BI Sulsel: Privat Sektor Harus Mendukung Program Lingkungan Hidup dan Kehutanan

 BI Sulsel: Privat Sektor Harus Mendukung Program Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bidang Ekonomi Keuangan Sulawesi Selatan, Causa Imam, dan Ketua Forum CSR Sulawesi Selatan Imam Mujahiddin Fahmid saat workshop regional hutan dan kemiskinan di Hotel Kenari (02/04).(Gambar : Naufal Achmad)


Medialingkungan.com – Sektor privat atau swasta mulai beradaptasi dengan gencarnya isu-isu lingkungan hidup dan kehutanan. Hal ini dipandang sebagai peluang bagi kalangan swasta, khususnya untuk turut andil dalam pengembangan pengelolaan hutan yang lestari.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bidang Ekonomi Keuangan Sulawesi Selatan, Causa Imam mengatakan, BI bekerja sebagai komponen Negara sehingga perlu didorong. “Kami menyadari, aspek lingkungan hidup sangat penting utmanya dalam segi keberlanjutan,” ungkapnya.

“Sehingga tahun 2006 kami meluncurkan corporate social responsibility (CSR), dan sasarannya beragam mulai dari sosial, pemberdayaan, termasuk lingkungan hidup,” sambung Imam pada Workshop Regional Hutan dan Kemiskinan yang diselenggarakan Sulawesi Community Foundation di Hotel Kenari, Makassar (02/04).

Salah satu peran kami dalam mendorong private sektor dilakukan di daerah melalui bantuan pendanaan dari perbankan. “Kami juga akan menyampaikan apa yang berkaitan dengan kehutanan,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, untuk mendukung pogram pemerintah daerah, khususnya di Makassar, pihaknya bersama Forum CSR Sulawesi Selatan mendorong implementasi program ‘Makassar Tidak Rantasa’ yang menjadi program lingkungan hidup Pemerintah Kota Makassar.

“Kami sudah menumbangkan tempat sampah dan yang lainnya, yang berkaitan dengan lingkungan,” ungkapnya.

Ia juga menyontohkan, di Desa Salassae, Bulkumba, pihak BI Sulsel mendatangi kelompok tani untuk potensi pertanian yang bisa didorong untuk berkembang. “Kita membentuk leader yang bisa mendukung dan mendorong integrated pertanian dan peternaakan. Mereka membentuk kelompok belajar dan mendorong lokasi lainnya. Mereka juga mengolah pertanian organik. Saat ini mereka telah masuk majalah tempo dan menjadi tempat belajar. Sehingga kami mendorong mereka secara kelembagaan dan membangun Koperasi simpan pinjam,” jelasnya.

Kegiatannya adalah edukasi mengenai pola penanaman padi serta pendidikan untuk membuat pupuk. “Kita juga mendorong perbankan untuk melakukan penanaman. Bersama Wirabuana, mereka menanam 10.000 bibit tanaman produksi hasil kerjasama perbankan dan pemkot berupa mangga dan rambutan yang bisa berbuah dan dinikmati masyarakat. Saat ini kami juga aktif menanam mangrove,” lanjutnya.

Pihak Bi juga aktif mendorong pelestarian orangutan di Kalimatnan dengan bekerjasama dengan Borneo Orangutan Survive (BOS).

Selain itu, BI juga mendorong green entrepreneurship kepada anak muda yang berjuang melestarikan lingkungan bersama 15 kelompok yang sudah dibentuk. Mereka berhasil memproduksi sabun multi fungsi, dan kantong plastik untuk kerajian.

Sementara itu, Ketua Forum CSR Sulawesi Selatan, Imam Mujahiddin Fahmid mengungkapkan, Forum CSR berdiri sebagai lembaga yang berfungsi dalam mereduksi kemiskinan khusunya disekitar hutan. “CSR bukan charity tapi kewajiban. Yang dibutuhkan adalah adanya punishment and reward dalam penyelenggaraan CSR,” ungkap Imam.

Menurutnya perlu ada perangkat regulasi yang mendukung program CSR terimplikasi ke masyarakat dan lingkungan hidup. “Kami akan menyusun perda yang melibatkan CSR,” ujarnya.

“Kenapa regulasi tidak dibuat secara detail. Tidak ada jumlah pasti terhadap jumlah CSR perusahaan. Harusnya semua perusahaan terbuka mengukur hak rakyat,” jelasnya. (Iswanto/Fahrum Ahmad)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *