Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
Naskah Kesepakatan Iklim Semakin Gendut
Konferensi Iklim PBB, Conference of the parties ke-20 (COP20) di Lima, Peru (Gambar: CDN)
Medialingkungan.com – Naskah kesepakatan yang telah disepakati pada Conference of the Parties ke-20 (COP20) di Lima, Peru, berisikan 39 halaman, yang seharusnya dirampingkan dan terjemahkan dalam enam bahasa UN justru semakin gendut menjadi 86 halaman.
Para delegasi Negara menjadi khawatir, teks yang semakin tebal ini cenderung membuat rumit upaya penurunan emisi dalam upaya bersama membatasi kenaikan suhu rata-rata bumi agar tidak melewati batas 2 derajat celcius.
Salah satu Kepala Delegasi dari Latvia untuk Uni Eropa, Ilze Pruse, dalam usahanya untuk merampingakan naskah tersebut harus belapang dada melihat hasil yang dicapai sejauh ini.
“Kita maju secara praktis dan penuh kerjasama dan melibatkan semua pihak serta semua pemegang kepentingan. Kita semua bekerja untuk tujuan yang sama, yaitu sebuah kesepakatan yang terikat secara hukum internasional tentang iklim global yang diterapkan untuk semua pihak, yang membuat kita tetap berada dalam jalur target dibawah dua derajat agar terhindar dari perobahan iklim yang berbahaya,” ujar Pruse seperti ikutip pada VOA.
Deadline pengumpulan naskah kesepakatan ini adalah enam bulan pasca konferensi di Lima, yang berarti tersisa 3 bulan dari sekarang (Mei 2015) untuk segara mengemas naskah tersebut menjadi naskah yang tidak berbelit-belit.
Sementara itu, Christiana Figueres, Sekertaris Eksekutif Rapat Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC), dalam pertemuan persiapan di Jenewa, pekan lalu (13/02), mengatakan, penambahan yang terlalu panjang pada draft tersebut menambah pelik upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. “Ini akan sedikit lebih sulit,” kata Christiana Figueres.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, perundingan selanjutnya dijadwalkan bulan Juni di Bonn, Jerman.
Ketua delegasi Komisi Eropa, Elina Bardram mengatakan, pasca konferensi, waktu telah disia-siakan dan kesempatan melakukan kemajuan terbuang. “Antara sekarang dan Juni, kami berharap akan ada pandangan yang jelas antara pihak-pihak mengenai pekerjaan yang perlu dipercepat dan apakah juga mengidentifikasi apa yang harusnya merupakan kesepakatan inti. Jadi kita harus benar-benar mulai bekerja untuk hal-hal yang inti dalam kesepakatan.”
Lebih lanjut ia jelaskan, isi kesepakatan pada dasarnya berpusat pada perubahan gaya hidup manusia yang berorientasi pada keberlanjutan.
Para peneliti dari Panel Antar-Pemerintah Mengenai Perubahan Iklim (IPCC) telah memperingatkan, penigkatan suhu bumi melebih 2 derajat celcius, atau hingga 3-4 derajat celcius, akan berdampak lebih buruk terhadap jutaan orang di pulau-pulau, akibat peningkatan permukaan air laut.
Selain itu, kekurangan pangan, penurunan kualitas kesehatan, ketersediaan air bersih, hingga kelangkaan energi juga tak luput dari efek besar naiknya suhu bumi. (MFA)