Solusi Isu Iklim Bukan Hanya Fokus pada Hutan, Pikirkan juga Bentang Alam

 Solusi Isu Iklim Bukan Hanya Fokus pada Hutan, Pikirkan juga Bentang Alam

Sampel Landform tentang bentang alam yang mempengaruhi cara penggunaan lahan untuk mitigasi perubahan iklim (Gambar: GeoHazard009)


Medialingkungan.com – Sangat jelas bahwa hutan memainkan peran krusial dalam mitigasi perubahan iklim – tetapi harus diingat bahwa pandangan tersebut akan terlalu menyempitkan fokus  hanya  pada hutan dan kehutanan ketika mencari solusi.

Lebih dari 120 pemimpin negara dan puluhan ribu orang bergabung di New York beberapa pekan lalu (Spetember, 23) untuk berkonsentrasi menyoroti kondisi iklim dunia yang memburuk serta tekanan untuk melaksanakan tindakan adaptif dan mitigasi.

Hutan akan menempati posisi tinggi dalam agenda negosiasi, debat serta pencarian solusi – semoga benar begitu. Namun, memperjuangkan dimasukkannya kehutanan dalam kesepakatan iklim tanpa melihat gambaran yang lebih besar yang berisiko melemahkan upaya yang dilakukan.

Menurut para peneliti dan praktisi pada pertemuan iklim PBB, tanpa hutan, perubahan iklim akan lebih parah dari apa yang terjadi saat ini. Hutan dan pepohonan mengatur iklim dan air pada bentang alam di planet ini.  

Hutan dan pohon merupakan urat nadi kehidupan yang melindungi tanah, penyedia nutrisi dan energi terbarukan bagi ratusan juta orang. Tanpa jasa ini, sistem pangan akan sangat rentan; manusia tidak mampu, terutama mengalami kekurangan kebutuhan mendasar penghidupannya. Hutan juga berfungsi sebagai perlindungan terhadap efek emisi besar-besaran dari penggunaan bahan bakar fosil. Dengan demikian manusia memerlukan hutan jika ingin bertahan hidup.

Para peneliti di Pusat Peneliti Kehutanan Internasional (CIFOR) mencatat, hutan tua dan hutan reboisasi menyimpan 4-6 Gigaton karbon setiap tahunnya sejak 1990, artinya lebih dari sepertiga emisi bahan bakar fosil yang dipompakan ke atmosfer selama 20 tahun terakhir diserap oleh hutan.

Perlu di ingat bahwa hutan menyimpan dua kali lebih banyak karbon dari seluruh atmosfer – penyangga paling berguna atas efek yang merugikan akibat perilaku manusia saat ini.

Faedah yang diperoleh lebih jauh dari fotosintesis hutan dalam meredam dampak emisi bahan bakar fosil. Laporan Penilaian IPCC mengenai mitigasi perubahan iklim menyarankan masyarakat agar aktif mencari cara mengelola hutan.

Perkembangan ilmu pengetahuan memberi rekomendasi untuk lebih hemat menggunakan kayu dan serat seraya menjaga kapasitas mesin sekuestrasi raksasa berbasis-matahari. Fotosintesis hutan memberi benefit dengan meredam dampak emisi bahan bakar fosil; manfaat yang seharusnya tidak diabaikan atau disepelekan.

IPCC melaporkan bahwa saat ini kita berada pada keadaan terdesak. Laporan tersebut menegaskan bahwa perubahan-perubahan ini merupakan ulah dari manusia.

Peter Holmgren, Penulis dari CIFOR membenarkan dengan tegas  laporan tersebut. Ia mengatakan bahwa manusia terus mendegradasi hutan, atau merubah hutan menjadi pertanian. Sehinggga aktivitas ini secara signifikan mengurangi tidak hanya jumlah simpanan karbon, juga ketersediaan jasa lingkungan penting bagi masyarakat. Atau dengan kata lain, basis lahan sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan peran.

“Sudah jelas bahwa kita tidak pernah bisa memisahkan adaptasi dan mitigasi di sektor berbasis lahan. Proses biologis serupa yang menyangga level CO2 di atmosfer juga menyediakan penghidupan, kesehatan dan keamanan pangan, serta memperkuat ketahanan menghadapi dampak perubahan iklim,” ujar Peter dalam tulisannya.

“Bagaimanapun, akan selalu ada pertukaran dan kita harus sadar hal ini – menangani penggunaan lahan sedikit demi sedikit bisa membuat situasi dimana upaya mitigasi melemahkan upaya adaptasi ataupun sebaliknya. Oleh karena itu kita harus menerima bahwa  kehutanan dan pertanian – bersama-sama – harus menjadi bagian utama solusi perubahan iklim. Seiring dengan langkah ke Paris, menjadi penting untuk melihat hubungan ini dalam mengantisipasi konteks kesepakatan kerangka kerja luas yang memungkinkan aksi di beragam tingkat dan skala,” tambahnya.

CIFOR dan seluruh pusat penelitian di Grup Konsultatif Penelitian Pertanian Internasional (CGIAR)  menempatkan tantangan perubahan iklim pada posisi yang sangat serius. Memang, bagi lambaga-lembaga di CGIAR, perubahan iklim adalah satu masalah yang akan mendefinisikan misi organisasi ke dekade berikut, seperti yang ditunjukkan dalam Dialog Pembangunan CGIAR tiga pekan lalu.

Pertanian cerdas-iklim  berada di tempat utama di agenda mereka, sebagai ungkapan pengakuan bahwa mereka harus merengkuh kerumitan di lapangan jika ingin meningkatkan penghidupan, memperkuat ketahanan dan, pada saat yang sama mengurangi emisi.

Peter mencatat, pertanian cerdas-iklim dan pendekatan bentang alam umumnya berada dalam topik yang sama dalam mencapai beragam tujuan dan beragam pemangku kepentingan, dan semakin sering kita melihat alasan untuk ini. Kebalikannya, memperjuangkan masalah tunggal satu demi satu mungkin berguna bagi kesadaran politik dan tindakan, tapi mungkin terbukti kurang berhasil memberi solusi nyata.

Menurutnya, kerumitan yang sama dalam peningkatan mata pencaharian, ketahanan dan pengurangan emisi juga melekat di REDD+ sebagai program inisiatif yang berkenaan dengan kebutuhan kesepakatan akan pengamanan (safeguards).

Di tahun-tahun pertama diperkenalkan di perundingan iklim PBB, REDD+ telah berubah dan siap. Dari tingkat teknis dan tata kelola, sistem ini siap untuk meningkatkan usaha dan upaya. Peter yang juga Direktur Jenderal Blog CIFOR juga beranggapan bahwa apa yang diperlukan saat ini yaitu kemauan politik membantu menempatkan pos-pos pembiayaan, khususnya dari negara kaya.

Ia mengharapkan suatu revolusi kehutanan yang melibatkan seluruh negara dalam pengadaptasian serta pemitigasian secara terpadu dan berkesinambungan dari sumber finansial yang terkelola dengan optimal di bawah Badan Dana Iklim Hijau (Green Climate Fund) di bawah Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) yang disepakati pada pertemuan Dewan ke-7 di Songdo, Songdo, Korea Selatan pada Mei, untuk menyelesaikan satu langkah besar.

“Mari kita berharap Dana Iklim Hijau akan memberikan dorongan menggerakkan REDD+ ke depan, dan bahwa pemerintah di negara maju akan meningkatkan serta memanfaatkan dana, juga munculnya inovasi di tingkat yurisdiksi yang berbeda akan terus digiatkan,” harap Peter.

Konferensi Iklim PBB tahun ini bisa memberikan peluang komitmen yang terukur terhadap Dana Iklim Hijau, guna kelangsungan REDD+, dan pertanian cerdas-iklim serta pendekatan bentang alam – dua hal yang perlu menjawab tantangan lebih luas dan lebih pragmatis.

Ia menambahkan, Konferensi Iklim PBB itu bisa menjadi momentum penguatan komitmen politik dan semangat kerjasama politik, sehingga ia meyakini tercapainya kesepakatan di Conference of Parties (COP) ke-21 di Paris tahun depan. (MFA)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *