur mengatakan, kegiatan ini sangat menyenangkan dan memberikan pemahaman yang lebih terhadap makhluk hidup, khususnya satwa yang berada disekitar kita.

Untuk hari kedua, peserta akan lebih aktif di lapangan. “Akan banyak hal-hal menarik, yang akan mereka peroleh besok, tutup Nasri. (Fahrum Ahmad)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *