Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
Peneliti Balithut Makassar Kembangkan Alat Rekayasa Pengolah Sampah
Alat pengolah sampah menjadi kompos (Gambar: forda)
Medialingkungan.com – Peneliti Balai Penelitian Kehutanan (Balithut) Kota Makassar, Hunggul Yudono mengembangkan alat rekayasa yang dapat digunakan untuk mengelola sampah organik menjadi kompos berbasis rumah tangga/unit penghasil sampah.
Hunggul sebagaimana yang dilansir forda-mof.org mengungkapkan permasalahan sampah yang tidak tertangani dengan baik seperti membuang maupun membakar sampah sembarangan mendorongnya untuk menginisiasi kegiatan mengubah sampah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.
“Sebagai contoh di kota Makassar, produksi sampah di tahun 2013 mencapai angka 550 ton/hari atau setara 4.000 m3/hari. Dengan alokasi anggaran selama ini sebesar 20 milyar rupiah pertahun (dari kebutuhan ideal 200 milyar), produksi sampah sebesar itu tidak bisa ditangani dengan tuntas,” ucapnya.
Dia menawarkan model pengelolaan sampah organik berbasis kelompok masyarakat/rumah tangga ini dikarenakan 45 % dari total timbulan sampah dihasilkan oleh rumah tangga. Data menyebutkan, sebesar 82 % sampah kota Makassar merupakan sampah organik dan sisanya yaitu 18 % merupakan sampah anorganik seperti plastik, besi, alumunium, karet dan kaca.
Hunggul juga menjelaskan pendekatan dalam pengelolaan sampah nantinya dilakukan oleh kelompok masyarakat baik di kompleks pemukiman, sekolah maupun lembaga pendidikan berbasis asrama (pesantren).
“Di pemukiman, pengelolaan sampah dilakukan oleh 5 sampai dengan 10 rumah tangga. Kelompok tersebut selain sebagai penghasil sampah, juga merangkap sebagai pengelola sampah dan pengguna manfaat hasil pengolahan sampah,” lanjut Hunggul.
Dengan bahan yang sederhana yakni dari drum oli, alat ini mampu menampung sampah sebesar 0,28 m3 (volume sampah pada awal masuk ke dalam alat) yang dapat menghasilkan kompos sebanyak 0.2 ton.
Lama pengelolaan sampah menggunakan alat tersebut mencapai 2 minggu. Biaya pembuatannya Rp 1-1,5 juta. Hingga sekarang Hunggul mengaku alat tersebut masih dalam tahap pengembangan agar menghasilkan unit alat yang lebih efektif dan efisien.
Sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan ini adalah tersedianya rekomendasi model pengelolaan sampah berbasis masyarakat untuk pengendalian pencemaran dan pengembangan urban farming.
Lebih lanjut, Hunggul menambahkan kompos yang dihasilkan nantinya, dapat digunakan oleh kelompok masyarakat pengelola sampah dalam bertanam sayuran, bunga, dan tanaman buah di lingkungannya sendiri. (Ir)