Ekspresi Jeritan Bawah Laut Jailolo Melalui Gerakan Tari

 Ekspresi Jeritan Bawah Laut Jailolo Melalui Gerakan Tari

Medialingkungan.com Wujud keprihatinan atas rusaknya alam bawah laut Jailolo, Maluku Utara , yang  terusik oleh aksi pengeboman nelayan, mengispirasi  koreografer Eko “Pece” Supriyanto mengkreasikan tarian yang di beri nama Cry Jailolo. Tarian ini di pentaskan pada suatu acara di Gedung Kesenian Jakarta sebagai bagian dari Indonesian Dance Festival 2014 pekan lalu.

Para penari ini bergerilya bak kumpulan ikan yang sedang berenang, mereka bergerak menyusuri bagian kanan, depan, kiri, dan belakang panggung Teater Arena dengan gerakan tari yang lihai.

Kain merah yang membalut di tubuh mereka di analogikan sebagai coral-coral cantik dimana tempat ikan-ikan bermain dan sekaligus berlindung.

Dalam formasi kelompok tersebut, mereka terus mempertahankan gerakan ketukan kaki yang terinspirasi dari tarian Legu Salai khas Suku Sahu, Jailolo, Halmahera Barat.Tarian yang digarap tanpa properti tambahan ini selanjutnya berhenti setelah kurang lebih 30 menit berjalan. Ketujuh penari menghilang dalam gelap. Setelah itu, satu di antara penari muncul ke tengah panggung. Enam penari lain berdiri di belakangnya. Dalam diam, mereka menatap lekat penonton yang duduk di depannya.

Gerakan tarian mulai masuk ke tensi gerakan tari yang lebih tinggi. Dengan sorot mata yang tajam, mereka menari lebih “bertenaga”. Kedua tangan mereka diarahkan menengadah ke atas sambil terus bergerak mempertahankan formasi. Setelah beberapa saat mempertahankan gerakan yang sama, mereka bersama-sama roboh ke lantai, Tak berapa lama mereka bangkit dan bangun bergerak lagi.

Eko Supriyanto mengungkapkan karya tari terbarunya berasal dari proses riset dan berkarya selama tiga tahun di Halmahera Barat. Lakon tari ini terinspirasi dari keindahan alam bawah laut Jailolo. Namun saat menyelami keindahan tersebut, Eko juga mendapati alam bawah laut di sana terusik dengan akibat aksi pengeboman ikan yang merusak terumbu karang di sana.

“Ini hasil berproses setelah dua tahun. Saya akhirnya menyelam betul dalam kultur yang berbeda. Saya masuk dan mengobrol di Suku Sahu, Tobaru, Wayoli, dsb. Itu yang membuat saya disadarkan betapa ada hal-hal sederhana yang bisa jadi sesuatu (yang besar) buat mereka,” jelas Eko.

Selama beberapa waktu berproses di Jailolo dan tampil ke Malaysia, Jakarta, dan Bandung, Eko mengungkapkan dia menemukan pengalaman yang menarik. “Kami mengalami cultural shock. Saya shock melihat keindahan alam di sana rusak karena pengeboman terumbu karang. Para penari [asli Jailolo juga shock saat saya ajak berkeliling dan mengikuti proses ini. Ada transfer value,” ujarnya.(AH)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *