BMKG Prediksi El Nino Hanya Bersifat Sementara

 BMKG Prediksi El Nino Hanya Bersifat Sementara

Prediksi El Nino bulan Desember 2015 mendatang dari BMKG (Gambar: bmkg.go.id)


Medialingkungan.com – El Nino yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini membuat sejumlah masyarakat mengalami traumatik yang sangat hebat. Oleh sebab itu, timbulnya pertanyaan masyarakat, kapan musim kemarau akan berakhir? Dan munculnya keresahan masyarakat akibat gagal panen serta air bersih yang sulit ditemukan.

Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, masyarakat tak perlu panik menyikapi musim kemarau panjang di Indonesia, sebab hal tersebut hanya bersifat sementara. Lanjut penjelasan BMKG, gejala kekeringan tersebut termasuk perubahan iklim biasa.

“Fenomena El Nino tersebut terjadi karena meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Ekuator di sebelah barat Amerika Selatan. Peningkatan suhu terjadi di wilayah yang sering juga disebut sebagai kolam hangat warm pool di Pasifik. Semua negara di dunia, terutama negara-negara yang secara langsung berbatasan dengan Samudera Pasifik, melakukan pengamatan secara serius,” kata Humas BMKG, Akhmad Taufan Maulana, seperti yang dikabarkan okezone, Kamis (20/08).

Dia mengungkapkan, di Negara Amerika Serikat yang begitu serius dalam mengamati fenomena tersebut. Dengan dilengkapi alat yang canggih yang mampu mengamati global baik di permukaan maupun pada kedalaman laut.

Melalui hasil pengamatan yang dilakukan setiap negara dan diteruskan ke badan prakiraan cuaca dan iklim. Maka dari itu, angka indeks yang akan ditemukan kedepaannya sangat berbeda. Dengan demikian, sering pula ditemui perbedaan angka prakiraan intensitas El Nino tersebut dari masing-masing lembaga karena dihitung dengan metode yang berbeda pula, katanya.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun oleh Medialingkungan.com bahwa jika berangkat dari sejarah kemunculan pertama EL Nino dengan intensitas kuat dimulai pada tahun 1957-1958, 1965-1966, 1982-1983 dan 19971998.

Lanjut data tersebut, skala angkanya mencapai di atas 2.0 (kuat). Bagi Indonesia, kejadian El Nino 1997-1998 merupakan catatan sejarah yang dapat dijadikan pelajaran hutan dan lahan terbakar sangat luas, asap menimbulkan problem kesehatan dan bahkan mengganggu negara tetangga, gagal panen (puso) dan impor beras cukup tinggi.

Sedangkan, catatan BMKG, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) saat itu bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dengan sigap mengerahkan pesawat Hercules untuk operasi pemadaman. Keterjadian El Nino belum terprediksi dengan kapasitas seperti saat sekarang. (Angga Pratama)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *