COP Membuka Beasiswa Sekolah Konservasi Orangutan

 COP Membuka Beasiswa Sekolah Konservasi Orangutan

Ilustrasi (Gambar: nature)


Medialingkungan.com – Centre for Orangutan Protection (COP) kembali membuka pelatihan pendidikan konservasi untuk sejumlah mahasiswa atau para pemuda selama enam bulan di kamp Ape Warrior. “Peserta yang menjalani pelatihan akan dilatih menjadi aktivis ligkungan,” ujar Direktur Eksekutif COP, Hardi Baktiantoro, Selasa (07/07).

Pelatihan pendidikan konservasi ini hanya dibuka sekali setahun dan kali ini pelatihan tersebut memasuki tahun kelima. Setiap angkatan sebanyak 30 orang, selama menjalani pelatihan mereka akan mengenal orangutan, habitat, dan usaha pelestariannya dan juga belajar dokumentasi, penelitian, dan komunikasi, termasuk memahami politik lingkungan dan tentunya konservasi, katanya.

Peserta akan dikenakan biaya sebesar Rp 400 ribu, kata Hardi, karena program tersebut telah mendapatkan donatur. Setiap calon peserta menjalani seleksi untuk mengumpulkan data, melakukan penelitian di lapangan seperti ke pasar burung dan lembaga konservasi ex-situ (di luar habitat asli orangutan).

Bagi peserta yang berpendidikan kedokteran hewan akan menjalani pelatihan upaya perawatan satwa liar. Sedangkan mahasiswa biologi meneliti satwa dan mahasiswa komunikasi dilibatkan berkampanye perlindungan satwa. Mereka dilibatkan untuk membuat film dokumentasi dan foto satwa di alam lepas. “Materi yang akan mereka dapatkan tidak pernah dijumpai pada bangku perkuliahan,” ujarnya, seperti yang dilansir harianaceh.

Pendaftaran dan informasi bisa dilihat di situs jejaring sosial maupun situs COP. Para peserta akan mendapat pengalaman yang berbeda dan tak pernah dirasakan sebelumnya. Setelah mengikuti pelatihan mereka bisa terlibat dalam kampanye atau kembali ke lingkungan kerja dan tetap mendukung usaha konservasi satwa.

Kementerian Kehutanan kemudian melayangkan surat ke Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia yang melarang penggunaan satwa dalam tayangan televisi, terutama dengan menunjukkan dan mempertontonkan perilaku yang tak sesuai dengan perilaku alami di habitatnya. (Angga Pratama)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *