WWF: Pemerintah Tak Sigap Atasi Turunnya Populasi Harimau Sumatera

 WWF: Pemerintah Tak Sigap Atasi Turunnya Populasi Harimau Sumatera

Perburuan satwa langka seperti Harimau Sumatera menjadi salah satu faktor penyebab turunnya populasi satwa endemik ini (Gambar: BBC)


Medialingkungan.com – Penurunan satwa langka di Asia telah masuk dalam kategori kritis. Berdasarkan penilitan berkala yang dilakukan WWF, ditemukan bahwa salah satu satwa langka yang memasuki ambang punah adalah Harimau Sumatera. Saat ini, jumlah satwa endemik ini hanya tersisa sekitar 400 ekor.

Pemerintah berupaya meningkatkan jumlah populasi satwa ini sejak 2010 lalu. Namun, WWF menengarai bahwa tanda-tanda penurunan harimau tampak di beberapa daerah di Sumatera, terutama di wilayah Riau.

Menurut WWF, keseriusan pemerintah tak nampak dalam menjaga ekosistem hutan di Riau. Tolak ukur yang dapat dijadikan gambaran peliknya upaya tersebut adalah jumlah petugas yang menangani kasus ini masih sangat minim dibandingkan luasnya hutan di Riau yang mencapai ratusan ribu hektar.

Koordinator Konservasi Gajah dan Harimau WWF Indonesia, Sunarto, mengatakan pada lansiran BBC bahwa populasi harimau di wilayah Riau utara dulu cukup padat. Namun, saat ini boleh dibilang tidak ada, kecuali di satu blok hutan yang relatif kecil di Senepis. Lalu di Riau selatan, juga mengalami deforestasi sangat hebat, termasuk di daerah Tesso Nilo. Hal ini ditandai dengan sedikitnya populasi harimau yang ditemukan di sana.

“Ini indikasi kuat bahwa harimau mengalami penurunan atau justru menghilang di tempat-tempat yang habitatnya rusak atau terfragmentasi,” kata Sunarto.

Menurunnya populasi harimau, diakui Sunarto, memang disebabkan beberapa faktor. Namun, yang paling berisiko tinggi menurunkan populasi ini adalah perambahan hutan dan konversi lahan ke perkebunan sawit.

Senada dengan Sutarno, Rusmadya Maharuddin, juru kampanye hutan Greenpeace Indonesia menengarai bahwa laju deforestasi secara langsung menghancurkan habitat alami harimau dan satwa lainnya. Khusus untuk wilayah Riau, perambahan hutan dan konversi lahan terparah terjadi di Senepis, Rimbang Baling, dan Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

Soal deforestasi hutan pernah ditelaah mantan peneliti di Kementerian Kehutanan dan kini bekerja di Universitas Maryland, Amerika Serikat, Belinda Margono. Dia menyebutkan Indonesia mengalahkan angka deforestasi Brasil seluas 460.000 hektare, setahun setelah moratorium penebangan hutan diberlakukan. Namun, Kementerian Kehutanan mengatakan laju deforestasi jauh lebih kecil dibandingkan hasil penelitian tersebut.

“Kalau kita lihat di Sumatera, hutannya hanya tersisa 25% hingga maksimum 27%. Kemudian populasi harimau di bawah 400 ekor. Ini dua angka yang saling terhubung,” kata Nyoman Iswarayoga, direktur WWF Indonesia. (MFA)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *