Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
Banyak Manusia Bergantung Hidup Padanya, Jangan Biarkan Hutan Habis !
Hutan hujan tropis Indonesia (gambar:medialingkungan)
Medialingkungan.com –Sebuah riset oleh Bank Dunia (2004) mengemukakan bahwa lebih dari 1,2 miliar orang di dunia bergantung pada hutan sebagai mata pencaharian.
Sementara itu, hutan dinilai telah memenuhi keperluan kayu bakar bagi sepertiga penduduk dunia untuk memasak dan menghangatkan rumah mereka. Dan memeberi kontribusi seperlima dari total kebutuhan protein manusia.
Demikian hasil pengamatan yang dilakukan melalui tinjauan aktivitas masyarakat di puluhan negara berkembang, yang berburu satwa dan mengambil ikan dari hutan.
Secara makrotis, hutan memberi kontribusi yang signifikan bagi perekonomian global, Dari data yang dikelola PBB, produk hasil hutan sanggup menyumbang hampir $468 miliar per tahun terhadap ekonomi global.
Peran Hutan untuk Masyarakat di Indonesia
Di Indonesia sendiri, menurut catatan Kementerian Kehutanan RI tahun 2009, terdapat 48 juta orang yang hidupnya bergantung pada hutan.
Sementara, hasil validasi Buku Statistik Kehutanan Indonesia Kemenhut tahun 2011 yang dipublikasi pada bulan Juli 2012 menyatakan bahwa luas hutan Indonesia saat ini sekitar 99,6 juta hektar atau 52,3% luas wilayah Indonesia.
Kondisi ini tentu memikul tantangan yang sangat besar dalam memepertahankan ketahanan negara dalam hal ketersediaan hutan sebagai penopang perekonomian negara, terutama untuk masyarakat sekitar hutan.
Sebuah persepsi tentatif bermunculan dengan kesimpulan spekulatif bahwa jika mengacu pada statistik tersebut, maka luas lahan yang dimanfaatkan oleh masyarakat berkisar sekitar 2,075 hektar per orang.
Dengan menggunakan logika sederhana saja bahwa hutan alam belum memiliki akses yang membuka jalur untuk dilalui manusia, mengingat jarak dan medan yang sangat sulit ditempuh. Fungsi hutan juga akan berkurang jika manusia berusaha untuk mengkontaminasi daerah alami edofisnya.
Sehingga perhitungan tersebut ‘tidak cocok’ dijadikan dasar penilaian terhadap jaminan kehidupan masyarakat sekitar kawasan hutan.
Kendati demikian, dengan kebijakan perekonomian makro disertai teknologi yang berkembang pesat diikuti sistem pengelolaan hutan lestari, maka hutan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Pemanfaatan Hutan dari Segi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)
HHBK ditengarai sebagai pengoptimalan pemanfaatan hutan. Dengan menggunakan sistem usaha tani campuran (agroforestri) contohnya, yakni bercocok tanam dengan mengkombinasikan pohon penghasil kayu dan pohon penghasil HHBK yang telah diterapkan oleh petani dari berbagai daerah di Indonesia.
Salah satu contohnya agroforestri kayu jati di Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DI Yogyakarta. Para petani di Kabupaten Gunungkidul mengalokasikan 10 persen dari lahan yang mereka miliki untuk menanam jati.
National geopgraphic mencatat, berdasarkan penelitian yang dilakukan Tony Bartlett, Manajer Program Penelitian Kehutanan ACIAR (Australian Center for International Agricultural Research), kebun jati petani-petani Gunungkidul menyumbang sebesar 12 persen dari total pendapatan rumah tangga mereka, dan sebagian besar kayu jati ini pula dimanfaatkan untuk peralatan rumah tangga dan ukiran.
Dengan tumpangsari, masyarakat ikut menjaga dan ikut menikmati hasil. Tumpangsari kemudian berkembang dan meluas di seluruh Jawa. Hasil tanaman kehutanan tumpangsari lebih baik daripada cara-cara lain seperti banjar harian walaupun tetap terjadi persaingan penyerapan unsur hara oleh tanaman pertanian. Jadi, penting memilih tanaman yang tepat yang ditanam di sela-sela baris jati.
Agus Purnomo, Staf Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim yang aktif menyusun berbagai kebijakan lingkungan hiudp sejak menjabat Staf Khusus Menteri Lingkungan Hidup periode 2004-2009, di dalam bukunya yang berjudul Menjaga Hutan Kita: Pro-Kontra Kebijakan Moratorium Hutan dan Gambut menulis:
Selain memiliki fungsi menjaga keberlangsungan ekosistem, hutan memberi kontribusi yang signifikan bagi perekonomian dunia.
Bagi perekonomian nasional, hutan merupakan sumber devisa dari hasil kayu maupun hasil hutan bukan kayu, mulai dari berbagai komoditas pertanian hingga kegiatan ekoturisme.
Sementara nilai perdagangan hasil hutan bukan kayu dunia diperkirakan mencapai 11 miliar dollar AS per tahun. Pendapatan negara dari hutan dan hasil hutan Indonesia pada 1985 sebesar 1,2 miliar dollar AS, meningkat menjadi 5 miliar dollar AS pada 2005.
Sementara nilai perdagangan hasil hutan bukan kayu dunia diperkirakan mencapai 11 miliar dollar AS per tahun. Pendapatan negara dari hutan dan hasil hutan Indonesia pada 1985 sebesar 1,2 miliar dollar AS, meningkat menjadi 5 miliar dollar AS pada 2005.
Oleh sebab itu, mengingat pentingnya hutan, maka rehabilitasi hutan telah menjadi tugas semua pihak.
Mengapa menyelamatkan hutan ?
Terdapat banyak sekali fungsi hutan yang sangat penting bagi kehidupan manusia, di antaranya:
- Penyimpan air hujan dan kemudian dialirkan melalui sungai-sungai yang menjadi sumber kehidupan bagi makhluk hidup
- Mencegah erosi dan kekeringan yang dapat mengakibatkan bencana banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau
- Pengatur iklim dengan produksi oksigennya (O2) yang diperlukan manusia dan menyerap karbondioksida (CO2) yang merupakan sisa hasil kegiatan manusia
- Habitat bagi flora dan fauna endemik sehingga ekosistem dalam wilayah hutan tersebut tetap terjaga
- Sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat sekitarnya, seperti industri kayu bersertifikasi dan ekowisata.
(MFA)