Di Balik Tren Positif Batu Akik

 Di Balik Tren Positif Batu Akik

Salah satu cincin yang di display pada pameran batu akik, dan memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi (Gambar:istimewa)


Medialingkungan.com – Akibat tren positif yang menaungi akik, permintaan batu akik meledak tak karuan di seantero Indonesia. Menyikapi hal tersebut, pemerintah mulai menyusun aturan guna melindungi kualitas lingkungan hidup agar tetap stabil.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Medialingkungan.com, saat ini Bengkulu Utara mengalami kerusakan hutan yang cukup parah akibat penambangan liar yang dilakukan sejumlah oknum untuk mengeruk hasil bumi berupa bongkahan batuan.

Lubang-lubang bekas galian yang menganga di hutan lindung tergolong cukup besar dan membuat ekosistem di Bengkulu Utara diambang kerusakan. Tidak hanya di Bengkulu Utara, di Lampung juga. Aktifitas penambangan liar batu akik juga mulai mengindikasikan gejala-gejala kerusakan.

Melihat perilaku yang tak terkendali dari oknum tersebut, Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Barat (Jabar), Sumarwan menegaskan, perlu ada aturan terkait penambangan batu akik. Misalnya, aturan izin penambangan, soal batas kedalaman serta tata cara eksplorasi yang aman seperti penggunaan tiang penyangga dan penggunaan alat keselamatan. “Ya harus ada aturannya, eksplorasi batu akik saat ini masih bersifat sporadis,” ujar Sumarwan.

Kemewahan batu akik membuat valuasi ekonomi batuan yang mulai populer dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi meroket. Hal ini menurut Sumarwan memebuat masyarakat menjadi tak terkendali dan melupakan kaidah-kaidah pelestarian. “Kami berharap para penambang menerapkan kaidah eksplorasi yang benar. Jika sudah melakukan eksplorasi, sebaiknya dilakukan rehabilitasi,” tambahnya.

Sementara itu, secara terpisah, Pejabat sementara Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung, Firman Sponada mengatakan, saat ini di Lampung pencarian batu akik masih dalam skala kecil, tapi kalau tren batu tersebut dari hari ke hari makin meningkat maka kemungkinan besar hutan di daerah Lampung akan rusak parah.

Terlebih lagi, lanjut Firman, dari sekian banyak lahan yang digali, hanya sebagian kecil yang dapat dimanfaatkan sebagai perhiasan jari. Dia menambahkan, penggalian lahan seluas 5 meter persegi mungkin hanya menghasilkan sebongkah batu akik. “Habis digali ditinggalkan begitu saja,” ujar Firman, seperti dilansir dari kompas.com.

Ia mengatakan, sampai saat ini memang efek kerusakan masih nihil, tetapi potensi kerusakan yang besar tetap ada. Bagaimanapun, aktivitas penggalian itu dapat mengubah bentang alam, dan mengganggu produktivitas sumber-sumber mata air. “Parahnya lagi kalau nekat menebang pohon demi mendapatkan bebatuan di bawahnya,” ucap Firman.

Lebih lanjut ia katakan bahwa masyarakat memang merasakan dampak positif secara langsung dari penggalian batu akik – dari aspek ekonomi. Namun, masyarakat juga harus diberi informasi mengenai dampak kerusakan alam. Jika hal itu dilakukan secara besar-besaran tanpa pengawasan dan penegendalian dari pemerintah setempat, efek kerusakan yang besar akan sanagat merugikan. (PK)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *