Jurus Daeng Ical Membangun Livable City Kota Daeng

 Jurus Daeng Ical Membangun Livable City Kota Daeng

Makassar menuju Kota dunia (Gambar: adiakmal)


Medialingkungan.com – Wajah Daeng Ical, sapaan akrab Syamsu Rizal, Wakil Walikota Makassar masih terlihat mekar saat ditemui di ruangannya kemarin siang (06/10). Sejawat Ramdhani Pomanto yang juga gemar blusukan ala Joko Widodo ini begitu responsif ketika ditanyai mengenai gerak cepat pembangunan Kota Makassar sesuai visinya “Makassar Menuju Kota Dunia”.

Mengenakan batik berwarna merah kejingga-jinggaan, Daeng Ical mengungkapkan bahwa visi ini berupaya menciptakan suasana nyaman bagi seluruh masyarakatnya. “Kemudian kita breakdown dalam tiga misi. Pertama, rekonstruksi nasib rakyat. Kedua, merestorasi tata ruang dan lingkungan, dan ketiga, mereformasi birokrasi pemerintahan. Ketiga kompoisisi ini kemudian kita turunkan lagi menjadi program dan kegiatan-kegiatan untuk menciptakan Livable city,” ungkap Daeng Ical.

Dalam konteks tersebut ia menyebutkan, pihak pemerintah kota (pemkot) telah membuat kebijakan tata ruang, dan tahun depan siap dijalankan. 

Ia mengungkapkan, dari segi perencanaan dianggap sudah klop dan matang. Saat ini pemkot fokus terhadap pengendalian tata ruang. “Dari segi ini tentu lingkungan hidup menjadi pendukung utama, apalagi terkait perkembangan isu-isu lingkungan seperti saat ini.”

Dari banyak anggapan dan beragam hasil riset, Daeng Ical menyimpulkan, Kota Makassar memiliki 10 persen ruang terbuka hijau (RTH), namun segmentasi RTH menurut Daeng Ical terbagi atas 2 kategori, RTH public dan RTH private. “RTH public seperti yang kita lihat di area-area publik, dan RTH private itu, ya tanamannya masyarakat di halaman rumah masing-masing. Sehingga jika tanaman rumahan juga dimasukkan dalam variabel tambahan, maka total RTH Kota Makassar bisa mencapai hingga 17 persen,” jelas Ayah 3 anak ini.

Dalam ulasannya, Pria kelahiran 30 Juni 1973  ini berkomitmen untuk mencapai kondisi ideal suatu wilayah dengan capaian 30 persen ruang terbuka hijau. Bahkan secara gamblang ia ungkapkan, pada tahun 2015 mendatang cita-cita ini akan terwujud. “Kita sendiri punya target 40 persen RTH di tahun 2015.”

Sedikit bercerita tentang pengalaman dan pembelajaran sepulangnya dari negeri para samurai, Kota Yokohama, Jepang, pekan lalu, Daeng Ical dalam mengkritisi pola pembangunannya mengungkapkan bahwa Kota Yokohama, dan secara umum seluruh kota-kota di Jepang – dibangun pasca kokohnya infrastruktur penunjang seperti jalanan telah tersedia. “Setelah ada jalan, baru bangunan didirikan.”

Ibarat 2 sisi koin dengan rupa yang berbeda. Pembangunan akses jalan di indonesia menurutnya baru disediakan setelah bangunan telah kokoh berdiri di permukaan tanah.

Di samping itu, mengenai pengelolaan sampah, ia juga ingin mengikuti jejak pengelolaannya. Pada skala Makassar, ia menyebutkan bahwa tempat pembuangan sampah akhir (TPA) yang berada di kawasan Antang akan segera dibenahi sistem pengelolaannya.

“Untuk areal TPA akan dibatasi. Pada landfillnya, akan dibuat menjadi empat lubang. Yang masing-masing lubang akan menampung hingga 1000 ton sampah. Kondisi tanahnya juga akan direkayasa melalui treatment khusus agar proses dekomposisi dapat terakselerasi. Sehingga mencegah terjadinya penumpukan berlebih pada TPA. Kita juga telah mengirim para staf ahli untuk mendalami manajemen pengelolaan sampah, terutama pemanfaatan sampah menjadi listrik,” jelasnya.

Insentif kepada masyarakat peduli lingkungan

Membocorkan sedikit tentang program pro-lingkungan pemkot di 2015, Alumni Univiersitas Hasanuddin ini bermaksud akan memberikan insentif khusus bagi siapapun yang bermukim di Kota Daeng ini, dan mampu menerapkan konsep green building. “Jadi akan ada perlakuan khusus, bagi bangunan termasuk perhotelan, rumah makan, dll, yang mengadopsi konsep ramah lingkungan atau menerapkan green building. Kalau ada yang terapkan vertical garden (taman vertikal) dan roof garden (taman di atap) kita akan beri insentif khusus bagi semua yang menerapkan ini.

Ditanya soal berapa insentif khusus itu, Daeng Ical mengaku saat ini masih dalam proses perumusan dan belum sampai pada tahap tarif dan penilaian standar atau kriteria khusus yang digunakan untuk menakar bangunan-bangunan di Makassar yang keseluruhannya berbeda pola bangunannya. Namun ia katakan, perlakuan khusus yang ia maksudkan tadi bisa jadi berupa pemotongan biaya IMB, ataupun pemotongan biaya-biaya lainnya.

Membalik Stigma Masyarakat

Riak tentang efektifitas dari program pemkot yang tidak maksimal juga tidak sedikit. Hal yang demikian juga diakui oleh Daeng Ical. “Makassarta’ Tidak Rantasa’ (MTR) dan Lihat Sampah Ambil (LISA)”, adalah dua program yang sangat populis diperbincangkan di seantero kota – dengan kuliner khas Coto Makassar ini. “Ada yang bilang sudah terjadi perubahan, ada juga yang bilang belum ada sama sekali, bahkan semakin buruk.”

Tidak ada yang sempurna di dunia ini”. Sepenggal kata yang teruntai keluar dari bibirnya menyekap tudingan itu. Namun sorotan itu menjadi lecutan baginya untuk berbuat lebih maksimal lagi demi mewujudkan Makassar kota dunia.

“Mengubah perilaku masyarakat untuk aware terhadap lingkungan hidup bukan perkara mudah, Namun kita sebagai pemimpin masyarakat harus memberi contoh dan panutan, agar masyarakat tergugah untuk melakukan hal yang sama dengan yang kita lakukan,” sambungnya.

Terhadap program MTR dan LISA, baru-baru ini hasil survey Celebes Reaseach Centre (CRC) merilis hasil yang cukup positif dalam pantauannya pada dua program ini terhadap peran partisipatif masyarakat. Di beberkan, sekitar 16,9 persen warga makassar menyarankan untuk dilakukan penambahan tempat sampah, dan 13,6 persen menyarankan penambahan mobil operasional pengangkut sampah.

“Kita selalu mengikuti perkembangannya, dan hasil Ini menandakan masyarakat mulai familiar serta tahu program-program kita. Untuk itu, kami juga sudah melakukan perhitungan dan akan segera menindak lanjuti tanggapan masyarakat,” sanggah Daeng Ical.

Ia berharap, agar keterlibatan masyarakat bersama-sama pemerintah Kota Makassar dapat membawa perubahan – menuju kota yang comfort untuk ditinggali dan makassar sebagai kota dunia dapat terwujud. (MFA)

 


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *