Beberapa Wilayah Indonesia Diduga Terindikasi Hujan Asam

 Beberapa Wilayah Indonesia Diduga Terindikasi Hujan Asam

Hujan Asam yang Terjadi di Tahun Lalu (Gambar: Istimewa)


Medialingkungan.com – Beberapa wilayah di Indonesia diduga terindikasi hujan asam, hal ini terjadi akibat adanya deposisi asam. Menurut Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemenhut-LH), Arief Yuwono.

Deposisi asam tersebut berasal dari kegiatan manusia (anthropogenic) seperti emisi pembakaran batu bara dan minyak bumi, serta emisi dari kendaraan bermotor. Tidak hanya dari kegiatan manusia saja, tetapi bisa juga datang dari letusan gunung berapi, katanya.

“Indikasi terjadinya deposisi asam adalah pH air hujan di bawah 5,6 dan dalam bahasa umum biasa juga disebut hujan asam,” lanjutnya.

Deposisi asam di atmosfer terjadi melalui proses katalitis dan fotokimia gas-gas sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx) yang biasanya diemisikan dari industri dan kendaraan bermotor menjadi senyawa asam H2SO4 dan HNO3.

“Deposisi asam yang turun akan membasahi tanah dan benda-benda di permukaan bumi, mengalir melalui sungai hingga ke danau atau rawa-rawa dan selanjutnya akan memberikan dampak yang negatif,” jelasnya.

Berdasarkan hasil pemantauan Kemenhut-LH, terlihat di beberapa titik pantauan antara lain, Bandung, Serpong (Tangerang Selatan), Jakarta, dan Maros sudah terindikasi terjadi deposisi asam. Kondisi ini juga ditandai adanya nilai rata-rata pH air hujan antara tahun 2001 hingga 2013 berkisar pada 4,3 – 5,6.

Deposisi asam, baik basah maupun kering, dapat merusak bangunan, patung, kendaraan bermotor dan benda yang terbuat dari batu, logam atau material lain bila diletakkan di area terbuka untuk kurun waktu yang panjang.

Asam yang bereaksi dengan senyawa lain akan menyebabkan kabut polusi (urban smog) yang mengakibatkan iritasi pada paru-paru, asma, bronkitis dan penyakit pernapasan lainnya. Ia menambahkan pengendalian deposisi asam dapat dilakukan dengan cara efisiensi dan preservasi energi, pengembangan nonfossil fuel dan teknologi ramah lingkungan.

Arief menjelaskan, diperlukan peran serta pemerintah, masyarakat dan seluruh stake holder yang terintegrasi dalam manajemen pengendalian deposisi asam sehingga tercipta pembangunan berkelanjutan.

Pembahasan yang terkait hujan asam

Terkait pembahasan mengenai hujan asam, Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan The Sixteenth Session of the Intergovernmental Meeting on the Acid Deposition Monitoring Network in East Asia (EANET) yang diselenggarakan pada 25-26 November lalu di Jakarta.

Kemenhut-LH sebagai focal point ikut berperan dalam penyelenggaraan pemantauan deposisi asam melalui Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan (Pusarpedal) dan mengkoordinasikan kegiatan pemantauan deposisi asam yang dilakukan oleh Kementerian atau lembaga yang terkait.

Ajang ini penting karena deposisi asam merupakan polutan lintas batas, maka di kawasan Asia Timur diadakan kesepakatan kerjasama pemantauan deposisi asam yaitu The Acid Deposition Monitoring Network in East Asia (EANET) yang diikuti oleh 13 negara termasuk Indonesia sejak tahun 1998.

Arief berharap melalui kerjasama ini mampu memperkuat upaya pemantauan deposisi asam di masing-masing negara anggota EANET juga sebagai upaya untuk menentukan kebijakan penanganan terhadap dampak yang timbul akibat deposisi asam baik di tingkat nasional maupun regional. (AH)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *