Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
Udara Kota Medan Berbahaya
Industrialisasi juga menyebabkan produksi polusi di Medan terpaut tinggi (gambar: fokusmedan)
Medialingkungan.com – Setelah Sungai Citarum terklaim sebagai salah satu sungai yang paling jorok dan tercemar di dunia, kini Ibukota Sumatera Utara, Medan ditetapkan sebagai kota paling berpolusi di dunia dengan ekonomi terbesar.
Dari rilis yang dikeluarkan Economist, Medan berada di urutan keempat di bawah Ludhiana (India), Lanzhou (China), dan Mecixali (Meksiko).
Pencatatan tersebut dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran tingkat kualitas udara (AQI) Badan Perlindungan Lingkungan Hidup Amerika, tingkat polusi udara di Medan berada di angka 110 micron diameter. Tingkat pencemaran udara di atas seratus dianggap telah membahayakan paru-paru.
Tahun lalu, Kota Lanzhou di China berada pada peringkat pertama kota dengan tingkat polusi tertinggi saat ini merangkak turun ke posisi kedua dan menempatkan Ludhiana, India di posisi pertama.
Penurunan tingkat populasi terjadi setelah sejumlah masyarakat mendesak Beijing mengumumkan tingkat polusi sebuah kota. September ini, pemerintah China melalui Kementerian Lingkungan Hidup akan meminta 74 kota untuk memulai memantau tingkat polusi kota.
Kebijakan ini diharapkan mampu direspon dengan sigap karena WHO juga menetapkan Beijing sebagai negara dengan tingkat pengidap kanker paru-paru terbesar yang diakibatkan tingginya tingkat polusi udara.
Senada dengan WHO, Duta Besar Amerika di China mengatakan bahwa tingkat polusi di China sudah mencapai kondisi sangat buruk. Ia berasumsi, setiap partikel terkecil terhirup dan masuk ke tubuh dapat merusak paru-paru.
Polusi dan Kelahiran Prematur
Tahun 2013 lalu, Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa wanita hamil yang sering terpapar udara berpolusi berpotensi melahirkan bayi prematur.
Penelitian ini dilakukan oleh David Savitz dari Alpert Medical School of Brown University di Providence, Rhode Island, Amerika Serikat. Bersama dengan rekan-rekannya, ia menemukan bahwa kecenderungan bayi lahir prematur semakin tinggi dari tahun ke tahun.
Dengan menggunakan data dari Survei Air New York City Community, mereka menemukan bahwa kandungan nitrogen dioksida dalam udara dapat mempengaruhi kehamilan dan juga perkembangan janin.
“Penelitian ini sedikit banyak akan berpengaruh pada kesadaran manusia untuk memperkecil tingkat polusi udara sehingga tidak hanya berdampak positif pada kehamilan namun juga kesehatan manusia secara keseluruhan,” jelasnya.
Selama ini kelahiran bayi prematur diketahui akibat kesehatan ibu yang kurang mendukung. Namun, polusi udara memiliki andil untuk mempengaruhinya.
Menurut WHO, penyebab tingginya tingkat polusi udara bervariasi. Industrialisasi serta penggunaan bahan bakar transportasi dan pembangkit listrik berkualitas rendah paling banyak menjadi sumber polutan yang berbahaya. (MFA)